PDA

View Full Version : menuangkan ide dalam tulisan



ichreza
23-03-2011, 07:06 PM
Menuangkan Ide Dalam Tulisan


Ratna Indraswari Ibrahim



Mungkin apa yang terpaparkan di sini, keluar dari jalur apa yang dinaakan, “Proses Kreatif dan Teori Tentang Penuisan Yang Lazim”. Namun, hal ini saya anggap sah, karena dengan cara ini, saya memberikan peluang adanya kebebasan dalam berkreasi. Karena, yang kita sebut ide atau ilham, sebetulnya sering muncul dalam pikiran kita. Masalahnya, kita kadang-kadang, tidak terlampau tanggap untuk memunculkan ide itu.
Memang, tidak semua ide dan ilham yang muncul bisa dituangkan begitu saja. Kadang beberpa ide saya, tidak bisa tetuang, tapi Cuma menjadi catatan di buku harian.
Seperti yang banyak dialami penulis lain, saya cenderung memberi kebebasan penuh, pada alam pikiran, utnuk seoptimal mungkin, melepas semua dari benak. Sebab, jika terpasung, dengan sendirinya akan terjadi stagnasi dalam berpikir (saya rasa hal ini akan menghambat kreativitas).
Ketika proses mengarang berjalan, saya sepertinya bermolog dan berdialog dengan diri sendiri atau dengan orang lain. Saya lakukan dengan intens dan penuh penghayatan akan tema yang akan dijadikan intisari dan alur cerita. Sebab, tema muncul begitu saja ke permukaan sebelum terjadi proses, apa yang saya namakan sebagai embrio dari tema-sumbernya memang beragam. Terjadinya hasil pengamatan mata batin saya terhadap sekeliling, dari membaca beragam buku, dan paling sering justru timbul dari hasil saringan komunikasi antar manusia, teman atau sahabat yang datang ke rumah saya. Mungkin titik persamaannya dengan jounalis yang akan menulis berita adalah: mencari berita yang aktual, investigasi, mengumpulkan data dan kemudian menulis. Untuk seorang penulis, mungkin harus ditambahi, mengkristalisasi semua bahan itu agar bisa terbentuk menjadi cerpen, puisi, atau novel.
Fase berikutnya, saat ide mulai mengkristal, saya membiarkan pikiran lepas. Saya terus menumpahkan ide-ide saya secara bebas dalam tulisan, tanpa berpikir baik buruknya cerpen tersebut. Jadi, kalau sedang mood, saya cenderung mengembangkan ide dan tema yang ada, dengan mencari bahan referensi, yang mampu menambah warna dan kedalaman dari tulisan saya.
Oleh karena itu, utnuk membuat sebuah cerita yang utuh, memerlukan waktu yang panjang, bisa seminggu bahkan berbulan-bulan. Hari pertama, mungkin hanya tema atau alinea pembuka. Hari berikutnya, pikiran dibiarkan mengembara, sambil terus mencari bagian-bagian yang masih bisa terperas di mana-mana agar bisa membentuk keterpaduan dalam kata dan harmoni alur cerita.
Saya sepaham dengan Carme Bird, penulis asala Australia ini berpendapat: sebaiknya kita mulai menulis dengan seluruh emosi atau jangan merasa dibatasi oleh apapun. Setelah itu, barangkali dibutuhkan pengeditan dengan pikiran. Juga dengan seorang pengarang besar Inggris, D.H. Lawrence, yang sukses dengan novel “Lady Chatterlay Lover”-nya. Berpuluh-puluh kali mengedit sebelum diterbitkan.
Saya kira, dalam pengeditan, saya merasa kita akan lebih menemukan hal-hal baru dari draft berikutnya, tulisan-tulisan kita. Dan ini adalah kegembiraan. Karena kita menemukan suatu hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Memang, ada banyak buku tentang penulisan, tapi saya mengajurkan pada anda, untuk bereksperimen dengan segala macam teori agar bisa memilih gaya yang paling pas, baik untuk diri sendiri maupun pembaca.
Lantas banyak anak muda yang datang ke ruamha saya, menanyakan metode apa untuk enulis cerpen yang baik. Saya sendiri juga membaca bermacam-macam metode untuk penulisan. Yang jelas, saya tidah tahu man yang tepat. Bisa jadi seperti tidak perlu metode itu. Lantas pertanyaan selanjutnya pasti begini “Mengapa tokoh Mbak, selalu perempuan?” mungkin saya Cuma merasa lebih mengenal perempuan dengan baik, siapapun dia, apalagi dalam sebuah negara yang maskulin seperti negeri kita ini. Ketika status sosial kekuasaan menjadi bahasa laki-laki. Sementara perempuan kita seperti merayap-rayap di antara dinding-dinding rumahnya. Suara-suara mereka seperti suara hantu yang berseliwean di sudut rumah kita. Dan barangkali makalah ini harus ditutup dengan bahasa perempuanku, ketika orang lebih banyak membicarakan seks, dalam tulisan perempuan, bukan wacana atau eksplorasi dari bahasa perempuan. Menurut saya, ini sungguh sepotong-sepotong saja dari kehidupan yang begitu heterogen. Bisa jadi, titik awal dari sebuah ide adalah sebuah realitas yang bukan satu realitas. Bisa jadi inilah kata kunci dari semua yang ingin saya bicarakan, bahwa sebuah ide harus dikembangkan tanpa rasa ketakutan dilihat, dibaca orang lain. Tidak ada cerpen yang buruk. Yang ada persamaan selera diantara kita.
Dan untuk itu selamat menulis kepada teman-teman yang berada di forum ini. Sekali lagi selamat berkarya.