PDA

View Full Version : Sejarah batu batikam



cihaule
23-03-2012, 10:12 PM
saketek info yang ambo rangkum mengenai batu batikam



Batu Batikam, sebuah momen batu yang terpajang kokoh di Jorong Dusun Tuo, Nagari Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar, saat ini cukup ramai dikunjungi oleh para pelancong. Batu Batikam termasuk salah satu lokasi cagar budaya , berada dalam pengawasan Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumbar, Riau dan Jambi yang berkantor di Pagaruyung .

Secara lahiriah, benda cagar budaya ini merupakan sebuah bungkahan batuan (andesit ), berbentuk hampir segi tiga berukuran 55 x 20 x 45 sentimeter. Para pengunjung sebagian besar dari kalangan siswa sekolah, baik dari kabupaten/kota di Sumbar maupun anak-anak sekolah dari provinsi tetangga seperti Riau, dan Jambi. Setelah direhabilitasi Kantor SPSP, Batu Batikam dipajang dengan kokoh di atas pasangan semen batu dalam sebuah lokasi Medan nan Bapaneh, Dusun Tuo. Sebagai pemandu bisu dari situs ini, juga telah terpajang sebuah penjelasan ringkas, bahwa Batu Batikam ini merupakan sebuah situs budaya dari wilayah Luhak Nan Tuo.

Lokasi tempat dipajangnya Batu Batikan ini menurut situs budaya Luhak nan Tuo adalah sebuah Medan nan Bapaneh, yakni tempat bermufakatnya para pimpinan pemerintahan pada waktu silam di wilayah ini. Situs budaya ini berdiri sejak 1.800 masehi. Lokasi Medan nan Bapaneh berbentuk empat persegi panjang seluas 20 meter persegi, sekelilingnya memiliki kursi bersandaran yang terbuat dari bahan batu.

Batu Batikam yang berlobang tembus itu, terjadi akibat ditikam oleh Datuk Parpatiah nan Sabatang, sebagai tanda berakhirnya perselisihannya dengan Datuk Ketumanggungan mengenai soal Adat.

Komplek Batu Batikam menurut tambo adat menyebutkan, bahwa di sinilah nagaripertama terbentuk sesudah Pariangan sebagai Nagari Tuo, dibangun oleh Cati Bilang Pandai dengan anaknya Datuak Parpatiaah Nan Sabatang, berikut dengan empat Koto lainnya yaitu Balai Labuah, Balai Batu, Kubu Rajo dan Kampai Piliang. Kelima Koto ini hingga sekarang disebut sebagai Lima Kaum.
Sebagai pusat pemerintahan adat Budi Caniago dengan junjungan adatnya Datuak Bandaro Kuniang yang bangunan rumah gadangnya masih bisa dilihat di Kampai Limo Kaum saat ini. Batu Batikam ini berlobang akibat ditikam oleh Datuak Parpatiah nan Sabatang sebagai pertanda Sumpah Satiah (setia) pengukuhan perdamaian, sebagai mengakhiri perselisihan paham dalam hal pemakaian sitim pemerintahan adat Koto Piliang yang dicetuskan oleh Datauak Katumanggungan dengan sistim pemerintahan Budi Caniago yang dipimpin oleh Datuak Parpatiah nan Sabatang.

Juga dituturkan, Datuak Katumanggungan juga menikam sebuah batu dengan kerisnya, ditempatkan di Sungai Tarab VIII Batu (Bongo Satangkai-Bulakan Sungai Kayu Batarok) sebagai pusat pemerintahan Koto Piliang dengan pucuk adatnya Datuak Bandaro Putiah. Sejek itu tidak lagi ada pertikaian antara koto dan nagari, kedua sistem pemerintahan adat ini boleh saja dipakai pada setiap wilayah nagari di Luhak Tanah Datar
Sumber (http://http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=12233:batu-batikam-lambang-perdamaian-&catid=39:lancong&Itemid=153)



18395 18397
18399 18401


untuak curito labiah jalehnyo mari kito simak kisah wal mulonyo


Cerita bermula ketika terjadi musyawarah di Balai Saruang menjadi perdebatan yang alot dan panjang. Namun kedua pihak menampilkan cara-cara yang sangat halus dan bijak. Cara inilah yang kemudian menjadi cikal bakal tradisi alua pasambahan.

Menurut Sutan Balun (nama kecil Datuak Parpatiah Nan Sabatang), aturan yang akan dirumuskan hendaklah sesuai dengan kehendak masyarakat (mambasuik dari bumi) dan tidak melanggar kebenaran. Hal ini karena yang akan memakai adalah masyarakat juga. Pendapat-pendapatdan keinginan rakyat harus diterima sebagai bahan pertimbangan. Pendapat ini bisa menjadi pedoman dalam membentuk undang.

Sementara Datuak Katumanggungan yang telah sangat mantap dengan ajaran Islam mengatakan bahwa manusia hanyalah makhluk ciptaan Allah SWT. Karena itu segala aturan yang akan dirumuskan harus didasarkan pada ajaran yang telah diturunkan oleh Allah SWT (titiak dari ateh). Aturan yang dirumuskan haruslah aturan yang disukai oleh Allah SWT.

Karena musyawarah itu akhirnya menjadi wadah sambung rasa, maka Datuak Parpatiah Nan Sabatang akhirnya memahami bahwa paham Datuak Katumanggungan ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang dia inginkan. Apalagi selama rapat, pihak Datuak Parpatiah merasa sangat dihormati dengan santunnya oleh pihak Datuak Katumanggungan. Lama kelamaan membuat nuraninya yang paling dalam tergugah. Bahkan tirai yang membuat ia jadi berjarak dengan kakaknya jadi tersibak.

Ternyata apa yang ia inginkan tidak jauh berbeda dengan apa yang menjadi roh dari Undang Tariak Baleh. Bahkan ia merasa gagasannya semakin lengkap ketika pihak Datuak Katumanggungan beserta pendukungnya menjabarkan konsep Islam tentang gagasannya itu. Hanya saja ada perbedaan dalam beberapa hal mengenai tata cara penerapannya.

Akhirnya rapat di Balai Saruang itu menetapkan hal yang sangat bijak. Mereka memutuskan kesepakatan untuk tidak sepakat. Maksudnya, mereka sepakat agar kedua paham dari pihak Sutan Balun dan pendukungnya, serta paham Datuak Katumanggungan dan pendukungnya sama-sama boleh diterapkan di Alam Minangkabau. Merekapun merancang sumpah yang kemudian dikenal dengan sumpah ”Tuah Disakato, Barani Disaiyo”.

***
Kemudian karena telah berhasil membuat picak salayang, bulek sagolong, hasil rapat ini dibawa ke Balai Nan Panjang untuk dikukuhkan dan diumumkan kepada masyarakat banyak. Setelah waktunya tiba, rapat umumpun segera dilakukan.Orang berdatangan dari seluruh penjuru Luhak Nan Tigo. Masyarakat dari Luhak Limo puluah Koto, dari Luhak Agam, dan Luhak Tanah Data masing-masing mengirimkan wakil-wakilnya.

Dalam rapat umum ini, sekali lagi, dengan segala kebesaran jiwa Sutan Balun mengusulkan pula agar pimpinan tertinggi pemerintahan di Alam Minangkabau tetap dipegang oleh Datuak Katumanggungan. Yang hadir sangat setuju pula, karena sesuai dengan keinginan bersama.

Bahkan tidak tanggung-tanggung. Dalam kesempatan itu pintu pula hidayah terbuka untuk Sutan Balun dan pengikutnya. Dengan penuh kebesaran dan kemuliaan ia menyampaikan niat suci dan keinginannya untuk mengucapkan syahadat.

Masyarakat yang hadir ketika itu tentu terperanjat. Mereka bersorak dan bertakbir memuji kebesaran Allah SWT. Datuak Katumanggungan spontan menyampaikan pula rasa suka citanya. Jika benar Sutan Balun telah mantap dengan niat sucinya,maka ia mengusulkan agar kehendak Sutan Balun segera dipenuhi.

Bila perlu saat dibaiat untuk mengucapkan syahadat, Sutan Balun agar langsung dilewakan dan dikukuhkan menjadi Datuak Parpatiah Nan Sabatang yang akan mendampinginya dalam memimpin Alam Minangkabau.

Masyarakat kian tenggelam dalam gemuruh sorak dan rasa syukur. Berbagai ucapan pujian pada Allah SWT berkumandang dengan sangat semaraknya. Seluruh alam bagaikan ikut bertasbih, dan bertahmid.
Sutan Balun makin terharu dan berkaca-kaca dengan sambutan yang benar-benar di luar dugaannya. Kecintaannya pada bumi MInangkabau kian bertambah-tambah.

Datuak Katumanggungan segera meminta Urang Nan Ampek Jinih segera menyediakan dua buah batu besar. Masing-masing untuk dirinya dan Sutan Balun . Batu besar ini diminta agar diletakkan di Balairung Sari yang sebelah kanan.

Kemudian Datuak Katumanggungan seketika mengucapkan sumpah kewi bahwa ia “ke atas tidak berpucuk, ke bawah tidak berurat, jika mungkir dari kebenaran (Allah SWT)”.

Waktu melaksanakan sumpah itu Datuak Katumanggungan segera membaca "La illaha illallah," lalu menghentakkan tongkat jenawi halusnya pada batu yang disediakan. Batu itu tembus sampai ke sebaliknya. Saat mencabut tongkat ia bacakan pula "Muhammada rasulullah!" Batu ini sekarang tersimpan di rumah seseorang di Dusun Tuo Limo Kaum.

Setelah selesai bersumpah, sekarang giliran Sutan Balun untuk mengangkat sumpah. Berbeda dengan cara yang dipakai Datuak Katumanggungan, Sutan Balun memegang keris. Selanjutnya Sutan Balun ia dengan mantap juga mengucapkan La illaha illallah, lalu ia menghentakkan kerisnya ke batu besar yang telah disediakan.

Ia takjub ketika melihat batu yang lebih besar itu ternyata juga tembus. Ia menjadi semakin yakin dengan kebesaran Allah SWT. Saat mencabut keris, dengan airmata berlinang ia bacakan pula Muhammada rasulullah! Sempurnalah syahadat Sutan Balun.

Pada saat yang sama, berarti resmilah ia menjadi Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Batu ini sekarang diabadikan dalam Taman Purbakala Batu Batikam yang terdapat di Limo Kaum.

Datuak Parpatiah Nan Sabatang kemudian ia memandang sekalian masyarakat yang hadir. Keris ia kepalkan ke udara ( persis seperti apa yang pernah ia lakukan di bawah pohon palapa). Suaranya bergetar namun membahana. Terdengar jernih karena para hadirin diam, tegang,menahan nafas.

Mereka ikut merinding tatkala Sutan Balun yang baru dilewakan menjadi Datuak Parpatiah Nan Sabatang itu berucap, “Selama batu ini masih berlubang bekas tikaman keris pusaka ini, yang telah jernih berpantang keruh, adat limbaga akan berkembang, gantang didirikan akan dilanjung isinya. Tuah Sekata, berpantang lapuk oleh hujan berpantang lekang oleh panas,” serunya.

Dalam keadaan itu berdirilah Datuak Katumanggungan memeluk adiknya Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Ia segera berbicara pada semua yang hadir, bahwa sekarang di Minangkabau telah ada dua pemimpin dan dua sistem kemasyarakatan yang tak obahnya seperti anak yang lahir kembar. Karena terdapat dua sistem, maka ia meminta rapat untuk mencari nama yang cocok untuk dua sistem kemasyarakatan itu.

Maka akhirnya rapat akbar itu memutuskan bahwa Sistem Kemasyarakatan yang pertama disebut, LAREH KOTO PILIANG (Kato-Phile-Hyang, dalam bahasa Sanskerta berarti aturan yang disukai Tuhan-pen). Maksudnya, menurut paham Koto Piliang segala kebijakan dan keputusan harus mengacu pado nan bana. Yaitu kebenaran yang sesuai dengan aturan Tuhan.

Sistem Kemasayarakatan yang kedua, disebut LAREH BODI CANIAGO (Bodhi-Catni-Arga, dalam bahasa Sanskerta berarti puncak pemikiran yang gemilang). Ini sesuai dengan lahirnya gagasan yang bermula dari budi dan kecerdasan, atau pemikiran yang brilian dari Datuak Parpatiah Nan Sabatang.

Lareh Bodi Caniago ; duduak sahamparan, tagak sapamatang. Maksudnya, menurut paham BODI CANIAGI, segala kebijakan dan keputusan yang berlaku, selain berdasarkan pada aturan yang disukai Tuhan hendaklah dirumuskan lewat mufakat. Dalam hal ini semua pangulu sama kedudukannya.


(Dikutip dari Buku Yulfian Azrial, Raja (rujukan) BAM (Budaya Alam Minangkabau) hal 37-41)
Sumber (http://http://yulfianazrialcyber.blogspot.com/2010/06/kisah-tambo-datuak-katumanggungan-jo_18.html)


========================
datuak parpatiah nan sabatag dan datuak katumanggungan adolah saudara seibu tapi lain ayah. ayah datuak katumanggungan seorang raja sedangkan ayah datuak parpatiah nan sabatang pegawai kerajaan. namo ketek datuak parpatiah nan sabatang adolah sutan balun sedangkan namo ketek datuak katumanggungan adolah sutan rumanduang.

sakironyo kok ado nan salah atau nan kurang ambo mohon maaf, tolong di batuaan jo ditambah :lalala:

keiyakufever
13-05-2012, 11:08 AM
Batu batikam ini pas smp belajar mengenai sejarahnya
sayangnya sekarang udah mulai sayu-sayu terdengar, mungkin karena pelajaran BAM udah mau di satukan dengan sejarah :lol:
ktnya batu ini di tikam sebagai antikonflik dri perselisihan dua datuak terkenal yang membuat bodi caniago dan koto piliang :haha: