PDA

View Full Version : Pregnancy [Caring] Kontroversi Surrogate Mother



Iya_an
27-11-2012, 12:58 AM
Kontroversi Ibu Pengganti Kehamilan di India
Dalam budaya India memandang wanita yang mengandung bayi orang lain mirip seorang pezina.

VIVAnews - Buah hati merupakan pelengkap kebahagiaan dalam rumah tangga pasangan suami-istri. Namun, bagi sebagian pasangan, kendala medis membuat si buah hati yang dinanti tak kunjung datang.

Upaya akhir yang dilakukan adalah melalui program bayi tabung dengan ibu pengganti (surrogate mother).Tingginya biaya ibu pengganti kehamilan di Eropa dan Amerika Serikat membuat banyak calon ayah-ibu rela melakukan perjalanan ribuan kilometer mencari ibu pengganti di luar negeri. India, telah menjadi salah satu wilayah penghasil ibu pengganti dengan biaya terjangkau.

Carolina, asal Irlandia, melakukan perjalanan 6.000 kilometer menuju India demi menemukan rahim bagi bayinya.

Dan terpilihlah sang ibu pengganti, Sonal, 26. Wanita ini baru saja melahirkan bayi Carolina dan suaminya dan tidak akan pernah dia lihat seumur hidup. "Mereka langsung membawa pergi bayi saya segera setelah dilahirkan," katanya.

"Saya tidak sadar ketika ia dilahirkan sehingga saya bahkan tidak melihatnya. Ketika bangun, saya bertanya pada ibu apa yang telah terjadi, dia mengatakan saya melahirkan anak perempuan."

Wanita asal provinsi Gujarat barat, menghabiskan beberapa bulan terakhir di sebuah klinik khusus para ibu pengganti Akshanka di kota kecil Anand, jauh dari suami dan dua anaknya.

Suami Sonal, hanyalah seorang pedagang sayur, dengan penghasilan 1.500 rupee sekitar Rp285ribu sebulan. Jumlah yang tidak cukup membiayai pendidikan yang ia inginkan bagi anak-anaknya. Ini adalah kehamilan penggantinya yang kedua, dan untuk itu ia mendapat 300.000 rupee sekitar Rp57,2 juta.

"Saya senang. Saya akan memiliki rumah dan hidup nyaman dengan anak-anak saya. Saya akan mendidik mereka," katanya dikutip dari laman BBC. Selain Sonal, ada ibu pengganti lain yang juga tengah memelihara janin dari pasangan lain di rahim mereka.

Meski rasanya tak seperti kehamilannya yang pertama, Sonal masih merasa buah hatinya dirampas orang lain. Saat menjadi ibu pengganti pertama kali, ia merasa tertekan dan menangis selama berhari-hari. "Saya sangat kehilangan bayi saya. Tetapi saya harus menyerahkannya." Ia pun menolak mengirimkan ASI-nya ke Irlandia bila tak bisa membesarkan anak yang ia kandung.

Sejak diberlakukan, keberadaan ibu pengganti kehamilan telah menjadi bisnis menggiurkan di India. Pada 2012, uang yang dihasilkan dari sini diperkirakan mencapai U$2,3 miliar atau Rp19,8 triliun.

Sang Ibu biologis bayi, Carolina, menyatakan, ibu pengganti adalah pilihan satu-satunya setelah dia didiagnosis menderita kanker serviks dan harus menjalani pengangkatan leher rahim. Meski dapat hamil dengan rahim sendiri, peluangnya sangat tipis. Sehingga bayi tabung ia pilih.

"Bahkan sebelum saya menderita kanker saya ingin punya bayi," katanya. "Siapapun yang mengenal saya, mengatakan saya sangat pantas menjadi seorang ibu.

Ia melanjutkan, "Saat memiliki penyakit ini saya berpikir terlalu lama berpikir akan benar-benar menghilangkan kesempatannya menjadi ibu."

Stigma sosial
Aturan mengenai ibu pengganti disahkan di India pada 2003, namun masih menuai kontroversi hingga kini.

Menurut peraturan tersebut, ibu pengganti harus berusia 21-35 tahun dan menjalani lima kelahiran hidup, termasuk anak-anaknya sendiri. Ibu pengganti tak dibolehkan melepas sel telur mereka untuk pasangan orangtua biologis serta melepaskan hak apapun untuk anak yang dilahirkan.

Sementara, para orangtua biologis, harus membuktikan bahwa mereka menikah dan bayi tabung dengan ibu pengganti diizinkan di negara tersebut. Negara ini juga melarang pasangan homoseks memperoleh bayi lewat ibu pengganti.

Kendati India membolehkan adanya ibu pengganti, budaya setempat masih memandang wanita yang mengandung bayi orang lain--bagaimanapun caranya, mirip seorang pezina.

Dokter spesialis bayi tabung (IVF) Dr Nayna Patel, yang menjalankan klinik Akshanka, menyadari adanya kritik terhadap praktek ibu pengganti. Tetapi ia berharap menghilangkan stigma negatif bahwa ibu pengganti merupakan eksploitasi.

"Bila ada pasangan tidak subur dapet memiliki anak dan di sisi lain melihat taraf hidup wanita lain meningkat hingga mampu mendidik anak-anaknya, tak ada kritik yang dapat menyakiti Anda," ujarnya.

sumber (http://life.viva.co.id/news/read/239079-kontroversi-ibu-pengganti-kehamilan-di-india)


sebuah wacana juga muncul terkait hal ini ;


Pesatnya perkembangan zaman melahirkan cara canggih dalam mereproduksi manusia, atau yang lebih dikenal dengan istilah fertilisasi in vitro atau bayi tabung. Pada hakikatnya program tersebut bertujuan untuk membantu pasangan sah suami-isteri yang mengalami infertil (keadaan kurang subur pada rahimnya) agar dapat memiliki keturunan. Permasalahan yang muncul selanjutnya adalah apabila sang isteri mengalami kelainan pada rahimnya yang mengakibatkan tidak dapat melahirkan, kemudian embrio tersebut ditanamkan dalam rahim wanita lain (surrogate mother) yang tentu saja bertentangan dengan hukum positif dan sebagian besar agama di Indonesia seperti Islam, Kristen Protestan, Katolik, dan Budha.
Walaupun demikian surrogacy ini ternyata terjadi di Indonesia secara diam-diam, karena pada kenyataannya belum ada aturan yang secara jelas mengatur tentang surrogacy tersebut, aturan yang ada hanyalah mengenai proses bayi tabung yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Hal tersebut tentu saja berbeda dengan negara lain seperti Australia dan Amerika yang telah memperbolehkan surrogacy. Aturan mengenai surrogacy di Australia misalnya diatur dalam Surrogacy Act 2010 No.02 of 2010. Kemudian muncul berbagai pendapat mengenai adanya surrogacy, diantaranya tentang dilaksanankannya perjanjian surrogacy yang dilakukan oleh pasangan sah suami-isteri dengan ibu pengganti (surrogate mother) yang menurut Prof. Leenen adalah batal demi hukum.

Pendapat lain juga dikemukakan oleh Sudikno Mertokusumo tentang status anak yang lahir melalui surrogacy adalah sebagai anak angkat. Berbeda halnya dengan sudut pandang ajaran Islam, anak yang dilahirkan dari rahim wanita lain (surrogate mother) dapat dianggap sebagai anak sesusuan. Oleh karena itu untuk mencegah praktek surrogacy yang dilakukan secara diam-diam maka sebaiknya undang-undang mengaturnya secara jelas dengan tetap mempertimbangkan nilai-nilai budaya dan agama yang ada di Indonesia, hal tersebut juga untuk mencegah pasangan sah suami-isteri melakukan surrogacy di luar negeri.

Author: KURNIAWATI, ARI ; Basuki, Zulfa Djoko (Advisor)
Topik: Bayi Tabung; Ibu Pengganti (Surrogate Mother); Hukum Perdata
Bahasa: [ID ] (ID )
Penerbit: Fakultas Hukum Unika Atma Jaya (http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=52&pbit=%22Fakultas+Hukum+Unika+Atma+Jaya%22) Tempat Terbit: Jakarta Tahun Terbit: 2011
Jenis: Theses - Undergraduate Theses
Fulltext: Ari Kurniawati's Undergraduate Theses.pdf (http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=112&src=k&id=32250)

Silahkan memberikan komentar yang baik dan jangan asal cuap-cuap!!! Tidak boleh ya :bata:
Komentar bisa datang dari berbagai sudut pandang, mungkin akan menjadi bahasan yang menarik, semoga :doa: :maaf:

Sesuai bahasan ini ; saya kasih sebuah tautan sosok ibu pengganti yang sangat produktif.


http://4.bp.blogspot.com/_qGbWdzkhB-s/TAxuRBOJC-I/AAAAAAAAFR0/r-HtIOxKOAA/s400/7.jpg


Carole Horlock ibu pengganti , telah melahirkan 12 bayi dalam 13 tahun - termasuk kembar tiga. Ini adalah rekor dunia untuk ibu pengganti paling produktif.

"Ketika saya pertama kali menjadi ibu pengganti, saya berharap melakukannya hanya sekali," katanya.
"Tapi aku sangat menikmatinya.. Setelah aku melahirkan bayi aku ingin melakukannya lagi."
Dia dibayar rata-rata $ 25.000 hingga $ 30.000 untuk layanan tersebut.

sumber (http://abidin76.blogspot.com/2012/10/ibu-ibu-paling-aneh-dan-unik-di-dunia.html)

komentar saya ;
Sesuaikah nilai materi yang di dapat oleh seorang ibu yang mengandung dengan resiko yang diterima dalam menjalani masa kandungan itu??

gaara_hisoka
27-11-2012, 02:27 AM
Sesuaikah nilai materi yang di dapat oleh seorang ibu yang mengandung dengan resiko yang diterima dalam menjalani masa kandungan itu??

ini sih relatif om... kalo mandang dari segi moral ya memang gak sreg...

tapi kan udah deal... alias suka sama suka... gak ada yang dirugikan...

kalo kayak gitu sih udah selesai urusan... :nongol:

Iya_an
27-11-2012, 02:50 AM
ini sih relatif om... kalo mandang dari segi moral ya memang gak sreg...

tapi kan udah deal... alias suka sama suka... gak ada yang dirugikan...

kalo kayak gitu sih udah selesai urusan... :nongol:

tapi kan peraturan ditiap negara beda2, apakah dg dalih suka sama suka sudah bisa menjadi dasar yg kuat untuk menempuh jalur kaya gitu?
terus dalam hal kesehatan baik mental maupun fisik, apakah tidak mengganggu untuk hari2 kedepannya, entah itu bagi ibu kandung maupun bayi yang dilahirkan?

snnelwan
27-11-2012, 07:26 AM
kayak di pilem Chori Chori Chupke Chupke

dimana ada orang yang membutuhkan pasti ada yang menyediakan, lepas dari aturan norma, religius.

gaara_hisoka
27-11-2012, 07:26 AM
tapi kan peraturan ditiap negara beda2, apakah dg dalih suka sama suka sudah bisa menjadi dasar yg kuat untuk menempuh jalur kaya gitu?
terus dalam hal kesehatan baik mental maupun fisik, apakah tidak mengganggu untuk hari2 kedepannya, entah itu bagi ibu kandung maupun bayi yang dilahirkan?

se-simpel supply and demand aja...

kalo gak ada yang minta, si calon surrogate mother juga gak bakal ada kayaknya om... :obiii:

---------------------------------------


mental - fisik ? bagaimana dengan hari ke depan si ibu kandung maupun bayi... lalala


semua selesai ketika uang dibayarkan dari si pengguna ke si yang punya rahim... semua klausul [walaupun tidak tertulis] sudah disepakati kedua belah-pihak alias tahu-sama tahu dari awal... :obiii:

ibarat orang kepepet, waktu dikasih duit sih manut aja... gak mikir apa-apa... :obiii:

makanya -contoh- Carole Horlock menikmati betul jadi surrogate mother... karena memang gak ada paksaan apapun [dapet duid lagi :obhaha:]

~~~~~~~~~~~~~~~:ngacir:

Sunday_KNIGHT
27-11-2012, 08:40 AM
dari segi kesehatan si bayi keknya gak masalah dah,
asalkan si surrogate mothernya terpenuhi nutrisi dan gizinya,

yang jadi permasalahannya, setelah dilahirkan si anak langsung diambil sama ibu aslinya,
nah si ibu aslinya kan gak bisa menyusui si anak, karena gak akan punya ASI,
soalnya syarat punya ASI kan hamil dan melahirkan (kalo gak salah, hehehehe)

sehingga si anak dari sini, pasti sistem imunya gak terlalu kuat,
kecuali si anak di susui dulu sampe beberapa waktu (1 hingga 2 tahun).
ini terlepas dari pandangan agama ya :peace:

Iya_an
27-11-2012, 11:02 AM
kayak di pilem Chori Chori Chupke Chupke

dimana ada orang yang membutuhkan pasti ada yang menyediakan, lepas dari aturan norma, religius.

jadi inget film indihe :onegai:
ato emang film itu diangkat karena adanya kasus2 semacam ini ya :???:


se-simpel supply and demand aja...

kalo gak ada yang minta, si calon surrogate mother juga gak bakal ada kayaknya om... :obiii:

---------------------------------------

semua selesai ketika uang dibayarkan dari si pengguna ke si yang punya rahim... semua klausul [walaupun tidak tertulis] sudah disepakati kedua belah-pihak alias tahu-sama tahu dari awal... :obiii:

ibarat orang kepepet, waktu dikasih duit sih manut aja... gak mikir apa-apa... :obiii:

makanya -contoh- Carole Horlock menikmati betul jadi surrogate mother... karena memang gak ada paksaan apapun [dapet duid lagi :obhaha:]

~~~~~~~~~~~~~~~:ngacir:

wah berarti sudah pake rumus ekonomi dong, dimana ada kebutuhan disitu muncul penyedia kebutuhan itu.
dan jika semakin tinggi tingkat kebutuhan maka akan semakin tinggi pula nilai jualnya. :top:
takutnya ntar ditiru ama orang indo nih :hiks:


dari segi kesehatan si bayi keknya gak masalah dah,
asalkan si surrogate mothernya terpenuhi nutrisi dan gizinya,

yang jadi permasalahannya, setelah dilahirkan si anak langsung diambil sama ibu aslinya,
nah si ibu aslinya kan gak bisa menyusui si anak, karena gak akan punya ASI,
soalnya syarat punya ASI kan hamil dan melahirkan (kalo gak salah, hehehehe)

sehingga si anak dari sini, pasti sistem imunya gak terlalu kuat,
kecuali si anak di susui dulu sampe beberapa waktu (1 hingga 2 tahun).
ini terlepas dari pandangan agama ya :peace:

apakah dengan susu formula jaman sekarang masih kurang memadai untuk menyuplai sistem imun sbg pengganti ASI,
termasuk perkembangan otak bayi yang udah di buatin susu dg kandungan DHA tinggi, dan lain sebagainya :???:

MODERATR0LL
27-11-2012, 11:27 AM
apakah dengan susu formula jaman sekarang masih kurang memadai untuk menyuplai sistem imun sbg pengganti ASI,
termasuk perkembangan otak bayi yang udah di buatin susu dg kandungan DHA tinggi, dan lain sebagainya :???:

hmm


ASI diproduksi karena pengaruh hormon prolactin dan oxytocin setelah kelahiran bayi. ASI pertama yang keluar disebut kolostrum atau jolong yang mengandung banyak immunoglobulin IgA yang baik untuk pertahanan tubuh bayi melawan penyakit. Sehingga pemberian ASI menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang Ibu.


Dari banyak buku dan artikel yang aku baca, keunggulan ASI dibanding susu formula. ASI bisa memasok gizi ideal sesuai keperluan sang anak. Asupan gizi dipenuhi dengan lengkap dan seimbang, tidak kurang maupun berlebihan. Itu berjalan secara otomatis tanpa perlu sang ibu untuk menakarnya.

http://pangerankarya.blogspot.com/2012/06/susu-formula-sama-dengan-asi-bisakah.html


Kelebihan ASI dibanding susu formula:

Komposisi ASI dapat berubah tiap waktu. Uniknya komposisi ASI disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan bayi. Pada hari hari pertama, dimana lambung bayi masih sangat kecil (sebesar kacang tanah) jumlah kolostrum pun hanya sedikit. Kekebalan bayi yang rendah saat lahir, dilindungi oleh kolostrum yang kandungan zat kekebalan nya sangat tinggi. Sistem pencernaan bayi yang belum sempurna, disempurnakan oleh komposisi ASI yang mempermudah penyerapan sehingga dapat dipergunakan oleh tubuh Bayi. Saat bayi lapar, dan menyusu lebih lama pada ibunya, maka kandungan ASI yang didapat akan lebih kental dan padat sehingga bayi kenyang. Perubahan komposisi ASI juga berubah pada keadaan ibu sakit. Bila ibu sakit flu, komposisi ASI akan disertai anti flu, yang dapat melindungi bayi dari sakit flu itu sendiri. Susu formula tidak mungkin memiliki komposisi yang berubah-ubah.
Pencernaan bayi belum sempurna untuk masuknya lemak, sedangkan dalam ASI sudah disiapkan enzim lipase yang membantu mencerna lemak, dan enzim ini tidak terdapat pada susu formula.
ASI mengandung asam lemak esensial (termasuk DHA )yang tidak terdapat di dalam susu formula. Asam lemak esensial ini dibutuhkan untuk pertumbuhan otak, mata dan kesehatan pembuluh darah bayi.
ASI tidak mengakibatkan bayi mengalami konstipasi seperti yang sering dikeluhkan pada bayi yang mengonsumsi susu formula.
ASI mengandung banyak protein jenis Whey yang mudah dicerna, sehingga bayi yang mendapat ASI akan lebih sering atau lebih cepat merasa lapar ingin disusui. Sering menyusui ini berdampak sangat baik dalam meningkatkan produksi ASI, terutama di malam hari (bayi baru lahir akan lebih bangun di malam hari, dan inipun baik untuk meningkatkan produksi ASI)
Susu formula mengandung lebih banyak protein dengan jenis kasein yang sulit dicerna oleh sistem pencernaan bayi sehingga memudahkan bayi terkena alergi dan obesitas. Buktinya ada penelitian yang menyebutkan bahwa bayi yang mendapat ASI tidak segemuk bayi dengan susu formula.
Pada tahun pertama, bayi sangat rentan terhadap penyakit. ASI mengandung sel-sel darah putih dan sejumlah faktor anti infektif yang melindungi bayi dari infeksi. ASI juga mengandung antibodi terhadap berbagai infeksi yang pernah dialami ibu sebelumnya. Hal ini tidak didapat pada susu formula.
Bayi yang diberikan ASI dibandingkan dengan yang diberikan susu formula akan 7 kali lebih jarang terkena radang paru-paru, dan 4 kali tidak terkena radang otak atau meningitis.
Anak yang diberi ASI, 16 kali jarang dirawat di Rumah Sakit dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula.
Di dalam ASI juga terkandung Vitamin C, sehingga bayi ASI tidak perlu mendapat suplemen vitamin C, vitamin C biasanya diberikan untuk bayi-bayi yang diberi susu formula.
Semua jenis susu mengandung sedikit zat besi sekitar 100ml, atau 0.5-0.7mg/i, namun perbedaannya zat besi yang ada pada ASI dapat dicerna maksimal sampai 50% oleh bayi, berbeda dengan zat besi yang ada pada susu hewan yang hanya 10% saja. Zat Besi sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia sehingga tidak terserang anemia (kekurangan darah akibat defisiensi zat besi).
Tingkat IQ anak yang diberi ASI memiliki poin 4.3 lebih tinggi daripada anak yang diberi susu formula pada usia 18 bulan. Memiliki 4-6 poin lebih tinggi pada usia 3 tahun, 8.3 poin lebih tinggi pada usia 8.5 tahun. Dan 12.9 poin pada usia 9.5 tahun.
Kandungan Docosahexanoic Acid (DHA) dalam ASI sangat sesuai dengan yang dibutuhkan oleh bayi, dan kandungannya yang lebih lembut memungkinkan usus bayi dapat menyerapnya lebih optimal dan tidak membutuhkan energi banyak untuk mencernanya. Sedangkan dalam susu formula, kandungan DHA-nya berlebihan, sehingga akan membahayakan metabolisme tubuh bayi, sebab tubuh dipaksa untuk mengeluarkan asam lemak esensial.
Proses menyusui membuat bayi peka pada rangsangan terhadap ke 5 panca indera bayi. Rangsangan terhadap 5 pancaindera adalah rangsangan yang dapat ditangkap dengan baik oleh bayi. Rangsangan alamiah yang terus menerus didapatkan bayi yang disusui ini pula, yang memberi kesempatan pada otak bayi untuk mendapat stimulasi terus menerus.
Tentu saja yang jelas ASI lebih praktis dan ekonomis dibanding dengan susu formula.


http://klinikdrtiwi.com/q-a-a/65-asi-atau-susu-formula.html


ternyata walau susu formula baik, susu formula tetap tidak bisa menggantikan kandungan ASI alami ibu
:obiii:

Iya_an
27-11-2012, 11:53 AM
Komposisi ASI dapat berubah tiap waktu.

saya baru tahu ini, :xiexie:
ternyata begitu dinamisnya mengikuti perkembangan si bayi, emang kontrolnya dari mana ya?
kalo formula kan udah jelas komposisi di atur sama pabrikan segitu, jadi gak mungkin bisa sedinamis ASI.
lagian yang bisa di ikuti oleh susu formula hanya memberikan batasan, Susu model A dari umur sekian sampai sekian, Susu B juga seterusnya.

ternyata bener2 top deh :minum:

Sunday_KNIGHT
27-11-2012, 02:28 PM
apakah dengan susu formula jaman sekarang masih kurang memadai untuk menyuplai sistem imun sbg pengganti ASI,
termasuk perkembangan otak bayi yang udah di buatin susu dg kandungan DHA tinggi, dan lain sebagainya :???:
rupanya udah ada yang nge jawab :xiexie:
yup, emang tidak akan ada susu yang mampu menggantikan ASI,
terutama yang bagian colestrum,

pada pengolahan pangan, khususnya di bidang susu,
sumber susu kan ada yang dari sapi, sapi juga punya colestrum,
tapi dalam pengambilan susu sapi ini ada etika, dimana susu pertama keluar tidak boleh di ambil,
karena untuk anaknya si sapi,

susu colestrum emang paling bagus pas pertama kali keluar dan langsung dikasih ke si bayi,
nah kalo si anak langsung di ambil otomatis gak dapat dong,
sehingga ada kemungkinan si anak cacat sistem imunya,

Iya_an
27-11-2012, 02:53 PM
rupanya udah ada yang nge jawab :xiexie:
yup, emang tidak akan ada susu yang mampu menggantikan ASI,
terutama yang bagian colestrum,

pada pengolahan pangan, khususnya di bidang susu,
sumber susu kan ada yang dari sapi, sapi juga punya colestrum,
tapi dalam pengambilan susu sapi ini ada etika, dimana susu pertama keluar tidak boleh di ambil,
karena untuk anaknya si sapi,

susu colestrum emang paling bagus pas pertama kali keluar dan langsung dikasih ke si bayi,
nah kalo si anak langsung di ambil otomatis gak dapat dong,
sehingga ada kemungkinan si anak cacat sistem imunya,

kalo habis di operasi cesar kan bayinya ada yg di masukkan kedalam inkubator,
trus asi yang punya colestrum itu biasanya keluar sampe berapa hari dan gimana memberikannya pada bayi yg dipisah ??

Sunday_KNIGHT
27-11-2012, 03:05 PM
kalo habis di operasi cesar kan bayinya ada yg di masukkan kedalam inkubator,
trus asi yang punya colestrum itu biasanya keluar sampe berapa hari dan gimana memberikannya pada bayi yg dipisah ??
kalo yang operasi cesar kadang gak bisa menghasilkan ASI juga, gak tau kenapa :???:
setau saya 2/3 hari semenjak melahirkan, itu ASI yang paling baik bagi si bayi,
kalo ke inkubator kurang tau, mungkin dikasis via selang langsung ke mulut <<< ngarang
cmiiw___

Iya_an
27-11-2012, 03:21 PM
kalo yang operasi cesar kadang gak bisa menghasilkan ASI juga, gak tau kenapa :???:
setau saya 2/3 hari semenjak melahirkan, itu ASI yang paling baik bagi si bayi,
kalo ke inkubator kurang tau, mungkin dikasis via selang langsung ke mulut <<< ngarang
cmiiw___

masih ada sumbernya, jadi gak keliatan HOAX ; << ngarang :lol:

Sunday_KNIGHT
27-11-2012, 03:34 PM
masih ada sumbernya, jadi gak keliatan HOAX ; << ngarang :lol:
cuma ingat dari kuliah karakteristik bahan pangan aja,
soalnya pernah belajar masalah ASI selama 1 semester,

kalo yang di inkubator, kurang tau ya, ntar kalo ada info / pict tak share juga :ngacir:___

Iya_an
27-11-2012, 04:50 PM
dapat juga cuplikan dari sumber (http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&view=article&id=353:breastfeeding-starting-out-right-indo&catid=29:information-indonesian&Itemid=67);


Ibu dan bayi sebaiknya bersama-sama dalam satu kamar (rawat gabung/room in). Sama sekali tidak ada alasan medis bagi ibu dan bayi yang sehat untuk dipisahkan satu dengan lainnya, bahkan untuk jangka waktu yang singkat, bahkan setelah operasi caesar. Fasilitas kesehatan yang biasa memisahkan bayi dan ibu setelah kelahiran berarti tidak melakukan hal yang benar kepada ibu dan bayi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rawat gabung meningkatkan keberhasilan, bayi lebih tenang dan ibu lebih bahagia sebagaimana pada tahun 1930-an. Seringkali, alasan-alasan yang tidak relevan diberikan agar bayi dipisahkan. Salah satu contoh adalah bahwa bayi menelan mekonium sebelum lahir. Seorang bayi yang menelan mekonium dan baik-baik saja beberapa menit setelah lahir, akan baik-baik saja dan tidak perlu diletakkan dalam inkubator untuk "observasi" selama beberapa jam.

Jadi untuk bayi yang langsung diambil setelah kelahiran bisa berdampak buruk dong, :unyil:

yuma
27-11-2012, 09:44 PM
Numpang komen ya :malu:

Soal surrogate mother ini pernah dibahas panjang lebar di tabloid Nyata. Saya lupa edisi berapa, yang jelas waktu itu ditampilkan profil seorang surrogate mother asal Amerika, lengkap dengan komentar dan para dokter ahli kandungan dalam dan luar negeri.

Di negara lain, surrogate mother adalah hal yang sudah umum ditemui. Bahkan, ada semacam organisasi yang mengatur penyediaan surrogate mother untuk pasangan suami-istri yang sulit/tidak bisa mendapatkan keturunan dengan cara normal. Organisasi itu menaungi para ibu volunteer yang bersedia meminjamkan rahimnya. Organisasi itulah yang menghubungkan calon surrogate mother dengan pasangan suami-istri yang ingin memanfaatkan jasa mereka.

Walaupun rahimnya "disewa", tidak semua ibu volunteer itu mengejar keuntungan materi lho. Ada juga yang tulus meminjamkan rahimnya hanya karena ingin membantu pasangan yang belum memiliki anak agar bisa menimang buah hati :unyil:

Dari sisi medis, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi oleh perempuan yang akan menjadi surrogate mother. Pertama, usia mereka harus mencukupi (minimal 25 tahun, seingat saya). Mereka juga harus menjalani sejumlah pemeriksaan kesehatan, termasuk tes HIV/AIDS, untuk memastikan bahwa kondisi fisik mereka memadai untuk menjalani kehamilan. Lalu, mereka juga harus sudah berpengalaman melahirkan, minimal dua kali. Kenapa dua kali? Sebab, jumlah itu dianggap sudah mumpuni. Sang ibu dianggap sudah cukup berpengalaman dalam me-manage stres selama kehamilan dan pasca melahirkan sehingga dia takkan mengalami tekanan batin berlebihan saat menjalani surrogate pregnancy.
Dari sisi nonmedis, persetujuan pasangan juga sangat penting. Sebab, support pasangan sangat menentukan kondisi psikis sang surrogate mother saat menjalani kehamilan.

Itu dari sisi surrogate mother-nya. Sang pengguna jasa juga punya sejumlah kewajiban yang harus dipenuhi. Terutama dalam hal pemenuhan gizi. Pasangan suami-istri pengguna jasa surrogate mother harus memastikan bahwa sang surrogate mother mendapatkan asupan gizi yang diperlukan. Segala biaya yang dibutuhkan untuk kontrol rutin ke dokter pun sepenuhnya menjadi tanggung jawab suami-istri tersebut.

Bayi yang dilahirkan pun tak serta-merta diambil setelah lahir. Biasanya surrogate mother akan memberikan ASI terlebih dahulu selama periode waktu tertentu untuk memastikan bahwa anak yang dilahirkan mendapatkan suplai gizi yang cukup. Yang sulit adalah saat penyapihan. Sebab, akan timbul ikatan batin antara bayi dan surrogate mother.

Iya_an
27-11-2012, 10:14 PM
Yang sulit adalah saat penyapihan. Sebab, akan timbul ikatan batin antara bayi dan surrogate mother.

Diawal posting udah ada cerita kan tentang pengambilan paksa di hari pertama kelahiran, mungkin ini yang menjadi penyebabnya. Mereka gak mau ada ikatan batin yang lebih dalam antara ibu yang mengandung dengan sang bayi.

Lalu bagaimana dengan di indonesia sendiri, apakah hal ini sudah layak untuk dilakukan ataukah masih simpang siur dan kalopun ada dengan cara sembunyi-sembunyi.
Ditakutkan adalah dengan munculnya perdagangan bayi. Sedikit mirip dengan sistem penitipan janin kaya ginikan .

yuma
27-11-2012, 10:27 PM
Lalu bagaimana dengan di indonesia sendiri, apakah hal ini sudah layak untuk dilakukan ataukah masih simpang siur dan kalopun ada dengan cara sembunyi-sembunyi.
Ditakutkan adalah dengan munculnya perdagangan bayi. Sedikit mirip dengan sistem penitipan janin kaya ginikan .

Indonesia masih belum siap dengan sistem surrogate mother ini. Selain masih masyarakat masih kurang informasi yang benar mengenai surrogate mother, pasti akan timbul pro dan kontra, terutama dari kalangan tertentu (nggak perlu disebut, nanti SARA). Kalau di luar negeri praktik surrogate mother ini murni misi sosial, bisa-bisa kalau diterapkan di Indonesia nilai sosialnya jadi tergantikan dengan nilai ekonomi. Tak hanya berbahaya bagi sang ibu, melakukan surrogacy sembarangan juga membahayakan sang bayi. Apalagi kalau tidak diawasi dokter ahli.

Iya_an
27-11-2012, 10:51 PM
Indonesia masih belum siap dengan sistem surrogate mother ini. Selain masih masyarakat masih kurang informasi yang benar mengenai surrogate mother, pasti akan timbul pro dan kontra, terutama dari kalangan tertentu (nggak perlu disebut, nanti SARA). Kalau di luar negeri praktik surrogate mother ini murni misi sosial, bisa-bisa kalau diterapkan di Indonesia nilai sosialnya jadi tergantikan dengan nilai ekonomi. Tak hanya berbahaya bagi sang ibu, melakukan surrogacy sembarangan juga membahayakan sang bayi. Apalagi kalau tidak diawasi dokter ahli.

padahal kalo mau kilas balik malah ngeri yg di indo, banyak bayi yang terbuang sia-sia karena hubungan gelap dll.
mungkin benar kalo diterapkan di indo malah akan memancing para sukarelawan yang membabi buta,
melakukan sex bebas dan akhirnya mereka tak ambil pusing jika terjadi kehamilan , toh ada badan khusus yang menangani.

btw, kalo sistem adopsi di indo udah legal kan :???:
apa perbedaan dengan sistem surrogate mother ini ?

MODERATR0LL
27-11-2012, 11:48 PM
newbie nih masih dangkal pengetahuannya
bukannya
Mengadopsi adalah untuk mengambil ke dalam keluarga seseorang (anak dari orang tua lain)
kalo yg ini kan meminjam rahim, jadi sel sperma dan sel ovum sepertinya dari keluarga yg menyewa jasa itu

iya kalo di terapin di indonesia bisa semrawut memang
kesejahteraan hidup rata2 masih rendah, bakal buka tempat yg illegal jangan2
tanpa pengawasan dokter, hanya di awasi dukun bayi :apa:

yuma
28-11-2012, 01:14 PM
padahal kalo mau kilas balik malah ngeri yg di indo, banyak bayi yang terbuang sia-sia karena hubungan gelap dll.
mungkin benar kalo diterapkan di indo malah akan memancing para sukarelawan yang membabi buta,
melakukan sex bebas dan akhirnya mereka tak ambil pusing jika terjadi kehamilan , toh ada badan khusus yang menangani.

btw, kalo sistem adopsi di indo udah legal kan :???:
apa perbedaan dengan sistem surrogate mother ini ?

Surrogate mother jangan disamakan dengan seks bebas. Sebab, proses pembuahan dilakukan di luar rahim. Setelah jadi, baru disuntikkan ke dalam rahim surrogate mother. Jadi, bukan berarti si surrogate mother ini berhubungan seks dengan ayah pendonor sperma :unyil:

Adopsi jelas beda dengan surrogate mother. Di negara ini, sistem adopsi diatur oleh kementerian sosial. Sebelum mengadopsi, banyak syarat yang harus dipenuhi orang tua. Di antaranya, pasangan sudah menikah minimal tujuh tahun dan belum memiliki keturunan, memiliki pekerjaan tetap dan rumah sendiri. Selain itu, pasangan suami istri juga harus dinyatakan sehat (selain soal kesuburan lho). Mereka juga harus menjalani tes psikologis untuk memastikan bahwa kondisi mental mereka stabil dan layak diberi tanggung jawab mengasuh anak. Syarat terakhir ini nggak semua menerapkan sih. Oh ya, yang jelas akan ada survei dan wawancara dulu terhadap calon pengadopsi.

Sampai saat ini masih banyak orang yang salah kaprah mengenai adopsi dan anak asuh. Status anak adopsi adalah legal di mata hukum. Dalam kartu keluarga pun status mereka ditulis sebagai "anak". Sehingga, saat orang tua meninggal, anak akan mendapatkan hak waris. Sementara anak asuh tidak memiliki status hukum yang pasti. Proses pengambilannya pun tidak harus menjalani serangkaian tahap seperti adopsi :unyil:

Sumber: pengalaman pribadi

Baca Juga Tata Cara Adopsi Anak (http://mkn-unsri.blogspot.com/2010/08/pengangkatan-anak-adopsi.html)
Sumber yang Lebih Tepercaya soal Adopsi: LBH APIK (http://www.lbh-apik.or.id/adopsi.htm)

Oke, back to topic ya :cambuk:

Iya_an
28-11-2012, 01:37 PM
Surrogate mother bla~bla~bla~bla

Oke, back to topic ya :cambuk:

:maaf: saya cm mengira ada kaitannya,


Ibu pengganti tak dibolehkan melepas sel telur mereka untuk pasangan orangtua biologis serta melepaskan hak apapun untuk anak yang dilahirkan.
owh berarti ini toh maksutnya,

yuma
28-11-2012, 01:46 PM
:maaf: saya cm mengira ada kaitannya,
owh berarti ini toh maksutnya,

Surrogate mother murni hanya meminjamkan rahim, bukan mendonorkan sel telur :unyil:

Biasanya pasangan yang memanfaatkan jasa surrogate mother adalah orang tua yang sulit mendapatkan keturunan karena pihak perempuannya bermasalah. Bisa karena kandungan terlalu lemah atau terkena kanker rahim atau kanker serviks. Tapi, ada juga yang meminjam jasa surrogate mother karena sang istri ogah hamil. Hanya, jumlah ini sangat kecil.

Iya_an
28-11-2012, 02:51 PM
Surrogate mother murni hanya meminjamkan rahim, bukan mendonorkan sel telur :unyil:

Biasanya pasangan yang memanfaatkan jasa surrogate mother adalah orang tua yang sulit mendapatkan keturunan karena pihak perempuannya bermasalah. Bisa karena kandungan terlalu lemah atau terkena kanker rahim atau kanker serviks. Tapi, ada juga yang meminjam jasa surrogate mother karena sang istri ogah hamil. Hanya, jumlah ini sangat kecil.

:unyil: termasuk kasusnya mbak inul ya.
menghabiskan beberapa M untuk mendapatkan seorang bayi..
tapi itu akhirnya kan tetep di rahim sendiri

tetap mengkaji sistem surrogate mother dengan membandingkan jasa lain.
Kenapa sistem ini menjadi jalan yang diambil kalopun toh ada jalan lain yang tidak mengundang kontroversi, contoh adopsi tadi.
disini saya hanya membicarakan keuntungan apa yang diambil dengan melakukan surrogate mother??

yuma
28-11-2012, 05:32 PM
Kenapa sistem ini menjadi jalan yang diambil kalopun toh ada jalan lain yang tidak mengundang kontroversi, contoh adopsi tadi.
disini saya hanya membicarakan keuntungan apa yang diambil dengan melakukan surrogate mother??

Keuntungan utamanya, walaupun dikandung orang lain, anak itu kan tetap anak kandung pasangan suami-istri yang memanfaatkan jasa surrogate mother karena sperma-sel telurnya punya mereka sendiri :unyil:

dasnawq789
02-12-2012, 03:36 PM
kan ktanya dari california ortu aslinya y?
lah trus pas ngebuat anaknya suami california melakukan hal itu donk sama si ibu pengganti india?
ato dibawa ke RS trus ditanam air maninya ke dalam rahim?
bingung ama yg satu ini

Sunday_KNIGHT
02-12-2012, 05:25 PM
kan ktanya dari california ortu aslinya y?
lah trus pas ngebuat anaknya suami california melakukan hal itu donk sama si ibu pengganti india?
ato dibawa ke RS trus ditanam air maninya ke dalam rahim?
bingung ama yg satu ini
setau saya sih, sel sperma dan sel telur di pertemukan secara in vitro,
kemudian baru dimasukkan ke dalam surrogate mother,
jadi si cowok tidak melakukan ehem-ehem sama si surrogate mother,
cmiir __

Iya_an
06-12-2012, 01:40 PM
Baru nemu yang dari FEMINA 2011 (http://www.femina.co.id/isu.wanita/topik.hangat/kontroversi.surrogate.mother/005/007/16)



Kontroversi Surrogate Mother


Januari 2011 lalu, Nicole Kidman (44) mengumumkan dia baru saja dikaruniai bayi perempuan. Padahal, sebelumnya Nicole tidak hamil. Apakah bayi adopsi? Ternyata, tidak. Istri penyanyi Keith Urban ini terang-terangan menjelaskan, bayi itu dilahirkan dari rahim wanita yang ia dan Keith sewa, atau biasa disebut surrogate mother.

Surrogate mother atau ibu pengganti adalah wanita yang mengikat janji atau kesepakatan (gestational agreement) dengan pasangan suami-istri. Intinya, ibu pengganti bersedia mengandung benih dari pasangan suami-istri, dengan menerima suatu imbalan tertentu.

Surrogate mother masih kontroversial. Di sejumlah negara, seperti Indonesia, praktik ini dilarang oleh agama. Dulu, hanya ada satu alasan mengapa pasangan menyewa rahim, yaitu calon ibu mengalami masalah kesehatan tertentu sehingga sulit hamil. Tapi sekarang, tak sedikit pasangan yang melakukannya berdasarkan alasan yang jauh lebih sederhana.

Jika ditelusuri, praktik ibu pengganti dan sewa rahim bukanlah hal yang baru. Teknologi yang dipakai untuk praktik surrogate mother diciptakan oleh Robert G. Edwards. Ia adalah pria berkebangsaan Inggris, yang bersama rekannya, Patrick Steptoe, mengembangkan teknologi bayi tabung pada tahun 1969. Dengan secepat kilat, metode ini diterapkan oleh masyarakat Eropa, dan makin populer pada awal tahun ’70-an. Persisnya setelah program acara BBC menayangkan liputan tentang bayi tabung yang dilakukan dua ilmuwan tersebut.

Antara tahun 1976 hingga awal 1988, di Amerika Serikat (AS) dan Eropa begitu banyak pasangan yang menyewa rahim ibu pengganti. Pada kurun waktu tersebut tercatat 600 anak-anak lahir dari hasil penyewaan rahim, walaupun nyatanya di saat itu pemerintah AS belum pernah membuat aturan yang baku.

Ada hubungan yang saling menguntungkan, itulah hal yang menjadi landasan mengapa surrogate mother banyak diminati. Bukan saja hambatan reproduksi calon ibu yang terselesaikan masalahnya, sewa rahim membawa keuntungan finansial bagi wanita-wanita yang memerlukan tambahan uang.

Bayangkan, di Eropa, seorang wanita yang mau menjadi ibu pengganti bisa mendapat bayaran sampai 56.640 euro (sekitar Rp708 juta). Sementara di Asia, sewa rahim dihargai sampai 12.000 dolar Amerika atau sekitar Rp99 juta.

Sewa rahim di India, malah telah memberikan pemasukan negara setiap tahunnya sebesar 445 dolar Amerika atau sekitar Rp 4 triliun! Menurut sosiolog Australia Catherine Waldby dari University of Sydney, yang dilansir oleh televisi ABC, wanita di India melakukan sewa rahim untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Pemerintah India telah melegalkan sewa rahim dengan membuat semacam perkumpulan untuk sewa rahim. Bahkan pemerintah India juga membuat visa khusus atau visa medis untuk memfasilitasi orang yang datang untuk keperluan sewa rahim.

Berbeda dengan di India, para ibu pengganti di AS melakukannya karena ingin bisa mendapatkan pengalaman mengandung. Mereka yakin, dengan mengandung, mereka bisa belajar mengatasi masalah emosi dan memupuk naluri keibuan, sekaligus dapat membantu para istri yang ingin memiliki anak.

Sama-sama untung, tapi tetaplah kontroversial. Bagaimana menurut Anda?

GFA
21-12-2012, 04:48 PM
Memang surrogate mother bila dilihat masih kontroversial terutama dari sisi agama

Lalu bila apakah bila dilihat dari sisi kesehatan sepenuhnya hal ini aman bagi sang ibu terutama setelah kelahiran pertama

gilbertvdv
20-04-2013, 06:48 PM
emang cukup kontroversial sih metode yang dipakai.. ibu pengganti secara gak langsung berarti dia mengandung yang bukan anaknya..
tapi emang ini memberi kesempatan buat ibu2 yang gak bisa melahirkan buat memiliki buah hati, ane rasa metode yang cukup adil buat kedua pihak..
dan selama keduanya setuju, harusnya gak perlu dimasalahkan ya.. :top:

lapis_lazuli
04-12-2013, 09:21 PM
:nongol:
saya ikut komen juga ya.

saya dari bioteknologi dan pernah ambil biotek reproduksi dan bioetika.
dari perkembangan teknologi sekarang ini sepertinya definisi ibu jadi luas ya. bisa jadi seseorang punya tiga ibu sekaligus: ibu genetik, ibu rahim, ibu susu.
Dalam proses bayi tabung, Ibu genetik akan memberikan ovumnya kemudian difertilisasi invitro, lalu disisipkan ke rahim ibu. tapi bisa jadi yg mengandung itu bukan ibu ovumnya kalo ibu ovum rahimnya bermasalah. setelah anak lahir yg menyusui bisa ibu rahim, bisa juga orang lain atau sapi krn ibu ovumnya tidak bisa menghasilkan ASI. kalo menggunakan donor ASI, anak ini jadi punya ibu susu juga. Jadi 3 deh ibunya ibu ovum (genetik), ibu kandung (rahim), dan ibu susu.
Qt beruntung punya ibu satu saja utk 3 peran ibu itu, makanya qt harus menghargainya lebih tinggi 3x dari ayah.

sepertinya Indonesia blm punya regulasi yg jelas ya soal ibu rahim (surrogate mother), tapi menurut saya sih ngga masalah, asal transparan. Jadi ngga membingungkan soal mahramnya nanti. Semua ibu itu kan statusnya sama: mahram si anak, juga termasuk saudara2 seibunya.

yg harus waspada itu kalo donor sperma. beda dengan ovum yg sekali keluar cuma 1, biasanya sperma keluar banyak sekaligus.
ilmuwan/dokternya pasti ngga akan buang2 itu, dan akan disimpan utk insemenasi berikutnya. kalo ngga hati2 pria pendonor sperma itu bisa jadi bakal punya anak dimana2.

makanya regulasi bayi tabungnya yg harus clear banget. kalo di Indonesia hanya suami istri sah yg boleh melakukan fertilisasi invitro itu.

t0157
07-12-2013, 08:30 AM
^ ^ ^

Regulasi tentang 'surrogate mother' di Indonesia memang relatif masih belum jelas...

Sayangnya aku gak pernah sekolah tinggi.... :malu:
Untuk bisa mengetahui tentang suatu hal, ya harus tanya2 ke yang ngerti...

Jadi kemarin aku tanya2 ke saudara aku yang ngerti soal hukum di Indonesia...
Kemudian dia memberikan 'sejumlah dalil' tentang 'surrogate mother':



MUI pada 13 Juni 1979 mengeluarkan fatwanya:
bahwa MUI tidak melarang setiap orang mendapatkan keturunan dengan cara bayi tabung.
Tapi cara mendapatkan keturunan dengan penyewaan rahim dilarang.


Pasal 42 UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 menyatakan:
bahwa anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah.
Pasal di atas bisa ditafsirkan bahwa anak yang dilahirkan oleh 'surrogate mother',
seakan - akan bukan 'anak yang sah'.
(Karena tidak adanya hubungan pernikahan antara pemilik sperma dengan pemilik rahim.)


Pasal 127 UU No. 36 tentang Kesehatan (UU Kesehatan) menyatakan:
bahwa upaya kehamilan di luar cara alami,
hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah.

Ketentuannya adalah seperti berikut:
a) Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan
....ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal;
b) dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu;
c) pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.


Pasal 250 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menyatakan:
bahwa tiap-tiap anak yang dilahirkan atau ditumbuhkan sepanjang perkawinan,
memperoleh si suami sebagai bapaknya.
(Maksudnya si suami dari si perempuan yang mengandung anak tersebut.)

Jadi secara yuridis,
status anak itu adalah anak sah dari pasangan penghamil (Ibu pengganti kehamilan),
bukan pasangan yang mempunyai benih.


______________________________________


Kesimpulan (sementara) yang aku dapatkan:
Di Indonesia, cara 'penyewaan rahim' untuk mendapatkan keturunan masih belum bisa dibenarkan.
Jadi kemungkinan besar akan sulit dilegalkan.

Dan lagi pula ada kemungkinan yang cukup 'mengerikan':
Jika kelak sang 'surrogate mother' meng-klaim anak yang dilahirkannya itu sebagai 'anaknya',
maka di Indonesia, secara yuridis anak yang dilahirkannya itu adalah 'anaknya'...
(walaupun 'benihnya' bukan berasal dari si suami sang 'surrogate mother' tsb.)

:nangis::oii:......... :genit::unyil:

______________________________________



Sewa rahim di India, malah telah memberikan pemasukan negara setiap tahunnya
sebesar 445 dolar Amerika atau sekitar Rp 4 triliun!

Menurut sosiolog Australia Catherine Waldby dari University of Sydney,
yang dilansir oleh televisi ABC,
wanita di India melakukan sewa rahim untuk memperbaiki ekonomi keluarga.

Kalau mengikuti serial TV dari US: 'LIE TO ME',
ada salah satu episodenya yang mengisahkan tentang wanita dari India
yang menyewakan rahimnya bagi pasutri dari AS, demi memperbaiki ekonomi keluarganya.

Kebetulan aku pernah nonton, dan kalau gak salah episode itu aku download dari IDWS...
Cuma lupa judul episode-nya...

:malu2:

Iya_an
08-12-2013, 02:08 AM
:apa: dipindah ke zona pinky

emang dah dibahas di awal untuk indo belom di izinkan, dan memang banyak alasan untuk menolaknya :aaaa:

jimmypanji
09-12-2013, 10:57 PM
terima kasih agan untuk memulai thread ini. Benar sekali, isu surrogate mother di Indonesia masih belum banyak yg mengenal. Surrogate mother memiliki banyak isu terkait dengannya, termasuk salah satunya ibu surrogate tsb terkadang malah menyayangi bayinya dan tdk ingin memberikan bayinya pada pasangan yg meminjam rahim ibu tsb.. Konsep surrogate mother/ibu pengganti masih belum dapat diterima di Indonesia.. dan masih belum mendapat perhatian terlalu banyak oleh pemerintah Indonesia. dan hal ini tepat, mengingat isu utama yang perlu digodok sekarang adalah bagaimana menekan laju pertumbuhan penduduk, bagaimana menurunkan angka kematian ibu akibat kehamilan dan persalinan, bagaimana meningkatkan angka pengguna kontrasepsi di masyarakat

Sekali lagi, terima kasih atas thread yang sangat baik ini

salam sehat

siti99
10-12-2013, 02:35 PM
ini sih relatif om... kalo mandang dari segi moral ya memang gak sreg...

tapi kan udah deal... alias suka sama suka... gak ada yang dirugikan...

kalo kayak gitu sih udah selesai urusan... :nongol:
logika sama suka tidak menafikan hukum, bukan begitu?

gaara_hisoka
10-12-2013, 02:46 PM
logika sama suka tidak menafikan hukum, bukan begitu?

hukum itu cuma tulisan di buku sama dibacakan di persidangan mbak e... :obiii:

gak ada yang bisa melarang siapa saja buat berbuat suatu hal dari dasar hukum tok...

lagian juga kalo misalkan ada surrogate mother di indonesia, siapa yang bisa mencegah? hukum? :obiii:

supply and demand mbak e... sesimpel itu :obiii:

jual beli anak aja banyak kok mbak e :obcerutu:

siti99
10-12-2013, 02:54 PM
hukum itu cuma tulisan di buku sama dibacakan di persidangan mbak e... :obiii:

gak ada yang bisa melarang siapa saja buat berbuat suatu hal dari dasar hukum tok...

lagian juga kalo misalkan ada surrogate mother di indonesia, siapa yang bisa mencegah? hukum? :obiii:

supply and demand mbak e... sesimpel itu :obiii:

jual beli anak aja banyak kok mbak e :obcerutu:

hukum dalam artian yang luas maksud saya. setahu saya kalau dalam islam itu mengaburkan nasabnya. trus bagaimana dengan hak warisnya.
lha bukan berarti karena suka sama suka trus hukum waris itu batal atau penisbatan nasab berubah :)

gaara_hisoka
10-12-2013, 03:07 PM
hukum dalam artian yang luas maksud saya. setahu saya kalau dalam islam itu mengaburkan nasabnya. trus bagaimana dengan hak warisnya.
lha bukan berarti karena suka sama suka trus hukum waris itu batal atau penisbatan nasab berubah :)

hak waris? -saya gak mau bicara agama yak...- :nongol:

loh kan surrogate mother konsepnya... pasangan A gak bisa [gak mau] hamil cari pengganti pembuahan di rahim orang lain (sewa)... ketika si anak brojol... si ibu kandung (yang mengandung) menyerahkan anaknya ke si pasangan A dengan tebusan sejumlah uang dibayar di muka...

ya dari awal berarti anak ini jadi punya si pasangan A... hak waris ya dari pasangan A... karena apa? sudah putus hubungan sama si ibu kandung :obiii:

terus kalo mempermasalahkan surrogate mother dari sisi agama, aye yakin 10000000000% dilaknat Tuhan... gak akan debat aye soal itu... :nongol:

aizy
10-12-2013, 04:03 PM
ikut diskusi yah...:nongol:
surrogate mother... bisa disebut minjem rahim lah... untuk indonesia sendiri jika aturannya pasti dan disetujui... sepertinya gak masalah... terlepas dari berbagai kontroversi entah itu status hukum, maupun norma yg bakal diterima oleh si anak maupun ibu yang mengandung itu sendiri...

balik lagi selama niatan baik juga dengan alasan yang bisa diterima oleh sisi medis....
dan juga dari artikel2 sebelumnya kan banyak pasangan yang bersusah payah mencari seorang ibu untuk tempat "membesarkan" jabang bayi...

tapi untuk perkembangan fisik dan mental sang anak agak kuatir.. terkait pasokan ASI dari sang ibu dan juga terkait pelukan yang didapat sang anak dari ibu, ternyata bisa juga mempengaruhi psikis dan fisik anak kelak besar nanti (lupa sumbernya..:p )....
terlalu ribet jika dipandang dari berbagai sudut pandang....:sedih:

Queen_of_bitch
14-12-2013, 03:21 PM
komentar saya ;
Sesuaikah nilai materi yang di dapat oleh seorang ibu yang mengandung dengan resiko yang diterima dalam menjalani masa kandungan itu??
Ikutan komen aaah.. :lalala:
Tergantung nilai transaksinya Gan. Kl pengen komen ginian ente harus sedikit lebih berempati ke pasutri yg butuh jasa dan wanita penyedia jasa. Meski dari segi agama dan hukum, transaksi ini ilegal. Tapi hukum ga bakal bisa berbuat apa2 kl kedua pihak sepakat dan tutup mulut. Agama? Bahkan sebelum memutuskan bertransaksi pun mereka sudah ga mengindahkan aturan agama. Apalagi setelah tu janin lahir. Boro2 ASI, mahram etc.. Sebodo itu semua, yang penting punya keturunan dan buat ibu sewaannya, yang penting kebutuhan ekonomi terpenuhi. Istilahnya, bagi orang yang sedang kelaparan, bahkan kematian itu ga lebih menakutkan dari kelaparan itu sendiri. Begitu juga menurut pasutrinya. Kl resikonya cuma hukuman penjara beberapa taun, siapa yg mau menghabiskan seumur hidup sendirian tanpa keturunan?

elisaelisa
24-02-2014, 08:53 PM
yang jadi permasalahannya, setelah dilahirkan si anak langsung diambil sama ibu aslinya,
nah si ibu aslinya kan gak bisa menyusui si anak, karena gak akan punya ASI,
soalnya syarat punya ASI kan hamil dan melahirkan (kalo gak salah, hehehehe)



ga hamil dan melahirkan bisa menghasilkan ASI? jawabannya bisa, pengalaman dengan keluarga aku sendiri, dia adopsi bayi karena 10 thn menikah belum juga hamil. karena besarnya niatnya untuk menjadi seorang ibu yg seutuhnya (cieeeeehhh) dia berusaha agar bayi adopsinya ini dapat ia susui sendiri. dengan minum obat hormon untuk menambah produksi air susu, dan rangsangan2 langsung pada pa**da** (oleh isapan mulut bayi dan pijatan2), serta mindset/pola pikir yang benar, itu semua jadi mungkin. yaa perlu usaha dan kesabaran sie, ga semudah ngebayanginnya, tapi bukan berarti ga mungkin. buktinya dia bisa kok, and aku liat sendiri.