PDA

View Full Version : Sejarah Kesenian Bailau Salayo



ocky_de_larocha
09-12-2012, 01:06 PM
http://www.ruangindonesia.com/foto/2011/03/26/med_2603110900_ilau2.jpg


https://www.youtube.com/watch?feature=player_detailpage&v=3FLVwuZDvzg

Mungkin ga banyak Member di IDWS ini yang tahu tentang kesenian bailau, baik yang asli orang minang, apalagi yang orang luar Minangkabau...Yup kesenian satu ini berasal dari daerah Pesisir Selatan, dan berkembang sampai ke Daerah Selayo, Kabupaten Solok, Kurang Lebih 1 KM dari Pusat Pemerintahan Kota Solok. Ok Langsung saja saia jabarkan tentang kesenian Tradisional yang satu ini.

Bailau nama ritual ini. Sebuah bentuk kesenian sastera lisan Minangkabau yang berasal dari daerah Bayang Pesisir Selatan. Pada awalnya merupakan sebuah ritual pembacaan mantra-mantra untuk memanggil ataupun mengusir harimau. Aslinya ritual ini dipandu oleh seorang pawang harimau. Sebagai ritus kematian, posisi pawang ini digantikan oleh perempuan yang tertua dalam kampung dan diiringi oleh para pendendang yang semuanya harus wanita yang sudah menikah.

Dalam perkembangan selanjutnya kesenian Bailau dilengkapi juga dengan gerakan sentakan kaki dan tangan. Mengadopsi gerakan-gerakan silat perempuan. Mirip dengan randai yang dilakukan oleh para lelaki di daerah Agam. Bailau kemudian menjadi media ungkap yang efektif atas berbagai keluh-kesah atas kematian, menjadi sebuah ritual lisan penuh mantra subjektif tentang tragedi kematian. Ekstase dan kemabukan diri merupakan model ekspresi yang dipilihnya. Menurut para pelakunya (para perempuan tua), tanpa ekstase dan mabuk ini, momen spiritual dalam Bailau bakal gagal terjadi. Selintas, Bailau memiliki corak ekstase yang identik dalam beberapa tradisi sufistik islam.

Perempuan yang paling tua yang ada dalam kampung menjadi wakil untuk menyuarakan kesedihan keluarga, kesedihan kaum dan kesedihan abadi manusia tentang kematian. Perempuan tua itu duduk di dalam sebuah lingkaran memakai pakaian yang serba hitam-hitam. Selama duduknya ia hanya akan menyanyikan dan meneriakkan segala iba hatinya dan penyesalan-penyesalannya. Upaya penyesalan ini (jika mau disebut begitu) tak habis-habisnya dilakukan, ia akan terus berteriak-sangsai, meraung-masai, sejak dari selesai penguburan hingga hari telah kembali pagi, bahkan bisa berhari-hari lamanya. Selama ia masih punya kekuatan untuk menangis, kalaupun menangis itu sudah tak dirasanya lagi sebagai sesuatu kesedihan (telah habis air matanya). Selama itu ia hanya ditemani oleh para perempuan tua yang lainnya yang mengelilinginya bergantian. Mereka para perempuan tua itu dengan pakaian yang serba hitam-hitam, sesekali melakukan gerakan memutar searah dan serentak, melangkah dalam langkah silat yang berat dan pekat.

Dalam tradisi Bailau kematian menjadi satu-satunya motivasi pergerakan tubuh dan jiwa. Pada awalnya, kematian dihayati sebagai puncak kenistaan nasib manusia, untuk akhirnya diterima sebagai bagian dari diri. Penyesalan bukannya dihindari, malah harus dilakukan dengan sesungguh-sungguhnya. Kalau boleh disebut, Bailau adalah seni untuk menyesali kelahiran itu sendiri. Ekspresi yang dipertunjukkan di dalam praktek spiritual Bailau berasal dari segala kandungan transenden kemanusiaan. Si perempuan tua yang menyanyikan ratapan penyesalan dan iba hatinya akan kematian itu, melakukan semuanya dengan sepenuh jiwanya menghadap pada kehidupan. Ia mempertanyakan hidup itu kembali. Mengapa dilahirkan kalau kemudian akan mati dan menyisakan sedih? Apa maksudnya semua itu?

Kematian dalam Bailau tidak berada dalam suatu sirkum ketakutan-ketakutan manusia terhadapnya sehingga manusia mengumbar doa-doa agar terhindar dari kematian. Namun merupakan bagian yang inheren dan niscaya bagi setiap insan. Bailau memposisikan dirinya sebagai media penyambung antara kematian dan kehidupan.

Sejak dari dulukala, kematian telah menghantui hidup manusia. Menjadi “menghantui” karena tak pernah dapat terjelaskan secara tuntas. Kehadiran Bailau adalah untuk memberi sebuah perspektif alternatif terhadap kematian ini. Perspektif yang lahir bukan dari pergolakan dialektika pemikiran atau keimanan. Tetapi sebuah perspektif yang lahir setelah segala paradoks di dalam diri manusia itu saling dilantakkan dan ditumpahkan ke atas khalayak kehidupan. Intuisi, naluri, logika dan segala potensi spiritual manusia dijejal habis-habisan dalam ritual ini. Logika-positif ataupun etika-pragmatis tak mendapat tempat untuk dibahas dalam kerangka ini, karena sesungguhnya Bailau memang hadir untuk menjembatani segala keterbatasan logika-positif dan etika-pragmatis manusia dalam usahanya menjelaskan kematian tersebut.

Si penutur nyanyian iba dalam Bailau melagukan apa saja yang ia ingat seketika itu juga. Semua ucapannya sangat impulsif, tiba-tiba dan tak dapat dikira. Tak ada perencanaan naskah nyanyian atau tuturan seperti dalam Randai (yang merupakan teater rakyat Minangkabau). Apa yang mau disebut, ia sebut saja apa adanya hingga lapang rasa hatinya sendiri. Ukurannya bukan pada ukuran kepatutan, tetapi pada ukuran totalitas kehidupan dan kematian yang bergabung dalam satu sirkum ruang dan waktu di dalam dirinya sendiri. Penutur dalam hal ini lepas dari segala kategori, ukuran dan prosedur logika diskursif.

Si penutur akan berusaha agar dapat menjadikan dirinya sebagai media bagi penonton untuk menyaksikan kematian dan kehidupan yang ternyata satu atap tempat tinggal. Jika kematian dipaparkan dengan masih ada jarak terhadap kehidupan, maka yang muncul hanyalah apologi yang tidak berani dalam menghadapi kenyataan (kematian) sehingga tontonan ini akan menjadi membosankan dan ditinggalkan penonton dengan ejekan “cengeng”. Penutur kemudian mengusahakan dirinya agar masuk ke dalam dua realitas yang bersebelahan itu, hidup dan mati sekaligus. Gunanya agar dapat melakukan klarifikasi mengapa harus ada hidup dan kematian. Sikap seperti ini adalah suatu konsistensi untuk membongkar arti hidup sebagai manusia yang berpikir dan merasa. Soal yang diangkat bukanlah perkara sedih atau bahagia, tetapi dalam persoalan bahwa setiap tanya mesti dicari jawabnya. Untuk itu si penutur terkadang akan menambah-nambah iba hatinya sendiri dan semakin melarutkan perasaannya sendiri agar dapat benar-benar hanyut-larut dalam rasa sedih sehingga ia tahu benar apa sedih itu sesungguhnya. Dan terkadang pula si penutur akan bercerita sebuah kenangan lucu almarhum yang membuat ia tertawa sendiri bahkan sampai terbahak-pingkal. Sedih dan lucu dipertarungkan, dilawankan hingga akhirnya lebur menjadi satu kenyataan yang identik. Artifisialitas dalam berbagai kategori dan ukuran-ukuran menjadi lenyap. Segala sesuatu dicapai secara radikal. Yang ada hanyalah aku yang bebas sekehendakku dalam memaknai hidup dan mati. Semuanya terjadi benar-benar impulsif, mengalir, spontan dan bebas.

Penutur melakukan sebuah perjuangan untuk menguak selubung kematian yang selama ini ditakuti. Hingga akhirnya hidup dan mati menjadi sama saja baginya. Penutur dengan segala potensi kediriannya berusaha memasuki ruang bahasanya sendiri yang paling dalam (absurditas) sehingga ia lepas dari lingkup sosial yang mengelilinginya. Tetapi ketika itulah ia akan merasakan sendiri segala totalitas diri yang sesungguhnya. Lepas dari penjara bahasa dan makna-makna. Ia membentuk bahasa dan makna-maknanya sendiri (absurditas berubah menjadi suatu arena permainan bebas bahasa dan makna-makna). Menjadi penguasa atas makna kehidupan dan kematian yang membentang di depannya. Kehidupan atau kematian bukan lagi menjadi sesuatu yang menyisakan sayatan di dalam dirinya, tetapi berbalik menjadi; dirinyalah yang akan membubuhkan banyak sayatan di dalam kehidupan dan kematian itu sendiri.

Ketika inilah kematian menjadi suatu arena yang justru paling menggairahkan demi terbukanya ajang kreatif kreasi kehidupan. Kematian dibalik, yang awalnya hanyalah sebagai takdir Tuhan atas akhir manusia, menjadi, awal manusia memasuki kisah dan modus kejadian beserta penciptaan itu sendiri. Keduanya, antara kematian dan kehidupan, telah saling menyelubungi dalam satu sirkum ruang dan waktu, tidak ada yang ditinggalkan, begitu juga, tidak ada yang sesungguhnya pergi. Dan ini memang sudah tidak berada dalam kategori diskursif. Nalar diskursif akan bengkok untuk memahami hal seperti ini.

Jika telah nyata kematian itu adalah kehidupan juga, atau sebaliknya, kehidupan itu dapat merupakan kematian itu sendiri, barulah selesai prosesi Bailau. Si perempuan tua itu tinggal menghela nafasnya panjang-panjang, tanpa tangis tidak juga tawa. Raut wajahnya menjadi biasa kembali, pulang ke rumah menemui cucu-cucunya untuk mengisahkan tentang kematian si Malinkundang.

Dionysian
Bailau merupakan sebuah arena perjuangan manusia akan kebebasan sejati. Kebebasan dari campur tangan Tuhan dalam memaknai hidupnya. Kebebasan dari segala kategori dan ukuran. Manusia menjadi penguasa terhadap dirinya sendiri bahkan terhadap kehidupan dan kematian. Tuhan dalam spiritualitas Bailau diposisikan sebagai kawan dialog. Bukan sebagai “Raja” yang gila disembah. Tetapi bukan terus kemudian manusia ingin merebut kuasa Tuhan, itu tidak mungkin. Manusia hanya ingin mendapat penjelasan yang lengkap dan tuntas atas defenisi dirinya sendiri sebagai manusia. Kebutuhan untuk mendapatkan penjelasan ini ada karena jika tanpa penjelasan (apapun bentuknya), afirmasi atau penerimaan akan kehidupan tidak mungkin dapat terjadi. Bagaimana bisa menerima sesuatu hal yang kabur.

Penjelasan-penjelasan yang dibutuhkan oleh manusia sesungguhnya berada dalam dua medan bahasa yang berdampingan sebagaimana hidup dan mati itu sendiri juga saling berdampingan. Medan bahasa pertama berada pada wilayah realitas-artifisial. Yaitu suatu wilayah konvensional. Bahasa atau juga tatanan dunia dalam wilayah ini bersifat dapat diutak-atik dalam ukuran-ukuran umum yang cenderung diskursif. Bahasa disini adalah bahasa yang berkembang dalam struktur disiplin pengetahuan dan prosedural formal.

Medan bahasa kedua berada dalam wilayah realitas psiko-transenden. Tak ada konvensi yang merujuk pada suatu tata-aturan tertentu dalam wilayah ini. Pemahaman bahasa yang terjadi bersifat adi-manusiawi. Bukan berarti kemudian manusia menjadi sesuatu yang bersifat super (adi) disini. Hanya saja wilayah ini kerap dipahami sebagai wilayah pemahaman tanpa “penjelasan” diskursif. Pemahaman tanpa penjelasan mengandaikan suatu sikap diam dalam kemafhuman, kebijaksanaan dalam ketenangan. Intuisi menjadi landasan dari segala tindakan. Subjektifitas jadi berperan besar dalam proses iluminasi diri atas kejadian yang sedang dihadapi. Atau kejadian dimasuki dengan sepenuh-penuhnya agar terjadi penyingkapan selubung (misteri). Kesadaran intuitif inilah yang akan menembus berbagai cakrawala serta mengalami berbagai penampakan. Ketika intuisi-iluminatif ini coba diungkapkan kepada orang lain, maka terbentuklah suatu metabahasa.

Kematian datang dalam dunia keseharian, bukan dalam dunia tertentu semata sepanjang hidup kita. Untuk itu manusia kemudian memasuki wilayah metabahasa tadi namun untuk dapat diturunkan ke dalam bahasa sehari-hari. Aturan dalam wilayah metabahasa ini tidak sama lagi dengan bahasa pada umumnya. Dan lebih banyak ia menjadi puisi atau mantra.

Metabahasa ini berkembang pesat dalam ajang seni, agama dan spiritualitas. Bagi Frederick Nietzche sang pembunuh Tuhan, wilayah metabahasa akan menjadi pintu pencerahan manusia manakala prinsip yang dipakainya berada dalam spirit Dionysian. Jika tidak berada dalam spirit dionysian justru dapat menjadi ajang pelarian manusia juga dari kehidupan.

Spirit dionysian adalah spirit tragedi dalam Yunani kuno. Tragedi disini menjadi ajang yang paling tepat bagi terjadinya ekstase. Karena ekstase yang paling tulus hanya dapat dicapai ketika berhadapan terhadap tragedi. Bukanlah ekstase yang tulus jika berhadapan dengan bahagia semata. Ekstase seperti inilah kemudian yang akan membebaskan manusia dari segala keterikatan dari berbagai penjara makna. Manusia menjadi melampaui dirinya sendiri, tetapi juga, tetap mengalami diri tersebut.

Menurut Nietzche, estetika dionysian yang merayakan ekstase seperti ini merupakan sebuah jalan keluar dari keruntuhan makna-makna hidup. Keruntuhan makna-makna hidup bukan karena tragedi yang ditimpakan Tuhan kepada manusia, karena Tuhan itu sendiri telah lama mati dibunuh oleh manusia. Keruntuhan makna-makna hidup terjadi karena manusia itu sendiri adalah tragedi yang sesungguhnya (kelahiran telah berarti tragedi).

Persoalannya kemudian bukan pada bagaimana memberikan pembenaran-pembenaran atau permakluman, karena yang demikian justru merupakan pelarian paling sejati. Tetapi bagaimana manusia dapat menerima tragedi (mengafirmasi hidup) dalam dirinya tersebut sebagai hal yang justru paling menggairahkan dan membuat ia berkata “Ya” untuk kehidupan. Satu-satunya cara untuk dapat menerima tragedi ini adalah dengan ekstase diri dalam wilayah metabahasa tadi, atau disebut sebagai estetika dionysian sebagaimana yang dilakukan si perempuan tua tadi dalam Bailau.

Sumber: Surya Saluang (http://suryasaluang.wordpress.com/2008/11/06/bailau/) & Bujang Katapel (http://bujangkatapel.wordpress.com/2012/01/29/kesenian-bailau-selayo/)