PDA

View Full Version : Legend/Myth Two Great Chinese Legend - Facts and Fiction



Kurenai86
30-03-2010, 02:48 PM
Fact and Fiction
Two Great Chinese Legend
Feng Shen Bang (Investiture of Gods) dan Xi You Ji (Journey to the West)

Kayaknya karena di Indonesia masih banyak yang bingung dengan 2 kisah di atas, maka saya mau coba bahas hal ini, dengan catatan, pembahasan ini adalah secara garis besar saja. Untuk lebih detailnya akan menjadi bahan diskusi.
Tidak bisa dihindari kalau pembahasan ini mengandung spoiler untuk kedua film tersebut.

ada beberapa pepatah yang saya suka hingga saat ini...

'kalau orang dalam hatinya ada Buddha (bisa diganti dewa, Tuhan, Allah, dsb sesuai agama dan kepercayaan masing2), maka semua yang dia lihat adalah Buddha.
kalau orang dalam hatinya ada sapi, maka semua yang dia lihat adalah sapi...'

'Satu jarimu menunjuk pada orang lain, maka empat jarimu yang lain menunjuk pada dirimu sendiri'

'Bila orang, demi menonjolkan/membenarkan agama / mazhabnya sendiri dengan cara menjelekkan agama/mazhab orang lain, berarti dia menjelekkan agama/mazhabnya sendiri.
Bila orang menghormati agama/mazhab orang lain, berarti dia menghormati agama/mazhabnya sendiri.'-- Tugu Ashoka

Sebagai permulaan, Feng Shen Bang dan Xi You Ji keduanya berdasarkan kisah nyata, biarpun memang sebagian besar tokoh adalah fiktif. Kalo dilihat dari sudut pandang agama dan kepercayaan, maka Feng Shen Bang mewakili ajaran agama Tao, sementara Xi You Ji mewakili ajaran agama Buddha.

1. Feng Shen Bang / Feng Shen Yan Yi
Settingnya adalah masa peralihan dinasti Yin Shang menjadi Zhou (kira-kira 1100 Sebelum Masehi), untuk informasi lebih lengkap, lihat di:
http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Shang dan
http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Zhou .
Tokoh Jiang Zi Ya benar2 ada dalam sejarah (lihat di: http://en.wikipedia.org/wiki/Jiang_Ziya), begitu juga Da Ji sang permaisuri yang dalam legenda ini disebut2 sebagai penjelmaan siluman rubah
(lihat di : http://en.wikipedia.org/wiki/Daji).
Di sini diceritakan para pahlawan yang berperan dalam perang untuk meruntuhkan dinasti Shang dan mendirikan Dinasti Zhou, baik pihak kawan atau lawan pada akhirnya diangkat menjadi dewa yang ada dalam kepercayaan Tao. Kepercayaan itu sendiri sudah ada sebelumnya, dengan bukti bahwa para pendeta (termasuk Jiang Zi Ya) menganut kepercayaan tersebut.
Sebagai hubungan dengan agama Buddha, kalo diperhatikan, di bagian akhir FSB, untuk menangkap Tong Tian (ketua para pendeta yang memihak Yin Shang), para pendeta Tao dari pihak Zhou itu meminta bantuan dari 'Pendeta dari Barat' yang bisa disamakan dengan 3 dewa utama Hindu (Brahma, Wisnu, Syiwa), serta ada juga pendeta yang nantinya menjadi Sang Buddha (saat itu masih Boddhisatwa dan baru lahir menjadi Pangeran Siddharta sekitar 500 tahun kemudian).
Jadi, sejak FSB, kerjasama dan hubungan antara Buddha, Hindu, dan Tao sudah ada.

2. Xi you Ji
settingnya jaman dinasti Tang (kira2 600 Masehi) pada masa pemerintahan Kaisar Li Shimin (Tang Taizong), untuk info lengkapnya lihat di
http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Tang).
Dalam sejarah dinasti ini, tokoh Biksu Tang benar2 ada, link wiki : http://id.wikipedia.org/wiki/Xuanzang
peta perjalanan Xuan Zhang dalam sejarah
http://i48.tinypic.com/1254cgy.jpg
Menurutku, begini latar belakang ceritanya:
Agama Buddha berkembang di India sekitar tahun 500 Sebelum Masehi (kira2 500 tahun setelah kejadian di FSB). setelahnya pada pemerintahan Raja Asoka di India, dikirim misionaris yang menyebarkan agama itu sampai ke China (dengan cara damai tentunya) dan menjadi populer di sana. Namun ajaran itu masih dangkal. Kitab2 yang ada terjemahannya tidak lengkap dan kadang malah saling bertentangan satu sama lain.
Pada masa Dinasti Tang kira2 1100 tahun kemudian, untuk mendapat isi kitab /ajaran yang lebih lengkap, berangkatlah Biksu Tang (yang kemudian populer dengan kisah JTTW) ke India untuk mendapat kitab yang lebih lengkap di perpustakaan Nalanda, India dan mempelajarinya lebih dalam lagi. Perjalanan itu memakan waktu 14 tahun pulang pergi. Setelahnya beliau menerjemahkan kitab2 tersebut dari bahasa aslinya (Sansekerta / India) ke dalam bahasa Mandarin. Dalam kisah XYJ, ditambahlah tokoh Sun Wu Kong dan sebagainya untuk membantu dan melindungi sang Biksu dalam perjalanannya. Sementara itu, para Dewa yang ada dalam ajaran Tao membantu mereka dalam perjalanan bila menemui kesulitan.

Asal Usul Sun Wu Kong (http://en.wikipedia.org/wiki/Sun_Wukong)
Untuk menjawab pertanyaan kenapa Wu Kong yang begitu hebatnya bisa mengacau kayangan namun kemudian tampak tak berdaya di tangan Sang Buddha, saya akan bahas lebih ke belakang sebelum Wu kong lahir.

Kalau memperhatikan / menonton adaptasi FSB terbaru dengan judul Legend and the Hero bagian 2, ada tokoh yang bernama Yen Hung yang menjadi jendral pihak Yin Shang. Pada akhirnya ketahuan bahwa Yen Hung adalah siluman kera yang berasal dari pecahan batu 5 warna milik Dewi Nu Wa. Dia sangat hebat dan hanya Yang Cien (Er Lang Shen) yang bisa menandinginya. Yen Hung akhirnya tertangkap dan dikurung kembali dalam wujud batu. Dia ini yang nantinya menjadi cikal bakal Sun Wu Kong setelah 1000 tahun berlalu. Dalam Legend and the Hero juga Yang Cien diberitahu bahwa pertempuran mereka belum selesai, bahwa setelah 1000 tahun, pertempuran mereka akan terulang. Ramalan itu jadi kenyataan saat Si Monyet Batu dalam wujud Sun Wu Kong mengacau Khayangan.

Jadi jangan heran kalo hampir tidak ada yang bisa menandinginya di istana khayangan, Saat dalam kisah FSB saja, tidak ada yang bisa mengalahkan Yen Hung selain Yang Cien. Ditambah, karena Yen Hung / Wu Kong terlahir dari batu 5 warna yang digunakan dewi Nu Wa (http://en.wikipedia.org/wiki/N%C3%BCwa) (dari kisah FSB - Dewi yang juga berperan dalam penciptaan langit dan bumi serta manusia; bila di Mitologi Yunani kedudukannya hampir sama dengan Gaia; dalam mitologi Jepang : Izanami ) untuk menambal langit, bisa dibilang Wu Kong itu pusakanya Dewi Nu Wa, jadi makin jelas kalau jadi tak terkalahkan.

Jangan salah, Wu Kong bisa ditangkap (mis: menggunakan cincin Pusaka Tai Shang Lao Jun, menggunakan tali pusaka - dulunya digunakan oleh Du Xing Sun dalam FSB - dalam cerita melawan siluman tanduk emas dan perak). Tapi, dia tidak bisa dibunuh dengan cara apapun.
Sang Buddha juga hanya menangkap, mengurung, dan pada akhirnya menggunakan Biksu Tang untuk mengendalikan sifat liar Wu Kong. Jadi, Buddha juga tidak bisa memusnahkan Wu Kong.

Asal Usul Er-Lang Shen (http://en.wikipedia.org/wiki/Erlang_Shen)
Dalam film seri Origin / Prequel of the Lotus Lantern, disebutkan bahwa Yang Cien merupakan keponakan Kaisar Langit (Yu Di). Yang Cien adalah anak kedua dari 3 bersaudara, karena itu mendapat sebutan Er Lang (Putra Kedua). Karena ibunya melanggar aturan langit yaitu Dewa tidak boleh menikah dengan manusia, maka mereka sekeluarga diburu oleh pasukan langit. Pada akhirnya, ayah dan putra pertama tewas terbunuh, sementara ibunya dikurung di dalam gunung. Yang Cien dan adik ketiganya (San Mei- Yang Chan) berhasil melarikan diri, mendapat kesaktian (yang Cien mendapat mata Langit dan 72 ilmu perubahan wujud, sementara Yang Chan mendapat Bao Lie Deng / Lentera Teratai) dan akhirnya berusaha membebaskan ibu mereka.
Kisah ini dikonformasi saat Yang Cien berhadapan dengan Sun Wu Kong dalam XYJ saat Wu kong Mengacau kayangan, dimana Wu Kong menyebut2 hal itu di hadapan orang yang bersangkutan.

Harap diperhatikan, Yang Cien berhadapan dengan Wu Kong hanya 1 kali, yaitu setelah Kaisar Langit diingatkan oleh Guan Yin untuk meminta bantuan Yang Cien. Setelah itu, terjadi pertempuran antara mereka berdua dan melibatkan adu ilmu perubahan wujud. Pada akhirnya, dengan bantuan Cincin Pusaka Tai Shang Lao Jun, Wu Kong ditangkap. Setelah itu, saat Wu Kong berhasil membobol tungku obat Tai Shang, menjadi bertambah sakti, dan kembali membuat kekacauan, Yang Cien tidak muncul lagi sampai akhirnya Sang Buddha turun tangan dan mengurung Wu Kong. Alasan Yang Cien tidak keluar untuk kedua kalinya mungkin karena dia masih dendam dengan pamannya yang telah mengurung ibunya dan membuat mereka sekeluarga tercerai-berai. Ditambah lagi, tampaknya Yang Cien sudah tahu kalau akan ada tokoh lain (maksudnya Sang Buddha) yang akan mengurus monyet itu.

Pertanyaan: kenapa Wu Kong yang begitu hebat sampai bisa mengacau Khayangan, saat dalam perjalanan mengambil kitab suci jadi terlihat lemah dan (hampir) selalu meminta bantuan dari para Dewa yang notabene dulu kalah semua melawannya, padahal sudah ada bantuan dari adik kedua (Ba Jie) dan ketiga (Sha Sheng)-nya?

Sebenarnya ada beberapa jawaban, dan semuanya terkait dengan Sang Biksu Suci itu sendiri. Sekarang akan ditelaah dari kondisi sebelum dan sesudah bertemu Biksu Tang:
1. Saat jadi Qi Tian Ta Shen yang mengacau khayangan, Wu Kong sama sekali tidak punya kekhawatiran. Dia sama sekali tidak peduli ataupun takut pada apapun. Tanpa rasa khawatir, maka dia bisa bebas pergi dan bertindak sesukanya. Karena itu si monyet jadi tampak tak terkalahkan. Para siluman lain-pun ikut bekerjasama dengannya karena melihat kesaktiannya itu. Setelah bertemu Biksu Tang, Wu Kong jadi memiliki hal yang dikhawatirkan, yaitu nyawa sang guru. Ditambah lagi, Sang Biksu Suci tampaknya menjadi seperti magnet yang menarik keinginan berbagai siluman untuk memakannya, dengan tersebarnya isu bahwa barang siapa yang memakan dagingnya akan hidup abadi dan awet muda.

2. Saat mengacau khayangan, Wu Kong bisa membunuh sesukanya, sementara setelah bertemu Biksu Tang, Wu Kong dilarang keras untuk membunuh. Terbukti saat pertama bertemu, Wu Kong dengan mudah membunuh harimau dan perampok yang menyerang mereka. Namun lama kelamaan, apalagi dipicu dengan kejadian saat Wu Kong diusir oleh Biksu Tang pada kasus Siluman Tulang Putih, Wu Kong jadi berusaha keras untuk tidak membunuh lagi, dan karena itu jadi menahan diri dan kekuatannya sendiri (karena itu jadi terlihat lebih lemah daripada dulu). Maka jalan satu-satunya untuk menolong Sang Guru adalah dengan minta bantuan para Dewa dan pusaka mereka.

3. Berkaitan dengan kedua saudara seperguruannya, karena asal mereka dari dewa yang melanggar aturan hingga diturunkan ke bumi, tentu saja mereka jadi sangat lemah dibandingkan Wu Kong (saat masih jadi dewa-pun mereka tidak berdaya menghadapi Wu Kong, apalagi setelah diturunkan ke bumi). Jadi kadang mereka malah merepotkan kalau menghadapi musuh yang kuat.

4. Yang terakhir… entah kenapa sebagian besar musuh yang menghalangi perjalanan mereka ternyata adalah peliharaan para Dewa yang berhasil mencuri pusaka dan turun ke bumi menjadi siluman (di antaranya: ikan mas di kolam teratai Guan Yin, kerbau hijau tunggangan Tai Shang Lao Jun, elang Sang Buddha, tikus putih milik Li Jing, kelinci giok milik Dewi Bulan, dan sebagainya). Cara paling mudah menghadapi para peliharaan itu beserta pusakanya tentu saja memanggil Dewa pemiliknya untuk datang dan menjemput kembali peliharaan mereka itu.

Saya curiga, para Dewa itu ‘sengaja’ melepas peliharaannya ke bumi dan ‘pura2 kecurian’ pusaka. Tujuannya jelas, yaitu bekerja sama dengan Buddha untuk menguji tekad Biksu Tang dan kesungguhan 3 pengikutnya mengambil kitab suci. Kalau diperhatikan, memang seberapa pun hebatnya siluman dan pusaka mereka, tidak ada luka yang berarti yang mereka derita. Para siluman itu terkesan mencari alasan untuk menunda-nunda memakan Biksu Tang yang seharusnya sudah jatuh dalam genggaman mereka. Mungkin menunggu sampai Wu Kong datang dan menolongnya, ya…

Selain itu juga untuk menggenapi 81 ujian dalam perjalanan mereka. Terbukti saat mereka berhasil mendapat kitab, Sang Buddha sendiri bertanya pada Guan Yin, “berapa ujian yang sudah mereka lalui?” Saat dihitung, total ujian yang sudah mereka lalui saat itu ada 80, yang berarti kurang satu. Untuk menggenapinya, Sang Buddha melemparkan mereka dari atas awan, membuat rombongan yang akan kembali ke timur itu harus menyeberang sungai di atas punggung kura-kura. Di tengah sungai, mereka diceburkan oleh kura2 itu ke sungai hingga kitab suci yang mereka bawa basah semua dan harus bersusah payah mengeringkannya. Dengan demikian, lengkaplah 81 cobaan mereka.

Buat yang penasaran kenapa XYJ lebih populer daripada FSB, kayaknya jawabannya udah jelas deh... XYJ tokoh utamanya lebih sedikit (cuma 4) dan jalan ceritanya simpel, jadi lebih mudah diikuti. Sementara FSB, tokohnya sangat banyak, dan yang terkenal cuma sedikit, seperti Ne Zha dan Yang Cien (Er-Lang Shen), apalagi ditambah ada unsur perang dan politik, termasuk adu strategi militer (meski tidak serumit San Guo). Bila penonton / pembaca tidak mengerti maksudnya, dijamin makin pusing saat nonton / baca ceritanya.

Hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan anggapan kalau XYJ lebih populer daripada FSB karena Buddha lebih populer (di dunia) dibandingkan Tao.

Bonus: Ringkasan cerita Feng Shen Bang (http://www.indowebster.web.id/showthread.php?p=4249933&postcount=14)
source : Kaskus (thanks udah buat terjemahannya)

PS: moga2 ngga repost atau post tidak pada tempatnya...

PS: kedua cerita itu dibuat / disusun pada Dinasti yang sama (meski settingnya beda), yaitu Dinasti Ming

Kenapa saya pake wiki untuk referensi?
sederhana, toh, kalo cari sesuatu di google dengan kata kunci tertentu, yang paling duluan muncul adalah Wikipedia...ya ngga?
Apalagi Wiki bisa diedit bila dianggap ada kesalahan. Jadi, bisa dibilang kalo wiki adalah ensiklopedia dari dan untuk semua pengguna. Isinya adalah hal2 yang diterima secara umum, jadi kalo ada yang ngga setuju sama isinya Wiki, monggo, silakan edit aja sesukanya...

king_of_love
30-03-2010, 07:07 PM
Lho, memangnya selama ini dikira saling bermusuhan ya? :???:
Tapi memang cerita ini sangat melegenda.
Banyak yang dapat diambil atau dipetik dari membaca atau menonton serial tivinya. Bagi saya ini cerita yang bagus sekali :top:

tertindas
31-03-2010, 01:15 AM
walau yg saya tau cm Xi You Ji (Journey to the West) :swt:
tp penjelasan kk masuk akal jg :top:

Kurenai86
31-03-2010, 06:09 AM
Lho, memangnya selama ini dikira saling bermusuhan ya? :???:
Tapi memang cerita ini sangat melegenda.
Banyak yang dapat diambil atau dipetik dari membaca atau menonton serial tivinya. Bagi saya ini cerita yang bagus sekali :top:

Ya, ada beberapa oknum yang beranggapan seperti itu. Hal itu mungkin dipicu dengan cerita saat Wu Kong dengan mudah mengacau khayangan (Tao), tapi kemudian tertangkap oleh Buddha (Buddha). Mereka beranggapan dengan cerita ini, umat Buddha bertujuan menjatuhkan dan menghina Taoisme, menganggap Tao lebih lemah daripada Buddha(dengan cara nyindir, gitu). Mereka ngga memperhatikan kelanjutannya, sih... bukannya selanjutnya justru SWK sendiri yang minta2 bantuan Dewa Tao???? jadi sudah impas kan?
padahal di China sekarang, kedua umat itu hidup dengan rukun tanpa ada perselisihan.

sweetgurl85
31-03-2010, 08:10 PM
loh, aku malah baru tau klo tau itu yg khayangan.. tp rasany g prnh d dgr kbr klo mereka musuhan, soalnya d bbrp crita, yg plng gampng, crita soal wu kong aja, antara khayangan n buddha kan kliatannya terjadi hubungan kerjasama. tp aku suka infonya.. ma kasih y

haido90
01-04-2010, 02:55 AM
Lho, memangnya selama ini dikira saling bermusuhan ya? :???:
Tapi memang cerita ini sangat melegenda.
Banyak yang dapat diambil atau dipetik dari membaca atau menonton serial tivinya. Bagi saya ini cerita yang bagus sekali :top:

saya malah baru tau

TheSeventhBlue
01-04-2010, 06:04 AM
keren......... gw abru tau nih cerita kayak gini.............. terus katanya dulu itu siluman beneran ada yah?? kalo gitu sekarang siluman pada kemana yah?

Kurenai86
01-04-2010, 06:23 AM
keren......... gw abru tau nih cerita kayak gini.............. terus katanya dulu itu siluman beneran ada yah?? kalo gitu sekarang siluman pada kemana yah?

tanyanya ada2 aja...
ngga tahu juga deh, beneran ada apa engga, tapi di hampir semua negara, termasuk Indonesia sendiri juga ada kan cerita siluman (werewolf, nekomata, manusia jadi-jadian, babi ngepet -siluman juga?)
Kalo sekarang udah tergusur ama peradaban dan teknologi manusia, kali...
jangankan siluman, hewan liar aja udah langka

bagi yang penasaran dimana saya dapet info sesat itu, nih, link-nya
http://community.siutao.com/showthread.php/222-dewa-kera-sakti

razor1
01-04-2010, 07:25 AM
dewa Erlang anak kedua? masa sih, baru tahu gw
soalnya di kera sakti 2 yang ada cerita asal usulnya erlang, ngga disebut dia punya saudara
terus dia harus ngelakuin 10.000 kebaikan kalo ngga salah ingat buat membebaskan ibunya.
yang bener yang mana?

btw, thanks infonya

youzen
01-04-2010, 09:19 AM
gw jg baru tahu nih ceritanya dewa erlang
soalnya yg baru gw tonton kera sakti 1 dan 2, sih
dulu pernah nonton nacha di tv, itu masuk feng shen bang ya?
oya, pernah nonton Lotus Lantern juga,sih. di situ ibunya si Cen Xiang berarti adik ketiganya dewa erlang, ya kan?

elq
01-04-2010, 10:55 AM
wah.. berhubung gw suka kera sakti jadi info ini menarik..

tapi menurut gw g bermusuhan segh..

tapi gw baru tau kalo kayangan ngelambangin Tao n kalo budhanya dagh jelas bgt..

Kurenai86
02-04-2010, 06:24 AM
dewa Erlang anak kedua? masa sih, baru tahu gw
soalnya di kera sakti 2 yang ada cerita asal usulnya erlang, ngga disebut dia punya saudara
terus dia harus ngelakuin 10.000 kebaikan kalo ngga salah ingat buat membebaskan ibunya.
yang bener yang mana?

btw, thanks infonya

Ya, kalo engga darimana julukannya sebagai Er-Lang Shen? Nama aslinya sejak lahir Yang Cien.
Er-Lang berarti putra kedua, sementara Shen = Dewa - masih punya fisik manusianya/ belum meninggal/ immortal
(kalo istilahnya Hsien= Malaikat - fisik manusianya sudah ngga ada, alias sudah meninggal baru arwahnya jadi Dewa).

coba kalo nonton cerita Yang Jia Ciang, pasti banyak istilah2 itu
er-lang = putra kedua, san-lang = putra ketiga, si-lang = putra keempat, dst.

tambahan: Ternyata Er-Lang Shen juga pernah mengacau khayangan, lho...
tujuannya? apa lagi kalo bukan buat menuntut Yu Di membebaskan ibunya.
(yah, setidaknya itu cerita menurut FSB dan XYJ, kalau aslinya yang seperti apa, siapa yang tahu? Ngga ada mesin waktu sih...wkwkwkwk)

Ingat, ya, itu versi dari FSB dan XYJ (aku bahasnya sebatas 2 cerita itu aja). Memang ada juga versi lain seperti yang sudah diberikan link wiki-nya (tentang Li Er Lang), tapi kalo dibahas lebih jauh lagi takutnya malah menyimpang dari tujuan semula dan malah bahas dewa2 Tao. kalo mau tahu lebih jelas kunjungi saja forum2 agama Buddha dan Tao. di Google banyak kok.:piss::piss:

meganyo
02-04-2010, 08:49 AM
btw, gw ga tau cerita yang pertama itu...
tentang apa sih itu :???:
yang gw tau cuma journey to the west..:piss:

Kurenai86
02-04-2010, 08:58 AM
btw, gw ga tau cerita yang pertama itu...
tentang apa sih itu :???:
yang gw tau cuma journey to the west..:piss:

Pernah baca manga Houshin Engi karangan Ryu Fujisaki? Cerita itu dibuat atas dasar cerita Feng Shen Bang ini.
(biarpun penokohannya ancur semua)
Kalo masih bingung juga, tahu yang namanya Ne Zha kan?
Nah, Ne Zha itu salah satu dari sekian banyak pahlawan / tokoh dari cerita ini.

untuk info wiki, di sini (http://en.wikipedia.org/wiki/Fengshen_Yanyi)

Oya, gini aja deh, aq kasi ringkasannya secara bersambung dari terjemahan ringkasan wiki, terus kalo ada yang minat baru dilanjutin, gimana? jadi kalo mau baca harus ngikutin dari depan sampai belakang...he3...

Bab 1: Raja Zhou dan Dewi Nuwa
--------------------------------

Ketika raja Di Yi sedang berjalan-jalan di taman kerajaan sambil menikmati keindahan di hadapannya, tiba-tiba saja paviliun awan terbang runtuh dan salah satu pilarnya hendak menimpa raja Di Yi. Pangeran Zi Shou (nama kecil Di Xin) dengan segera menangkap pilar itu dan membuangnya ke samping hanya dengan satu tangan. Melihat hal ini dan kagum atas kekuatan sang pangeran, perdana mentri Shang Rong dan mentri Mei Bo mengusulkan untuk mengangkat pangeran Zi Shou menjadi putra mahkota. Dan lalu dinobatkanlah Zi Shou menjadi putra mahkota. Dan ketika raja Di Yi mangkat, putra mahkota Zi Shou pun naik tahta sebagai penguasa baru dinasti Shang; dengan nama Di Xin atau lebih dikenal dengan gelar raja Zhou. Ibukota negeri Shang dipindahkan ke Zhaoge*.

7 tahun pertama pemerintahan Di Xin, negeri Shang diberkahi kemakmuran. Namun pada tahun ke 7, kejahatan mulai merasuki hati raja Zhou. Pemberontakan pertama terjadi pada bulan ke 2 tahun ke 7 pemerintahan raja Zhou. Wen Zhong, perwira tinggi kerajaan urusan dalam negeri yang telah mengabdi kepada Shang sejak era pemerintahan Di Yi, langsung turun tangan untuk meredam pemberontakan di laut utara ini dengan menunggang Great Kilin* nya. Keesokan harinya, perdana mentri Shang Rong mengusulkan raja Zhou agar berkunjung ke kuil dewi Nuwa untuk memberikan persembahan sehubungan dengan ulang tahun Nuwa. Mengikuti anjuran Shang Rong, keesokan harinya raja Zhou dan beberapa mentrinya keluar gerbang ibukota untuk menuju ke kuil dewi Nuwa. Raja Zhou sangat terpesona dengan keindahan istana/kuil Nuwa; terlebih ketika raja Zhou akhirnya menatap mata Nuwa yang duduk di balik tirai keagungannya. Terlena dengan kecantikan luar bisa sang dewi, raja Zhou mengambil sebuah kuas tinta dan mulai menulis puisi-puisi erotis pada pilar-pilar kuil. Walaupun sudah diperingatkan oleh perdana mentri mengenai bahaya yang dapat ditimbulkan akibat tindakannya, raja Zhou tetap melanjutkan perbuatannya dengan alasan puisi-puisi tersebut hanya sebatas ungkapan kekagumannya terhadap kecantikan Nuwa.

Setelah raja Zhou dan bawahannya kembali ke ibukota, Nuwa segera mengetahui puisi-puisi erotis di kuilnya. Merasa dihina dan dilecehkan, Nuwa menjadi sangat murka dan bersumpah akan meruntuhkan dinsati Shang, yang akan disebabkan oleh kejahatan raja Zhou sendiri. Lalu Nuwa terbang menuju Zhaoge. Dari atas burung Phoenixnya, Nuwa mendapati bahwa raja Zhou masih ditakdirkan untuk memerintah selama 20 tahun lagi. Nuwa yang marah dengan kenyataan ini, sekembalinya ke istananya (kuilnya) lalu memanggil 3 roh perempuan kepercayaannya: roh rubah berusia 1000 tahun (yang nanti akan menjelma menjadi Daji), roh pheasant (burung raksasa) berkepala 9, dan roh Pipa (sejenis kecapi) giok. Nuwa memerintahkan mereka semua untuk menjelma menjadi wanita cantik untuk memperdayai dan mengalihkan perhatian raja Zhou dari urusan pemerintahan - Sehingga raja Zhou akan digulingkan oleh rakyatnya.

Di Zhaoge, raja Zhou hanya duduk dalam keputusasaannya karena selalu memikirkan kecantikan Nuwa; dan ia menolak melakukan segala urusan kenegaraan sampai Nuwa menjadi miliknya. Lalu Fei Zhong, salah satu mentri kepercayaannya, dipanggil menghadap untuk membantu mencarikan solusi dari masalah ini. Fei Zhong mengusulkan agar ke-4 raja muda (duke) di negeri Shang menghadirkan masing-masing 100 wanita muda yang berparas cantik untuk dihadapkan ke raja Zhou. Dengan ini diharapkan raja Zhou akan menemukan wanita yang kecantikannya setara dengan Nuwa. Raja Zhou yang senang dengan usul ini, akhirnya dapat merasa tenang; dan segera pada malam harinya ia mempersiapkan diri untuk merealisasikan rencana ini keesokan harinya...

Bersambung...
-----------------------------------------------------------------------------------------
catatan kaki:

Raja Di Yi (1101 SM - 1076 SM) adalah ayah dari Di Xin

*Zhaoge (朝歌); sekarang di propinsi Henan.

*Great Kilin, makhluk mitologi yang terkenal di Asia. Di terjemahan lain, Wen Zhong menunggangi Naga besar (great Dragon).

Nah, kalo ada yang minat, monggo...

saaya
03-04-2010, 06:17 AM
^
^
lanjutin ceritanya, sis, penasaran juga nih
gimana kalo ditaro di halama depan aja?
kan repot kalau udah panjang terus harus baca dari depan sampai belakang

Kurenai86
05-04-2010, 06:26 AM
kayaknya peminatnya kurang, yah...
coba aq tambahin dulu ceritanya

Bab 2: Pemberontakan Su Hu
---------------------------

Bagian pertama.

Keesokan paginya, raja Zhou mempersiapkan sebuah surat yang berisi permintaan agar masing-masing raja muda (duke) secepatnya mengirimkan 100 gadis perawan yang memiliki kecantikan di atas rata-rata ke ibukota. Sebagai Perdana Mentri kerajaan, Shang Rong kembali mengingatkan raja Zhou bahwa tindakannya ini akan mendapatkan reaksi negatif dari rakyat; serta berpotensial menimbulkan pemberontakan di masa depan. Raja Zhou merasa saran Shang Rong benar, dan segera membatalkan titah tersebut.

Pada musim panas selanjutnya, 800 bangsawan* menawarkan dukungan dan persekutuan mereka kepada dinasti Shang. Absennya mentri agung Wen Zhong (yang sedang menangani pemberontakan di laut utara), membuat Fei Zhong dan You Hun menjadi sangat berpengaruh di istana. Mereka meminta hadiah berlebihan dan sogokan kepada para bangsawan yang datang. Namun Su Hu, bangsawan Jizhou, menentang sikap para mentri yang korup ini. Permusuhan pun muncul di antara Su Hu dan kedua mentri kerajaan Fei Zhong dan You Hun. Ketika para bangsawan dan ke-4 raja muda telah tiba di ibukota, raja Zhou menyambut dan mengundang mereka semua ke perjamuan di mana ke-4 raja muda ini diberi penghormatan atas jasa-jasanya selama menjalankan tugas kenegaraan. Setelah perjamuan selesai, raja Zhou kembali ke ruangan pribadinya dan berdiskusi dengan 2 mentri favoritnya; Fei Zhong dan You Hun mengenai situasi saat ini. Fei Zhong dan You Hun memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas perlakuan Su Hu terhadap mereka. Maka Fei Zhong mengatakan kepada raja Zhou bahwa Su Hu mempunyai seorang anak gadis yang cantik luar biasa; yang pantas mendampingi raja Zhou.

Keesokannya, Su Hu dipanggil menghadap ke singgasana kebijaksanaan naga di mana raja Zhou menyampaikan keinginannya untuk mengambil anak gadis Su Hu. Apabila Su Hu menyerahkan putrinya, ia akan diberikan kekayaan, gelar, dan ketenaran di seluruh negeri Shang. Tetapi Su Hu menolak tawaran ini, dan berbicara kata-kata yang ofensif terhadap raja Zhou. Raja Zhou menjadi murka dan memerintahkan agar Su Hu segera ditahan. Namun Fei Zhong menyarankan raja Zhou agar Su Hu tidak ditahan dengan alasan, apabila Su Hu dibebaskan dan dibiarkan kembali ke Jizhou, rakyat Shang akan melihat raja Zhou sebagai raja yang menghormati dan menghargai rakyatnya. Dengan begitu, untuk mendapatkan anak gadis Su Hu pun akan menjadi lebih mudah. Setelah mendengarkan nasehat dari mentrinya, akhirnya raja Zhou memutuskan untuk mengusir Su Hu dari istana.

Dalam perjalanannya ke Jizhou, Su Hu memikirkan tindakan apa yang akan diambil selanjutnya: jika ia menyerahkan putrinya kepada raja Zhou, para pejabat istana pasti akan mengecapnya sebagai penjilat dan orang yang tidak berperikemanusiaan. Namun jika ia menolak untuk menyerahkan putrinya, kemungkinan daerahnya akan diserang pasukan Shang dengan alasan pemberontakan. Setelah berpikir matang-matang, akhirnya Su Hu memutuskan bahwa yang terbaik adalah mengumpulkan pasukannya dan membentuk kekuatan untuk memerangi pasukan Shang. Ia juga menuliskan puisi-puisi tentang kebenciannya terhadap dinasti Shang pada tembok-tembok gerbang ibukota.

Setelah raja Zhou mengetahui hal ini dan melihat puisi-puisi pemberontakan pada tembok gerbang ibukota, segera ia memerintahkan agar dipersiapkan 6 batalion pasukan untuk menyerang Jizhou. atas usul jendral Lu Xiong, maka diputuskan bahwa yang akan memimpin penyerangan adalah gabungan kekuatan raja muda utara, Chong Houhu, dan raja muda barat, Ji Chang.

Di gedung pertemuan ibukota, di mana seluruh bangsawan agung dan para pejabat tinggi istana sedang berkumpul, Ji Chang memerintahkan sebuah penyelidikan tentang mengapa raja Zhou mengeluarkan titah penyerangan terhadap seorang bangsawan yang setia seperti Su Hu. Di lain pihak, Chong Houhu, tidak seperti Ji Chang, tanpa banyak tanya segera memperisapkan pasukannya dan berangkat ke Jizhou.

Bersambung ke bagian ke-2...

............
catatan kaki:

Sebenarnya ada 5 tingkatan bangsawan. Tapi kalo diterjemahin ke bahasa Indonesia, ya cuma bangsawan.
Strata bangsawan dari yang paling tinggi ke paling rendah:

1. Gong (公): di barat setara dengan Duke (raja muda atau pangeran).

2. Hou (侯): di barat setara dengan Marquis.

3. Bo (伯): di barat setara dengan Count / Earl

4. Zi (子): di barat setara dengan viscount

5. Nan (男): di barat setara dengan baron

Bangsawan yang gw kasih tanda * adalah Hou (Marquis)

VinBaik
05-04-2010, 09:12 AM
Perasaan tadi dah ngepost deh....
koq ilang yah ?


KEREN nih threadnya, secara gw suka ma legenda dewa-dewi China :)
Tuh yg di avatar TS Na Cha kan ? Dari film yang mana ?
Boleh dunk dipost legendanya Na Cha sekalian...

Kurenai86
05-04-2010, 09:46 AM
Perasaan tadi dah ngepost deh....
koq ilang yah ?


KEREN nih threadnya, secara gw suka ma legenda dewa-dewi China :)
Tuh yg di avatar TS Na Cha kan ? Dari film yang mana ?
Boleh dunk dipost legendanya Na Cha sekalian...

Hayooo... yang mana? ada yang bisa jawab?
hint: filmnya paling baru saat ini (dibuat tahun 2009)
Cerita Ne Zha bagian dari Feng Shen Bang, jadi tunggu aja, ya ringkasan ceritanya nanti juga nyampe sendiri.
(sekarang baru bab 2, he3...)

nah, tambah lagi, deh ceritanya

Bab 2: Pemberontakan Su Hu
---------------------------

Bagian kedua.

Su Hu akhirnya mengetahui bahwa wilayahnya akan diserang. Maka Su Hu menyiapkan barisan pasukannya di depan tembok kota untuk menahan pasukan kerajaan. Seorang pengintai memberitahu Su Hu bahwa Chong Houhu memimpin 50.000 tentara istana menuju Jizhou. Berita ini membuat Su Hu gelisah. Maka ketika pasukan kerajaan telah sampai di gerbang kota, Su Hu hadir di atas tembok kota dan mencoba menjelaskan kepada Chong Houhu tentang alasan pemberontakannya. Choung Houhu yang sudah tidak sabar menjadi marah dan segera memerintahkan jendralnya, Mei Wu, untuk segera maju dan membunuh Su Hu. Dari pihak Su Hu, Su Quanzhong, yang adalah putra sulung Su Hu, maju menjawab tantangan duel Mei Wu. Mereka bertarung lebih dari 20 jurus hingga akhirnya kapak Su Quanzhong membelah Mei Wu, dan Su Quanzhong keluar sebagai pemenang.

Melihat pemimpinnya menang, pasukan Su Hu menjadi bersemangat dan segera kedua kubu pasukan maju berperang. Namun karena moral pasukan Su Hu lebih bagus, peperangan ini akhirnya dimenangkan pihak Su Hu; yang memaksa pasukan kerajaan untuk mundur.

Setelah perang usai hari itu, di kubu Su Hu telah diputuskan untuk melakukan serangan kejutan pada malam harinya; dengan alasan serangan tiba-tiba ini akan menjatuhkan moral pasukan kerajaan, sekaligus, kemenangan pasukan Jizhou akan mengundang dukungan dari bangsawan-bangsawan di sekitar Jizhou.

Di kemahnya, Chong Houhu sangat terpukul dengan kekalahan ini dan berharap akan bantuan pasukan dari Ji Chang. Lalu pada tengah malam ketika seluruh pasukannya sedang tertidur pulas karena kelelahan, tiba-tiba muncul pasukan Su Hu menyerang kemah pasukan kerajaan dengan membabi buta dan membantai banyak sekali pasukan kerajaan. Chong Houhu yang sekarang sudah sangat ketakutan ikut bertarung demi menyelamatkan dirinya; sampai salah satu jendralnya datang untuk menyelamatkannya. Pasukan kerajaan banyak yang lari menyelamatkan diri mereka. Pasukan Su Hu mengejar sejauh 20 li sampai akhirnya diperintahkan untuk mundur.

Dalam pelariannya bersama jendral-jendralnya, Chong Houhu memutuskan untuk mengirim utusan kepada Ji Chang untuk meminta bantuannya. Dan selama menunggu bala bantuan, pertahanan kemah akan diperketat. Tiba-tiba di depan rombongan pasukan kerajaan muncul Sun Quanzhong dengan pasukan penyergapnya. Dengan semangat membara untuk membunuh Chong Houhu, Su Quanzhong menerjang ke pasukan kerajaan; dan dengan kapak naganya membunuh 3 jendral Chong Houhu yang menghalanginya. Chong Houhu yang sudah merasa nyawanya meninggalkan tubuhnya segera lari dari pertarungan demi menyelamatkan dirinya. Chong Yingbiao, putra Chong Houhu yang sempat menghalangi pengejaran Sun Quanzhong terhadap ayahnya, ikut terluka akibat sabetan kapak naga Sun Quanzhong; sebelum akhirnya Chong Yingbiao juga lari menyelamatkan diri bersama ayahnya.

Malam itu, sekali lagi kemenangan diraih pasukan Jizhou. Chong Houhu dan putranya berhasil lolos; namun pasukannya banyak yang tewas termasuk jendral-jendralnya. Di balai kota Jizhou, Su Hu merayakan kemenangan ini dengan mengadakan perjamuan; dan kali ini Sun Quanzhong lah yang menjadi pahlawan. Sambil selanjutnya mereka membuat persiapan untuk langkah selanjutnya.

Bersambung...

Dah mulai bingung???

ich4n
05-04-2010, 10:12 AM
permusuhan tao dan budha di pelem ini :???:
baru tau nih isunya ad yg beginian :aghh:
itu sih sepertinya isu" subjektif yg disebarkan oknum" tertentu saja :sigh:
tapi baru tau nih ternyata dua film itu "kembar" yah :sigh:
tapi yang melegenda sepertinya yg kedua daripada yg pertama :kecewa:
sampe berkali-kali dibuat versinya di tipi cuman beda pemain doang sepertinya :watta:

MonstaHoi
05-04-2010, 10:30 AM
wow, ts niat sekali :niceinfo: :niceinfo:
eh ngomong2 itu kitab suci akhirnya dapetkan ya??
soalnya terakhir ntn di tv rombongan biksu tong dkk dijadiin budha gitu sama budha . .
kuper nih gw :piss:

Kurenai86
05-04-2010, 10:40 AM
wow, ts niat sekali :niceinfo: :niceinfo:
eh ngomong2 itu kitab suci akhirnya dapetkan ya??
soalnya terakhir ntn di tv rombongan biksu tong dkk dijadiin budha gitu sama budha . .
kuper nih gw :piss:

iya, dong...
kan di depan udah ditulis, mereka pake diceburin ke sungai segala dalam perjalanan pulang sampai KITABNYA BASAH SEMUA.
coba baca aja ebooknya yang bahasa inggris, sudah ada threadnya di bagian ebook, judulnya 'Journey to the West'

buat yang post di bawah...
kalo liat di peta, West (Barat)-nya China kan India, bro...kalo ngga salah, lewat jalur sutra juga, lho (Gurun Taklamakan - tempat Deok Man kecil dalam cerita The Great Queen Seon Deok tumbuh besar selama 15 tahun), pas episode yang di gurun pasir (cerita Putri Kipas kalo ngga salah).
Terus episode2 belakang (versi 1986 dan 2009) liat aja kostum penduduk lokalnya... model2 Arab dan India, kan?
he3...

nurend
05-04-2010, 10:40 AM
emang ada yg beranggapan 2 agama itu bermusuhan ya?
gw malah ga tau
gw emang demen ntn kera sakti (meski ga pernah ampe beres), tapi baru tau sekarang maksudnya west tuh ternyata india

BTW nice info
:top:

komen editan untuk post editan di atas gw:
seperti gw bilang, gw lum pernah ntn ampe beres, makanya gw ga tau kl west yg dimaksud adalah india

BTW: cendol udah melayang

ich4n
05-04-2010, 11:38 AM
iya, dong...
kan di depan udah ditulis, mereka pake diceburin ke sungai segala dalam perjalanan pulang sampai KITABNYA BASAH SEMUA.
coba baca aja ebooknya yang bahasa inggris, sudah ada threadnya di bagian ebook, judulnya 'Journey to the West'

buat yang post di bawah...
kalo liat di peta, West (Barat)-nya China kan India, bro...kalo ngga salah, lewat jalur sutra juga, lho (Gurun Taklamakan), pas episode yang di gurun pasir (cerita Putri Kipas kalo ngga salah).
Terus episode2 belakang (versi 1986 dan 2009) liat aja kostum penduduk lokalnya... model2 Arab dan India, kan?
he3...


emang ada yg beranggapan 2 agama itu bermusuhan ya?
gw malah ga tau
gw emang demen ntn kera sakti (meski ga pernah ampe beres), tapi baru tau sekarang maksudnya west tuh ternyata india

BTW nice info
:top:

komen editan untuk post editan di atas gw:
seperti gw bilang, gw lum pernah ntn ampe beres, makanya gw ga tau kl west yg dimaksud adalah india

BTW: cendol udah melayang

Di pelemnya pas awal" bukannya disebutin kan kalo baratnya itu daerah india walo sebenernya india itu g tepat berada di daerah baratnya cina tapi mungkin karena arah perjalannya menuju barat makany dkasih nama begitu. Lagipula sidharta itu kan keturunan bangsawan india bukan :???: Kadang kalo nonton pelemnya suka kesel sendiri :aghh: g sampe-sampe soalnya cina india kalo dilihat pake teknologi sekarang cuman itungan jam pake ilmu terbangnya si wu kong jg :lol: tapi kadang suka takjub juga kalo mikirin cina-india pake jalan kaki :hot::glek::dead: yah biarpun begitu emang g seru kali yah kalo langsung sampe jg tapi biarpun lama selesainya begitu ceritanya g terlalu ngebosenin IMHO :hmm:

Kurenai86
06-04-2010, 05:41 AM
^
^

YA, Siddharta itu Pangeran di salah satu kerajaan di India (saat itu India terdiri dari banyak kerajaan kecil, belum gabung kayak sekarang)
tujuan akhirnya India, sih, tapi masih bingung sama jalurnya di film...
soalnya kalo nurut kostum aja, ada yang kayak daerah Mongolia/Nepal (hujan langka, pake baju rompi bulu2) pas cerita memanggil hujan lawan 3 siluman. Ada juga yang gaya Thailand (Pilgrimage 2009, di negeri wanita)...
jadi jalurnya lewat Utara apa selatan, ya...apa zig-zag gitu?
Terus si Niu Mo Wang (Raja Iblis Kerbau) disebut-sebut dari Da Li (negaranya Duan Yu di Demi God Semi Devil). jangan2 marganya ternyata juga 'Duan' tuh:tkp1:
hemmm... namanya juga film, ya, suka2 sutradara ajalah. maksudnya buat nunjukin kalo settingnya ngga cuman China aja, kali

eniwei, FSB-nya dilanjutin ya
Bab 3: Da Ji datang ke Istana
-----------------------------

Chong Houhu menderita kekalahan yang sangat besar. Di kemahnya, ia sangat sedih melihat sisa-sisa kekuatannya yang dihancurkan pasukan Jizhou. Salah satu jendralnya yang bernama Huang Yuanji mengusulkan agar tuannya segera meminta bantuan pasukan kepada Ji Chang. Namun Chong Houhu tatap menolak usulan itu; malahan mengatakan bahwa Ji Chang akan menerima hukuman dari raja karena tidak mengirimkan bantuan yang dijanjikannya.

Lalu di kemah pasukan Shang beredar kabar bahwa sejumlah pasukan datang dengan kekuatan besar. Namun akhirnya diketahui bahwa yang datang adalah tidak lain adik kandung Chong Houhu - Chong Heihu; yang dijuluki si harimau hitam (Heihu = harimau hitam*) - beserta 23.000 pasukannya. Chong Heihu adalah bangsawan (marquis) Caozhou. Ia terkenal dengan kesaktiannya menggunakan sihir. Kali ini, Chong Heihu datang untuk membantu kakaknya dalam peperangan dengan Jizhou. Setelah menggabungkan kekuatan, akhirnya pasukan besar berangkat ke Jizhou yang dipimpin sendiri oleh Chong Heihu.

Berita mengenai kedatangan pasukan si harimau hitam akhirnya sampai ke telinga pasukan Jizhou. Su Hu yang telah mengetahui reputasi si harimau hitam seketika menjadi lemas dan ketakutan. Tidak seperti ayahnya, Su Quanzhong tidak menunjukan ketakutan terhadap si harimau hitam. Segera ia mempersiapkan pasukan dan pergi ke luar tembok kota untuk menantang duel Chong Heihu.

Sebenarnya kedatangan Chong Heihu kali ini bertujuan untuk berdialog mengenai situasi sekarang dengan Su Hu; karena Chong Heihu dan Su Hu adalah teman lama. Namun kedatangan Chong Heihu disambut Su Quanzhong yang langsung menyerang dengan kapak naganya. Akhirnya keduanya berduel dengan sengit. Chong Heihu mempunyai sebuah botol/kendi* (botol yang berbentuk seperti kacang - dalam bahasa Indonesia disebut labu kali, ya) yang selalu dibawa di punggungnya. Su Quanzhong mengetahui hal ini dan menduga bahwa kendi tersebut mungkin salah satu benda sakti. Benar saja, seketika Chong Heihu membuka kendinya dan keluarlah asap hitam mengelilingi medan duel; segera elang-elang gaib yang tak terhitung jumlahnya turun dari langit dan segera mematuki tubuh Su Quanzhong. Maka tertangkaplah Su Quanzhong oleh si harimau hitam.

Mendengar kekalahan puteranya, hancurlah harapan Su Hu dan ia diliputi kegalauan luar biasa. Sampai akhirnya ia memutuskan bahwa satu-satunya jalan adalah dengan membunuh dirinya sendiri dengan sebelumnya juga membunuh istri dan dan anak gadisnya. Su Hu berpikir bahwa ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan kehormatannya. Karena meskipun mereka menyerah kepada pasukan Shang, toh pada akhirnya mereka akan dihukum mati karena pemberontakan. Dengan niat itu, Su Hu segera pergi menumpulkan istri dan putrinya. Ia telah memegang sebilah pedang dan bersiap untuk menghabisi nyawa istri dan putrinya ketika seorang bawahannya melaporkan bahwa Chong Heihu kembali datang ke gerbang kota dengan membawa pasukannya.

Su Hu akhirnya menunda niatnya dan segera memerintahkan pasukannya untuk mempersiapkan barisan pertahanan. Chong Heihu yang memang datang dengan misi damai menolak untuk terlibat duel fisik; akhirnya ia pun mundur ke kemahnya dengan kecewa. Di kemahnya ia memerintahkan agar pasukannya memotong jalur persediaan pasukan Jizhou. Dengan cara ini, diharapkan pasukan Jizhou akan kelaparan sehingga moralnya melemah dan akhirnya menyerah kepada Shang tanpa perlu ada perang fisik.

Pada saat-saat ini, ketika Jizhou di ambang kehancuran, tiba-tiba muncul bantuan tak terduga; ibarat datang dari langit...

Zheng Lun datang ke Jizhou dan menawarkan bantuan kepada Su Hu. Zheng Lun adalah seorang pendekar sakti yang berguru di pegunungan Kunlun. Salah satu kesaktiannya adalah memimpin ribuan pasukan burung gagak hitam. Senjatanya adalah sepasang gada emas yang diberi nama gada pemusnah iblis.

Dengan memimpin 3000 pasukan burung gagak hitamnya, Zheng Lun segera berangkat ke medan perang untuk menantang Chong Heihu. Chong Heihu melihat Zheng Lun yang berwajah ungu seperti buah plum; dan berambut ibarat jarum-jarum emas. Pertarungan sengit antara kedua pendekar sakti itu pun dimulai. Kapak emas Chong Heihu beradu kekuatan dengan gada emas Zheng Lun. Segera, Zheng Lun menyadari keberadaan kendi merah di punggung Chong Heihu. Sadar bahwa ini adalah sumber kesaktiannya, Zheng Lun mengeluarkan ilmu sihirnya; yaitu semburan pencuri nyawa yang keluar dari kedua lubang hidungnya. Chong Heihu yang tidak bisa menahan sihir ini akhirnya jatuh tak sadarkan diri. Zheng Lun yang keluar sebagai pemenang tidak membunuh musuhnya. Chong Heihu ia serahkan kepada Su Hu sebagi tawanan. Setelah menyerahkan Chong Heihu kepada Su Hu, Zheng Lun pun pamit untuk kembali ke pegunungan Kunlun.

Sebagai tawanan, Chong Heihu diperlakukan amat baik oleh Su Hu. Hal ini membuat Chong Heihu bersimpati kepada Su Hu. Kabar ini pun sampai ke telinga saudaranya, Chong Houhu. San Yisheng, seorang mentri bawahan Ji Chang datang kepada Chong Houhu dan mengusulkan agar sebuah surat pengampunan dikirim kepada Su Hu. Di mana surat itu berisi pesan bahwa Su Hu harus menyerahkan putrinya dengan segera; namun Su Hu akan tetap diberikan gelar bangsawan (marquis) Jizhou - sebagai hadiah dari Chong Houhu atas kebaikannya terhadap Chong Heihu.

Maka pergilah San Yisheng ke Jizhou untuk secara pribadi menyerahkan surat itu. Ketika membacanya, Su Hu menjadi sangat senang dan merasa dirinya telah lolos dari bahaya. Maka ia pun mengadakan perjamuan untuk tamunya itu dan menghadiahinya dengan emas dan sutra. Keesoka harinya, Su Hu segera mempersiapkan segala sesuatunya; sebab ia sendiri yang akan mengantarkan anak gadisnya ke istana.

Bersambung...

Wu_Que
07-04-2010, 10:52 AM
dua dua nya uda di-manga-kan. Feng Seng Bang di-manga-kan dgn judul Hoshin Engi, dan Xi You JI dgn judul SAiyuki dan Saiyuki Reload... Eh, kalo tidak salah baca, 2 kisah ini melengkapi empat epik paling terkenal di China, duanya lagi yaitu San Gua Shi Dai ( romance of three kingdom) dan Shui Hu Zhuan ( legenda 108 pendekar Liang Shang dong)..
Oh ya, guru ane juga pernah cerita, empat tokoh Xi YU JI mewakili satu orang manusia dalam Buddhisme, Bhiksu TOng mewakili kata Tathagatagarbha ( dalam diri seorang manusia terdapat benih ke_Buddhaan), Go Kong mewakili kata nakal dan liar, Ba jIe mewakili kata buaya darat dan cinta, sementara Sha Jie mewakili kata setia dan kebodohan....CMIIWW

yau_chang
07-04-2010, 11:37 AM
nih setau gw ya
sungokong dkk tuh tidak ada
sedangkan biksu yg ngambil kitab suci ke india tuh emang ada
terus kenapa ada muncul sungokong dkk tuh hanya mewakili sifat sang biksu yg pergi mengambil kitab
sang biksu masih punya sifat pemarah kaya sungokong, nafsu kaya patkai gitu ketika menganil kitab suci
ke 3 muridnya tuh hanya fiksi dari sifat sang biksu
sry kalo salah, nih juga gw dengar dari orang juga

Kurenai86
07-04-2010, 12:56 PM
@ Wu Que dan Yau Chang
ya, di depan sudah dijelaskan, Biksu Tang memang ada, tapi SWK dan lainnya ngga ada.
mereka (ini tafsiran saya, lho ya...) mewakili apa yang ada dalam diri manusia
- Sun Wu Kong mewakili pikiran yang selalu berubah (72 ilmu perubahan), lincah, cepat (awan jungkir balik), cenderung egois, lancang, pemarah dan sombong. posisi sebagai pembuka jalan menunjukkan kalau dalam diri manusia semua selalu diawali oleh pikiran. (hayo... ada yang suka ngomong atau bertindak tanpa dipikir dulu, ngga?) ---> kayaknya di novel juga SWK disebut2 juga sebagai "Mind Ape", jadi tafsiran ini kayaknya benar, deh.
- Ba Jie mewakili naluri (karena berlebihan dalam diri Ba Jie jadi sering dianggap nafsu, sih) dasar manusia untuk hidup, yaitu makan, istirahat, nafsu seksual, dll. posisi sebagai penuntun kuda menunjukkan naluri menuntun tubuh agar bisa terus hidup. Yang ini di novel juga ada, disebut sebagai "Nature Pig".
- Sa Sheng mewakili logika dan nurani yang sopan, jujur, polos, penurut, dan setia. Ini menurut saya, tapi yang namanya logika bukannya baru diperoleh dari pelajaran? orang mana tahu kalau gula itu manis kalau belum pernah makan gula. Jadi karena itu terkadang dianggap seperti orang bodoh (tanpa inisiatif, kebanyakan yang diucapkan Sa Sheng selalu diawali : 'kata guru,...').
Logika juga mudah tenggelam kalau orang sudah dikuasai dengan pikiran atau naluri (mis: orang yang marah sering melakukan hal yang disesalinya begitu kemarahannya reda ---> logikanya ngga jalan, sih). orang yang kelaparan kalau kepepet akan melakukan perbuatan jahat (mis: mencuri demi makan ----> ngga berpikir kalau nantinya akan dipenjara dan sebagainya karena logika sudah tenggelam).

he3... ini cuma sharing pendapat, kalau ada yang berpendapat lain silahkan saja.
di sini ngga ada yang paling benar atau salah, kan setiap orang boleh punya pendapat masing-masing.
Saya malah senang banget kalau ada yang kasi pendapat kayak bro berdua, itu berarti thread saya ada yang perhatiin.

Oya, jangan nge-junk yah...
entar dilempar bata (khe...khe...khe...)

VinBaik
07-04-2010, 02:41 PM
Kalo yang aku tahu ada 3 'akar kejahatan' di dalam diri manusia,
dan biasanya salah satu sifat lebih menonjol dibanding yang lain
Dalam film Journey to the West, masing-2 sifat digambarkan oleh murid-2 Bhiksu Tong sbb :
- Kebencian --> disimbolkan sebagai Sun Go Kong
- Keserakahan --> Ba Jie/Ti Pat Kai
- Kebodohan Batin --> Sa Sheng

:piss:

Kurenai86
07-04-2010, 02:46 PM
Kalo yang aku tahu ada 3 'akar kejahatan' di dalam diri manusia, yaitu :
- Kebencian --> disimbolkan sebagai Sun Go Kong
- Keserakahan --> Ba Jie/Ti Pat Kai
- Kebodohan Batin --> Sa Sheng

:piss:

Mungkin juga, ya...(Dosa, Lobha, dan Moha...)
terus Irsia (iri hati dan dengki)-nya di mana?
apa kudanya, ya?
he3... biar lengkap jadi Catur Mara deh

VinBaik
07-04-2010, 03:07 PM
Mungkin juga, ya...(Dosa, Lobha, dan Moha...)
terus Irsia (iri hati dan dengki)-nya di mana?
apa kudanya, ya?
he3... biar lengkap jadi Catur Mara deh

Hehe, bener Lobha Dosa Moha
Kalo di aku cuma ada 3 aja,
Irsia mungkin termasuk ke dalam Lobha (sepertinya cocok deh ma Ti Pat Kai yang sering iri ma Wu Kong)
Kalo Kudanya.... hehe gak tau juga deh :hehe:

Wu_Que
08-04-2010, 12:02 AM
@kurenai... IMO, irsia memang juga salah satu 4 catur mara... namun, dalam literatur lainnya, lebih sering disebutkan 3 akar kejahatan seperti yang dibilang bro Vin.. yaitu Dosa Lobha dan Moha...CMIIWW

Kurenai86
08-04-2010, 06:33 AM
itu yang ada gambarnya, terus di tengah dilambangin ular (kebencian), ayam jago (keserakahan), sama babi (kebodohan), ya?
tapi menurutku sih SWK ngga melulu kebencian sih, soalnya kalo aq liat justru SWK model yang over optimis, ke-pede-an, dan selalu menggampangkan masalah. cenderung sombong dan licik juga. Kebenciannya baru muncul kalo dia disebut2 Ba Jie sebagai Bi Ma Wen... he3... itu kata2 tabu buat dia...

Yang paling berkesan dan memperlihatkan kalo dia model yang suka menggampangkan masalah, yaitu saat diperingati sama 'Duty God of the Day' (bingung terjemahan indonesianya apa, ya) kalau di gunung ada banyak siluman pemakan manusia. Jawabannya apa, coba?
dia malah nanya balik, siluman itu kalo makan orang dari kepala dulu apa dari kaki dulu? :hahai::hahai::hahai:
soalnya kalo dari kepala dulu langsung mati dan ngga merasa sakit lagi, jadi badannya mau diapain juga udah ngga kerasa. Nah kalo dari kaki dulu bukannya bakal menderita kesakitan berkepanjangan dulu...:panda:

Feng Shen Bang dilanjutkan, ya
Bab 4: Siluman Rubah membunuh Da Ji
-------------------------------------

Chong Heihu berjanji akan segera mengembalikan putra Su Hu setelah dirinya sampai ke kemah Shang. Dengan saling memberi hormat, Mereka berdua berjanji untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing. Ini dilakukan sebagai penanda bahwa perseteruan di antara mereka telah berakhir.

Setelah Chong Heihu tiba di kemah Shang, ia menjelaskan perjanjian yang telah ia buat dengan Su Hu kepada saudaranya (Chong Houhu). Si harimau hitam juga mengecam tindakan gegabah kakaknya; dan ia akhirnya bersumpah untuk tidak akan menemui kakaknya lagi. Segera setelah itu, Chong Heihu pergi meninggalkan kemah Shang untuk kembali ke Caozhou. Di kemah Shang, Choung Houhu merasa sangat malu dan menyesali tindakannya. Maka ia berencana untuk meletakkan jabatan dan gelarnya segera setelah membuat laporan kepada raja Zhou.

Sesuai dengan janji Chong Heihu, putra Su Hu, Su Quanzhong akhirnya dikembalikan ke Jizhou. Su Hu menyambut kepulangan putranya dengan gembira serta menceritakan tentang perjanjian yang telah ia sepakati dengan kerajaan. Su Hu juga menyerahkan kepemimpinan Jizhou kepada putranya selama ia pergi ke ibukota. Su Hu lalu masuk ke kediamannya untuk berdiskusi dengan istrinya. Keesokan paginya, Su Hu beserta putrinya keluar dari kediaman untuk segera berangkat ke ibukota. Daji naik ke atas tandunya dengan berlinang airmata. Setelah semua siap; berangkatlah Su Hu dan rombongan itu meninggalkan Jizhou. Iring-iringan itu dikawal 3000 tentara dan 500 pegawai sipil; dan akan menempuh perjalanan berhari-hari sebelum tiba di ibukota.

Setelah beberapa hari perjalanan, rombongan itu tiba di sebuah daerah bernama Enzhou. Di sini, mereka akan beristirahat untuk beberapa malam dan mengisi ulang persediaan. Dalam beberapa tahun terakhir, di Enzhou ada rumor tentang seekor siluman rubah yang cukup berbahaya bergentayangan di daerah itu. Su Hu yang mendengar rumor ini menjadi khawatir dengan keselamatan putrinya. Maka ia pun selalu berjaga sepanjang malam sambil membaca buku-buku strategi militer. Tiba-tiba pada malam ke-2, seluruh lilin di kediaman itu berkedip seperti ditiup angin; seperti ada sesuatu hawa yang melewati kediaman itu. Dan terdengar teriakan orang yang mengaku melihat seperti hantu terbang masuk ke kediaman mereka.

Su Hu yang sedang terjaga segera mengambil lentera dan tombak besinya; dan segera berlari menuju kamar Daji yang terletak di belakang kediaman itu. Namun di tengah perjalanan, lentera yang dibawanya padam sehingga ia terpaksa meminta pengawalnya agar diambilkan lentera lain. Setelah mendapatkan lentera baru; Su Hu bergegas menuju kamar Daji. Ketika ia memasuki kamar putrinya, Su Hu mendapati bahwa putrinya baik-baik saja; dan baru saja terbangun karean kegaduhan yang ditimbulkan ayahnya. Setelah memastikan putrinya aman, Su Hu pun kembali ke ruangannya dengan perasaan tenang. Namun tanpa sepengtahuan Su Hu, sesungguhnya siluman rubah berumur 1000 tahun telah berhasil merasuki raga Daji ketika Su Hu sedang sibuk mengganti lenteranya yang padam.

Beberapa hari kemudian, rombongan tersebut meninggalkan Enzhou dan melanjutkan perjalanan ke ibukota. Di ibukota, rombongan Su Hu disambut oleh pangeran Huang Feihu (Harimau terbang kuning). Su Hu bersama putrinya dibawa ke aula respsi emas; dan pasukan pengiringnya berkemah di luar tembok ibukota. Di tempat ini hadir pula Fei Zhong dan You Hun; di mana mereka kesal karena Su Hu tidak memberikan mereka hadiah (sogokan). Maka mereka pun berencana menghasut raja Zhou agar Su Hu dihukum mati keesokan harinya.

Keesokan harinya, Su Hu dan putrinya pergi menghadap raja Zhou. Su Hu pergi menghadap dengan mengenakan pakaian terhukum sebagai bentuk penyesalan atas kesalahannya di masa lalu; ia juga berkata bahwa dirinya pantas dihukum mati. Namun perdana mentri Shang Rong segera memberikan pembelaan bagi Su Hu. Berkat pembelaan Shang Rong, Fei Zhong, yang juga hadir di situ, berkata bahwa Daji harus diserahkan kepada raja sebagai tebusan kesalahan Su Hu. Fei Zhong mengakui bahwa putri Su Hu sungguh cantik. Namun jika ternyata Daji tidak memberikan yang terbaik bagi raja, maka kepala keduanya (Su Hu dan Daji) akan dipajang di gerbang ibukota. Daji lalu membungkuk dan memberi hormat kepada raja Zhou. Dalam hatinya, raja Zhou tidak dapat menahan pesona kecantikan dan keanggunan Daji yang luar biasa. Raja Zhou pun dengan segera mengampuni kesalahan Su Hu dan mengembalikan semua gelarnya. Raja Zhou lalu menggandeng tangan Daji dan mereka berdua pergi ke istana panjang umur untuk menikmati malam pertamanya.

Setelah hari ini, raja Zhou tidak lagi mengurusi urusan-urusan pemerintahan. Segala urusan sipil dan militer diserahkan kepada mentri-mentrinya. Dari waktu ke waktu raja Zhou hanya menikmati kesenangan duniawi bersama selir barunya. Inilah awal kejatuhan dinasti Shang.

Bersambung...

Karel
08-04-2010, 12:33 PM
waaah,ada thread hebat di sini:sembah:

Orang awam mau tanya:piss:
Kalo biksu tang nya sendiri ada kelemahan manusiawinya gak(emosi):???:
Soalnya dari beberapa cerita JTTW,keliatannya tang san tzang malah "takut" ama peraturan dan gak percayaan yaaaa:???:

Makasih....

Kurenai86
08-04-2010, 01:58 PM
waaah,ada thread hebat di sini:sembah:

Orang awam mau tanya:piss:
Kalo biksu tang nya sendiri ada kelemahan manusiawinya gak(emosi):???:
Soalnya dari beberapa cerita JTTW,keliatannya tang san tzang malah "takut" ama peraturan dan gak percayaan yaaaa:???:

Makasih....

gyaaaa... hebat apaan, sih???
ya ada, lah...namanya juga manusia, kan, belum jadi Buddha
justru kalo baca novelnya (ada ebooknya bahasa inggris di thread ebook) Tang San Cang-nya digambarin kayak Nobita..........cengeng, pesimis, lemah, dll

he3...pernah nonton Pilgrimage to the West 2009? yang tayang di Indosiar itu...di thread TV seri sudah ada (sayang blm ada terjemahannya). di situ Tang San Cang-nya jauh lebih baik penggambarannya dari versi sebelum2-nya...tonton sendiri dan buktikan bedanya!

Karel
08-04-2010, 06:11 PM
gyaaaa... hebat apaan, sih???
ya ada, lah...namanya juga manusia, kan, belum jadi Buddha
justru kalo baca novelnya (ada ebooknya bahasa inggris di thread ebook) Tang San Cang-nya digambarin kayak Nobita..........cengeng, pesimis, lemah, dll

he3...pernah nonton Pilgrimage to the West 2009? yang tayang di Indosiar itu...di thread TV seri sudah ada (sayang blm ada terjemahannya). di situ Tang San Cang-nya jauh lebih baik penggambarannya dari versi sebelum2-nya...tonton sendiri dan buktikan bedanya!

Yang di indosiar siiih saya tonton tiap hari:top::haha:
Penggambarannya emang lebih bagus yang di indosiar,lebih bijaksana:sembah:

Naaaah,kalo di cerita yang dulu,pas ada batu 7 emosi kalo gak salah,yang cobaan terakhir...
Kok gak mempan yaaaa:???:

Kurenai86
09-04-2010, 05:57 AM
^
^
ceritanya gimana, ya?
itu versi apa? kayaknya pernah denger tapi udah lupa yang mana, ngga berkesan sih...saking banyaknya versi
soalnya yang aq tahu d novel ngga ada batu 7 emosi. Terus yang aku ikutin ceritanya versi 1986 sama 2009 (udah DL komplit). Habis yang versi lain suka ngaco ceritanya, menyimpang banget dari buku, jadi abis nonton ngga berapa lama udah lupa...

aku paling suka Biksu Tang versi yang Pilgrimage dibanding yang versi lain, soalnya:
1. ngga se-pengecut dan se-Nobita versi novel (yang versi '86 niru novel)
2. Tapi juga lebih manusiawi dan lebih ekspresif dari versi Hongkongnya Dicky Cheung. Di situ gurunya kayak patung (gitu kok dibilang cool??? :swt:). bisanya cuman berdoa dan bilang 'isi adalah kosong dan kosong adalah isi...'. (maaf buat penggemar versi Dicky..)
3. Yang versi Pilgrimage paling pas sama bayanganku tentang Tang San Zang yang (aslinya) tanpa SWK sanggup menempuh perjalanan dari China ke India cuma pake kuda. Perhatiin aja, siluman2 yang nangkep dia bisa diceramahin sampai gelagapan (Hung Hai Er malah sampai nangis!).

yang lebih lucu lagi, aku pernah baca di forum lain, ada yang bilang Sang Buddha versi Pilgrimage ngga kelihatan bijaksana... kenapa coba alasannya?
Terlalu 'Kurus'! ha3... emang ada umat Buddha yang nyebutin kalo Buddha 'Gemuk'? Emang bijaksana enggaknya dilihat dari ukuran tubuh? ya ampunnnnn, terlalu terpengaruh sama film2 sebelumnya tuh! rupang2 buddha di sini (mis: di Borobudur) bukannya ukuran tubuhnya standar, ya? apalagi, coba kalau lihat rupangnya Sang Buddha setelah menyiksa diri. Nih:
http://www.livius.org/a/pakistan/taxila/skinny_buddha.JPG
he3...jadi, jangan lihat orang cuma dari penampilan, ya

Tambahan: kuis!! Hayo, siapa yang tahu arti nama dari Sun Wu Kong dkk??
yang pertama bisa jawab dikasih ijo2!!!

Karel
09-04-2010, 12:30 PM
Kalo gak salah yang versi taun 96-98 an....
Rintangan terakhir....

Ternyata banyak yang ditambahin yaaaa:???:
Yang paling persis ama novelnya yang mana yaaa:???:
Kayaknya perlu belajar lebih banyak saya:doa:

Sun - Monyet
Wukong - Kekosongan:hahai:

Di rate 5 ahhhhh:lalala::top:

Kurenai86
09-04-2010, 02:19 PM
Yang paling taat versi 1986 (25 episode), terus ditambah tahun 2000 (16 episode) ---> versi 2000 menambah versi 1986 biar lengkap pas sesuai bukunya. oya, yang buat CCTV

Yang lain??? masa Sun wukong doang? mana Zhu Bajie, Sha Wujing, dll
emmm belum lengkap kayaknya, soalnya kata 'Wu'-nya sendiri ada artinya

Feng Shen Bang-nya dilanjutin dulu, deh

Bab 5: Usaha sia-sia Guru Awan
--------------------------------

Di pegunungan Zhong Nan, hiduplah seorang petapa taoist yang kesaktiannya mendekati dewa. Dia dikenal dengan nama si Guru Awan. Suatu hari Guru Awan pergi mengendarai awannya (awan kinton) ke tebing harimau untuk mengumpulkan berbagai tanaman obat. Dari tebing itu, ia melihat ke arah Zhaoge (ibukota) dan ia menyesalkan ulah siluman rubah jahat di kota itu. Maka ia berniat melakukan sesuatu untuk menolong dinasti dari kehancuran. Guru awan menginstruksikan seorang muridnya agar memotong cabang sebuah pohon PINE. Dari cabang pohon itu, dibuatlah sebilah pedang kayu yang lalu diberi mantra oleh guru awan. Dan pada waktu yang sudah ditentukan, ia berangkat ke ibukota.

Kira-kira 10 bulan telah berlalu sejak kedatangan Daji ke istana. Dan sudah selama itu pula raja Zhou tidak pernah tampil di depan publik. Segala urusan kerajaan dilimpahkan kepada mentri-mentrinya. Setiap hari, raja Zhou hanya bersenang-senang dengan selir mudanya.

Suatu hari, pejabat tinggi Mei Bo pergi menemui perdana mentri Shang Rong dan wakil perdana mentri Bi Gan. Mereka mendiskusikan keadaan yang semakin parah dan bagaimana langkah selanjutnya. Lalu diputuskan raja Zhou akan diundang dalam rapat kepengurusan negara. Karena diundang secara resmi, mau tak mau raja Zhou ikut hadir dalam pertemuan itu. Raja zhou merasa tidak senang dikelilingi oleh para pejabat istana yang masing-masing membawa tumpukan laporan yang harus dibaca raja. Tidak berapa lama, raja Zhou memutuskan untuk meninggalkan ruang pertemuan sehingga ia bisa kembali bersenang-senang dengan Daji. Namun semua pejabat istana yang hadir memohon agar raja Zhou melupakan sejenak kesenangannya dan serius menangani masalah pemerintahan. Raja Zhou segera menghardik para bawahannya itu; dan berkata bahwa masalah yang sedang terjadi pada negara ini ibarat sekedar penyakit kulit yang akan hilang dengan sendirinya seiring waktu; dan masalah kehadirannya dalam urusan pemerintahan tidak akan berpengaruh terhadap nasib dinasti. Raja Zhou juga mengharapkan agar para bawahannya lebih giat dalam bekerja mengatur pemerintahan. Para bawahannya pun diam dan tidak berani membantah. Tiba-tiba datang seorang utusan masuk ke ruang pertemuan itu dan berkata bahwa seorang pendeta Tao telah datang dan berharap untuk menghadap raja Zhou. Raja Zhou menyetujuinya dan mempersilakan pendeta Tao itu untuk menghadap.

Pendeta Tao ini tak lain adalah si guru awan. Di hadapan raja Zhou, guru awan membuka pembicaraan dengan memuji raja Zhou; bahwa raja adalah seorang yang mempunyai hati sebebas awan dan pikiran sejernih air yang mengalir. Senang dengan perkataan tersebut, raja Zhou mempersilakan pendeta tersebut untuk duduk di sampingnya. Lalu obrolan mereka berlanjut; si pendeta Tao menjelaskan panjang lebar mengenai ajaran dan jalan Taoisme. Akhirnya si pendeta Tao lalu berkata bahwa ada siluman jahat bernaung di istana ini. Ia juga berkata apabila siluman ini tidak segera dimusnahkan, dinasti Shang akan tertimpa bencana dan kematian. Setelah berkata demikian, akhirnya pendeta Tao itu mengeluarkan sebilah pedang kayu seraya membuka identitas aslinya sebagai Guru awan. Pedang itu lalu diserahkan kepada raja Zhou dengan berpesan bahwa pedang tersebut harus digantung di pilar utama istana. Dengan cara ini, siluman rubah tersebut akan musnah dalam waktu 3 hari. Raja Zhou segera memerintahkan bawahannya agar pedang kayu tersebut segera digantung di pilar utama istana.

Raja Zhou sangat berterima kasih kepada guru awan atas perhatiannya terhadap nasib dinasti. Raja Zhou juga menawarkan kedudukan di istana dan jaminan kesejahteraan bagi keluarga dan keturunannya. Namun guru awan dengan halus menolak semua tawaran itu. Guru awan berkata bahwa ia sudah bahagia dengan kesederhanaan hidupnya; dan tidak ingin terlibat dalam urusan keduniawian lagi. Raja Zhou memakluminya. Segera setelah itu, guru awan memberi hormat dan pamit dari hadapan raja Zhou untuk kembali ke pegunungan Zhong Nan.

Suatu ketidakberuntungan bagi para pejabat istana, ternyata pertemuan dengan guru awan membuat raja Zhou letih. Sehingga raja Zhou harus kembali ke kediamannya untuk beristirahat. Di kediamannya raja Zhou mendapati Daji sedang duduk di ranjangnya; Daji menderita sakit yang tidak biasa. Hal ini membuat raja Zhou sangat cemas. Kepada raja Zhou, Daji berkata bahwa badannya akan terasa seperti terbakar dan shock tiap kali ia memandang pedang kayu yang digantung di pilar utama. Mendengar ini, raja Zhou segera menduga bahwa pendeta Tao tadi sengaja ingin mencelakakan Daji; bukan mengusir siluman jahat seperti yang dikatakannya. Maka, raja Zhou segera memerintahkan bawahannya agar pedang kayu tersebut diturunkan dan segera dibakar.

saaya
10-04-2010, 08:06 AM
Ikutan, bos!
gw tahu bedanya versi novel dan versi 1996, yaitu omongannya gokong waktu memperkenalkan diri

versi novel, 1986, 2009 : Aku adalah Qitian Tashen yang 500 tahun lalu mengacau kayangan, Sun Gokong!

versi Dicky Cheung 1996 dan Benny Chan 1998 : Aku adalah Raja Kera Tampan dari gunung Huaguo gua Suilian, Sun Gokong!

:semangat: :listen: :semangat:

Kurenai86
12-04-2010, 06:26 AM
Kok ngga ada yang kasi komen tentang Feng Shen Bang?
ngga ada yang minat, ya?

lanjutannya dulu, deh
Bab 6: Siksaan Pilar Api
-------------------------

Akhirnya pedang kayu tersebut habis terbakar menjadi abu. Segera setelah itu, kondisi Daji membaik dengan cepat.

Tanpa diketahui orang, sebenarnya guru awan masih berada di ibukota untuk melihat perkembangan selanjutnya. Namun, akhirnya ia mengetahui bahwa usahanya sia-sia. Dinasti Shang tidak dapat diselamatkan dari kehancuran. Dengan sedih, iapun memutuskan untuk pulang ke pegunungan Zhong Nan. Sebelum meninggalkan ibukota, guru awan menulis sebuah puisi pendek pada dinding menara pengawas dekat pasar. Puisi ini sengaja diletakan di dekat pasar agar banyak orang bisa membacanya; sehingga yang membaca akan mengetahui nasib yang akan menimpa mereka (dinasti Shang).

Segera banyak orang membaca puisi tersebut dan mencoba mengartikannya. Namun tidak ada yang berhasil mengartikan puisi tersebut. Lalu datanglah seorang terpelajar; dia adalah guru besar Du Yuanxian. Ia membaca puisi itu, namun hanya mengerti setengah dari artinya. Berdasarkan apa yang ia tangkap dari puisi tersebut, guru besar Du Yuanxian kembali ke kediaman pribadinya dan menulis laporan tentang ramalan masa depan dinasti Shang apabila siluman jahat di istana tidak segera dilenyapkan. Laporan tersebut kemudian ia serahkan kepada perdana mentri Shang Rong supaya bisa disampaikan langsung kepada raja Zhou. Shang Rong pun segera pergi menghadap raja Zhou.

Raja Zhou membaca laporan itu dengan seksama, dan iapun menanggapi serius bahwa laporan itu benar adanya. Namun raja Zhou memutuskan untuk meminta pendapat selir kesayangannya mengenai laporan itu. Daji mengatakan kepada raja Zhou bahwa si pendeta Tao itu sesungguhnya adalah penyihir jahat yang ingin membuat kacau dinasti dengan cara menyebarkan ketakutan di kalangan rakyat. Daji juga mengatakan bahwa Du Yuanxian bersekongkol dengan penyihir dalam menebar ketakutan di masyarakat. Maka dari itu Du Yuanxian harus dihukum mati.

Mendengar usulan ini, perdana mentri Shang Rong segera membela Du Yuanxian dengan berkata; bahwa apabila Du Yuanxian dihukum, tindakan ini merupakan suatu pelecehan terhadap kesetian Du Yuanxian; terlebih, seluruh mentri akan bangkit membela orang tak bersalah ini. Namun raja Zhou yang sudah terhasut oleh selirnya, mengatakan bahawa eksekusi Du Yuanxian harus dilakukan untuk mencegah ketakutan lebih lanjut di masyarakat. Tanpa menunggu jawaban perdana mentri, raja Zhou segera memerintahkan prajurit untuk menangkap Du Yuanxian di kediamannya dan mengikatnya dengan tali dan rantai. Du Yuanxian lalu diseret ke gerbang istana untuk dieksekusi.

Di situ, rombongan prajurit yang membawa Du Yuanxian distop oleh mentri agung Mei Bo. Mei Bo langsung meminta penjelasan kepada perdana mentri Shang Rong. Setelah mendengar penjelasan dari Shang Rong, Mei Bo seketika naik darah dan memaki Shang Rong atas sikapnya yang pengecut dan tidak berani menjunjung keadilan demi kelangsungan dinasti. Dengan emosi, Mei Bo menarik lengan Shang Rong dan keduanya pergi ke istana keabadian untuk menghadap raja Zhou. Di hadapan raja Zhou, Mei Bo tetap tidak dapat mengontrol amarahnya. Mei Bo memaki dan memprotes keputusan yang telah diambil raja Zhou. Tindakan ini jelas adalah lancang, sehingga raja segera memerintahkan agar Mei Bo ditangkap dan dihukum mati ditempat. Namun tepat sebelum pedang algojo menebas leher Mei Bo, Daji meminta raja Zhou agar Mei Bo ditahan di penjara. Karena Daji akan membuat suatu alat hukuman mati untuk eksekusi ini. Alat itu akan diberi nama 'pilar api'.

Melihat situasi yang memburuk dan tindakan raja Zhou yang diluar batas kewajaran, Shang Rong menjadi tidak berkutik. Akhirnya Shang Rong mohon untuk pensiun dari jabatannya sebagai perdana mentri; dengan alasan ia takut di usianya yang sudah tua malah akan sering berbuat kesalahan yang merugikan dinasti. Permohonannya dikabulkan. Sore harinya, seluruh pejabat istana berkumpul di paviliun Chang Ting untuk mengucapkan perpisahan kepada seniornya yang akan segera meninggalkan istana. Shang Rong membuat sebuah puisi terakhir yang menggambarkan kesedihannya terhadap nasib dinasti Shang kelak; sebelum akhirnya ia pergi dengan meneteskan air mata.

Beberapa hari berlalu, raja Zhou menerima laporan bahwa pembuatan pilar api telah selesai. Daji lalu pergi untuk memeriksa sendiri konstruksi pilar api yang dirancangnya. Puas dengan konstruksi pilar api, Daji tersenyum dan meminta raja Zhou agar pelaksanaan eksekusi Mei Bo segera dilakukan pada esok hari. Keesokan harinya di aula utama, Huang Feihu (Harimau kuning terbang) menatap heran kepada lebih dari 20 pilar yang dicat dengan warna merah darah. Ia bertanya-tanya mengapa benda seperti itu diletakkan di aula utama.

Lalu datanglah beberapa prajurit yang membawa Mei Bo ke aula. Raja Zhou menyaksikan hal ini dari kursinya sambil tertawa dan membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pakaian Mei Bo segera dilucuti dan tubuhnya diikat rantai ke sebuah pilar api. Dengan sebuah perintah, api disulut ke pilar tersebut. Teriakan Mei Bo bergema ke seluruh penjuru ruangan. Membuat semua orang normal yang mendengar merasa ngeri dan merinding. Namun raja Zhou dan Daji tertawa menikmati pemandangan tersebut. Sampai akhirnya jasad Mei Bo habis dimakan api.

Melihat pemandangan yang mengerikan ini, Huang Feihu pergi meninggalkan tempat tersebut bersama berapa orang lainnya. Ia bertekad untuk melakukan apapun untuk menyelamatkan dinasti Shang dari kehancuran yang telah diramalkan.

Seusai eksekusi keji tersebut, raja Zhou dan Daji kembali ke kediaman mereka lalu mengadakan pesta diiringi musik dan tari-tarian. Kegaduhan ini sampai ke telinga permaisuri Jiang. Sebenarnya permaisuri Jiang memendam kebencian terhadap selir Daji; terlebih dengan dibuatnya pilar-pilar api di aula utama atas usulan Daji. Maka, permaisuri Jiang memerintahkan pengawalnya untuk menyiapkan tandu. Ia hendak pergi menemui raja Zhou.

Bersambung...

emiliaw
12-04-2010, 09:25 AM
ikut nimbrung ah :D
kayanya cerita FSB menarik cuma males baca, ga ada waktu soalnya :(( , mendingan nonton
kalo JTTW mah udah apal :))
btw FSB ini sama ga sih sama cerita 7 dewa (yg cerita ttg dewa yg menuntun 7 orang yg jadi dewa berdasarkan sifatnya, ada yg suka tidur, jatuh cinta terus, suka makan dll) pernah nonton serinya tp lupa judul
soal tao sama budha kaya nya ga saling menjelek2 an, cuma saling menonjolkan diri aja hehehe


^
^
3. Yang versi Pilgrimage paling pas sama bayanganku tentang Tang San Zang yang (aslinya) tanpa SWK sanggup menempuh perjalanan dari China ke India cuma pake kuda. Perhatiin aja, siluman2 yang nangkep dia bisa diceramahin sampai gelagapan (Hung Hai Er malah sampai nangis!).

kalo gitu JTTW versi stephen chow juga pas doang, yg ceritanya biksu tong dipenjara trus siluman di sebelah nya bunuh diri waktu biksu tong nya cerita :piss:

analisa soal nya gokong sebagai pikiran, patkai sebagai napsu dan sa sheng sebagai logika sangat bagus :smiley_beer: kuda sebagai tubuh duniawi (karena sebenernya tubuh asli nya naga kan) dan pendeta tong sebagai tujuan yang mulia yg ada diatas tubuh duniawi. tubuh duniawi dan tujuan yang mulia tidak bisa sampai tujuan kalau tidak memberi pelajaran yang baik ke logika, mengatur pikiran dan mengontrol napsu.

Kurenai86
12-04-2010, 10:11 AM
^
^
ahahaha........
ngga pernah nonton Chinese Odyssey secara full, cuma tahu ringkasan ceritanya...jadi ngga bisa kasih komen

cerita 7 dewa yang bro emiliaw sebut... kayaknya ngga sama ya sama FSB, soalnya FSB tokohnya banyak (pake banget) jadi ngga cuman 7 orang. Menonjolkan diri, ya... kalo engga gitu ketutupan 'mulu, sih...he3...peace2...
(sekarang ngga ada lagi yang saling menjelekkan, lho - entah kalo dulu gimana siapa yang tahu. Ini kan justru berusaha membahas kerjasamanya, jadi jangan salah paham lagi dong.)

wah, thanks atas tambahannya... jadi baik saya maupun yang baca sama2 tambah pengetahuan:piss:

kuuki
12-04-2010, 10:24 AM
gw juga tau FSB nya dari komik Hoshin Engi,tapi gak ngira kalo ada saling menjatuhkan gtu ma crta JJTW,kirain malah sejenis,soalnya sama2 ada na cha nya,hha

btw yang dibahas 2 aja nih kk?
setauku ada gtu istilah '4 kitab besar sastra china'
-FSB
-JTTW
-Romance of three kingdom
-108 warrior / suikoden(?)
ada hubungannya kah semua?
kayaknya lu bu yg di ROTK tuh reinkarnasinya sun wu kong?
(maap klo gak nyambung)

Kurenai86
12-04-2010, 10:33 AM
gw juga tau FSB nya dari komik Hoshin Engi,tapi gak ngira kalo ada saling menjatuhkan gtu ma crta JJTW,kirain malah sejenis,soalnya sama2 ada na cha nya,hha

btw yang dibahas 2 aja nih kk?
setauku ada gtu istilah '4 kitab besar sastra china'
-FSB
-JTTW
-Romance of three kingdom
-108 warrior / suikoden(?)
ada hubungannya kah semua?
kayaknya lu bu yg di ROTK tuh reinkarnasinya sun wu kong?
(maap klo gak nyambung)

^O^
kalo dibahas ke-4-nya kebanyakan!!!
apalagi sudah ada yang bahas San Guo juga, cari sendiri deh, di sini ada kok...
he3...sama2 kalo di Dynasty Warrior pake mahkota yang ada sungutnya itu, ya???

Sebagai informasi aja, ya, SWK, baik itu menurut Buddha dan Tao, sama2 sepakat kalo SWK itu adalah tokoh rekaan belaka (fiktif), jadi kalo ada yang ngaku2 titisan SWK, atau menyembah tokoh itu sebagai dewa itu namanya sesat!. Yang benar2 ada dalam catatan sejarah:
JTTW --> Biksu Tang;
FSB --> Jiang Zi Ya.
Tentu saja tokoh kaisarnya memang benar2 ada, ya.
sama aja kalo sekarang menyembah Batman jadi dewa..he3...

perbedaan 2 yang saya bahas dengan 2 yang lain:
XYJ dan FSB sama2 menyangkut dewa2 dsb. yang namanya sihir ditunjukkan secara eksplisit
sementara SG / ROTK dan SHQ / Water Margin murni tentang pemerintahan, perang, dan politik. hampir tidak ada yang namanya sihir segala macam.

Kurenai86
16-04-2010, 06:44 AM
Lanjut ah, ceritanya...

Bab 7: Fei Zhong berencana menyingkirkan permaisuri Jiang
---------------------------------------------------------

Tiba di istana keabadian, permaisuri Jiang disambut oleh Daji yang langsung memberikan hormat; dan mengantar permaisuri menemui raja Zhou. Di dalam istana, raja Zhou menyambut istrinya dan mempersilakan permaisuri Jiang untuk duduk di sebelahnya sepanjang malam. Dengan diiringi alunan musik, Daji menyuguhkan sebuah tarian kepada sang raja dan permaisuri. Daji menari dengan begitu anggun dan mempesona. Sementara raja sedang menikmati tarian Daji, permaisuri Jiang menjadi semakin tidak bisa menahan amarahnya. Tiba-tiba ia angkat bicara dan langsung mencerca suaminya beserta selir kesayangannya. Permaisuri Jiang menyatakan kekesalannya terhadap sikap suaminya berkenaan dengan kebijakan-kebijakannya. Permaisuri Jiang juga menuding Daji sebagai biang kekacauan yang terjadi di istana belakangan ini. Selesai berkata demikian, permaisuri Jiang langsung pergi meninggalkan istana keabadian dengan emosi.

Raja Zhou terkejut dengan sikap permaisurinya, dan perasaanya menjadi campur aduk antara marah dan malu. Maka ia meminta Daji agar menari sekali lagi untuk menyenangkan hatinya. Namun tiba-tiba Daji jatuh tersungkur ke lantai; sambil berurai air mata, ia menagis di kaki raja Zhou dan menyatakan kekhawatirannya apabila permaisuri Jiang menjelek-jelekan Daji di depan semua pejabat istana dan bangsawan. Dengan demikian, berarti akan membuahkan hukuman mati bagi Daji. Mendengar ini, raja Zhou menjadi marah dan berjanji kepada Daji bahwa ia (raja Zhou) akan segera menyingkirkan permaisuri Jiang demi menjamin keselamatan selir kesayangannya itu.

Pada hari pertama bulan berikutnya, seluruh selir istana berkumpul menghadap permaisuri Jiang dalam upacara pemberian selamat kepada permaisuri. Ini adalah upacara yang sudah menjadi tradisi di kalangan istana. Daji pun hadir di upacara tersebut bersama selir-selir lainnya. Permaisuri Jiang yang masih menyimpan kebencian terhadap Daji mengeluarkan kata-kata yang mempermalukan Daji di depan selir-selir lainnya. Bahkan sampai akhirnya permaisuri meninggalkan upacara tersebut, caci maki terhadap Daji masih keluar dari mulut permaisuri. Perlakuan permaisuri membuat Daji merasa sangat malu dan marah. Sehingga di kediamannya, Daji berdiskusi dengan Gun Juan, salah satu dayangnya, tentang bagaimana secepatnya membunuh permaisuri Jiang dan mengklaim dirinya sebagai permaisuri yang baru.

Keesokan harinya, raja Zhou bersama-sama dengan Daji sedang menikmati pemandangan di kebun istana; ketika Fei Zhong menerima surat dari Daji. Dalam surat itu, Fei Zhong diminta bantuannya untuk melenyapkan permaisuri. Fei Zhong berpikir dengan keras sepanjang malam; mencari cara untuk menyingkirkan permaisuri tanpa membahayakan dirinya. Sebab, jikapun ia menolak permintaan Daji, sudah pasti nyawanya akan melayang. Suatu hari, Fei Zhong melihat melalui jendela kamarnya, seorang berbadan tinggi dan besar. Ia adalah Jiang Huan dari propinsi Lu timur. Jiang Huan adalah adik kandung permaisuri Jiang. Selama 5 tahun terakhir, ia telah mengabdi kepada Fei Zhong; dan Jiang Huan diperlakukan sangat baik oleh Fei Zhong. Maka terbesitlah sebuah rencana di pikiran Fei Zhong.

Fei Zhong memanggil Jiang Huan dan mengatakan bahwa ia sedang dalam kesulitan; Fei Zhong bertanya apakah Jiang Huan dapat membantunya. Jiang Huan yang memang mencari kesempatan untuk membalas budi Fei Zhong segera berkata: "Tuan ku, permohonanmu adalah tugas bagiku, meskipun hamba harus melewati api dan minyak mendidih. Hamba akan senantiasa melaksanakan perintahmu tanpa keraguan". Senang dengan jawaban Jiang Huan, Fei Zhong menceritakan niatnya untuk menyingkirkan permaisuri Jiang. Walaupun permaisuri Jiang adalah kakak kandungnya, namun Jiang Huang tetap memegang teguh kesetiannya terhadap Fei Zhong. Akhirnya sebuah rencana telah dirancang. Fei Zhong tidak lupa memberi tau Daji mengenai rencana ini...

Keesokan harinya, Daji sengaja menyarankan raja Zhou agar menghadiri rapat kenegaraan yang sedang berlangsung di aula utama. Bujukan ini berhasil, raja Zhou memutuskan untuk berangkat ke aula utama untuk menghadiri rapat tersebut. Namun ketika sedang melewati 'Jembatan 9 Naga', tiba-tiba rombongan raja Zhou diserang oleh seorang bertopeng yang bertubuh tinggi besar. Orang itu berteriak bahwa ia harus membunuh raja Zhou demi kelangsungan dinasti Shang; dan akan menjadikan ayahnya sebagai raja yang baru. Segera, orang bertubuh besar itu mengayunkan pedang ke raja Zhou; namun para prajurit istana segera datang dan melindungi raja Zhou. Karena kalah jumlah, akhirnya penjahat tersebut berhasil ditangkap.

Setelah insiden ini, Fei Zhong menawarkan diri untuk menginterogasi tahanan tersebut. Lalu di hadapan raja Zhou, Fei Zhong melaporkan bahwa tahanan tersebut tidak lain adalah Jiang Huan, putra dari bangsawan agung Timur--yang juga adalah ayah dari permaisuri Jiang. Fei Zhong melanjutkan, bahwa Jiang Huan telah diperintahkan oleh permaisuri Jiang untuk membunuh raja Zhou; sehingga ia dapat mengambil alih takhta. Raja Zhou sangat marah mendengar penjelasan Fei Zhong. Raja Zhou segera mengumpulkan mentri-mentrinya dan bergegas kembali ke istana keabadian untuk membahas hal ini. Ia juga menunjuk selir Huang agar mengatasi hal ini. Para mentri tidak dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dalam ketidak jelasan ini, raja Zhou memutuskan memanggil segera permaisuri Jiang ke istana barat untuk diadili.

Setibanya di istana barat, permaisuri Jiang menyatakan ketidakbersalahannya secara langsung kepada selir Huang. Berdasarkan pengakuan yang didengarnya sendiri, selir Huang menceritakan segalanya kepada raja Zhou bahwa permaisuri tidak bersalah. Namun tiba-tiba dari balik bayangan muncul Daji yang langsung menyela pembicaraan; dan berkata bahwa permaisuri Jiang sengaja melemparkan kesalahan kepada orang lain dengan kebohongan yang dibuat-buat. Raja Zhou langsung percaya ucapan Daji, dan mengancam permaisuri bahwa jika ia tetap tidak mengaku, maka salah satu bola matanya akan dicungkil keluar sebagai hukuman. Selir Huang segera menghampiri permaisuri Jiang dan berbisik supaya lebih baik memberikan kesaksian palsu untuk menghindari hukuman. Namun permaisuri tetap pada pendiriannya dan menolak untuk mengaku bersalah. Akhirnya selir Huang hanya dapat melihat pasrah ketika seorang pengawal dengan keji mencungkil salah satu mata permaisuri Jiang.

Raja Zhou tiba-tiba menjadi ketakutan dalam pikirannya ia membayangkan akan ada pembalasan dari bangsawan agung timur; belum lagi seluruh mentrinya pasti akan mengutuk perbuatan keji ini. Namun dengan cerdiknya Daji menasehati raja Zhou agar tidak perlu takut. Asalkan permaisuri sudah mengakui kesalahannya, maka tidak akan ada ancaman dari dalam dan luar istana. Kali ini Daji juga meyakinkan raja Zhou bahwa permaisuri pasti akan mengakui kesalahannya apabila diancam agar kedua tangannya dibakar dengan cara dicelupkan ke dalam timah cair. Namun ancaman ini juga tidak mengubah pendirian permaisuri Jiang. Hingga akhirnya permaisuri Jiang kehilangan kedua tangannya dengan sangat cepat dalam cairan timah panas. Semua yang menyaksikan kengerian itu tidak dapat berbuat apa-apa, termasuk selir Huang.

Walaupun sudah sekarat, namun segala kekejian yang diterimanya tetap tidak mengubah pendirian permaisuri Jiang. Daji menjadi cemas akan-akan siasatnya terbongkar. Maka ia segera membujuk raja Zhou agar memanggil Jiang Huan sebagai saksi dalam persidangan tersebut.

Bersambung...

Oya, bagi yang ingin tahu cerita sebenarnya mengenai Biksu Tang, silakan lihat di:
http://www.wihara.com/forum/mahayana/6505-xuan-zang-bhikshu-tang-san-zang-asli-dalam-sejarah.html

Kurenai86
21-04-2010, 08:29 AM
Lanjutannya...

Bab 8: Pelarian kedua Pangeran (bagian pertama)
------------------------------------------------

Akhirnya Jiang Huan dibawa istana barat untuk disidang bersama-sama dengan permaisuri. Begitu Jiang Huan masuk ke ruangan, permaisuri yang sudah sekarat langsung mencerca Jiang Huan dengan makian-makian atas perbuatan busuknya. Namun dengan tenang, Jiang Huan menjawab cacian itu dengan berkata "Permaisuriku, andalah yang memerintahkan hamba untuk melakukannya! Mana mungkin hamba menolaknya. Ini adalah fakta, mengapa engkau menyangkalnya?".

Ketika persidangan itu, di tempat yang lain putra mahkota Yin Jiao dan pangeran Yin Hong sedang bermain catur. Lalu tiba-tiba Yang Rong datang dan memberitakan situasi yang sedang terjadi di istana barat. Mendengar hal ini, kedua pengeran segera menuju istana barat. Setibanya di sana, alangkah terkejutnya mereka melihat sang permaisuri, yang adalah ibu kandung mereka sekarat bersimbah darah di lantai; dan Jiang Huan yang berdiri di dekatnya sebagai seorang tawanan. Pada saat-saat terakhir menjelang ajalnya, permaisuri Jiang berpesan kepada putra-putranya agar membalaskan dendamnya. Setelah berpesan demikian, permaisuri Jiang menemui ajalnya.

Ketika kedua pangeran sampai di istana barat, raja Zhou dan Daji sudah meninggalkan tempat itu dan kembali ke istana keabadian. Setelah mengetahui diberitahukan kejadian yang sesungguhnya, Yin Jiao menjadi sangat murka dan segera mengeluarkan pedangnya dan membunuh Jiang Huan di tempat itu juga, membelah tubuhnya menjadi dua bagian. Setelah berbuat demikian Yin Jiao bersumpah di hadapan orang-orang di ruangan itu, bahwa ia akan membunuh Daji demi membalaskan dendam ibunya. Chao Tian dan Chao Lei (yang dikenal dengan julukan si kembar Chao) yang juga berada di ruangan itu, segera meninggalkan istana barat dengan ketakutan dan menuju istana keabadian untuk melaporkan niat kedua pangeran. Mendengar laporan Chao bersaudara, raja Zhou sangat murka; lalu ia menyerahkan pedang naga-phoenix kepada Chao bersaudara dan memerintahkan agar mereka segera menghabisi kedua pangeran itu dengan alasan pemberontakan. Chao bersaudara segera berangkat ke istana timur untuk melaksanakan perintah raja Zhou.

Namun Lady Huang mengetahui hal ini, dan segera menyarankan kedua pangeran agar bersembunyi di istana harum (kediaman selir Yang) untuk beberapa hari. Kedua pangeran mengikuti saran ini dan pergi ke istana harum untuk bersembunyi. Tak lama setelah kedua pangeran tiba di istana harum, Chao bersaudara juga datang ke istana harum untuk inspeksi. Selir Yang berusaha sebisa mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan pada Chao bersaudara. Beruntung, Chao bersaudara malah bersikap tidak sopan terhadap selir Yang. Hal ini dimanfaatkan selir Yang sebagai alasan untuk mengusir Chao bersaudara dari istana harum sebelum mereka sempat memeriksa istana itu. Keberuntungan ini melegakan kedua pangeran. Namun mereka erasa tempat itu sudah tidak aman. Sehingga kedua pangeran pergi mencari tempat yang lebih aman; yaitu ke aula utama di mana Huang Feihu juga berada di situ.

Setelah kedua pangeran meninggalkan istana harum, selir Yang memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri; karena ia takut apabila suatu hari diketahui bahwa ia pernah menyembunyikan pangeran, yang berarti melawan titah raja. Pada saat yang sama, Lady Huang dipanggil menghadap raja Zhou perihal hilangnya pangeran dan kematian selir Yang. Dan terpaksa Lady Huang menceritakan permintaan terakhir permaisuri Jiang kepada putra-putranya sebelum meninggal. Raja Zhou lalu memerintahkan Chao bersaudara agar segera mencari pangeran-pangeran itu di aula utama; kali ini raja Zhou juga sudah kesal dengan Chao bersaudara karena kegagalan sebelumnya.

Di aula utama, kedua pangeran langsung disambut oleh Huang Feihu dan beberapa mentri lainnya. Mereka yang mendengar cerita kedua pangeran menjadi geram dan bersumpah untuk menuntut keadilan bagi kedua pangeran.

Bersambung...

Kurenai86
03-05-2010, 08:57 AM
Lanjutan

Bab 8 part 2
----------------------------------------

Setelah melakukan perjalanan selama dua hari bersama dengan kedua pangeran muda, empat orang itu tiba di pertigaan jalan: satu arah menuju Timur, dan satunya menuju Selatan. Fang bersaudara memutuskan bahwa cara terbaik adalah kedua pangeran berpencar sementara mereka berdua menuju Barat, karena potongan jade pusaka yang diberikan oleh Huang Fei Hung (Macan Kuning Terbang) bisa mengurangi resiko jika di masa depan ada yang mengenali pemilik sebenarnya. Setelah memberitahukan pada para pangeran resolusi mereka, Fang bersaudara menginformasikan pada para pangeran bahwa mereka akan meminta perlindungan pada para bupati wilayah sepanjang perjalanan dan menggabungkan penjagaan mereka saat nanti bertemu di Zhao Ge.
Dengan berlinang air mata, Yin Jiao mengumumkan bahwa dia akan terus menuju Timur untuk menemui kakeknya, dan Yin Hong akan menuju Selatan. Saat kakeknya nanti akan memajukan pasukannya menuju ibu kota, Yin Jiao berjanji akan memberitahukan rutenya pada adiknya agar sang adik bisa bergabung dalam penyerangan.
Setelah berpisah, Yin Hong tiba di sebuah desa kecil dan duduk untuk menikmati makanannya setelah memberitahukan pada penduduk setempat bahwa dia tak lain adalah putra kedua Raja Zhou. Setelah membayar tagihan makanannya, Yin Hong memasuki kuil Kaisar Xuanyuan di tengah perjalanan dan bermalam di sana.
Sementara itu, Yin Jiao yang melanjutkan perjalanannya menuju Lu Timur, menemukan dirinya ada di depan kediaman Guru Besar – seperti yang ditunjukkan dari papan yang tergantung di atas pintu gerbangnya. Karena sudah terlalu malam, sang pangeran memutuskan untuk saat ini lebih baik bermalam di kediaman tersebut agar bisa bangun pagi untuk melanjutkan perjalanannya. Setelah lama mengetuk pintu tanpa jawaban, Yin Jiao memutuskan untuk membuka gerbang ketika dia mendengar seseorang sedang membaca puisi. Sambil berjalan mendekat dan berusaha menyusun alasan kedatangannya, Yin Jiao memasuki kediaman tersebut dan dengan terkejut melihat, tak lain tak bukan, adalah mantan Perdana Menteri Shang Rong sedang berdiri di depannya.
Ketika Shang Rong duduk dan mendengarkan cerita sang pangeran, dia membanting kakinya dengan kemarahan yang luar biasa – dan kemudian bersumpah pada Yin Jiao bahwa dia akan kembali ke ibu kota dengan dengan petisi langsung di muka pada Yang Mulia karena mengabaikan persyaratan tindakannya untuk menyelamatkan kerajaan.
Sementara Shang Rong membuat petisinya, Jenderal Yin dan Lei memutuskan untuk memecah pasukan menjadi dua – setengahnya menuju Timur, dan sisanya menuju Selatan – setelah meninggalkan pertigaan jalan. Saat berpencar, mereka sepakat untuk bertemu di pertigaan ini sebagai tempat berkumpul kembali setelah berhasil menangkap para pangeran.

Bersambung…


Karena versi indonesia mulai bagian ini saya terjemahkan sendiri secara bebas, bila kurang jelas saya sertakan juga versi asli bahasa inggrisnya
Travling for the past two days with the young princes, the four individuals arrived at a fork in the road: one direction leading east, and the other leading south. The Fang Brothers decided it best that the two princes solely traveled either paths while they both traveled to the west; for the precious jade piece given by Yellow Flying Tiger may be a risky expense less anyone in the future realized who it truly belonged to. Thus telling the princes their resolution, they informed them that they will take refuge in any neighboring dukedom along the way and join their vanguard upon it's future advance to Morning Song. Following their tearful farewell, Yin Jiao declared that he will continue to head east until he meets with his grandfather, and Yin Hong should head to the south. Once his grandfather were to begin his troop mobilization upon the capital, Yin Jiao promised to inform his younger brother of his route so that he could additionally join in the attack. Thus parting their separate ways, Yin Hong arrived shortly at a small village and sat down to eat a meal after declaring to the cottagers that he was none other than the younger son of King Zhou. Following his immediate leave once paying his obeisance, Yin Hong entered the Temple of Emperor Xuanyuan along his way and slept their for the night in comfort. While Yin Jiao meanwhile continued his journey towards East Lu, he found himself in front of a Grand Tutor's mansion -- as displayed from a bourd hanging from its gate. Being late into the night, the prince decided it best to rest at this mansion for now while he resumes early into the following morning. Knocking continuously without any answer, Yin Jiao decided to open the gates where he heard someone reciting over a poem. Walking closer and elaborting the reason upon his arrival, Yin Jiao entered the mansion and saw none other than former Prime Minister Shang Rong standing before him to his immense surprise. As Shang Rong sat down to listen to the prince's story, he stamped his foot in unparalleled rage -- and thus vowed to Yin Jiao that he would return to the capital with the former and directly petition His Majesty to abandon his course of action to save the kingdom. With Shang Rong thus forming his petition, Generals Yin and Lei meanwhile decided to split their forces into two--one halve leaving the east, and the other to the south--after arriving at the original tripe fork road. Thus leaving their separate directions, they decided to meet at this specific fork road as an area of regroup after the princes were captured.

Kurenai86
20-05-2010, 09:46 AM
lanjutan bab 9

Bab 9 – Tewasnya Sang Perdana Menteri
---------------------------------------------------
Sementara Jenderal Lei melanjutkan perjalanannya ke selatan siang malam, sebagian besar prajuritnya terjatuh dari kuda karena kelelahan; dan karena itu diturunkan perintah untuk beristirahat. Dengan niat untuk bermalam di desa, sekelompok prajurit menjelajah hutan pinus hingga akhirnya menemukan Kuil Xuanyuan. Ketika memasuki kuil ini, Jenderal Lei tersenyum kegirangan karena menemukan Pangeran Yin Hong tertidur nyenyak di depannya. Segera membangunkan Sang Pangeran, Jenderal mempersilahkan pangeran untuk menggunakan kudanya sendiri dalam perjalanan kembali ke pertigaan. Sementara itu, setelah menempuh dua hari perjalanan, Jenderal Yin tiba di desa kecil bernama Fengyun dimana dia mengenali kediaman Shang Rong d dekat tempat itu. Setelah memasuki kediaman ini, diputuskanlah kalau Yin Jiao akan mengendarai kuda bersama Jenderal Yin kembali ke ibukota sementara Shang Rong menuju lokasi sebelumnya belakangan kalau-kalau Yin ingin membuat perhitungan pribadi dengan Shang Rong nantinya.
Ketika Jenderal Yin dan Lei berkumpul kembali di pertigaan dengan kesuksesan di tangan mereka, Yin Hong dan Yin Jiao menangisi kemalangan mereka. Mengikuti mereka kembali ke ibukota, Huang Fei Hu menggetakkan gigi dengan kemarahan membara, menyatakan bahwa dia pribadi yang akan membantai Jenderal Yin dan Lei dengan pedangnya sendiri sebelum mereka bahkan bisa dikenali karena jasa sepihaknya.
Memerintahkan semua menteri untuk segera berkumpul di depan gerbang istana untuk mempertahankan kedua pangeran, Yin dan Lei sementara itu menerima perintah tertulis dari Raja Zhou untuk mengeksekusi kedua pangeran di depan gerbang dengan cepat. Melihat laporan semacam itu, Menteri Utama Zhao Qi merebut surat itu dari tangan mereka dan merobek-robeknya karena marah. Setelah itu, Chao Qi mengumumkan pada semua menteri yang ada pergi ke Aula Utama dan mengundang Yang Mulia Raja; karena hal semacam ini adalah kesempatan sempurna untuk menggertak seorang tiran berpikiran sederhana seperti itu.

Dengan empat jenderal tangan kanan Huang Fei Hu melindungi para pengeran dengan nyawa mereka, dan para menteri membunyikan lonceng dan memukul genderang untuk menuntut kehadiran sang Raja, Raja Zhou hanya menulis dekrit untuk menghabisi para pangeran karena tidak berbakti dan tetap tinggal di Istana Dewa Umur Panjang. Dengan para eksekusioner mendatangi kedua pangeran yang terikat, pertapa Red Nudeau dan Guangchengzi, sementara itu sedang menjelajahi angkasa untuk mengusir kebosanan. Saat mereka tiba di atas Chao Ge dan melihat kedua pangeran siap dieksekusi, tornado besar muncul di langit – membuat semua pejabat dan prajurit yang hadir ketakutan.
Begitu badainya berhenti, Ying Hong dan Yin Jiao menghilang, bencana ini melegakan hati banyak pejabat, sementara Raja Zhou duduk kebingungan.
Sekarang saat akhirnya tiba di ibukota Chao Ge, Shang Rong mendengar seluruh kejadian itu dari Huang Fei Hu sendiri. Demi untuk bisa mengkonfrontasi Sang Raja dengan terhormat dan setia, Shang Rong segera memerintahkan agar lonceng dan drum dibunyikan untuk memaksa Raja Zhou bodoh itu memasuki Aula Utama. Saat sang Raja tiba di depan mejanya, Shang Rong berlutut dan mempersembahkan laporan tertulisnya.
Saat membaca laporan itu, Raja Zhou marah besar – dan segera memerintahkan agar Shang Rong dipukul hingga mati dengan palu emas. Meneriaki sang Raja dengan kata-kata tugas dan cintanya pada jasa-jasanya dulu atas nama Dinasti Shang, Shang Rong menyingkirkan para penjaga dan melompat dengan kepala terlebih dahulu, menghantamkannya pada pilar batu – dan mengakhiri hidupnya dengan cara yang cukup mengerikan. Banyak menteri yang saling bertukar pandang melihat pemandangan yang mengerikan ini, Raja Zhou memerintahkan agar mayatnya dikuburkan di lahan kosong di belakang ibukota sebagai ekspresi penghormatannya pada almarhum.

Bersambung...
Here's the english version
This chapter is titled "The Prime Minister's Resolve". As General Lei continued to the south from day to night, the majority of his soldiers fell off their saddles in their tiredness; and a command for rest was thus ensued. With the intention to rest at a village for the night, a section of his soldiers roamed about through the pine forest to eventually find the Temple of Xuanyuan. Upon the entering of this temple, General Lei smiled in immense delight as he saw none other than prince Yin Hong sleeping soundly before him. Awaking the prince immediately, he allowed the former to personally use his horse on their travel back to the three-staked road. Meanwhile after two days of travel, General Yin arrived at a small village by the name of Fengyun where he noticed the residence of Shang Rong nearby. Upon his entering of this residence, it was decided that Yin Jiao would personally ride together with General Yin back to the capital while Shang Rong heads to the former location at a later time less Yin were to be accused of private dealings with Shang Rong in the future. As Generals Yin and Lei thus regrouped at the three-forked road in due happiness over their success, Yin Hong and Yin Jiao weeped together for their unfortunateness. Following their arrival back to the capital, Yellow Flying Tiger grinded his teeth in explosive rage, declaring that he would personally slay Generals Yin and Lei with his sword before they ever were to be recognized for their one-sided merit. Ordering all ministers to quickly gather before the palace gates in defense for the two princes, Yin and Lei meanwhile attained a written report from King Zhou to put them both to death before the gates in quick pace. Seeing such a report, Supreme Minister Zhao Qi grabbed it from their hands and tore it to many pieces in his rage. Continuing in such a manner, Zhao Qi declared to every minister present to go to the Grand Hall and invite His Majesty to attend; for such was the perfect chance to admonish the simple-minded tyrant.

With Yellow Flying Tiger's four right-hand generals protecting the princes with their lives, and ministers banging the bells and beating the drums to attain the king's attendance, King Zhou simply wrote a decree to put an end to the princes for their unfilialness while remaining in his Fairy Longevity Palace. With the executioners thus pacing towards the two bound princes, Superiorman Pure Essence and Grand Completion meanwhile roamed about through the skies in great boredom. As they thus appeared above Morning Song and saw the two princes ready for execution, a grand gust storm ran across the skies -- putting every official and soldier present in fear. With the sudden disappearance of Yin Hong and Yin Jiao following the end of the storm, this calamity brought great relief and joy in the hearts of each official, while King Zhou sat in wonder at such a happening. Now finally arriving at the capital of Morning Song, Shang Rong rose forth and heard the complete story of current happenings from Yellow Flying Tiger himself. In due resolve to be able to confront the emperors of yore in high honor and loyalty, Shang Rong immediately ordered the beating of bells and drums to force the foul King Zhou into the Grand Hall. As the king thus arrived before his desk, Shang Rong kneeled forward and presented to the former his written report. Upon the reading of this report, King Zhou flew into great rage -- immediately ordering Shang Rong to be beaten to death with the golden hammer. Yelling back at the king with words of duty and love towards his past services in the name of the Shang Dynasty, Shang Rong knocked away the guards and jumped head-first into a stone pillar -- effectively ending his life in a rather grusome manner. As many ministers exchanged glances at such a horrific scene, King Zhou ordered for his body to be thrown into an empty field behind the capital in an expression of his dignity towards the former.

Kurenai86
17-06-2010, 03:37 PM
Lanjutan bab 10

Bab 10 - Lahirnya Lei ZhenZi
-------------------------------------------------------------------------------
Melihat tragedi ini terjadi di depan matanya, Perdana Menteri Zhao Qi mengekspresikan kemarahan terpendamnya pada Sang Raja tanpa sedikitpun rasa takut. Akhirnya Perdana Menteri ini dihukum dengan diikat pada tiang yang membara hingga terbakar tanpa sisa manjadi abu.
Kembali ke Istana Dewa Umur Panjang dengan penuh kepuasan atas perbuatan sadisnya, Raja Zhou segera menemui Daji, menjelaskan insiden yang terjadi dengan Shang Rong, dan mendiskusikan dengan permaisurinya itu cara menyingkirkan Jiang Huanchu yang menjadi ancaman bagi ibukota. Tanpa memikirkan penyelesaian terlebih dahulu atas masalah itu, Daji memanggil Fei Zhong untuk meminta pendapatnya. Fei Zhong menyatakan bahwa empat adipati besar harus segera disingkirkan untuk mencegah pejabat lainnya bekerja sama dengan negara tetangga untu memberontak. Jiang Huanchu juga harus disingkirkan karena akan menjadi ancaman bagi ibukota bila dia bergabung dengan 3 adipati besar lainnya.
Sang Raja segera menyetujui saran dari Fei Zhong dan secara pribadi mengirim empat kurir istana kepada masing-masing adipati besar tersebut – Jiang Huanchu, E Chongyu, Ji Chang, dan Chong Houhu – secara cepat. Saat salah satu dari empat kurir tersebut tiba di depan kaki bukit bagian barat – wilayah kekuasaan Ji Chang – dan tiba di hadapan Ji Chang sendiri, Ji Chang menawarkan perak dan emas pada kurir itu sebelum kemudian mengantarnya kembali ke ibukota.
Setelah menunjuk San Yisheng untuk mengurus masalah internal, Ji Chang menemui putranya, Bo Yi Kao, mengatakan pada sang putra tentang ramalan bahwa dia (Ji Chang) akan ditawan selama 7 tahun, dan memberi instruksi pada Bo Yi Kao untuk mengurus masalah kenegaraan setelah dia pergi. Setelah menjelaskan situasinya pada banyak menteri lainnya, Ji Chang pergi dari kaki bukit sebelah barat keesokan harinya dengan diantar oleh 50 pengikutnya. Ketika rombongan tiba di Gunung Yan, tiba-tiba terjadi hujan badai disertai gelombang besar dari masing-masing puncak gunung; bagaikan lautan yang tumpah dari langit. Setelah terdengar guntur yang menggelegar mengguncang bumi, Ji Chang memerintahkan para prajuritnya untuk mencari “bintang pahlawan” – karena ada pepatah yang mengatakan bahwa petir akan menyertai kelahiran seorang pahlawan yang terberkahi.
Saat menemukan seorang bayi yang baru lahir dengan mata bersinar bagaikan bintang, Ji Chang menyuruh pengawalnya untuk menemukan keluarga di dekat situ yang dapat mengasuh sang bayi. Namun, Yun Zhongzi sendiri muncul di depan mereka, menyatakan dengan senang hati akan mengasuh sendiri sang bayi – yang diberi nama Lei Zhenzi – dan akan mengembalikannya pada Ji Chang saat Ji Chang sudah meninggalkan Zhao Ge.
Ji Chang melanjutkan perjalanan. Saat dia tiba di Zhao Ge, dia dihibur sepanjang hari bersama ketiga adipati lainnya di Istana Pejamuan Emas. Saat malam tiba dan keempat adipati menikmati arak mereka sepuasnya, E Chongyu, Adipati Timur, mulai mengeluarkan makian penuh kebencian pada tingkah Chong Houhu karena mabuk. Dengan pikiran yang kacau karena mabuk, Chong Houhu dan E Chongyu mulai berkelahi hingga akhirnya Ji Chang bisa memisahkan mereka berdua dengan paksa dan mengirim mereka ke tempat peristirahatan.
Pada jam dua tengah malam, Ji Chang mendengar seseorang datang ke ruang peristirahatan dan mengatakan bahwa besok darah para adipati utama itu akan menodai dinding pasar. Dengan ancaman bahwa semua orang akan dihukum mati bila pelaku yang mengucapkan kata-kata itu tidak menunjukkan dirinya, akhirnya Yao Fu ditangkap dan dilemparkan di depan kaki Ji Chang. Saat Yao Fu, yang juga merupakan keluarga kurir istana, mengatakan pada Ji Chang dan Jiang Huanchu mengenai kejadian menyedihkan di dalam istana, Jiang Huanchu jatuh berlutut menangisi kematian putrinya dengan cara yang kejam sementara Ji Chang menawarkan untuk membuat petisi atas nama Jiang Huanchu. Bersumpah untuk menuntut sendiri Raja Zhou atas kematian putri kesayangannya, Jiang Huanchu mengatakan pada Ji Chang bahwa dia juga harus membuat laporannya sendiri mengenai kasus tersebut.
Saat Fei Zhong mengetahui kedatangan para adipati tersebut di ibukota, dia mengatakan pada Raja Zhou untuk mengabaikan laporan apapun yang diserahkan padanya keesokan harinya. – dan agar para adipati segera dieksekusi tanpa disidang. Saat Raja Zhou tiba di Aula Utama keesokan harinya, dia segera memanggil keempat adipati itu. Ketika Jiang Huanchu menyerahkan laporannya pada Raja Zhou dan dengan tenang menuntut Sang Raja atas tindakan biadabnya, jubah Jiang Huanchu langsung dilepas untuk bersiap-siap dieksekusi segera. Namun, ketiga adipati utama lainnya maju untuk menyatakan bahwa Jiang Huanchu tidak bersalah.

Bersambung.....


Here's the english version

This chapter is titled "The Discovery of Thunderquaker". Seeing this tragedy in full form, Supreme Minister Zhao Qi additionally expressed his inner hate towards the king without a single ounce of fear. Upon being bound before a burning pillar as punishment, Zhao Qi became nothing more than ash to the wind in mere moments. Now returning to the Fairy Longevity Palace in great satisfaction over his barbarity, King Zhou personally approached Daji, explained the past incident with Shang Rong, and discussed with her how to get rid of Jiang Huanchu as a threat to the capital. With no true thought-out resolution to such a problem, Daji called forth Fei Zhong for a suggestion. Fei Zhong stated that the four regional grand dukes should effectively be disposed off less any ministers of Morning Song attempted to rise up in rebellion with any neighboring force. Jiang Huanchu would also be effectively destroyed as a threat to the capital if he were to join the other three grand dukes in execution. Following the king's immediate approval of Fei Zhong's suggestion, four royal messengers were personally sent to each grand duke--Jiang Huanchu, E Chongyu, Ji Chang, and Chong Houhu--in quick pace. As one of four messengers arrived before the Western Foothills--Ji Chang's domain--and presented it before Ji Chang himself, the latter offered fine silver and gold to the messenger before ensuring his depature to the capital at a later time. After appointing San Yisheng as commander of internal affairs, Ji Chang went to his son, Bo Yi Kao, told him of his seven-year-prisoner prophecy, and how he should take care of state affairs following his departure. Explaining the situation to many other ministers in attendance throughout the day, Ji Chang took his leave from the Western Foothills the following morning with fifty attendants by his side. As his party arrived before Mount Yan, a sudden rainstorm appeared with giant waves rolling down from each neighboring mountain top; it was as if an ocean was falling from the very skies. After hearing a collosal thunderbolt shake the very earth, Ji Chang gave the order for his soldiers to find "the star of a warrior"--followed from the saying that a gifted warrior is born after the movement of lightning.
Upon the finding of a small newborn child with eyes like that of stars, Ji Chang told his men to find a local family that could take the child in. However, Master of the Clouds personally presented himself shortly before Ji Chang, stating that he would graciously take the child--newly dubbed as "Thunderquaker"--in as his own, and return him to the former once he had left Morning Song. As Ji Chang thus continued his journey, he arrived at Morning Song one day to be entertained in the company of the other three grand dukes at the Golden Reception House. As the night flew and the four grand dukes enjoyed their wine to the fullest, E Chongyu, the Grand Duke of the East, began to spout words of hatred at Chong Houhu's actions in his drunken state. Being at a lose in judgement due to their state of mind, Chong Houhu and E Chongyu began to physically attack eachother before Ji Chang forcefully pulled the two apart and sent them to their respective rooms. At the second watch that night, Ji Chang heard someone present at the reception house mutter that the blood of the grand dukes would stain the market walls the following day. Threatening to put every individual to death if the culprit did not show himself, the accused Yao Fu was thrown before Ji Chang's feet shortly. As Yao Fu, who was a relative of a royal messenger, told Ji Chang and Jiang Huanchu of the unfortunate past within the kingdom, Jiang Huanchu fell to his feet in misery over his daughter's cruel death while Ji Chang offered to create a petition in his behalf. Vowing to personally see King Zhou over the death of his precious daughter, Jiang Huanchu declared to Ji Chang that he should form his own report on the case instead. When Fei Zhong learned of their arrival before the capital, he told King Zhou that he should ignore any report that is to be handed to him the following morning -- and the dukes should be publicly executed without condition. As King Zhou arrived within the Grand Hall the following morning, he announced forth the four grand dukes immediately. When Jiang Huanchu handed his report to King Zhou and calmly accused the latter for his barbaricy, the former's robes were removed to prepare for his immediate execution. However, the other three grand dukes rushed forth protesting Huanchu's innocence.

Wolfkid
17-06-2010, 10:50 PM
^O^
Sebagai informasi aja, ya, SWK, baik itu menurut Buddha dan Tao, sama2 sepakat kalo SWK itu adalah tokoh rekaan belaka (fiktif), jadi kalo ada yang ngaku2 titisan SWK, atau menyembah tokoh itu sebagai dewa itu namanya sesat!. Yang benar2 ada dalam catatan sejarah:
JTTW --> Biksu Tang;
FSB --> Jiang Zi Ya.
Tentu saja tokoh kaisarnya memang benar2 ada, ya.
sama aja kalo sekarang menyembah Batman jadi dewa..he3...

.

Hmm Sun Wu Kong itu kan memang ada disembah sebagai dewa, dulu di rumah gw ada rupangnya, tapi uda diberikan ke vihara.

FSB versi indo pernah diterbitkan bukunya judulnya "Penganugerahan malaikat " T_T sayang gw cuma punya jilid 1 aja. Ditunggu bro, bab bab selanjutnya. Dah gw cari cari ebook bahasa Inggrisnya gak ketemu. T_T

Anyways this is nice tread.

Kurenai86
18-06-2010, 05:37 AM
Hmm Sun Wu Kong itu kan memang ada disembah sebagai dewa, dulu di rumah gw ada rupangnya, tapi uda diberikan ke vihara.

FSB versi indo pernah diterbitkan bukunya judulnya "Penganugerahan malaikat " T_T sayang gw cuma punya jilid 1 aja. Ditunggu bro, bab bab selanjutnya. Dah gw cari cari ebook bahasa Inggrisnya gak ketemu. T_T

Anyways this is nice tread.

Ow, gitu ya...^^
maaf deh kalo ada yang tersinggung...
soalnya aneh saja kalo tokoh fiktif didewakan, apalagi sampai memohon macam2. Enggak kan?
kalo misalnya Guan Yu disembah, masih bisa diterima, soalnya Guan Yu memang ada dalam sejarah ^^
iya, aku juga sudah nyari ebook inggrisnya, akhirnya yang ketemu cuman wikibook yang cuman ringkasan per bab.
sabar ya, soalnya agak sibuk nih, jadi cuman bisa kalo sempat nerjemahinnya.
kalo mau ringkasannya ada kok, cari saja di google pake kata kunci Feng Shen Yan Yi

Omong2... bentar lagi dah mau masuk cerita Ne Zha nih... ditunggu aja ya

Kurenai86
19-06-2010, 12:25 PM
Bab 11 - Kemalangan para Adipati Utama
----------------------------------------------------------
Melihat bagaimana Raja Zhou akan mengeksekusi mati Jiang Huanchu begitu saja, ketiga adipati utama lainnya dengan pucat pasi segera berlutut di depan Sang Raja dan meminta Sang Raja mempertimbangkan kembali keputusannya demi menjaga hubungan baik antara Raja dengan para pejabatnya. Saat Bi Gan membeberkan petisi mereka di depan meja Raja Zhou, sang Raja tdak punya pilihan lain selain membacanya. Setelah membaca petisi-petisi tersebut, yang mana banyak membeberkan kesalahan sang Raja, dalam kemarahan yang memuncak sang Raja mencabik-cabik petisi-petisi tersebut. Ketiga adipati utama tersebut segera ditangkap karena memberikan petisi yang penuh penghinaan tersebut, namun Huang Fei Hu dan pangeran-pangeran lainnya segera berlutut dan mengingatkan Sang Raja tentang tugas besar dan kesetiaan para adipati yang ditangkap tersebut melalui jasa-jasa mereka atas nama Dinasti Shang.

Setelah mendengar cerita mereka, Raja Zhou mendapatkan penyelesaian baru: Ji Chang akan diampuni karena jasa besarnya dan kesetiaannya sementara kedua adipati lainnya akan dieksekusi seperti keputusan sebelumnya. Meskipun Yang Ren terus menerus memohon ampunan demi kedua adipati itu, perintah sang Raja segera dilaksanakan tanpa pikir panjang lagi.

Setelah Raja Zhou kembali ke istananya, semua pejabat menangisi tragedi ini sementara sisa-sisa pengikut kedua almarhum adipati tersebut segera lari ke wilayah mereka masing-masing untuk bersiap-siap melakukan pemberontakan di masa depan. Setelah kedua adipati utama tersebut dikuburkan dan Ji Chang bersiap-siap kembali ke wilayahnya sendiri, Fei Zhong menemui Raja Zhou dan menyarankan padanya agar Ji Chang juga segera dihancurkan untuk mencegah kalau-kalau Ji Chang berusaha menggabungkan pasukannya baik dengan Jiang Wenhuan (anak almarhum Jiang Huanchu) di Timur ataupun E Shun (anak almarhum E Chongyu) di Selatan – karena rasa takutnya sendiri. Dengan mengamati Ji Chang saat perjamuan perpisahan, Fei Zhong dapat mengetahui apakah Ji Chang benar-benar setia pada kerajaan; dan karena tampaknya Ji Chang agak menakutkan, dia (Ji Chang) harus segera disingkirkan.

Saat Ji Chang berpamitan pada raja dan Perdana Menteri Bi Gan, Ji Chang berkendara hingga Paviliun Changting dimana dia disambut oleh banyak pejabat tinggi dengan hangat. Dengan senang hati dan karena ketulusan yang ditunjukkan para pejabat, Ji Chang dengan gembira saling bersulang dalam perjamuan penyambutan. Ketika Fei Zhong dan You Hun tiba tak lama kemudian, semua pejabat merasa tidak senang dan segera mengundurkan diri saat melihat kehadiran para penjahat itu.
Ji Chang yang sendirian dan hanya berdua dengan Fei Zhong dan You Hun, Fei Zhong dan You Hun memberikan satu gentong arak dengan cangkir ukuran sangat besar untuk diminum Ji Chang. Saat Ji Chang dengan senang meminumnya dan menjadi mabuk, Fei Zhong sengaja menanyainya bagaimana nasib Dinasti Shang. Ji Chang menyatakan bahwa Raja Zhou akan menjadi raja terakhir dinasti ini, dan pemerintahannya akan bertahan hanya sekitar sepuluh tahun. Sebagai tambahan, Ji Chang juga meramalkan kematian ganjil bagi Fei Zhong dan You Hun di masa depan: mereka akan mati beku di dalam es.

Merasa kaget dengan ramalan Ji Chang, Fei Zhong dan You Hun segera kembali ke Istana Dewa Umur Panjang untuk memberitahukan pada sang raja betapa kurang ajarnya sang adipati. Chao Tian (salah satu dari kembar Chao) segera dikirim untuk membawa kembali Ji Chang atas perintah sang raja, dan membawanya kembali ke ibukota.

Ketika Ji Chang menghadap Raja Zhou, dan akan dihukum mati, Bi Gan membela Ji Chang, mengatakan bahwa suatu ramalan hanya digunakan untuk memprediksikan keberhasilan atau kegagalan di masa yang akan datang – dan jelas tidak dibuat-buat oleh Ji Chang ataupun digunakan dengan tujuan membuat prediksi sembrononya sendiri. Setelah dipaksa membuat ramalan untuk melihat apakah ramalan sebelumnya akan menjadi kenyataan, Ji Chang menyatakan bahwa Kuil Leluhur akan terbakar menjadi debu keesokan siangnya.

Dengan ramalan semacam ini diutarakan secara gamblang, Raja Zhou dengan terpana mengingat kembali kualitas-kualitas Ji Chang sebagai orang bijak. Bagaimanapun juga, akhirnya diputuskan bahwa Ji Chang tidak jadi dihukum mati – namun harus menjalani tahanan rumah dalam Distrik Yaoli di Chao Ge untuk memastikan tidak adanya masalah di masa yang akan datang karena ramalan tersebut. Saat kedamaian sudah kembali di ibukota, Ji Chang akan dibebaskan dari tahanannya. Berlutut dengan penuh rasa terima kasih atas kemurahan hati sang Raja, Ji Chang disambut sebagai pemimpin oleh masyarakat Yaoli yang memendam kebencian pada Raja Zhou.

Suatu hari di masa yang akan datang, Pangeran Huang Feihu menerima laporan bahwa Jiang Wenhuan dari Selatan menyerang Gerbang Youhun, sementara E Shun menginvasi Sanshan. Menyadari bahwa sekarang muncul pemberontakan dari empat ratus marquis, Huang Feihu mengesah dengan berat hati sebelum memerintahkan para jenderalnya untuk segera melindungi gerbang-gerbang tersebut.

Bagian 1 – Selesai –
Bersambung ke bagian 2...

Here’s the english version:
This chapter is titled "The Ill-Fortunes of the Grand Dukes". Seeing how King Zhou was to put Jiang Huanchu to death so blatantly, the other three grand dukes knelt before the king in shock and told the latter to reconsider his descision in the name of preserving his king-minister relationship. As Bi Gan spread forth their petition upon King Zhou's desk, he had little choice but to read it. Upon the reading of this petition, which elaborated the king's many wrongs, the latter flew into a great rage while tearing it to many pieces. Once the three dukes had been bounded immediately for such a slanderous petition, Yellow Flying Tiger and other princes knelt down and elaborated the grand duty and loyalty that the dukes fully showed throughout their many merits towards the name of the Shang Dynasty. After hearing their story, King Zhou came to a new conclusion: Ji Chang will be specially pardoned for his exceeded virtue and due loyalty while the other two dukes are to be executed at once as previously stated. Even with Yang Ren's continued plead to have mercy on the two remaining dukes, the king's decree was effectively carried out in efficient form none the less. Following King Zhou's return to his palace, each minister wept profusely at such a tragedy while the remaining attendants of the two newly deceased dukes fled immediately to their respective dukedoms in a chance to attain a future rebellion. As two grand dukes were thus buried and Ji Chang made preparations to head back to his dukedom, Fei Zhong approached King Zhou and suggested to him that Ji Chang should effectively be destroyed less he attempts to join forces with either Jiang Wenhuan of the east or E Shun in the south--the sons of the deceased dukes--due to his secretioned "inner treachery". By observing the former during his farewell feast, Fei Zhong could effectively determine if he was truly loyal to the dynasty; for if he seems the least bit treacherous, he should be disposed of immediately.

As Ji Chang thus presented his farewell to the king and Prime Minister Bi Gan, he rode to the Changting Pavilion where he was warmly welcomed by many high ranked ministers. With happiness and due dignity present within each minister's heart, Ji Chang was merrily treated to volleys of wine in a celebrational feast. Once both Fei Zhong and You Hun arrived shortly, each minister became displeased and dispersed immediately at the sight of such criminals in their presence. With Ji Chang now alone with Fei Zhong and You Hun, the latter presented forth an especially large jug of wine equipped with extra-large cups for the former to drink from. As Ji Chang thus happily guzzled down several glasses, and became somewhat drunk, Fei Zhong purposely asked the former the fate of the Shang Dynasty. After stating that King Zhou would be the last monarch of the dynasty, and his rule will last for another decade or so, Ji Chang additionally foretold the rather strange death that Fei Zhong and You Hun will experience in the future: they will be frozen to death in ice. With expressive condolences towards Ji Chang's prophecies, Fei Zhong and You Hun shortly returned to the Fairy Longevity Palace to tell the king how truly foul the duke was. As Chao Tian--one of the Chao Twins--was thus deployed to bring back Ji Chang immediately by decree of King Zhou, Chao Tian arrived shortly before Ji Chang and rode back to the capital. Once Ji Chang was presented before King Zhou, and received the death punishment, Bi Gan defended the former, saying that divination is simply meant to predict the success or failure of future events -- and was most definately not invented by Ji Chang or used for the sole purpose to create his own rash predictions whatsoever. After thus being forced to make a divination to see if it will come true, Ji Chang stated that the Ancestral Temple shall burn to ashes at noon the following day. With such a prophecy being reciprocated in real form, King Zhou flew back in astonishment at Ji Chang's sage-like qualities. However, it was concluded that Ji Chang will escape the death punishment -- but will be forced to live within Morning Song's Yaoli District as to ensure no future trouble is caused through such divination. Once peace is to be restored in the capital, Ji Chang would be freed from such containment. Bowing in gratitude towards the king's grace, Ji Chang was welcomed merrily into Yaoli as a leader of the people who possessed voidful hate towards King Zhou. One day into the future, Prince Yellow Flying Tiger received a report that Jiang Wenhuan of the south is attacking Youhun Pass, while E Shun is present at Sanshan. Now being fully rational over the rebellion of four-hundred marquises at present, he sighed with discontent before ordering his generals to protect the passes with all due haste.
-- Arc 1 - END --

Kurenai86
20-06-2010, 05:58 AM
Bagian 2

Bab 12 – Kelahiran Nezha
-----------------------------------------------------
Saat ini di Gerbang Chentang (Chentang Guan) tidak ada orang selain komandan militer Li Jing yang memiliki kemampuan langka untuk menembus tanah, metal, kayu, ataupun api yang diajarkan oleh ‘Superiorman Woe Evading Sage’. Dengan dua putra – Muzha dan Jinzha – serta istrinya, nyonya Yin, Li Jing sedang menghadapi situasi yang aneh: istrinya dari luar tampak hamil, tapi selama tiga setengah tahun mengandung, tidak ada tanda-tanda akan melahirkan. Barulah setelah Nyonya Yin mendapat mimpi aneh suatu malam, tiba-tiba dia melahirkan seorang anak yang aneh keesokan harinya.

Karena para pelayan wanita menyerukan bahwa siluman muncul di kamar istrinya, Li Jing segera menyerbu masuk ke kamar tersebut dan membacok sebuah bola daging yang aneh yang bergelindingan di lantai menjadi dua. Dari dalam bola tersebut muncul seorang anak kecil dengan rambut seputih salju dan mengenakan sebuah gelang emas di pergelangan tangan kanannya. Sambil menggendong anak tersebut, Li Jing dan istrinya sangat bahagia melihat anak mereka yang baru lahir tersebut.

Ketika Taiyi Zhenren tiba tak lama kemudian, dan disambut gembira di kediaman mereka, Taiyi menggendong sang anak dan memberinya nama ‘Nezha’. Setelah memberikan persetujuannya bahwa Taiyi dapat mengadopsi sang anak menjadi muridnya, Li Jing melanjutkan untuk melatih prajuritnya dengan keras dalam tujuh tahun.

Tujuh tahun kemudian, ketika suatu hari Nezha berjalan-jalan di luar gerbang perbatasan bersama seorang pengawal setelah berlatih selama tujuh tahun dibawah bimbingan Taiyi Zhenren, dia tiba di Sungai Sembilan Dasar yang berkilauan terkena cahaya matahari. Karena ingin mandi di sungai ini untuk melepaskan diri dari suhu udara yang panas di musim panas, Nezha segera melepaskan pakaiannya dan menggunakan ‘Kain Pengacau Langit’ di lehernya untuk menggosok tubuhnya. Tanpa dia sadari, tiap kali kain ini menyentuh air, permukaan airnya menjadi merah; dan saat kain itu diayunkan, tanah di bawahnya bergetar hebat.

Ao Guang, raja naga Laut Timur, memerintahkan prajurit yaksha-nya, Li Gan, untuk mencari tahu penyebab guncangan hebat yang terus-menerus tersebut. Setelah mengetahui bahwa Nezha-lah penyebab kekacauan ini, Li Gan dengan sadisnya mengayunkan kapaknya pada Nezha – namun berakhir dengan kehilangan nyawanya sendiri oleh Cincin Semesta milik Nezha.

Ketika Ao Guang mendapat kabar mengenai kematian prajuritnya, Ao Bing (putra ketiga Ao Guang) menenangkan ayahnya dengan kata-kata akan mencari tahu alasan di balik perbuatan ini. Saat Pangeran Ketiga Ao Bing bertemu Nezha, Nezha mengolok-oloknya dengan pongah hingga membuatnya marah dan mengayunkan tombak pualamnya pada Nezha sepenuh tenaga. Dengan memanfaatkan pusaka-pusaka legendarisnya yang memiliki kekuatan yang luar biasa, Nezha berhasil memukul Ao Bing hingga tewas – yang kemudian kembali ke wujudnya semula: seekor naga berwarna perak.

Saat diberitahu oleh para pengawal Ao Bing bahwa putra ketiganya juga kehilangan nyawanya, kemurkaan Ao Guang memuncak hingga ke langit. Ao Guang mengubah dirinya menjadi seorang sastrawan dan segera menemui Li Jing untuk mengabarkan hal ini. Setelah melampiaskan kemarahannya pada Li Jing, Ao Guang menuntut untuk segera menemui sendiri Nezha. Ketika Nezha tiba di hadapan Ao Guang dan dengan penuh penyesalan menyerahkan padanya urat nadi putra ketiganya yang telah dicabut dari mayatnya, Ao Guang marah besar dan terbang pergi dengan meyatakan bahwa dia sendiri akan menemui sendiri Kaisar Giok (Yu Huang Da Di) untuk memastikan bahwa mereka (Li Jing dan Nezha) akan dihukum karena perbuatan ini.

Merasa bertanggungjawab penuh atas penderitaan dan kecemasan luar biasa yang diterima kedua orangtuanya, Nezha mengatakan bahwa dia akan menemui gurunya, Taiyi Zhenren, untuk menanyakan apa yang harus dilakukannya pada Ao Guang untuk memastikan keselamatan keluarganya. Menggunakan awan debu untuk terbang dengan kecepatan tinggi, Nezha tiba tak lama kemudian di kediaman gurunya di gunung Qianyuan. Mengetahui bahwa kejadian kecil itu memang sudah ditakdirkan untuk terjadi, dan masalah semacam itu tidak pantas untuk diajukan di hadapan Kaisar Giok, Taiyi Zhenren menggambar mantra agar tidak nampak pada Nezha lalu mengirimya ke Gerbang Kebajikan di Istana Langit dengan seperangkat instruksi untuk dilakukan.

Setibanya di depan Gerbang Kebajikan, Nezha memandang takjub atas keindahan dan keanggunan yang ada di sekelilingnya; pemandangan semacam itu terlalu hebat untuk ada di muka bumi. Ketika Ao Guang akhirnya tiba di gerbang itu, Ao Guang segera menuju Nan Tian Men (Gerbang Langit Selatan) – dan bertekad untuk segera menemui Kaisar Giok. Saat gerbang itu sudah dekat, tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa mendera punggungnya karena Nezha menghantamkan Cincin Semestanya dengan keras ke punggungnya. Ao Guang terjatuh ke tanah dengan Nezha mencengkeram lehernya. Sang Raja Naga benar-benar berada dalam kondisi yang sulit.

Bersambung...

Here/s the english version
-- Arc 2 - BEGIN --
This chapter is titled "The Birth of Nezha". Present at Chentang Pass was none other than the renowned military commander Li Jing, who possessed the rare ability to travel through ground, metal, wood, or fire as taught by Superiorman Woe Evading Sage. Currently with two sons--Muzha and Jinzha--and his wife, Madam Yin, Li Jing was in a strange situation: his wife was seemingly pregnant for over three years and sixth months -- but never progressed into labor. However, as Yin had a strange dream one night, she suddenly gave birth to this strange child the following morning. With maidens rushing about saying that a demon was present in Yin's chambers, Li Jing immediately rushed forth into her room and cleaved in two a strange fleshy ball that rolled to and fro across the floor. Within the ball emerged a small young child with hair as white as snow with a gleaming golden bracelet on his right wrist. Taking the young child into his arms, Li Jing and his wife were both very delighted at the sight of their new son. As Fairy Primordial arrived shortly, and was happily welcomed into their territory, the former took hold of the child and declared his name to be 'Nezha'. After containing consent that Primordial could adopt the child as his own disciple, Li Jing continued to train his soldiers fervently throughout the following seven years of time. As Nezha ventured outside of the pass one day with a guard after his seven-year nurturing under Fairy Primordial, Nezha arrived before the Nine Bed River which sparkled with the light of the sun. Determined to take a bath in this stream as an escape from the great heat of summer, Nezha immediately took his clothes off and used the Sky Buddling Damask around his neck to wipe his body. Little did he know that each time this scarf touched the water the surface turned red; when it swished about, the ground beneath shook violently.
Ao Guang, the dragon king of the East Sea, thus ordered his yaksha scout, Li Gan, to find out the cause to each consistent tremors. After realizing Nezha to be the source of such tremors, Li Gan lashed his axe violently at the former in great rage -- but only ended up losing his life shortly by Nezha's Universal Ring. As Ao Guang was informed of his scout's death, Ao Bing eased his father with word that he will find out the reason for such an action. Experiencing great ridicule and aroggance upon the meeting of Nezha, Third Prince Ao Bing lashed his jaden lance forthward with great renown. Using both of his legendary items with synchronized ability, Nezha managed to strike the former dead -- who thus returned to his original form: a silver dragon. Being informed by Ao Bing's soldiers that his third son lost his life in addition, Ao Guang's rage pierced the very skies as he transformed himself into a scholar to immediately see Li Jing on the issue. After angrily elaborating the issue to Li Jing, Ao Guang demanded to see Nezha in person without any moment to waste. When Nezha appeared before Ao Guang and apologetically handed him his third son's tendon that was previously ripped out, the former flew into greater discontempt declaring fully that he would personally see the Jade Emperor to ensure their punishment. Feeling fully responsible for the great agony and frustration that his mother and father were now going through, Nezha declared that will see his master, Fairy Primordial, to see how he should deal with Ao Guang to ensure his family's safety. Using a dust cloud to move with great speed through the air, Nezha arrived shortly before his master's residence at Qianyuan Mountain. Knowing fully that the minor actions of the past were destined to occur, and such a matter was not worthy to be placed before the Jade Emperor himself, Fairy Primordial first drew invisibility charms on Nezha and then sent him to the Virtue Gate of the Heavenly Palace with his set instructions. Arriving in moderate time before the Virtue Gate, Nezha gazed in great admiration at the beauty and elegance that revolved around him; such a sight truly was far too great to ever be present within earth. As Ao Guang eventually arrived through the gate, he rode swiftly towards the South Heavenly Gate -- determined indeed to see the Jade Emperor at once. Realizing that such a gate was yet closed, a large pain suddenly erupted forth in his back as Nezha's Universal Ring landed a crucial blow to the former. Falling to the ground with Nezha grabbing hold of his neck, Ao Guang was truly in a difficult situation.

silverkhingz
20-06-2010, 10:29 AM
yg gw tahu kisah journey to the west itu emang kisah nyata, meski ya cerita aslinya ga kayak yg di film, tapi intinya emang ada orang yg melakukan perjalanan wat ngambil kitab suci

Kurenai86
21-06-2010, 06:43 AM
yg gw tahu kisah journey to the west itu emang kisah nyata, meski ya cerita aslinya ga kayak yg di film, tapi intinya emang ada orang yg melakukan perjalanan wat ngambil kitab suci

Iya, Biksu Tang-nya memang ada, ini peta perjalanannya
http://i48.tinypic.com/1254cgy.jpg

lanjut dulu deh Nezha-nya
Bab 13 – Pertarungan Dua Dewa
------------------------------------------------------------------
Saat Nezha turun dari punggung sang raja naga dan mulai meninjunya dengan keras, Ao Guang menjadi semakin marah. Dengan tekad untuk memaksa Ao Guang menyerah dan kembali bersamanya ke Chentang Guan, Ne Zha mencabuti sisik-sisik sang naga satu persatu dari tubuhnya – dan berhasil memaksa sang raja naga menyerah padanya. Kemudian Nezha memaksa Ao Guang mengubah bentuknya menjadi seekor kadal kecil agar tidak kabur dan segera kembali ke Chentang Guan. Sekembalinya di hadapan Li Jing, Ao Guang kembali ke wujudnya semula, menyentakkan kakinya ke tanah dengan kemurkaan luar biasa, dan bersumpah untuk mengumpulkan raja-raja naga dari keempat samudera dalam usahanya menemui Kaisar Giok.

Melihat Li Jing frustasi berat, Nezha langsung menenangkan ayahnya dengan menyatakan bahwa dia berasal dari Debu Merah di Yuzu Gong; dan jika ada masalah yang diajukan di depan Kaisar Giok nantinya, gurunya, Taiyi Zhenren, akan mengurus hal tersebut dengan tepat.

Ketika Nezha berjalan-jalan di kebun bunga milik orangtuanya setelah berhasil menenangkan Li Jing, dia mulai merasa bosan dan akhirnya memanjat menara penjaga gerbang terdekat untuk menikmati suasana siang itu. Setelah melihat-lihat pemandangan menakjubkan yang terbentang di hadapannya, Nezha memungut sebuah busur yang terpasang bersama tiga buah anak panahnya di sudut menara besar ini. Memutuskan untuk berlatih panahan, Nezha menembakkan salah satu dari ketiga anak panah yang ada – yang berwarna merah menyala dan berkilauan – ke arah barat daya. Nezha tidak menyadari bahwa busur ini dulunya milik Kaisar Xuanyuan – dan hanya orang-orang yang memiliki kekuatan dewa yang mampu mengangkatnya. Dan lebih sialnya lagi, panah ini tepat menghunjam tenggorokan Anak Awan Biru dari Gua Tulang Putih di Gunung Tengkorak.

Segera insiden ini dilaporkan pada Shici Niang-Niang, sang pemilik gua, yang kemudian bersumpah menuntut balas pada pelaku yang menyebabkan insiden ini: Li Jing. Shici Niang-Niang segera menuju ke Chentang Guan, dan setibanya di sana, dia mengurung Li Jing dengan jin berkain kuningnya tanpa ragu-ragu. Sekembalinya ke gunung bersama Li Jing, Li Jing mengatakan pada Shici Niang-Niang bahwa dia akan segera mencari tahu pembunuh sebenarnya dengan menyelidiki panah suci tersebut. Ketika Li Jing memanggil Nezha, tak lama kemudian dia segera mengetahui bahwa Nezha-lah pelaku di balik insiden baru tersebut, dan segera membawanya ke Gunung Tengkorak menggunakan awan debu.

Ketika Anak Awan Cantik, murid kedua Shici Niang-Niang, memanggil Nezha untuk masuk ke dalam gua, Nezha memustuskan inilah saat yang tepat untuk sekalian menghabisi Anak Awan Cantik karena toh dia (Nezha) bagaimanapun juga akan mendapat bencana. Melihat muridnya terbaring sekarat di tanah, Shici Niang-Niang segera menyabetkan pedangnya kearah Nezha dengan kemarahan yang lebih besar lagi. Malang bagi Nezha, pusaka-pusakanya yang hebat terhisap oleh lengan jubah Shici Niang-Niang saat dia berusaha menggunakannya – sehingga tidak ada pilihan lain baginya selain kabur untuk menemui gurunya di Gunung Qianyuan. Nezha segera bersembunyi di kebun buah persik milik gurunya itu. Taiyi Zhenren meninggalkan kediamannya dan keluar menghadapi Shici Niang-Niang yang mengejar Nezha.

Setelah berteriak memaki-maki Taiyi Zhenren karena ingin menghajar Nezha, Taiyi mengatakan bahwa Nezha memang ditakdirkan harus menghadapi bencana ini – dan kejadian kecil semacam ini tidak ada artinya bila dibandingkan dengan jasa-jasanya di masa yang akan datang. Shici Niang-Niang menyadari bahwa perkataan Taiyi tidak dapat dibantah, dan cara satu-satunya untuk menyingkirkan Taiyi adalah menemui gurunya di Yuzu Gong, Shici memutuskan untuk bertarung melawan Taiyi untuk membuktikan kesaktiannya melebihi Taiyi Zhenren.

Bahkan dengan menggunakan pusakanya – Saputangan Jenggot Naga – terbukti bahwa Shici kalah dibandingkan Taiyi karena Taiyi mampu menghindari dan menangkis semua serangannya bagaikan air yang mengalir. Taiyi bahkan berhasil menjebaknya dengan mudah di dalam Kurungan Api Dewa Sembilan Naga, dan sambil melemparkan pandangan pada Nezha – yang mengintip dari dalam gua – memerintahkannya kembali ke kediaman orangtuanya karena Kaisar Giok telah menerima permintaan Ao Guang. Sambil mengatakan pada Nezha mengenai hal-hal yang harus dilakukannya saat tiba di rumah, Taiyi Zhenren menepukkan kedua tangannya dan menghabisi Shici Niang-Niang yang irasional dalam kurungan api.

Nezha menemui keempat raja naga yang tiba di rumahnya dan mulai mematahkan tulang-tulangnya, mengeluarkan organ tubuhnya, dan membelah perutnya sendiri sebagai bayaran atas kesalahannya – dan untuk menyatakan bahwa kedua orangtuanya tidak bersalah. Melihat Nezha mati dalam genangan darahnya sendiri, Ao Guang dan raja-raja naga lainnya merasa puas atas pengorbanannya itu – dan menyatakan bahwa kedua orangtua Nezha tidak bersalah dan dibebaskan dari hukuman.

Bersambung…
Here’s the English version:

This chapter is titled "Combat Between Two Fairies". As Nezha toppled about the dragon king and began beating him violently with his fist, the latter became even more infuriated. Determined to force Ao Guang to give up and return with him to the Chentang Pass, Nezha tore apart each individual scale upon his sides -- effectively forcing the king to give in to such detriment. After Ao Guang had been ordered to take the form of a small lizard less he attempted to escape, Nezha returned immediately to Chentang Pass in mere moments. Upon his return before Li Jing, Ao Guang resumed his original form, stamped his foot in unparalleled rage, and vowed to gather the dragon kings of each of the four seas in his next attempt to see the Jade Emperor. With Li Jing in a state of rejuvinated frustration, Nezha effectively calmed his father down by stating that he was decreed existence upon the Red Dust by the Jade Emptiness Palace; and if any trouble were to be presented before the Jade Emperor in the future, his master, Fairy Primordial, would take care of the situation with precise accuracy. As Nezha thus calmly walked off to his parent's garden after placing confidence in his father, he soon became rather bored and decided to climb the neighboring pass's watchtower to enjoy the afternoon breeze. After gazing forth at the great view before him, Nezha picked up a bow equipped with a set of three arrows that sat at the edge of this large tower. Deciding to better his archery technique, he shot one of three arrows--which glistened with brilliant crimson--into the southwest. Little did Nezha truly realize that this bow was wielded by none other than Emperor Xuanyuan within the past -- for only one of immortal ability could have the strength to wield it. With even greater misfortunate, this arrow happened to pierce the throat of Blue Cloud Lad of White Bone Cave on Skeleton Mountain.
As such an incident was immediately informed to Lady Rock, the mistress of the cave, the latter vowed to attain revenge against the conjectured criminal of such an incident: Li Jing. Following Lady Rock's immediate arrival before Chentang Pass, she wrapped up Li Jing with her yellow-scarved genie without a moment of hesitation. After thus returning to her mountain with the latter, Li Jing told Lady Rock that he would immediately find out who the true murderer was upon his inspection of the sacred arrow. As Li Jing called for Nezha and shortly realized that he was indeed the criminal behind this new incident, the former led Nezha to Skeleton Mountain atop a dust cloud. Once Pretty Cloud Lad, the secondary disciple under Lady Rock, approached Nezha to call him in to the cavern, Nezha determined this to be the perfect chance to knock the former out cold due to the calamity that shall befall him in very short time anyways. Seeing her disciple near death on the ground, Lady Rock began to lash her sword at the latter in even greater rage. Unfortunately for Nezha, his legendary items were absorbed into the former's sleeves with ease when he attempted to unleash them -- and he thus had no choice but to flee immediately to his master at Qianyuan Mountain. Hiding in the peach garden immediately upon his arrival, Fairy Primordial left his domain to confront Lady Rock as she pursued the former. After yelling profusely at Fairy Primordial in her desire to confront Nezha, the latter retorted by saying that Nezha is destined to perform such calamities -- and such an incident is only minor and of no real significance compared to his true future performance. Realizing that his words were unfultured, and her only method to get past his resolve would be to approach his master at the Jade Emptiness Palace, the former decided to duel Fairy Primordial to prove her her skill as being greater. Even with her magical item--the Dragon Beard Handekerchief--she proved inferior as the latter evaded and negated her every blow like the flow of water. Thus trapping her easily inside his great Nine Dragon Divine Fire Coverlet, Fairy Primordial glanced down at Nezha--who peered outside the cave--to head immediately to his family's residence due to the Jade Emperor's consentention of Ao Guang's request. Thus telling Nezha what he should do during his arrival, Fairy Primordial clapped his hands to put the irrational Lady Rock to her rest in a pit of flames. Approaching the four dragon kings, who arrived shortly at his house, Nezha began to break his bones, gouge out his intestines, and slit his belly as a representation of the punishment that he deserves -- and the innocence that is deserving of his parents. Seeing Nezha dead in a large pool of blood, Ao Guang and the other dragon kings consented to his sacrifice -- and declared his parent's as innocent and free of any form of punishment.

Kurenai86
24-06-2010, 06:30 AM
Bab 14a
Reinkarnasi dengan Teratai
-------------------------
Ketika jiwa Nezha muncul di hadapan Taiyi Zhenren setelah kematiannya, gurunya itu memerintahkan Nezha untuk menemui ibunya dalam mimpi dan meminta sang ibu untuk membuatkan baginya sebuah kuil di Gunung Layar Kumala yang nantinya akan digunakan sebagai tempat pemujaan oleh rakyat menggunakan dupa dan lilin selama tiga tahun; dan setelah tiga tahun berlalu, Nezha akan mampu bereinkarnasi dalam bentuk manusianya yang semula. Sambil terus memohon pada sang ibu untuk membangunkannya sebuah kuil agar dia (Nezha) dapat beristirahat dengan tenang, sang ibu akhirnya memerintahkan para pelayan untuk membangun kuil itu – yang selesai dalam waktu 10 bulan kemudian. Tentu saja Li Jing tidak diberi tahu mengenai pembangunan kuil ini, agar sang ayah tidak berusaha merobohkannya. Selanjutnya, banyak rakyat yang memuja di kuil yang indah itu karena tampaknya dengan memuja Nezha di kuil itu membawa banyak rejeki bagi mereka.

Suatu hari, saat Li Jing turun dari Gunung Kuda Liar setelah selesai melatih pasukannya, Li Jing memperhatikan banyak orang yang berkumpul di sebuah kuil yang didedikasikan bagi ‘Dewa Nezha’. Li Jing membakar kuil itu dan menceritakan kejadian sebenarnya pada masyarakat, kemudian segera kembali ke rumah menemui istrinya dan menyalahkannya karena hanya berpikir secara sepihak.

Ketika Nezha mendengar apa yang terjadi dari sekretaris kuilnya, Nezha segera menemui gurunya di Gunung Qianyuan untuk menjelaskan situasinya. Taiyi menyadari bahwa Nezha akan segera direinkarnasi tanpa bisa ditunda-tunda lagi, dan memerintahkan pengikutnya, Bocah Semilir Emas, untuk segera mengambil dua kuntum bunga teratai dan tiga lembar daun teratai dari kolam teratainya. Segera setelah Taiyi melakukan serangkaian proses dengan bunga dan daun teratai yang diterimanya, tiba-tiba Nezha melompat keluar dalam tubuh manusia yang baru dan utuh tanpa cacat dari gumpalan asap. Setelah berkowtow dengan penuh rasa terima kasih pada gurunya, Nezha segera dilatih dengan Tombak Berujung Api yang dikombinasikan dengan Roda Angin dan Api barunya, dan segera menguasai keahlian itu dalam waktu singkat.

Sebelum Nezha meninggalkan Qianyuan untuk membalas dendam pada Li Jing, Taiyi memberikan padanya pusaka lamanya – yang diambil dari mayat Shici Niang-Niang – bersama dengan sebuah lempeng emas yang bisa mengubah volumenya sesuai keinginan penggunanya. Nezha menggunakan roda apinya untuk terbang dengan cepat, dan segera tiba di kediaman Li Jing, dimana beberapa pengawal melaporkan kedatangannya – dan Li Jing tidak punya pilihan selain melihat sendiri apakah laporan para pengawal itu benar. Li Jing begitu terkejut melihat Nezha yang kembali dengan ajaib, dan segera menyabetkan tombaknya pada Nezha – dan akhirnya Li Jing harus melarikan diri ke tenggara setelah merasakan kamampuan ajaib Nezha yang baru.

Nezha mengejar Li Jing dengan mudahnya menggunakan Roda Angin dan Apinya, dan Li Jing yang menyadari bahwa nyawanya dalam bahaya segera lari mati-matian untuk kabur. Secara kebetulan, Li Jing bertemu putra keduanya, Muzha, di tengah jalan, dan segera menceritakan secara singkat situasinya sambil bersembunyi di balik punggung putranya itu. Nezha yang tiba di hadapan Muzha segera menyadari bahwa orang yang berdiri di hadapannya adalah kakak keduanya – dan karena itu Nezha menceritakan alasan dibalik tindakannya tersebut. Tanpa sedikitpun keraguan dan rasa simpati atas penyebab sikap tidak berbakti adiknya itu, Muzha menyabetkan pedangnya pada Nezha – yang berakhir dengan dirinya sendiri pingsan karena lambungnya dihantam menggunakan lempeng emas Nezha setelah menunjukkan celah dalam pertarungan mereka. Setelah melihat kakaknya pingsan di tanah karena hantamannya, Nezha menggunakan kesempatan ini untuk kembali mengejar Li Jing dengan penuh semangat. Li Jing menyadari bahwa dia hanya akan berakhir dengan bencana besar bila hal memalukan ini terus berlanjut, oleh karena itu dia segera berlutut di tanah untuk bersiap melakukan ritual bunuh diri. Tepat sebelum hal itu terlaksana, Wenshu Guangfa Tianzun tiba-tiba muncul untuk menghentikan upayanya itu
Here's the english version
Chapter 14a
This chapter is titled "Reincarnation with Lotus Flowers". As the soul of Nezha appeared before Fairy Primordial recently after the former's death, the latter told Nezha to approach his mother in a dream and tell her to construct a temple on Jade Screen Mountain that is to be worshipped with incense and candles for over three years of time; following the three years, Nezha will be able to reincarnate into his original human form once again. Thus continuously pleading to his mother for the construction of his temple so that he could rest in peace, she finally ordered her attendants to do as such -- resulting in the temple's completion following the passage of ten months. As Li Jing was naturally not informed of such a construction less he attempted to tare it down in the future, many people soon gathered to worship before the beautifully articulated temple due to the seemingly good forture that resulted in such worship. Descending one day from the Wild Horse Mountain after thorougly drilling his troops, Li Jing noticed many individuals gathering around a neighboring temple that was suposedly dedicated to "God Nezha". Burning the temple down shortly and calming the people with the truth, Li Jing returned immediately to see his wife and reprimand her for such one-sided thinking. As Nezha heard what happened through his temple secretaries, he headed to see his master at Qianyuan Mountain to explain the current situation. Realizing that Nezha is to be reincarnated as soon as possible without a single moment of delay, Fairy Primordial ordered his attendant, Golden Haze Lad, to retrieve two lotus flowers and three lotus leaves from the lotus pond immediately. Performing a special process with his lotus leaves and flowers shortly after being received, Nezha suddenly leapt forth in a new human body without the slightest defect following a puff of smoke. Bowing in unparalleled gratitude before his master, Nezha was trained immediately with the Fire-Tip Lance combined with his new Wind-Fire Wheels, and ended up mastering such an art in very short time.
Before leaving Qianyuan to attain revenge against Li Jing, Fairy Primordial handed the former his original legendary items--after being retrieved off of Lady Rock's corpse--along with a golden brick that could change its mass at the users' will. Riding upon his flaming wheels with quick pace, and arriving before Li Jing's residence shortly, several guards reported the former's arrival -- and Li Jing had little choice but to see if what they said was really true. Appearing before Nezha in great shock due to his miraculous return, Li Jing slashed his lance upon the former -- but only ended up fleeing to the southeast after experiencing the celestial renown that Nezha now possessed. Pursueing the latter with great ease with his Wind-Fire Wheels, Li Jing knew that his life was to end shortly and thus fled for his life at the fastest speed he could muster. As Li Jing happened to fortunately run into his second son, Muzha, along the way, he immediately explained the situation with quick words while hiding behind the former. Appearing before Muzha, Nezha soon learned that the person standing before him was his second brother -- and he thus told the latter his reason for such an action. Without any hesitation for sympathy on Nezha's part due to unfilialness, Muzha lashed his sword forth at the former -- but only ended up being knocked in the stomach by Nezha's golden brick after leaving an opening. Falling to the ground in moderate unconsciousness after receiving such a heavly blow, Nezha seized this chance to pursue Li Jing further in his amusement. Resolved that he would only end up with further calamity if such shamefulness continued, Li Jing prostrated himself on the ground in preparation for his ritual suicide. Just before such could be performed, Master of Outstanding Culture suddenly appeared to stop the former with immediate pace.

sanchamie
25-06-2010, 11:10 AM
emang selain kera sakti ada lagi ya cerita khususnya dewa erlang??
sampe k indo ga sih filmnya yg khusus dewa erlangnya?
hmmm...

Kurenai86
25-06-2010, 11:42 AM
emang selain kera sakti ada lagi ya cerita khususnya dewa erlang??
sampe k indo ga sih filmnya yg khusus dewa erlangnya?
hmmm...

ada koq, sekarang sudah ada bajakannya, judulnya Prelude of Lotus Lantern.

Yang Lotus Lantern sudah ada threadnya di bagian TV series, juga dah main di TV tengah malem. coba aja nonton

Kurenai86
28-06-2010, 09:41 AM
Dengan memegang sekuntum teratai berukuran besar yang berputar-putar di telapaknya, sang pendeta segera memerintahkan Li Jing untuk bersembunyi di gua terdekat sementara dia sendiri yang akan mengurus pengejarnya. Ketika Nezha tiba di depannya dan menyadari bahwa pendeta itu menyembunyikan Li Jing di guanya, Nezha menyombongkan diri akan mencincangnya dengan tombaknya jika pendeta itu masih saja melindungi ayahnya tanpa mengerti situasi sebenarnya. Setelah Nezha memberitahukan pendeta itu namanya dan nama guru yang melatihnya, dia mulai melontarkan dirinya ke arah sang pendeta meski menyadari bahwa tidakan itu bukanlah pilihan terbaik. Wenshu Guangfa Tianjun segera menangkis tombak milik Nezha dengan bunga teratai di tangannya dan melepaskan Pancang Pengikat Naganya – dan seketika itu pula membuat Nezha pusing sehingga mudah ditangkap.

Begitu Nezha menyadari bahwa dia terikat pada sebuah pancang emas dengan cincin yang mengikat kedua tangan dan kakinya, Wenshu memerintahkan muridnya, Jinzha, memukuli Nezha dengan tongkat sebagai hukuman. Setelah memukuli Nezha dalam waktu yang lama, mereka kembali ke guanya; saat itu juga Taiyi Zhenren muncul dari langit dan menemui master. Taiyi mengabaikan permohonan Nezha untuk minta tolong dan malah memasuki gua sang pendeta, mengatakan padanya bahwa dia (Taiyi) sengaja mengirim Nezha untuk digembleng. Akhirnya Nezha dibebaskan tak lama kemudian, dan langsung berlutut di depan gurunya di dalam gua. Setelah Li Jing dimarahi atas kekejamannya membakar kuil peesembahan Nezha, dia diijinkan pergi dengan syarat tidak lagi membuat masalah dengan Nezha sejak saat ini – dan juga sebaliknya.

Setelah itu Nezha diperintahkan mengawasi mulut gua sementara kedua pendeta sakti itu bermain catur. Nezha tidak bisa menahan dirinya dan akhirnya segera kabur untuk kembali mengejar Li Jing dengan roda apinya. Li Jing merasa tertipu oleh Taiyi karena Nezha kembali mengejarnya, dan akhirnya, syukurlah, melihat seorang lelaki duduk si bawah sebatang pinus – kemudian memanggil orang tersebut untuk meminta bantuannya.

Li Jing segera bersembunyi di belakang pria itu, dan segera Nezha menyusulnya dan menjelaskan situasinya pada orang asing itu, dan bertekad untuk menyalurkan kebenciannya. Melihat kemarahan Nezha, pria itu meludah ke arah Li Jing dan kemudian menepukkan tangannya ke punggung Li Jing. Kemudian pria itu menyuruh Li Jing melawan Nezha tanpa pilihan lain, dan segera setelah itu, Nezha menyadari bahwa ayahnya itu menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya – dan menyadari bahwa pria yang berdiri di samping pohon pinus itu pastilah seorang pendeta yang memiliki keahlian untuk memperkuat orang lain.

Nezha menyadari bahwa jika dia membunuh sang pendeta, kekuatan ayahnya tidak akan bisa melampauinya, dan karena itu Nezha segera maju dan menyabetkan tombaknya ke dahi sang pendeta. Ketika sekuntum teratai muncul di depan wajah sang pendeta untuk menahan terjangan Nezha, sang pendeta yang murka melepaskan pagoda emasnya dari langit untuk mengurung Nezha di dalamnya sebagai hukuman. Kemudian pendeta itu menepukkan kedua tangannya untuk mengeluarkan api yang membara di dalam pagoda, dan Nezha tidak punya pilihan lain selain memohon ampun dan bersedia mengakui ayahnya – dan dengan itu mohon untuk dibebaskan.

Nezha menyadari bahwa dia tidak terluka sedikitpun meski dibakar oleh api sang pendeta, dan karena itu berkesimpulan bahwa kemampuan sang pendeta adalah mengeluarkan ilusi. Dengan ancaman akan dibakar di dalam pagoda sang pendeta jika Nezha tidak berkowtow penuh hormat di depan ayahnya, akhirnya Nezha mau tidak mau melakukan hal itu sambil menggerutu. Sang pendeta kemudian memutuskan untuk mengajarkan ilmu pagoda membara pada Li Jing untuk berjaga-jaga terhadap serangan Nezha di masa yang akan datang, dan Nezha disuruh pergi terlebih dahulu – yang kemudian cepat-cepat kembali ke Gunung Qianyuan dengan penuh kekecewaan atas pembalasannya yang digagalkan.

Sang pendeta kemudian menyatakan bahwa namanya adalah Randeng Daoren dari Gunung Elang Dewa dan mengatakan pada Li Jing untuk melupakan ketenaran dan kekayaan yang diperolehnya dari Dinasti Shang dan agar Li Jing bertapa di lembah terdekat hingga tiba saat yang telah diramalkan untuk meruntuhkan Dinasti Shang; dan pada saat itu Li Jing harus membantu perjuangan Raja Wu.

Bagian 2 Selesai...
bersambung ke bagian 3

Here's the english version
With a large revolving lotus within his palm, the Taoist immediately ordered Li Jing to hide in his neighboring cavern while he personally confronts the pursuer. As Nezha thus arrived before Master of Outstanding Culture, and realized that the former was hiding Li Jing in his cave, Nezha boasted that he would slash him to pieces with his lance if he were to continue to shelter his father without understanding the true situation at hand. After telling Master of Outstanding Culure his name, and the respective master that he has trained under, Nezha began to lunge forward at the Taoist master knowing it probably wasn't the best choice. Immediately parrying Nezha's lance with the lotus flower within his palm, Master of Outstand Culture unleashed forth his renowned Dragon Bound Stake -- effectively placing the former's mind into great confusion and thus resulting in easy capture. As Nezha shortly realized that he was completely bound to a golden stake with rings around his arms and legs, Master of Outstanding Culture ordered his disciple, Jinzha, to beat him with his cane as punishment. After they both returned to their cave after giving Nezha a long and severe beating, Fairy Primordial arrived from the skies to meet with Master of Outstanding Culture. Walking into the Taoist's cave while ignoring Nezha's pleas completely, the former declared to Outstanding Culture that he sent him here for the sole purpose of temperment. With Nezha thus being set free shortly, he kneeled with dignity before his master within the cavern. As Li Jing was reprimanded for the cruelty of burning down Nezha's sacrificial temple, he was soon dismissed but ordered to show no further animosity towards Nezha from this point on -- and vice-versa. With Nezha thus being ordered to keep watch of the cave entrance while the two superiormen played a round of chess, the former could not contain himself and left to pursue Li Jing immediately atop his flaming wheels. Believing to be fooled completely by the previous immortal due to Nezha's refreshed pursuit, Li Jing fortunately caught site of a man sitting on the side of a pine tree -- and thus called to the latter for assistance.
Running up to the man and hiding behind him, Nezha arrived shortly and explained the situation to this man, determined to vent his hatred. Giving in to Nezha's furiosity, the man spat on Li Jing and then clapped his hand to the former's back. As Li Jing was ordered by this man to fight back Nezha with little other choice, Nezha soon realized that his father's strength was far greater than originally -- and thus the man standing at the pine tree must be none other than a Taoist who is a master at the enhancement arts. Realizing that if he effectively destroyed the Taoist, his father's strength would not be surpassing his own, Nezha lunged forward and slashed his lance into the latter's forehead. As a lotus flower appeared before the his face to negate Nezha's blow, the Taoist angrily unleashed forth his great golden pagoda from the skies to trap the former within as punishment. Clapping his hands to additionally signal a great fire to rage within the pagoda, Nezha had no choice but to beg for mercy and declare his acknowledgement to his father -- thus seizing the chance of being set free. Realizing that he possessed not a single burn from the Taoist's great fire, Nezha deduced the former's ability to be none other than genjutsu. Threatening to burn Nezha further in his pagoda if he did not kowtow to his father with needed respect, the former had no choice but to do so in a rageful state. As the Taoist thus declared to Li Jing that he will teach him the burning pagoda art as a resistance against Nezha's potential future assaults, Nezha would be dismissed first -- and thus quickly rode back to Qianyuan Mountain in dissappointment over his sullied vengeance. Now declaring his name to be Burning Lamp of Mount Divine Hawk, the former told Li Jing to forget about fame and riches under the Shang Dynasty and to live as a hermit in the neighboring mountain valleys until the preordained assault upon the dynasty comes his way; at that time he should assist King Wu in the campaign.

-- Arc 2 - END --


fuiihh... akhirnya cerita Nezha kelar juga...

ian_xander
29-06-2010, 05:03 PM
owh gt ya :hahai:

jd inget dulu waktu sering nonton pilemnya...:hahai:

g bgitu ngerti cerita aslinya, tp habiz baca thread diatas jd agak jelas 'n sekilas inget kejadian2nya di pilem dulu...:hehe:

btw er lang tu yang pny mata 3 itu bukan :???:

Kurenai86
29-06-2010, 09:07 PM
btw er lang tu yang pny mata 3 itu bukan :???:
yup
erlang yang punya mata 3 yang bisa buka kedok penyamarannya SWK waktu mereka berdua adu ilmu berubah wujud itu

Kurenai86
30-06-2010, 02:30 PM
Bagian 3
Bab 15 - Jiang Ziya meninggalkan Gunung Kunlun
----------------------------------------------------------------------
Di Istana Yuzu di Gunung Kunlun, tinggallah Yuan Shi Tianjun yang dianugerahi gelar guru besar Tao aliran Chan. Setelah sebelumnya diadakan pertemuan antara para pemimpin Taoisme aliran Chan dan Jie, serta Konfusianisme, nantinya akan dipilih 365 orang dewa yang akan melambangkan konstelasi, bintang-bintang, gunung-gunung suci, awan, dan semacamnya. Penciptaan semacam ini memerlukan orang-orang yang akan mati secara terhormat dalam perang antara Dinasti Shang dan Dinasti Zhou yang akan berdiri, yang akan terlahir kembali sebagai penjaga Feng Shen untuk kemudian menganugerahi masing-masing orang ini untuk tinggal diantara bintang-bintang. Setelah Dinasti Shang runtuh, Jiang Ziya ditakdirkan untuk memilih orang-orang terpilih tersebut dan menentukan jabatan mereka.

Suatu hari ketika Yuan Shi Tianjun turun dari Tahta Delapan Pusaka dan Gemerlap Awan-nya, dan meminta Jiang Ziya menghadapnya, Jiang Ziya berlutut penuh hormat pada guru yang telah mendidiknya selama lebih dari 40 tahun itu. Yuanshi segera memberitahu muridnya itu mengenai takdirnya untuk membantu sang raja bijaksana sebagai komandan dan Perdana Menteri bagi Dinasti Zhou di masa depan. Jiang Ziya merasa tidak nyaman atas pernyataan itu dan lebih memilih untuk tetap menemani sang guru selamanya. Jiang Ziya tidak punya pilihan lain selain mematuhi deklarasi gurunya, dan menerim aramalan Yuanshi sebelum meninggalkan Gunung Kunlun dengan air mata mengalir dari kedua matanya.

Jiang Ziya merasa kebingungan mengenai darimana dia sebaiknya memulai perjalanan, dan akhirnya memutuskan langsung menuju Desa Song menemui saudara angkatnya, Song Yiren. Begitu Jiang Ziya tiba di kediaman saudara angkatnya itu dan memperkenalkan diri, kedua saudara angkat itu langsung duduk berdampingan sambil minum arak. Setelah mendiskusikan berbagai kejadian di masa lalu, Song memutuskan bahwa sahabat lamanya ini memerlukan istri agar garis keturunannya dapat dilanjutkan – dan langsung pergi menemui Ma Hong untuk mengatur perjodohan antara Jiang Ziya dengan putri Ma Hong ini.

Song kembali menemui Jiang Ziya untuk mengabarkan keberhasilannya, dan keduanya segera menyiapkan hari baik untuk melaksanakan pernikahan ini. Selanjutnya, setelah menikah dengan Nyonya Ma, keduanya (Jiang Ziya dan istrinya) hidup dengan sokongan dari Song Yiren, yang kaya raya dan memiliki status tinggi di masyarakat.

Untuk berjaga-jaga bilamana suatu saat kehidupan mereka tidak lagi disokong oleh Yiren, Jiang Ziya mulai membuat dan menjual garu bambu sebagai mata pencahariannya di ibukota Zhao Ge. Sayangnya dia tidak berhasil menjual garu sebuahpun – dan akhirnya kembali ke kediaman Yiren dengan sedih dan frustasi dalam waktu singkat. Setelah menerima saran dari Yiren bahwa tepung yang terbuat dari gandum akan lebih mudah terjual di ibukota, Jiang Ziya dengan penuh percaya diri membawa tepung tersebut ke Zhao Ge keesokan paginya. Sungguh malang, kesialannya menjadi lebih besar saat Jiang Ziya ditabrak oleh kuda yang melaju dari tempat latihan Zhao Ge, menyebabkan tepung yang dibawanya tumpah kemana-mana.

Jiang Ziya kembali ke rumahnya tanpa uang satu sen-pun dari hasil penjualan tepungnya dan mulai bertengkar hebat dengan istrinya gara-gara nasib malang yang dialaminya itu. Saat Yiren menarik sahabat lamanya itu ke samping untuk menenangkannya, Yiren menyatakan kalau Jiang Ziya bisa bekerja sebagai akuntan atau penjaga toko harian di salah satu dari 50 restoran yang dimilikinya di Zhao Ge.

Penuh rasa terima kasih kasih pada saudaranya itu, Jiang Ziya memutuskan bekerja di restoran besar yang terletak si sebelah gerbang selatan Zhao Ge – area paling sibuk di dalam kota. Namun kemalangannya masih belum selesai, karena semua orang yang tinggal dalam kota hari itu tidak ada yang keluar rumah karena hujan badai yang sangat deras melanda kota sepanjang hari. Tanpa mendapatkan pelanggan seorangpun, akhirnya Jiang Ziya memaksa para pegawai tokonya memakan semua makanan yang tadinya disiapkan untuk tamu agar tidak mubazir.

Ketika kemudian saudara angkatnya, Song Yiren menyerahkan beberapa tael perak pada Jiang Ziya untuk membeli dan menjual ternak di dalam ibukota, Jiang Ziya mengikuti nasehatnya dan menghabiskan beberapa hari untuk membeli kambing dan babi untuk memperoleh keuntungan di kemudian hari. Keesokan harinya, Jiang Ziya menggiring sejumlah besar hewan ke pasar di Zhao Ge, dan tidak menyadari bahwa membunuh ternak merupakan hal yang dilarang keras di tempat itu karena bisa menyebabkan kemarahan Langit dan akan memperpanjang hari-hari kekeringan di ibukota. Ketika para penjaga berlarian ke arahnya karena melihat niatnya untuk mendapat keuntungan dari rumah jagal, tiada pilihan lain bagi Jiang Ziya selain kabur menyelamatkan diri dan mengabaikan binatang-binatang yang dibawanya. Sekembalinya Jiang Ziya menemui Song Yiren, Yiren hanya tersenyum dan menyatakan pada Jiang Ziya agar mereka berdua lebih baik pergi ke kebun belakang dan minum-minum untuk melupakan kesedihannya.

Bersambung....

Here's the english version

-- Arc 3 - BEGIN --

This chapter is titled "Jiang Ziya Leaves Mount Kunlun". Living within the Jade Emptiness Palace on Mount Kunlun, Heavenly Primogenitor was honored as Grand Master of Chan Taoism. Through a past meeting between the heads of Chan and Jie Taoism, and Confucianism, 365 gods would be chosen in the future as to represent the constellations, stars, sacred mountains, clouds, and the such. Such a creation served as to set each individual who died for their respective cause in the future war between the Shang Dynasty and the coming Zhou, to be reborn as a guardian of the Red Dust to ensure their individual resolve lives throughout the stars. After the Shang Dynasty falls, Jiang Ziya is destined to be the chooser of such an outcome. As Heavenly Primogenitor thus ascended his Eight Treasure and Cloud Radiance Throne one day, and asked for Jiang Ziya to appear before him, the latter kneeled with great dignity towards his master for over forty years of valued service. Telling Jiang Ziya immediately his destined assistance to the sage king and his service as commander and prime minister in the name of the future Zhou Dynasty, the latter became rather discomforted over such a sudden statement and desired to stay by his master for eternity instead. With little other choice then to obey his master's declaration, Jiang Ziya received a prophecy from Primogentior before taking his leave of the mountain with tears flowing from his eyes. Realizing his blatant confusion as to where he should start in his journey, he decided to head immediately to Song Village to see his sworn brother, Song Yiren. Arriving at the latter's residence shortly and offering his condolences, the two sworn brothers sat beside each other with cups of fine wine. After discussing with Jiang Ziya various events and other incidents, Song decided that his old friend is in need of a wife so that his family line could continue on -- and thus the latter left to see Ma Hong to set up a future engagement with his daughter. Returning later to tell Jiang Ziya his success, the two prepared for an auspicious day in which such a marriage could take place. Following the shortly arrived marriage with Madame Ma, the two lived for some time under the support of Song Yiren, who was exceedingly rich and possessed high status within the community.
As Jiang Ziya began to make bamboo rakes as a form of business at Capital Morning Song less anything were to happen with Yiren's support within the future, he unfortunately was not able to even sell a single rake -- and thus returned to his original residence with great misery and frustration in short time. After attaining suggestion from Yiren that flour made from ground wheat would result in much better sale within the capital, Jiang Ziya carried the flour to Morning Song the following day in great confidence. However, disaster only became greater as Jiang Ziya was tackled feriously by a horse raging from Morning Song's drilling ground, resulting in flour spilling in every direction. Returning to his residence without a single cent made from the flour, Jiang Ziya began to violently quarrel with his wife over such ill-fortune experienced in the past. As Yiren took his old friend aside to comfort him over his bad luck, the former declared to Jiang Ziya that he could work as an accountant or shopkeeper daily in one of fifty restaurants that he possesses within Morning Song. With immense gratitude over his brother's suggestion, Jiang Ziya assigned himself to a large restaurant that neighbored the southern gate of Morning Song--the busiest section within the city region. Unfortunately however, every individual present within the city remained indoors due to a terrible rainstorm that ran amok throughout the entire day. Without ever attaining a single customer, Jiang Ziya forced his staff to devour all prepared food less it were to spoil over their terrible luck. As his sworn brother followed by handing Ziya a few taels of silver to buy and sell livestock within the capital, the latter did as he advised and thus spent several days buying sheeps and pigs for further profit. Driving a great number of animals to the market place at Morning Song the next day, Jiang Ziya hardly realized that slaughtering livestock was strictly prohibited less Heaven became angry and expanded the capital's days of drought. With guards thus running at the former for his intentions to make profit from the slaughterhouses, Jiang Ziya had no choice but to flee for his life while abandonding his animals. Following his return back to Song Yiren, the latter simply smiled while declaring to Jiang Ziya that they should both head to the back garden and drink away their past sorrows.

nakamura197
30-06-2010, 03:59 PM
setelah ngebaca ceritanya dan ngikutin ceritanya sun wu kang (difilmnya Sun Go Kong), emang sangat sakti, cuma kadang2 jadi agak bingung ama ceritanya,
1. kan ada kaisar langit, tapi kenapa gak bisa nangkep sun go kong
2. sebenernya apa perbedaan manusia dan dewa, toh kalo ngeliat dari sifat2 mereka, mereka memiliki sifat2 dasar manusia, contohnya dalam episode2 terakhir yang berkaitan dengan Dewa Naga Laut Timur yang diperalat oleh Siluman Ular dan akhirnya memiliki batu 7 (apa gitu, lupa :D), yang membuat Dewa Naga Laut Timur gak bisa menjalankan tugasnya dan akhirnya berpengaruh sama cuaca, bahkan sampai2 istrinya sendiri tewas dan Dewa Naganya juga tewas dan berubah jadi manusia. Ini kan sifat manusia yang penuh dengan napsu dan keserakahan
3. Kalau melihat dari ceritanya, kenapa keliatannya Sun Go Kong jadi lemah banget didepan dewi Kuan Im, padahal Waktu ngelawan Budha Ru lay, dia begitu tangguh, bahkan budha neraka aja kalah sama dia

just OOT ya... :)

Kurenai86
01-07-2010, 06:34 AM
sebenernya apa perbedaan manusia dan dewa, toh kalo ngeliat dari sifat2 mereka, mereka memiliki sifat2 dasar manusia.
Jawaban paling gampang: dewa lebih sakti dari manusia ^^
kalo dari agama Buddha, (alam) Dewa itu termasuk dari 31 alam yang ada, termasuk alam manusia, binatang, peta, ashura, dsb (ada tingkatannya). Dewa memang masih memiliki nafsu dunia seperti manusia, dan masih bisa mati, meskipun umurnya memang jauh lebih panjang dan kehidupannya lebih membahagiakan.


contohnya dalam episode2 terakhir yang berkaitan dengan Dewa Naga Laut Timur yang diperalat oleh Siluman Ular dan akhirnya memiliki batu 7 (apa gitu, lupa :D), yang membuat Dewa Naga Laut Timur gak bisa menjalankan tugasnya dan akhirnya berpengaruh sama cuaca, bahkan sampai2 istrinya sendiri tewas dan Dewa Naganya juga tewas dan berubah jadi manusia. Ini kan sifat manusia yang penuh dengan napsu dan keserakahan
Itu dari cerita yang mana? sori belum nonton. Soalnya kalo aku baca novelnya nggak ada cerita itu.
Kayaknya sih itu cerita yang ditambah2-in sendiri sama sutradara HK (itu versi Hong Kong, kan?)


Kalau melihat dari ceritanya, kenapa keliatannya Sun Go Kong jadi lemah banget didepan dewi Kuan Im, padahal Waktu ngelawan Budha Ru lay, dia begitu tangguh, bahkan budha neraka aja kalah sama dia
lho? SWK kalah kok sama Buddha Rulai... lari dari telapak tangannya saja nggak bisa.
dia kan dikurung di gunung 5 jari sampai 500 tahun sama Sang Buddha.
terus simpai di kepalanya beserta mantra pengencangnya itu kan juga asalnya dari Buddha Rulai yang dititipin ke Guan Yin buat mengendalikan SWK.
Kalo yang di neraka, namanya Boddhisatva Ksitigarbha / Di Chang Wang Pusa... yang berikrar tidak akan meninggalkan neraka sampai neraka kosong, karena itu beliau selalu kelihatan di neraka (dalam film paling enggak) buat menenangkan arwah2 di situ. He3...sampai kapan ya neraka bisa kosong?

jadi tingkatannya masih sama dengan Boddhisatva Avalokitesvara / Guan Yin
jadi masih di bawah Buddha Rulai

nggak OOT, kok...
di sini kan memang threadnya SWK dan Yang Jian, plus kawan2-nya

ToniMontana
02-07-2010, 04:33 PM
wah keren nih infonya

wakasdi
03-07-2010, 06:34 PM
lebih gampang nonton yng di tv aja.....

becc
07-07-2010, 11:39 AM
Makasih ya, KK, buat ceritanya
sudah saya kopi di komputer, kalo sempat baru dibaca, he...he...he...
minta lanjutannya dong, kok lama ya
makasih sebelumnya, soalnya saya nggak begitu ngerti bahasa inggris sih

Kurenai86
09-07-2010, 08:05 PM
Bab 16
Membakar Siluman Pipa Kumala
---------------------------------------------
Begitu memasuki kebun dan memandang semua keindahan yang terpampang di hadapannya, Jiang Ziya menyarankan pada Song Yiren agar membangun sebuah menara di tempat kosong di sana untuk membawa keberuntungan. Setelah Jiang Ziya diberitahu oleh Yiren bahwa sebelumnya hal itu dulu pernah beberapa kali berusaha dilakukan namun setiap kali selalu terbakar secara misterius, Jiang menyadari bahwa ada siluman yang mengganggu.

Ketika atap menara dibangun pada saat yang baik dengan jaminan kesuksesan dari Jiang Ziya, seperti dugaannya, bertiuplah angin kencang ketika Song Yiren menjamu para penjaga di halaman depan. Jiang Ziya melihat 5 siluman berpenampilan raksasa dan menyala melayang di udara dan mengetahui bahwa ada niat jahat di balik perbuatan mereka sebelumnya – dan segera mengirim petir yang menyambar dari langit untuk memaksa para siluman itu berlutut di hadapannya.

Karena kasihan terhadap para siluman yang sebenarnya adalah hewan yang menjelma dan karena tidak tahu masalah mereka yang sebenarnya di masa lalu, Jiang Ziya menyatakan agar mereka segera pergi menuju Kaki Bukit Barat hingga dia menemukan pekerjaan untuk mereka saat dia tiba di bukit itu.

Mengikuti penghormatan dan kepergian para siluman itu, Nyonya Ma dan Song memandang Jiang Ziya dari balik bayang-bayang karena penasaran mengapa Jiang Ziya berbicara sendiri dengan cara yang aneh. Ketika mereka mendapat penjelasan dari Jiang Ziya mengenai perbuatannya itu, mereka menyadari kalau Jiang Ziya memiliki keahlian meramal. Nyonya Song segera mendesak suaminya mencari toko yang dapat digunakan oleh Jiang Ziya sebagai kedai ramalannya. Song Yiren segera menyatakan bahwa dia akan menyuruh pelayannya menyewa sebuah rumah di dekat gerbang selatan distrik Chao Ge untuk digunakan Jiang Ziya.

Kedai ramalan Jiang Ziya dibuka, dan dia menunggu dengan sabar selama lebih dari 4 bulan sebelum akhirnya mendapat pelanggan pertama: seorang tukang kayu bernama Liu Qian. Malang bagi Jiang Ziya, Liu Qian ini dikenal karena sifatnya yang pemarah dan kasar. Setelah menyatakan bahwa bila ramalan Jiang Ziya salah, dia akan menutup paksa kedainya – dan jika ramalannya benar, Liu Qian akan membayarnya sebesar 20 tail perunggu – Jiang Ziya memberikan ramalan ini padanya: ‘jika kau berjalan ke arah selatan, kau akan menemukan seorang pria di bawah pohon willow yang memberimu 120 tail perunggu, empat jenis kue, dan dua cangkir arak. Meski Liu Qian mesih menganngap prediksi Jiang Ziya sangat tidak akurat, dia tetap berjalan ke arah selatan – dan memang ada seorang pria di bawah pohon willow seperti perkataan Jiang Ziya. Setelah menerima 100 tail perunggu dari pria itu yang membeli kayunya, Liu juga ditawari arak dan makanan. Begitu Liu menyadari bahwa mangkuk araknya berisi arak sejumlah tepat 2 cangkir, dia duduk terpana mengetahui ketepatan ramalannya.

Setelah menerima tambahan 20 tail perunggu lagi karena si pria tua itu sedang merasa senang, Liu Qian berlari kembali ke wilayah gerbang selatan, menyatakan bahwa seorang dewa telah hadir. Terlalu terpana dan bersemangat atas ketepatan ramalan Jiang Ziya, Liu Qian sampai lupa membayarnya, dan malah menarik seorang manajer usaha di dekatnya untuk minta diramal juga. Ketika Liu Qian mengatakan pada si manajer ini bahwa dia akan memberinya uang bila ramalan Jiang Ziya salah, si manajer tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya. Dengan ketepatan luar biasa atas ramalannya, kedai ramalan Jiang Ziya langsung terkenal di seantero ibukota dengan cepat. Dalam enam bulan berikutnya, nama Jiang Ziya melambung hingga keluar negeri – dan menarik banyak orang asing dari tempat yang jauh untuk menyaksikan kehebatannya.

Ketika Jade, siluman Pipa bawahan Dewi Nu Wa, berpamitan pada Daji suatu pagi, dia mendengar keramaian di bawahnya saat terbang di atas ibukota. Menyadari area di bawahnya adalah tempat pusat ramalan, Jade berubah menjadi seorang wanita yang luar biasa cantik sebelum menyelusup dengan cepat ke tengah keramaian untuk diramal juga. Jiang Ziya mengijinkan Jade diramal duluan setelah melihat bahwa wanita itu sebenarnya adalah siluman Pipa yang menyamar dan kemudian mencengkeram tangannya dengan sangat kencang selama beberapa waktu. Jade berteriak kesakitan karena perbuatan Jiang Ziya ini, menyebabkan lebih banyak orang berkumpul dan meminta Jiang Ziya menghentikan perbuatannya itu untuk mencegah masalah yang nanti akan muncul. Jiang Ziya yang tidak ingin membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja, menggunakan bak tintanya untuk menghantam tengkorak siluman itu dengan kencang sementara tangannya yang satu lagi masih mencengkeram telapak tangan Jade agar wujud aslinya tidak kabur.

Ketika Perdana Menteri Bi Gan mendengar semua berita ini, Jiang Ziya muncul di hadapannya, masih memegang telapak tangan wanita yang tampaknya sudah mati itu, dan menyatakan alasannya melakukan perbuatan itu. Bi Gan segera meninggalkan wilayah gerbang selatan bersama Jiang Ziya sebelum kekacauan yang lebih besar muncul, dan keduanya menuju gerbang istana. Bi Gan segera menghadap Raja Zhou di Istana Memetik Bintang untuk menjelaskan situasinya. Jiang Ziya dihadapkan di depan sang raja dan berlutut penuh hormat sambil menjelaskan pada sang raja bahwa dia bisa membuktikan kalau wanita itu adalah siluman jika tubuhnya dibakar dengan api besar selama lebih dari 4 jam dengan kertas mantera ditempelkan di dada dan punggungnya. Ketika pembakaran itu dilakukan, Bi Gan dan Raja Zhou duduk terpana melihat kemampuan Jiang Ziya yang luar biasa ini.

Bersambung...
Notes: Pipa = Sejenis alat musik seperti gitar, bagian perutnya bulat dan gemuk

Here's the english version
This chapter is titled "Burning the Jade Lute Specter". Entering the back garden shortly, and gazing forth with keen delight at the beauty around him, Jiang Ziya suggested to Song Yiren that a tower should be constructed within its vacant space as to ensure great fortune with geomancy. After being told by the latter that such an action was constantly performed in the past, but the tower mysteriously burned down each consecutive time, Jiang Ziya realized that spirits must have been at work previously. As the tower's beams were thus risen during the auspicious day ensured of success by Ziya, a rather fiercely expected wind rose about while Song Yiren entertained the guards in the front hall. Gazing forth at five large fiery spirits within the air, Jiang Ziya conjectured that they had evil intentions behind their former actions -- and thus sent a thundercrack throughout the sky to force the spirits to kneel before him. Having mercy on the spirits for originally being animals and not knowing what true trouble that they caused in the past, Jiang Ziya declared that they should each head to the Western Foothills for now until he finds a laborish job for them to perform when he eventually arrives. Following their immediate consent and departure, Madame Ma and Sun gazed at Jiang Ziya from the shadows in wonder as to why he was talking to himself in such a strange manner. Explaining such an action as being uncomprehensible to the former, they soon realized that Jiang Ziya is well skilled in the art of fortune-telling. As Madame Sun thus urgered her husband to find a shop for Jiang Ziya to use for his fortune-telling, Song Yiren declared shortly that he will tell some of his servants to rent a hourse neighboring the south gate district of Morning Song for his future use. With the fortune-telling house thus being opened after a short while, Jiang Ziya waited patiently for over four months before finally attaining his first customer: a woodcutter by the name of Liu Qian. Unfortunately for Ziya however, Liu was known for his fierceness and brutallity. After declaring that if the former's divination was incorrect, he would close down his shop--and if he was correct, he will reward him with twenty ounces of copper--Jiang Ziya gave the former this prophecy: 'If you are to head south, you will find a man under a willow tree that will give you 120 coppers, four dishes of fresh cake, and two cups of wine. Even though Liu Qian stated his prediction as being far from accurate, he ventured south as told -- thus appearing before an old man under a large willow tree as previously stated. After effectively receiving 100 coppers from the old man following the purchase of his well-fined firewood, Liu was offered wine and refreshments immediately. Once Liu had realized that the wine bowl filled exactly two cups to the very brim, he sat in astonishment at such precise accuracy.

Upon his receiving of 20 coppers in addition due to the old man's gracious mood, Liu Qian ran back to the south-gate district stating that a celestial being was indeed present. Being far too astonished and exited over Jiang Ziya's celestial accuracy to pay him any money, Liu Qian decided to grab hold of a neighboring yamen business manager and force him to have his fortune foretold instead. As the former told this man he will pay if Jiang Ziya's prophecy proved false, the manager had little choice but to go along with such a deal. With precise accuracy in his future prediction as well, Jiang Ziya's fortune-telling shop soared in popularity throughout the capital in rather quick pace. Following the passage of six months, Jiang Ziya's name soared throughout the region -- attracting many foreigners from far and wide to experience his grand insight. As Jade, the lute specter under Empress Nu Wa, bade farewell to Daji one morning, she heard many great noises beneath her while soaring through the skies on her spectral cloud. Realizing that the area beneath her was a fortune-telling center by the great clamor around her, she transformed into an exceedingly beautiful woman before moving swiftly through the crowds in order to attain her own prediction. Allowing for her fortune to be immediately read before all others after seeing that she was indeed a specter despite her appearance, Jiang Ziya grabbed hold of her palm and held on tightly for an excrucial period of time. Crying in discomfort at Jiang's action, more people gathered around ordering Jiang to stop his action for further trouble will result. Not letting this chance dare slip away from his grasp, Jiang Ziya seized the moment to crack her skull with his ink slab in one vile thrust while still holding on to her palm less her true specter form could escape. As Prime Minister Bi Gan attained full word of this, Jiang Ziya appeared shortly before the former, still holding the visibly dead woman's palm, while exclaiming his full reasoning behind such an action. Leaving the southern gate district with Jiang Ziya less a great riot was to ensue, they both headed to the palace gates while the former presented himself before King Zhou at the Star Picking Mansion to explain the situation. With Jiang Ziya thus being sent before the king, he kneeled with deep respect while declaring to the former that he could essentially prove that this woman is indeed a specter if she is burned in a fierce fire for over four hours with charms stamped on her breasts and back. As such an action was fully performed, Bi Gan and King Zhou sat in utter astonishment at Jiang Ziya's most unordinary potential.

kucing_alas
06-09-2010, 10:04 AM
katanya JTTW bener2 terjadi, cm tokoh yang betul2 ada ya cm si biksu Tang, sedangkan 3 tokoh lainnya cm ditambahkan saja...

aqua00
28-02-2011, 12:29 PM
cerita perjalanan ke barat adalah salah satu dari 4 cerita termahsyur cina :top:

jeff
12-03-2011, 03:03 PM
film kera sakti yg akan rilis tahun depan :peace:

http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=131083

ARIA
18-06-2011, 11:00 PM
Ada banyak banget versi baru tapi tetep yg paling bagus versi yg pertama tayang

noctislucis
18-06-2011, 11:52 PM
saya malah tau journey to west dari game tuh, sampe diangkat jadi game
sayuki kalo ga salah judulnya

film kera sakti yg akan rilis tahun depan :peace:

http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=131083

laku bener kayaknya tuh film sampe dibuat seri baru