jempol
by , 14-01-2011 at 09:54 AM (545 Views)
Di negara lain orang harus selalu hati-hati. Orang bisa kena marah walaupun sebenarnya bermaksud baik.
Di Indonesia, kalau kita memuji seseorang seringkali sambil mengacungkan jempol, bukan? (bukan RCTI OK, lho!).
Jempol atau ibu jari, kalau kita acungkan tinggi-tinggi merupakan suatu tanda pujian setinggi langit.
Tetapi tidak demikian halnya di Bangladesh. Suatu kali ada seorang wartawan Indonesia pergi ke kota Savar, kira-kira 30 Km dari Dacca, ibukota Bangladesh.
Dengan ditemani seorang mahasiswa ia makan di kantin dalam lingkungan proyek. Kantin itu tidak bersih, tapi karena sudah lapar, apa boleh buat.
Penjaga kantin datang mengambil sebuah cangkir, memecahkan dua butir telur. Isinya dimasukkan ke dalam cangkir, lalu telur itu diaduk dengan jari. Bukan dengan sendok ya, tetapi dengan jari.
Sesudah itu ia mengambil sepotong roti, dipotong menjadi enam bagian dan setiap potong diolesi dengan telur tadi. Mengulasnya bukan dengan sendok, tetapi dengan jari pula. Roti dimasukkan ke dalam oven listrik. Sesudah beberapa saat, lalu dihidangkan. Wartawan Indonesia dan mahasiswa itu karena betul-betul lapar, sengaja saja dimakan.
Setelah makan habis lalu dibayar. Dan untuk menyenangkan hati penjaga kantin, wartawan itu mengangkat jempol seraya memuji "Good !" katanya.
Tetapi di luar dugaan penjaga kantin itu justru marah-marah, sampai urat lehernya menonjol semua. Mengapa demikian ? Ternyata angkat jempol di masyarakat Bengali dianggap isyarat kotor dan jelek.
Inilah pentingnya kita mengetahui kebiasaan-kebiasaan negara lain.
sumber: diambil dari diktat komputer Akasia
- Show br br ada apa dengan jempol









