Results 1 to 3 of 3

Thread: Sejarah Singkat Ejaan Di Indonesia
http://idws.in/119485

  1. #1

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    YOGYAKARTA
    Posts
    83
    Thank(s)
    0/451
    Rep Power
    0

    Default Sejarah Singkat Ejaan Di Indonesia

    Sejarah Singkat Ejaan Di Indonesia

    Ejaan merupakan kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf/serta penggunaan tanda baca. Tiap negara mempunyai aturan ejaan tersendiri dalam melambangkan bunyi-bunyi bahasa di negaranya. Demikian juga di Indonesia, tercatat ada 6 sejarah ejaan yang pernah dikenal di Indonesia. Dari enam ejaan tersebut, 3 ejaan pernah diberlakukan bahkan salah satunya tetap dipakai sampai saat ini (EYD), dan 3 ejaan lainnya belum sempat diterapkan atau dipakai di Indonesia karena berbagai faktor.



    Ejaan yang pertama dikenal mulai berlaku pada tahun 1901. Ejaan tersebut dikenal dengan Ejaan Bahasa Melayu dengan huruf latin, yang disebut juga dengan Ejaan Van Ophuysen. Van Ophusyen merancang ejaan itu dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma'moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Hal-hal yang menonjol dalam ejaan Van Ophuysen adalah sebagai berikut:

    a. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.

    b. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.

    c. Tanda diakritik, seperti koma ain, hamzah dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma'moer, 'akal, ta', dinamai'.

    Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, ejaan Van Ophuysen mengalami beberapa perubahan. Pada tanggal 19 Maret 1947, Mr. Soewandi yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan Republik Indonesia meresmikan ejaan baru yang dikenal dengan Ejaan Republik. Beberapa lambang yang tampak pada Ejaan Republik tersebut adalah sebagai berikut.

    a. Huruf oe diganti dengan u, seperti pada guru, itu, umur.

    b. Bunyi Hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.

    c. Kata ulang boleh ditulis dengan angka-2, seperti anak2 (anak-anak), ber-jalan2 (berjalan-jalan), ke-barat2-an (kebarat-baratan).

    d. Awalan di- dan kata depan di, kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di pada dirumah, dikebun, disamakan dengan imbuhan di- pada ditulis, dikarang.

    Pada Kongres II Bahasa Indonesia tahun 1954 di Medan, Prof. Dr. Prijono mengajukan Pra-saran Dasar-Dasar Ejaan Bahasa Indonesia dengan Huruf Latin. Isi dasar-dasar tersebut adalah perlunya penyempurnaan kembali Ejaan Republik yang sedang dipakai saat itu. Namun, hasil penyempurnaan Ejaan Republik ini gagal diresmikan karena terbentur biaya yang besar untuk perombakan mesin tik yang telah ada di Indonesia.

    Usaha penyempurnaan ejaan terus dilakukan, termasuk bekerja sama dengan Malaysia dengan rumpun bahasa Melayunya pada Desember 1959. Dari kerja sama ini, terbentuklah Ejaan Melindo yang diharapkan pemakaiannya berlaku di kedua negara paling lambat bulan Januari 1962. Namun, perkembangan hubungan politik yang kurang baik antar dua negara pada saat itu, ejaan ini kembali gagal diberlakukan.

    Pada awal Mei 1966 Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (LBK) yang sekarang menjadi Pusat Bahasa kembali menyusun Ejaan Baru Bahasa Indonesia. Namun, hasil perubahan ini juga tetap banyak mendapat pertentangan dari berbagai pihak sehingga gagal kembali.

    Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan ejaan baru, yang lebih dikenal dengan Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Ejaan baru ini tetap dipakai sampai saat ini, dan tentunya telah mengalami revisi agar lebih sempurna. Berikut ini beberapa perbedaan dari ketiga ejaan yang digunakan tersebut.



    Ejaan Van Ophuysen



    Ejaan Soewandi

    Ejaan yang Disempurnakan

    oe goeroe, itoe, oemoer

    u guru, itu, umur

    u guru, itu, umur



    dj djalan, djauh

    j jalan, jauh



    j pajung, laju

    y payung, layu



    nj njonja, bunji

    ny nyonya, bunyi



    sj isjarat, masjarakat

    sy isyarat, masyarakat



    tj tjukup, tjutji <



    Nah baru pada awal abad 21 muncullah EYD jilid 2 atau Ejaan Yang Dialaykan

  2. #2

    Join Date
    Jan 2010
    Location
    Bandung
    Posts
    591
    Thank(s)
    0/959
    Blog Entries
    1
    Rep Power
    5

    Default

    ^itu sih emang pengaruh dari Bahasa Sunda sendiri (ga ada bunyi f/v, jadinya p)

    soal penulisan vs pengucapan bunyi 'e' ga dibahas gan?

  3. #3

    Join Date
    Apr 2010
    Location
    Bandung
    Posts
    301
    Thank(s)
    0/12
    Rep Power
    0

    Default

    dulu emang pake yg ada oe2 nya segala
    nama2 pahlawan jg banyak yg pake eyd dulu
    tp yg sekarang lebih simpel & ga usah khawatir salah eja

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
Indowebster is proudly powered by PT. Gudang Data Indonesia