Mungkin agan2 semua taunya nama Arumba adalah jenis musik atau apalah itu. Tapi tau ngga sejarah nama ARUMBA? Dari siapa nama itu berasal? ane punya ceritanya, dijamin NO REPOST karena ini koleksi kakek ane sendiri. disimak baik-baik...

Timur Priangan, Limbangan Garut 17 Januari 1937 lahir seorang bayi laki-laki dari pasangan Raden Idik Soemardi Poerawinata dan Rosanah Yatmika Sari yang bernama Raden Roesadi, dengan nama kecil “Yoes” (Roes).
Singkat cerita berawal pada tahun 1963, beliau merasa tertarik mendengar permainan angklung massal yang ditampilkan oleh almarhun Daeng Sutigna (tokoh angklung diatonis yang telah menyelamatkan angklung dari kepunahan).

Show Mr Yoes Roesadi



Daeng Sutigna adalah Bapak nya Tokoh Angklung, Pak Yoes pernah ketemu beliau, beliaupun sangat bangga atas apa yang dilakukan Yoes dengan Angklung nya. Begitu juga dengan ”Mang Ujo” Ngalagena, karena kebetulan beliau adalah teman kaka sepupu Pak Yoes.

Setelah melihat pertunjukan angklung Pak Daeng Sutigna, beliau mendapat ide….bagaimana jika angklung-angklung tersebut dimainkan oleh 1 orang, tentu bisa pikirnya. Bermodalkan uang secukupnya dibelinya satu set angklung melodi dengan mutu yang alakadarnya pada waktu itu. Berawal dari pengetahuan musik Pak Yoes yang otodidak beliau pun mulai mencoba memainkan beberapa buah lagu, diantaranya lagu selendang sutra, halo-halo bandung, bandung selatan di waktu malam dan lain-lain.

Pada suatu hari pamannya dari Bandung dating menjenguk, (”Aki” Tata Surdia nama pamannya) beliau adalah seorang dosen ITB pada waktu itu, pada waktu Pak Yoes sedang memainkan angklung, sang paman memperhatikan dengan seksama lalu memberi dorongan/spirit agar Yoes harus bisa mengembangkan permainan angklung tersebut, baik dari sisi teknis maupun pengetahuan musik dan lagu.

Suatu ketika Pak Yoes mendengar acara galang dana untuk SD Cilamaya di wilayah Tasikmalaya yang di selenggarakan oleh Bob Rozano Production, ia pun berkeinginan untuk meyumbang tapi apa lah daya....tapi ia tidak putus asa, di temuinya sang panitia lalu mengutarakan apa yang dapat ia lakukan untuk penggalangan dana tersebut. Alhamdulillah panitia pun menyetujui ide dari Pak Yoes yaitu bermain angklung solo. Acara ini di adakan di Bali Room Hotel Indonesia Jakarta pada tanggal 23 Juli 1964, ini adalah hal yang baru pertama di alami oleh Yoes, dan ini tantangan baru bermain angklung di Hotel berbintang yang dihadiri oleh para pejabat tinggi sekaligus merupakan momentum awal Pa Yoes bermusik angklung. Dengan ditemani oleh rekannya Kadiaman Yoes pun memainkan beberapa buah lagu yang hanya menggunakan 1 set angklung melodi (2 oktaf tanpa nada sisipan) dan 2 buah angklung rhythm (C dan G).

Show pertunjukan di HI



Tanpa disangka sambutan pun sangat baik, karena ini merupakan sesuatu yang baru di blantika musik Indonesia pada waktu itu yaitu bermain solo angklung. Karena mendapat sambutan baik, maka pihak menejmen hotel pun menawarkan Yoes menjadi bintang tamu di nirwana superclub hotel Indonesia, pada waktu itu Bill Saragih yang menjadi Band Show nya dan sambutan nya pun sangat baik pula. Pada saat itulah tercetus ide oleh Yoes, bagaimana kalau semua rhythm yang seperti pada band terbuat dari bambu? Ah pasti bisa pikirnya. Akhirnya Yoes mencoba merealisasikan idenya dengan membuat xylophone bambu (Calung), angklung rhythm (Kampanye) dan bass bambu. Pada awalnya seluruh pengrajin angklung tidak menyanggupinya, bahkan tidak sedikit yang mencemoohkannya, tapi dengan keyakinan Pak Yoes akhirnya semua itu bisa terealisasi.

Pada suatu saat ditahun 1964 Pak Yoes mendengar kabar dari kakak sepupunya (Ceu Uun ; beliau menyebutnya) di jakarta bahwa akan diadakan acara Peresmian Pembangunan Wisma Kosgoro di Jakarta pada bulan Nopember 1964, lalu beliau pun menawarkan diri agar bisa mengisi acara pada Peresmian tersebut. Atas bantuan dari kakak sepupunya Pak Yoes diikutsertakan dalam pengisi acara Peresmian Pembangunan Wisma Kosgoro, berita gembira ini disampai kan kepada rekan-rekan grup angklung dan mereka pun menyambut baik. Berhubung waktu itu Pak Yoes bukan berasal dari keluarga yang kaya maka diajaklah Kang Ai sebagai sponsor guna terselenggaranya acara tersebut. Singkat cerita dengan menggunakan mobil truk mereka pun pergi ke Jakarta, di perjalanan Pak Yoes mulai berpikir apa nama grup ini...? ALUBA (Alunan Bambu)....yah ini mungkin tepat pikirnya, tapi tiba-tiba lewat sebuah bis ALOBA.......nama ALUBA pun langsung sirna dari pikirannya....masa namanya sama dengan bis pikirnya.....akhirnya tercetus lah nama ARUBA (Alunan Rumpun Bambu), ide nama ini disampaikan kepada rekan-rekannya dan merekapun menyetujuinya.

Show Arumba 1964



Pada tanggal 10 Nopember 1964 merupakan tonggak sejarah bagi Pak Yoes karena inilah pertama kali sebuah grup angklung dengan nama ARUBA tampil di muka umum yaitu pada waktu peresmian Wisma Kosgoro. Alhamdulilah sambutan baik pun di dapat dari para pejabat yang hadir saat itu. Setelah kembali dari Jakarta Pak Yoes dan rekan nya terjadi selisih pendapat, akhirnya beliau memutuskan untuk membubarkan grup tersebut lalu membentuk kembali grup baru dengan formasi Pak Yoes – Angklung Melody, Toersima (adik ipar) – Calung, Yoyo (adik)– Kampanye dan Kurnia – Bass dan tetap menggunakan nama grup yang ARUBA karena menurut Yoes nama itu adalah ide nya, merekapun mulai berlatih dan berlatih.

Pada tahun 1969 merupakan totalitas Pak Yoes dengan ARUMBA nya untuk hidup bermusik, Yoes pun sedikit mengubah nama ARUBA menjadi ARUMBA. Pada tahun itu pula Yoes dan ARUMBA mengikuti tour acara BAMBOO DEN yang di koordinir oleh Djali Asnan dan Mr. Blesensky (ayah dari Tamara blesensky). Pada tahun 1970 Pak Yoes dan ARUMBA sempat mengisi aca di TVRI, lalu pada tanggal 23 Januari 1971 kembali Yoes dan ARUMBA bermain di Istana Negara dalam rangka menyambut Tamu Negara Perdana Menteri Canada. Tak hanya di situ saja, Pak Yoes dan ARUMBA pun mulai mengisi acara di kantor atau rumah perwakilan negara asing, perusahaan-perusahaan asing, restoran dan hotel ber-bintang di Jakarta, diantaranya :

Show Mr Yoes bersama Djali Asnan dan Mr Blesensky



Tahun 1973 di kontrak di Hotel Kartika Plaza Jakarta.
Tahun 1975 - 1976 di Hotel Borobudur Jakarta.

Tahun 1975 di Hotel Horison Jakarta dan ini merupakan kontak kerja Yoes dan ARUMBA nya yang ter lama dalam sejarah hidup nya yaitu dari tahun 1975 sampai tahun 1999.

Tahun 1977 merupakan awal Yoes dan ARUMBA melangkah ke luar negeri, dalam rangka promosi hotel Horison Jakarta mereka pun pergi ke Kuala Lumpur Malaysia dan bermain di Regent Hotel Kuala Lumpur. Wow sambutan nya sangat luar biasa, terutama dari kalangan wartawan baik media cetak maupun tv, sampai-sampai Mr. Wally Smith (Manager Hotel Horison, pada waktu itu) berseloroh…”Saya bayar kamu kesini adalah untuk mempromosikan hotel saya, ini kenapa jadi grup kamu yang malah terkenal?…para wartawan saya undang adalah untuk meliput hotel saya, kok malah grup kamu yang di liput, masuk tivi lagi…..”. Ia pun sangat bangga dengan hasil kerja sama Yoes dan ARUMBA nya.

Show Surat kabar Malingshit yang isinya bilang Malingshit ga punya apa2



Perjalanan Pak Yoes dan ARUMBA penuh dengan suka duka, pada tahun 1980 an adalah terakhir kali nya Pak Yoes merombak formasi ARUMBA nya yaitu dengan meng-ikut sertakan ketiga anak laki-laki nya bergabung di ARUMBA. Pada saat inilah ARUMBA menggunakan instrumen modern yaitu drum dan bass gitar.

Show Arumba modern dengan para anaknya



Kenapa tidak memepertahankan bentuk asli nya? Pemikiran Pak Yoes sederhana saja yaitu ”kita harus selalu mengikuti perkembangan dan yang lebih penting lagi adalah menarik minat kawula muda yang sudah mulai menggandrungi band agar angklung tidak punah dan selalu ada generasi penerusnya” dan namanya tetap ARUMBA.

Tahun 2009 yang lalu kita di kejutkan oleh berita bahwa negara tetangga kita Malingshit mengklaim bahwa beberapa seni budaya kita termasuk musik Angklung adalah kebudayaan mereka, Yoes sangat marah sekali, karena Yoes masih ingat betul ketika pertama kali ARUMBA muncul di Kuala Lumpur pada tahun 1978, berbagai berita muncul yang menyatakan bahwa malingshit tidak memiliki kebudayaan seperti Indonesia (Angklung), dan sewaktu beberapa stasiun tv menayangkan seorang pemuda malingshit sedang memainkan angklung. Yoes sangat hafal atas angklung tersebut, yang dipergunakan oleh pemuda tersebut adalah Angklung yang Yoes bawa dari Jakarta. Lalu pakaian yang dikenakan pemuda tersebut persis seperti apa yang Yoes gunakan sewaktu bermain di malingshit pada tahun 1998 ”Enak aja ngaku-ngaku..!!!!”, Yoes dengan nada geram.

Walau tidak ada satupun penghargaan yang di berikan oleh negara kepada nya, semangat nya masih tetap menyala meski Pak Yoes sudah ber usia 73 tahun.

”Janganlah engkau berharap pemberian apalagi penghargaan tapi berikanlah sesuatu yang berguna dan bermanfaat untuk bangsa ini, negara ini”

Prinsipnya yang membuat kita semua merenung. Harta...dia memiliki banyak harta, yaitu harta keluarga, anak-anak nya dan cucu-cucu nya.

”Jangan sekali2 kamu memberi makan anak istrimu dari hasil yang diharamkan oleh agama, karena itu tidak akan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT”

itulah pesan yang selalu Yoes katakan kepada anak-anak nya dan cucu-cucu nya.

Sewaktu disinggung berapa nominal uang yang Yoes terima untuk setiap pertunjukan
”Fleksibel saja, malah kadang-kadang ada yang gratis koq, yang penting di sedia kan transport, beres” Yoes sambil tersenyum.
”Ya begitulah bokap.....jiwa pengabdian-nya sangat tinggi” kata anak-anak nya, makanya tidak heran jka sebagian besar job nya di urus oleh anak-anaknya. Dan hingga saat ini Yoes masih tetap konsisten ber-angklung, yaitu dengan mengajar angklung pada perkumpulan para lansia di Kota Wisata Cibubur Jakarta.
Pak Yoes termasuk seorang Tokoh Angklung, Pak Yoes Adalah Tokoh Solo Angklung dan seorang kreator atau pengembang Angklung dari Solo menjadi sebuah grup musik angklung yaitu ARUMBA (dahulu ARUBA – tahun 1964). Mungkin sebagian besar orang belum mengetahuinya, mungkin generasi anak cucu tidak mengetahuinya atau mungkin mereka hanya tahu karena sudah ada, tapi sejarah atau perjalanan perkembangan musik angklung itu sendiri mereka tidak ketahui.

Beliau hanya memiliki beberapa buah foto yang ia simpan sebagai bukti bahwa beliau pernah ada atau lebih indah dan bijaksana jika dikatakan pernah ”berkreasi” dalam perkembangan musik Angklung di Indonesia.
Beliau bukanlah budayawan, beliau hanya lah seorang seniman sejati.....seniman angklung otodidak, yang selalu memainkan angklung-nya dengan hati.


Show foto2 ARUMBA dan Mr Yoes











Show Mr Yoes dengan para seniman lain










Show Mr Yoes on vacation