Page 1 of 7 12345 ... LastLast
Results 1 to 10 of 62

Thread: Foto-foto Sejarah dan Detik-detik Invasi Indonesia ke Timor-timur 1975
http://idws.in/165183

  1. #1

    Join Date
    Nov 2008
    Location
    Central Borneo
    Posts
    4,624
    Thank(s)
    8/27,441
    Blog Entries
    43
    Rep Power
    10

    Thumbs up Foto-foto Sejarah dan Detik-detik Invasi Indonesia ke Timor-timur 1975

    Show


    Sejarah Timor Leste berawal dengan kedatangan orang Australoid dan Melanesia. Orang dari Portugal mulai berdagang dengan pulau Timor pada awal abad ke-16 dan menjajahnya pada pertengahan abad itu juga. Setelah terjadi beberapa bentrokan dengan Belanda, dibuat perjanjian pada 1859 di mana Portugal memberikan bagian barat pulau itu. Jepang menguasai Timor Timur dari 1942 sampai 1945, namun setelah mereka kalah dalam Perang Dunia II Portugal kembali menguasainya.

    Pada tahun 1975, ketika terjadi Revolusi Bunga di Portugal dan Gubernur terakhir Portugal di Timor Leste, Lemos Pires, tidak mendapatkan jawaban dari Pemerintah Pusat di Portugal untuk mengirimkan bala bantuan ke Timor Leste yang sedang terjadi perang saudara, maka Lemos Pires memerintahkan untuk menarik tentara Portugis yang sedang bertahan di Timor Leste untuk mengevakuasi ke Pulau Kambing atau dikenal dengan Pulau Atauro. Setelah itu FRETILIN menurunkan bendera Portugal dan mendeklarasikan Timor Leste sebagai Republik Demokratik Timor Leste pada tanggal 28 November 1975.


    Menurut suatu laporan resmi dari PBB, selama berkuasa selama 3 bulan ketika terjadi kevakuman pemerintahan di Timor Leste antara bulan September, Oktober dan November, Fretilin melakukan pembantaian terhadap sekitar 60.000 penduduk sipil (sebagian besarnya wanita dan anak-anak karena para suami mereka adalah pendukung faksi integrasi dengan Indonesia).

    Dalam sebuah wawancara pada tanggal 5 April 1977 dengan Sydney Morning Herald, Menteri Luar Negeri Indonesia Adam Malik mengatakan bahwa 'jumlah korban tewas berjumlah 50.000 orang atau mungkin 80.000'. Tak lama kemudian, kelompok pro-integrasi mendeklarasikan integrasi dengan Indonesia pada 30 November 1975 dan kemudian meminta dukungan Indonesia untuk mengambil alih Timor Leste dari kekuasaan FRETILIN yang berhaluan Komunis.


    Ketika pasukan Indonesia mendarat di Timor Leste pada tanggal 7 Desember 1975, FRETILIN didampingi dengan ribuan rakyat mengungsi ke daerah pegunungan untuk untuk melawan tentara Indonesia. Lebih dari 200.000 orang dari penduduk ini kemudian mati di hutan karena pemboman dari udara oleh militer Indonesia serta ada yang mati karena penyakit dan kelaparan. Banyak juga yang mati di kota setelah menyerahkan diri ke tentara Indonesia, namun Tim Palang Merah International yang menangani orang-orang ini tidak mampu menyelamatkan semuanya.

    Selain terjadinya korban penduduk sipil di hutan, terjadi juga pembantaian oleh kelompok radikal FRETILIN di hutan terhadap kelompok yang lebih moderat. Sehingga banyak juga tokoh-tokoh FRETILIN yang dibunuh oleh sesama FRETILIN selama di Hutan. Semua cerita ini dikisahkan kembali oleh orang-orang seperti Francisco Xavier do Amaral, Presiden Pertama Timor Lesta yang mendeklarasikan kemerdekaan Timor Leste pada tahun 1975.


    Seandainya Jenderal Wiranto (pada waktu itu Letnan) tidak menyelamatkan Xavier di lubang tempat dia dipenjarakan oleh FRETILIN di hutan, maka mungkin Xavier tidak bisa lagi jadi Ketua Partai ASDT di Timor Leste Sekarang. Selain Xavier, ada juga komandan sektor FRETILIN bernama Aquiles yang dinyatakan hilang di hutan (kemungkinan besar dibunuh oleh kelompok radikal FRETILIN). Istri komandan Aquilis sekarang ada di Baucau dan masih terus menanyakan kepada para komandan FRETILIN lain yang memegang kendali di sektor Timur pada waktu itu tentang keberadaan suaminya.

    Selama perang saudara di Timor Leste dalam kurun waktu 3 bulan (September-November 1975) dan selama pendudukan Indonesia selama 24 tahun (1975-1999), lebih dari 200.000 orang dinyatakan meninggal (60.000 orang secara resmi mati di tangan FRETILN menurut laporan resmi PBB). Selebihnya mati ditangan Indonesia saat dan sesudah invasi dan adapula yang mati kelaparan atau penyakit. Hasil CAVR menyatakan 183.000 mati di tangan tentara Indonesia karena keracunan bahan kimia dari bom-bom napalm, serta mortir-mortir.


    Operasi Seroja
    Operasi Seroja adalah sandi untuk invasi Indonesia ke Timor Timur yang dimulai pada tanggal 7 Desember 1975. Pihak Indonesia menyerbu Timor Timur karena adanya desakan Amerika Serikat dan Australia yang menginginkan agar Fretilin yang berpaham komunisme tidak berkuasa di Timor Timur. Selain itu, serbuan Indonesia ke Timor Timur juga karena adanya kehendak dari sebagian rakyat Timor Timur yang ingin bersatu dengan Indonesia atas alasan etnik dan sejarah.


    Angkatan Darat Indonesia mulai menyebrangi perbatasan dekat Atambua tanggal 17 Desember 1975 yang menandai awal Operasi Seroja. Sebelumnya, pesawat-pesawat Angkatan Udara RI sudah kerap menyatroni wilayah Timor Timur dan artileri Indonesia sudah sering menyapu wilayah Timor Timur. Kontak langsung pasukan Infantri dengan Fretilin pertama kali terjadi di Suai, 27 Desember 1975.

    Pertempuran terdahsyat terjadi di Baucau pada 18-29 September 1976. Walaupun TNI telah berhasil memasuki Dili pada awal Februari 1976, namun banyak pertempuran-pertempuran kecil maupun besar yang terjadi di seluruh pelosok Timor Timur antara Fretilin melawan pasukan TNI. Dalam pertempuran terakhir di Lospalos 1978, Fretilin mengalami kekalahan telak dan 3.000 pasukannya menyerah setelah dikepung oleh TNI berhari-hari. Operasi Seroja berakhir sepenuhnya pada tahun 1978 dengan hasil kekalahan Fretilin dan pengintegrasian Timor Timur ke dalam wilayah NKRI.


    Selama operasi ini berlangsung, arus pengungsian warga Timor Timur ke wilayah Indonesia mencapai angka 100.000 orang. Korban berjatuhan dari pihak militer dan sipil. Warga sipil banyak digunakan sebagai tameng hidup oleh Fretilin sehingga korban yang berjatuhan dari sipil pun cukup banyak. Pihak Indonesia juga dituding sering melakukan pembantaian pada anggota Fretilin yang tertangkap selama Operasi Seroja berlangsung.

    Timor Leste menjadi bagian dari Indonesia tahun 1976 sebagai provinsi ke-27 setelah gubernur jendral Timor Portugis terakhir Mario Lemos Pires melarikan diri dari Dili setelah tidak mampu menguasai keadaan pada saat terjadi perang saudara. Portugal juga gagal dalam proses dekolonisasi di Timor Portugis dan selalu mengklaim Timor Portugis sebagai wilayahnya walaupun meninggalkannya dan tidak pernah diurus dengan baik.


    Amerika Serikat dan Australia 'merestui' tindakan Indonesia karena takut Timor Leste menjadi kantong komunisme terutama karena kekuatan utama di perang saudara Timor Leste adalah Fretilin yang beraliran Marxis-Komunis. AS dan Australia khawatir akan efek domino meluasnya pengaruh komunisme di Asia Tenggara setelah AS lari terbirit-birit dari Vietnam dengan jatuhnya Saigon atau Ho Chi Minh City.

    Namun PBB tidak menyetujui tindakan Indonesia. Setelah referendum yang diadakan pada tanggal 30 Agustus 1999, di bawah perjanjian yang disponsori oleh PBB antara Indonesia dan Portugal, mayoritas penduduk Timor Leste memilih merdeka dari Indonesia. Antara waktu referendum sampai kedatangan pasukan perdamaian PBB pada akhir September 1999, kaum anti-kemerdekaan yang konon didukung Indonesia mengadakan pembantaian balasan besar-besaran, di mana sekitar 1.400 jiwa tewas dan 300.000 dipaksa mengungsi ke Timor barat. Sebagian besar infrastruktur seperti rumah, sistem irigasi, air, sekolah dan listrik hancur.

    Pada 20 September 1999 pasukan penjaga perdamaian International Force for East Timor (INTERFET) tiba dan mengakhiri hal ini. Pada 20 Mei 2002, Timor Timur diakui secara internasional sebagai negara merdeka dengan nama Timor Leste dengan sokongan luar biasa dari PBB. Ekonomi berubah total setelah PBB mengurangi misinya secara drastis.

    Semenjak hari kemerdekaan itu, pemerintah Timor Leste berusaha memutuskan segala hubungan dengan Indonesia antara lain dengan mengadopsi Bahasa Portugis sebagai bahasa resmi dan mendatangkan bahan-bahan kebutuhan pokok dari Australia sebagai 'balas budi' atas campur tangan Australia menjelang dan pada saat referendum. Selain itu pemerintah Timor Leste mengubah nama resminya dari Timor Leste menjadi Republica Democratica de Timor Leste dan mengadopsi mata uang dolar AS sebagai mata uang resmi yang mengakibatkan rakyat Timor Leste menjadi lebih krisis lagi dalam hal ekonomi.


    Simak Foto - Foto Penaklukan Timor-Timor oleh TNI ...














































































    Code:
    http://wisbenbae.blogspot.com/2011/05/foto-foto-sejarah-dan-detik-detik.html
    http://www.indowebster.web.id/signaturepics/sigpic13456_59.gif
    ‎"Nobody's Perfect"... artinya gak ada body yang sempurna
    Reply With Quote Reply With Quote

  2. #2

    Join Date
    Jun 2011
    Location
    bali
    Posts
    6
    Thank(s)
    0/2
    Rep Power
    0

    Default

    Timor Leste, susah payah direbut, tapi akhirnya lepas juga
    Reply With Quote Reply With Quote

  3. #3

    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Eien Ni
    Posts
    11,050
    Thank(s)
    1/66,629
    Rep Power
    14

    Default

    sangat di sayangkan yang di lakukan BJ Habibie..
    mungkin pada saat itu indonesia dapet tekanan berat dari dunia internasional..
    padahal TNI susah payah ngerebutnya, skr jadi lepas dari NKRI..
    Reply With Quote Reply With Quote

  4. Who Said Thanks:


  5. #4

    Join Date
    Jun 2009
    Location
    Mancogeh
    Posts
    67
    Thank(s)
    1/3
    Rep Power
    0

    Default

    jadi ingat film balibo... hehe
    Reply With Quote Reply With Quote

  6. Who Said Thanks:


  7. #5

    Join Date
    Jul 2011
    Location
    Brb Rock City
    Posts
    67
    Thank(s)
    0/11
    Rep Power
    0

    Default

    wah pada saat itu, penduduk di timor2 sudah banyak sekali ya ?
    Reply With Quote Reply With Quote

  8. #6

    Join Date
    Nov 2010
    Location
    Jakarta
    Posts
    20,268
    Thank(s)
    0/88,808
    Blog Entries
    12
    Rep Power
    24

    Default

    Mungkin sudah saatnya Timor Leste mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan NKRI, tapi negara kita harus wapada karena integritas bisa melemah kalau pembangunan tidak merata sampai ke wilayah timur. Kayak yang terjadi di wilayah Papua...pray for Indonesia
    Reply With Quote Reply With Quote

  9. #7

    Join Date
    May 2010
    Location
    jakarta
    Posts
    173
    Thank(s)
    0/22
    Rep Power
    0

    Default

    pertama kalinya gue liat nih poto" ternya jaman dulu kita cukup punya kekuatan untuk menginvasi negara lain dalam kasus ini timor timur

    dan sangat disayangkan jg timor timur bukan lg dari bagian dari NKRI
    Reply With Quote Reply With Quote

  10. #8

    Join Date
    Nov 2010
    Location
    Jakarta
    Posts
    7
    Thank(s)
    0/0
    Rep Power
    0

    Default

    semoga para generasi muda saat ini bisa mengambil pelajaran dari semua peristiwa sejarah ini ...
    Reply With Quote Reply With Quote

  11. #9

    Join Date
    Dec 2011
    Location
    makassar
    Posts
    889
    Thank(s)
    0/5,295
    Rep Power
    3

    Default

    Sampe sekarang masih banyak purnawirawan, veteran ops seroja dan petinggi2 TNI yg menyayangkan tindakan Mantan presiden tsb. krena tak sedikit darah dan keringat yg di korbankan demi menyatukan timor timur ke dalam NKRI
    Reply With Quote Reply With Quote

  12. #10

    Join Date
    Feb 2011
    Location
    banda aceh
    Posts
    37
    Thank(s)
    0/3
    Rep Power
    0

    Default

    tidak semuanya salah presiden terdahulu itu
    pada saat itu suasana negara kita sedang kacau dan lagian banyak pihak yg menekan krn pulau itu cukup strategis untuk segi militer
    Reply With Quote Reply With Quote

Page 1 of 7 12345 ... LastLast

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
Indowebster is proudly powered by PT. Gudang Data Indonesia