Page 1 of 3 123 LastLast
Results 1 to 10 of 25

Thread: Fenomena lagu gendjer gendjer
http://idws.in/21452

  1. #1

    Join Date
    Nov 2008
    Location
    Central Borneo
    Posts
    4,619
    Thank(s)
    0/27,746
    Blog Entries
    43
    Rep Power
    11

    Thumbs up Fenomena lagu gendjer gendjer

    Show
    Fenomena lagu gendjer gendjer
    Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler/ Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler/ Emake thole teka-teka mbubuti gendjer/ Emake thole teka-teka mbubuti gendjer/ Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih/ Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih.

    Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar/ Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar/ didjejer-djejer diunting pada didasar/ dudjejer-djejer diunting pada didasar/ emake djebeng tuku gendjer wadahi etas/ gendjer-gendjer saiki arep diolah.

    Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob/ Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob/ setengah mateng dientas digawe iwak/ setengah mateng dientas digawe iwak/ sega sa piring sambel penjel ndok ngamben/ gendjer-gendjer dipangan musuhe sega.


    artinya:
    Genjer2 tumbuh liar di selokan.Ibu datang mencabut genjer.Dapat sekarung lebih tanpa ragu.Genjer sekarang bisa dibawa pulang

    Genjer pagi2 dibawa ke pasar.Dijajar dan dibeberkan di lantai.Si Ibu beli genjer ditaruh di tas.Genjer2 sekarang akan diolah

    Genjer2 dimasukkan ke panci air panas.Setengah matang ditiriskan untuk lauk.Nasi sepiring sambal di tempat tidur.Genjer2 dimakan dengan nasi


    Sebelum pendudukan tentara Jepang pada tahun 1942, wilayah Kabupaten Banyuwangi termasuk wilayah yang secara ekonomi tak kekurangan. Apalagi ditunjang dengan kondisi alamnya yang subur. Namun saat pendudukan Jepang di Hindia Belanda pada tahun 1942, kondisi Banyuwangi sebagai wilayah yang surplus makanan berubah sebaliknya. Karena begitu kurangnya bahan makanan, sampai-sampai masyarakat harus mengolah daun genjer (limnocharis flava) di sungai yang sebelumnya oleh masyarakat dianggap sebagai tanaman pengganggu.
    Situasi sosial semacam itulah yang menjadi inspirasi bagi Muhammad Arief, seorang seniman Banyuwangi kala itu untuk menciptakan lagu genjer-genjer. Digambar oleh M Arif bahwa akibat kolonialisasi, masyarakat Banyuwangi hidup dalam kondisi kemiskinan yang luar biasa sehingga harus makan daum genjer. Kisah itu tampak dalam sebait lagu genjer-genjer di atas.
    Seiring dengan perkembangan waktu dan Indonesia mencapai kemerdekaan, Muhammad Arief sebagai pencipta lagu genjer-genjer bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memiliki hubungan ideologis dengan Partai Komunis Indonesia. Maka lagu ini pun segera menjadi lagu popular pada masa itu, bahkan dalam pernyataannya kepada penulis, Haji Andang CY seniman sekaligus teman akrab M Arief di Lekra serta Hasnan Singodimayan, sesepuh seniman Banyuwangi menyebutkan bahwa lagu genjer-genjer menjadi lagu populer di era tahun 1960-an, di mana Bing Slamet dan Lilis Suryani penyanyi beken waktu itu juga gemar menyanyikannya dan sempat masuk piringan hitam.
    Kedekatan lagu genjer-genjer dengan tokoh-tokoh Lekra dan komunis memang tak dapat dipungkiri. Bahkan dalam sebuah perjalanan menuju Denpasar, Bali pada tahun 1962, Njoto seorang seniman Lekra dan juga tokoh PKI sangat kesengsem dengan lagu genjer-genjer. Waktu itu Njoto memang singgah di Banyuwangi dan oleh seniman Lekra diberikan suguhan lagu genjer-genjer. Tatkala mendengarkan lagu genjer-genjer itu, naluri musikalitas Njoto segera berbicara. Ia segera memprediksikan bahwa lagu genjer-genjer akan segera meluas dan menjadi lagu nasional. Ucapan Njoto segera menjadi kenyataan, tatkala lagu genjer-genjer menjadi lagu hits yang berulang kali ditayangkan oleh TVRI dan diputar di RRI (Lihat Jurnal Srinthil Vol. 3 tahun 2003).


    Fobia gendjer gendjer
    Entah apa yang salah dengan genjer-genjer sebagai sebuah produk kebudayaan? Selepas PKI dan orang-orang PKI, berikut anak cucunya dihancurkan oleh Orde Baru, tak terkecuali pula lagu genjer-genjer yang sebenarnya adalah lagu yang menggambarkan potret masyarakat pada zaman pendudukan Jepang. Mungkin steriotype lagu genjer-genjer menjadi lagu komunis dan patut dihancurkan muncul atas beberapa faktor. Pertama, sejak awal lagu ini berkembang dan dikreasi oleh kalangan komunis dan dikembangkan oleh kalangan komunis pula. Walaupun pada perkembangannya pada era tahun 1960-an lagu ini tidak hanya digemari oleh kalangan komunis, tetapi juga masyarakat secara luas. Namun Orde Baru menerapkan politik bumi hangus, maka seluruh produk apa pun yang dilahirkan oleh orang-orang komunis haram hukumnya dan patut dihabisi. Kedua, ketika peristiwa G 30 S tahun 1965 terjadi, Harian KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) mempelesetkan genjer-genjer menjadi jenderal-jenderal. Dalam catatan pribadinya Hasan Singodimayan, seniman HSBI dan teman akrab M Arief menuliskan bahwa lagu "Genjer-genjer" telah dipelesetkan.

    endral Jendral Nyang ibukota pating keleler
    Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral
    Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh
    Jendral Jendral saiki wes dicekeli

    Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa
    Dijejer ditaleni dan dipelosoro
    Emake Germwani, teko kabeh milu ngersoyo
    Jendral Jendral maju terus dipateni



    Akibat penulisan lagu "Genjer-genjer" menjadi jenderal-jenderal, maka kian kuatlah alasan Orde Baru untuk membumihanguskan lagu ini. Pada perkembangannya, siapa pun yang tetap menyanyikan lagu ini akan ditangkap oleh aparat keamanan, tentu dengan tuduhan komunis. Karena larangan menyanyikan lagu genjer-genjer, maka beberapa seniman gandrung di Banyuwangi juga dilarang untuk menyanyikan lagu genjer-genjer, dan beberapa lagu dan gendhing yang memompa kesadaran politik massa rakyat.
    Para seniman gaek pada masa itu seperti Hasnan Singodimayan, dan Haji Andang CY juga merasa heran dengan munculnya lirik lagu genjer-genjer yang sedemikian mendeskreditkan petinggi-petinggi militer waktu itu. Namun apalah kuasa orang-orang lemah waktu itu. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin itulah ungkapan yang patut untuk menggambarkan kondisi seniman-seniman rakyat yang kebanyakan berafiliasi dengan Lekra. Jangankan mengoreksi lagu genjer-genjer, menyelamatkan diri mereka saja susah




    Show





    Luka yang dirasakan selama bertahun-tahun hidup sebagai anak anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) memang sudah mengering. Namun, kehidupan yang tak kunjung berubah membuat Sinar Syamsi, anak pencipta lagu Genjer-Genjer Muhammad Arief, memilih pindah kewarganegaraan. “Saya ingin pindah ke Belanda atau China,” katanya.

    ................................

    Lembaran di tiga buku catatan lagu itu tidak lagi utuh. Kertasnya lapuk dimakan usia. Meski masih bisa terbaca jelas, tulisan yang tergores di atas kertas itu pun mulai memudar. Di tiga buku itulah tertuang naskah asli lagu Genjer-genjer (Gendjer-Gendjer) milik sang penciptanya, Almarhum Muhammad Arief .

    Lagu berjudul Genjer-genjer menjadi salah satu penggalan cerita yang mengiringi peristiwa Gerakan 30 September atau yang dikenal dengan sebutan G30S-Partai Komunis Indonesia. Konon, lagu yang menceritakan tentang tanaman genjer (limnocharis flava) itu dinyanyikan oleh anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani)-PKI, saat menyiksa para petinggi TNI di Lubang Buaya.

    Cerita mengerikan versi Orde Baru yang lambat laun mulai diragukan seiring tidak terbuktinya penyiksaan para jenderal itu, membuat image lagu Genjer-genjer ikut pula mengerikan. Apalagi, G30S diikuti rentetan penculikan dan pembunuhan di beberapa kantong PKI. Termasuk di Banyuwangi, tempat pencipta lagu Genjer-genjer Muhammad Arief tinggal.

    Benarkah lagu Genjer-genjer identik dengan PKI? Pertanyaan lama yang selalu dibantah, namun tetap tidak menghapus stigma. Budayawan Banyuwangi Fatrah Abbal, 76, menceritakan, lagu Genjer-genjer diilhami oleh masakan sayur genjer yang disajikan Ny. Suyekti, Istri Muhammad Arief di tahun 1943.

    “M.Arief heran, tanaman yang awalnya dikenal sebagai makanan babi dan ayam itu ternyata enak juga dimakan manusia, akhirnya ia mengarang lagu Genjer-genjer,” katanya. Begitu terkenalnya lagu yang nadanya mirip dengan lagu rakyat berjudul Tong Ala Gentong Ali Ali Moto Ijo itu hingga Seniman Bing Slamet dan Lilis Suryani pun menyanyikannya.

    Kedekatan lagu itu dengan PKI tidak bisa dilepaskan dengan kondisi politik di tahun 1965. Masa di mana politik Indonesia membuka ruang bagi ideologi apapun itu membuahkan persaingan antar partai politik. Termasuk persaingan dalam hal berkesenian.

    Seperti Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan Lembaga Kesenian Nasional (LKN), Partai Nahdlatul Ulama (NU) dengan Lesbumi, Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) serta Masyumi dengan Himpunan Seni dan Budaya Islam (HSBI). “Lekra menggandeng seniman Banyuwangi, termasuk Muhammad Arief,” kata Fatrah yang dulu aktif di HSBI ini.

    Sejak digandeng Lekra, seni Banyuwangi-an semakin dikenal. Banyak lagu-lagu Banyuwangi yang sering dinyanyikan di acara PKI dan underbownya. Termasuk lagu Genjer-genjer yang diciptakan di tahun 1943, lagu Nandur Jagung dan lagu Sekolah.

    Muhammad Arief sebagai seniman pun ditawari bergabung dengan Lekra dan ditempatkan sebagai anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi. Seniman yang dulu bernama Syamsul Muarif itu juga diminta mengarang lagu yang senapas degan ideologi PKI. Seperti lagu berjudul Ganefo, 1 Mei, Harian Rakyat, Mars Lekra dan Proklamasi.

    “Kalau kita resapi, lagu Genjer-genjer memang tidak memiliki makna apa-apa, hanya bercerita tentang tanaman genjer yang dulu dianggap sampah kemudian mulai digemari,” kata Fatrah. “Genjer-genjer, nong kedok’an pating keleler, emak’e tole, teko-teko, mbubuti genjer, oleh sak tenong, mungkor sedot, seng tole-tole, genjer-genjer, saiki wis digowo muleh,” Fatrah menyanyikan bait lagu Genjer-genjer.

    Entah, siapa yang memulai, pasca G30S, syair lagu Genjer-genjer pun dipelesetkan dengan syair yang menceritakan aksi penyiksaan para jenderal korban G30S. “Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler, Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral, Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh, Jendral Jendral saiki wes dicekeli,” Begitu bunyi gubahan lagu itu. “Gubahan itu sebenarnya tidak ada!” kata Fatrah.

    Sinar Syamsi (53) anak semata mayang Muhammad Arief dan Suyekti menceritakan, tidak lama setelah peristiwa G30S meletus di Jakarta, terjadi demonstrasi besar di Alun-Alun Kota Banyuwangi. Demonstrasi itu menuntut agar para anggota PKI ditangkap. Muhammad Arief adalah salah satu target kemarahan massa. Di tahun itu mantan anggota TNI berpangkat Sersan itu adalah anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi dari PKI. Sekaligus aktivis lembaga kebudayaan di bawah PKI, Lembaga Kesenian Rakyat atau Lekra.

    “Orang-orang menyerbu ke rumah saya di Kawasan Tumenggungan Kota Banyuwangi, mereka membakar rumah dan seisinya,” kenang Syamsi yang ketika peristiwa itu terjadi sudah berumur 11 tahun. Muhammad Arief melarikan diri bersama anggota Lekra/PKI yang lain. Hingga akhirnya tertangkap dan markas CPM Malang. “Setelah itu nasib bapak tidak mendengar lagi hingga sekarang,” kenang Sinar Syamsi.

    Meski begitu, Syamsi tetap menganggap Muhammad Arief sebagai pahlawan keluarga. Naskah asli lagu yang hingga kini masih “tabu” untuk dinyanyikan itu pun disimpan. “Bagi saya, buku-buku catatan ini adalah sejarah keluarga yang harus dijaga, agar anak cucu saya kelak bisa mengetahui dengan pasti apa yang terjadi,” kata Sinar Syamsi.

    Sinar Syamsi menyadari, sejarah keluarganya hitam kelam akibat peristiwa itu. Ibunda Sinar Syamsi, Suyekti sempat stress karena stigma keluarga PKI. “Politik telah membuat keluarga saya harus mengalami peristiwa yang mengerikan selama bertahun-tahun, hingga ibu saya meninggal dunia 26 Januari 2007 lalu,” kenang Syamsi.

    Dengan alasan itu jugalah, laki-laki yang sempat di-PHK beberapa kali dengan alasan tidak jelas ini pun mulai berpikir untuk pindah kewarganegaraan. Belanda dan China adalah dua negara yang diliriknya. “Dengan membawa naskah asli ini, saya ingin pindah ke Belanda dan China. Siapa tahu di sana posisi saya sebagai anak pencipta lagu Genjer-Genjer lebih dihargai,” katanya.

    Keterangan foto:
    1. Gambaran sosok Muhammad Arief, mengarang lagu Genjer-Genjer.
    2. Naskah asli lagu Genjer-Genjer di catatan lagu Muhammad Arief.
    3. Sinar Syamsi, anak tunggal Muhammad Arief.

    Code:
    http://brasco-brasco.blogspot.com/2009/01/berbekal-genjer-genjer-lirik-negara.html
    Show
    Bangsa Indonesia akan selalu mengingat lagu Genjer-genjer sebagai lagu yang mungkin menakutkan pada jamannya. Sebelum tahun 1965 lagu ini begitu ‘populer’. Tetapi ironisnya, popular karena menjadi satu-satunya lagu yang sangat diharamkan oleh pemerintahan orde baru.

    Alasan pemerintahan orde baru melarang secara massive lagu ini adalah karena lagu ini ditenggarai memuat ajaran komunis. Jika ditelaah dari lirik lagu Genjer-genjer sendiri, sebenarnya sama sekali tidak mencerminkan ajaran komunis, tetapi lebih kepada ajaran agar masyarakat bersikap mandiri dan kreatif dalam menghadapi kesusahan hidup.

    Berikut lirik lagu Genjer-genjer.

    Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler

    Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler

    Emake thole teka-teka mbubuti gendjer

    Emake thole teka-teka mbubuti gendjer

    Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih

    Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih.


    Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar

    Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar

    didjejer-djejer diunting pada didasar

    dudjejer-djejer diunting pada didasar

    emake djebeng tuku gendjer wadahi etas

    gendjer-gendjer saiki arep diolah.


    Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob

    Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob

    setengah mateng dientas digawe iwak

    setengah mateng dientas digawe iwak

    sega sa piring sambel penjel ndok ngamben

    gendjer-gendjer dipangan musuhe sega.



    Arti Bahasa Indonesia :


    Genjer2 tumbuh liar di selokan

    Ibu datang mencabut genjer

    Dapat sekarung lebih tanpa ragu

    Genjer sekarang bisa dibawa pulang

    Genjer pagi2 dibawa ke pasar

    Dijajar dan dibeberkan di lantai

    Si Ibu beli genjer ditaruh di tas

    Genjer2 sekarang akan diolah

    Genjer2 dimasukkan ke panci air panas

    Setengah matang ditiriskan untuk lauk

    Nasi sepiring sambal di tempat tidur

    Genjer2 dimakan dengan nasi


    Sejarah Singkat

    Tidak banyak yang bisa memastikan kenapa alasan Muhammad Arief, sehingga menciptakan lagu tersebut. Tetapi situasi social pada saat itu yang mungkin menjadi inspirasi bagi Muhammad Arief, seorang seniman asal Banyuwangi, menciptakan lagu tersebut. Karena sebelum pendudukan tentara Jepang pada tahun 1942, wilayah Kabupaten Banyuwangi termasuk wilayah yang secara ekonomi tak kekurangan. Apalagi ditunjang dengan kondisi alamnya yang subur. Namun saat pendudukan Jepang di Hindia Belanda pada tahun 1942, kondisi Banyuwangi sebagai wilayah yang surplus makanan berubah sebaliknya. Karena begitu kurangnya bahan makanan, sampai-sampai masyarakat harus mengolah daun genjer (limnocharis flava) di sungai yang sebelumnya oleh masyarakat dianggap sebagai tanaman pengganggu.

    Tergambarkan oleh M Arif bahwa akibat kolonialisasi, masyarakat Banyuwangi hidup dalam kondisi kemiskinan yang luar biasa sehingga harus makan daun genjer. Kisah itu tampak dalam sebait lagu genjer-genjer di atas.

    Seperti yang dikutip dari berbagai sumber. Dalam perjalan waktu, Muhammad Arief sebagai pencipta lagu genjer-genjer bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memiliki hubungan ideologis dengan Partai Komunis Indonesia. Maka lagu ini pun segera menjadi lagu popular pada masa itu, bahkan dalam pernyataannya kepada penulis, Haji Andang CY seniman sekaligus teman akrab M Arief di Lekra serta Hasnan Singodimayan, sesepuh seniman Banyuwangi menyebutkan bahwa lagu genjer-genjer menjadi lagu populer di era tahun 1960-an, di mana Bing Slamet dan Lilis Suryani penyanyi beken waktu itu juga gemar menyanyikannya dan sempat masuk piringan hitam.

    Kedekatan lagu Genjer-genjer dengan tokoh-tokoh Lekra dan komunis memang tak dapat dipungkiri. Bahkan dalam sebuah perjalanan menuju Denpasar, Bali pada tahun 1962, Njoto seorang seniman Lekra dan juga tokoh PKI sangat kesengsem dengan lagu Genjer-genjer. Waktu itu Njoto memang singgah di Banyuwangi dan oleh seniman Lekra diberikan suguhan lagu Genjer-genjer. Tatkala mendengarkan lagu Genjer-genjer itu, naluri musikalitas Njoto segera berbicara. Ia segera memprediksikan bahwa lagu Genjer-genjer akan segera meluas dan menjadi lagu nasional. Ucapan Njoto segera menjadi kenyataan, tatkala lagu Genjer-genjer menjadi lagu hits yang berulang kali ditayangkan oleh TVRI dan diputar di RRI (Lihat Jurnal Srinthil Vol. 3 tahun 2003).


    Fobia Tidak Logis Terhadap Genjer-genjer

    Pelarangan lagu Genjer-genjer sebenarnya sangat tidak beralasan, padahal jika disadari Genjer-genjer juga salah satu produk budaya. Tetapi karena Politik Pukul Rata yang diterapkan oleh pemerintahan orde baru, maka seluruh produk yang dilahirkan atau terkait dengan orang-orang komunis haram hukumnya dan patut dihabisi.

    Beberapa stereotype lagu Genjer-genjer menjadi lagu komunis disebabkan oleh beberapa factor. Pertama, seperti yang diketahui, sejarah lagu Genjer-genjer berkembang dan dikreasikan oleh kalangan komunis di masanya, walaupun masyarakat luas yang tidak komunis pun sangat menyukai lagu tersebut. Dan factor lanjutannya adalah, ketika peristiwa G 30 S tahun 1965 meledak, Harian KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) menjadikan lagu Genjer-genjer sebagai media kritik, hal ini dilakukan dengan memplesetkan lagu Genjer-genjer menjadi Jendral-jendral. Seperti yang dikutip dari catatan pribadi Hasan Singodimayan, seniman HSBI, menuliskan lagu plesetan Jendral-jendral tersebut.


    Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler

    Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral

    Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh

    Jendral Jendral saiki wes dicekeli


    Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa

    Dijejer ditaleni dan dipelosoro

    Emake Gerwani, teko kabeh milu ngersoyo

    Jendral Jendral maju terus dipateni


    Mungkin karena plesetan lirik tersebutlah, yang menjadi satu-satunya alasan tunggal yang memperkuat Orde Baru untuk menghancurkan lagu tersebut.

    Semoga pada perkembangan bangsa Indonesia kedepan tidak ada lagi suatu produk budaya yang diharamkan oleh pemerintah. Karena produk budaya adalah produk budaya, tidak bisa dikaitkan dengan perkembangan suatu ideology atau pergerakan terlarang seperti yang terjadi pada PKI yang diharamkan oleh pemerintah orde baru pada saat itu.

    Code:
    http://perlawanan-hati.blogspot.com/2008/11/lagu-genjer-genjer.html
    apa sih genjer itu?
    Show
    Cerita Si "Genjer-Genjer"

    Sayuran Genjer


    Banyak orang mulai lupa dengan sayur daun bernama genjer. Padahal sayuran ini pernah menjadi lirik lagu "Genjer-Genjer" yang begitu populer di era 60 an. Bahkan sempat dilarang pada saat pemberontakan Partai Komunis di negeri ini. Lantas apa kekistimewaan sayuran ini?

    Genjer (Limnocharis flava) merupakan tanaman terna, tumbuh di rawa atau kolam berlumpur yang banyak airnya. Konon asalnya dari Amerika, terutama bagian negara beriklim tropis. Selain daunnya, bunga genjer muda juga enak dijadikan masakan. Genjer cocok diolah menjadi tumisan, lalap, pecel, campuran gado-gado atau dibuat sayur bobor.

    Warna daunnya hijau dengan lapisan lilin sehingga terlihat mengkilat. Sifat sayur ini liat dengan rasa yang lezat. Genjer kaya akan unsur gizi. Setiap 100 g genjer mengandung energi 39 kkal, protein 1.7 g, karbohidrat 7.7 g, kalsium 62 mg, fosfor 33 mg dan zat besi 2.1 mg. Sayuran ini juga kaya akan serat yang baik untuk menjaga saluran sistem pencernaan. Jika rajin mengkonsumsi sayuran ini, dipercaya kanker kolon dan sembelit akan jauh dari Anda. Teks & foto: Budi Sutomo

    Code:
    http://budiboga.blogspot.com/2007/11/cerita-si-genjer-genjer.html

    sejarah Komunisme di Indonesia
    Code:
    http://www.marxist.com/periode-pertama-partai-komunis-indonesia.htm
    Last edited by blacksheep; 14-09-2009 at 08:38 PM.
    http://www.indowebster.web.id/signaturepics/sigpic13456_59.gif
    ‎"Nobody's Perfect"... artinya gak ada body yang sempurna

  2. #2

    Join Date
    May 2008
    Location
    behind you..
    Posts
    1,534
    Thank(s)
    0/15,475
    Blog Entries
    1
    Rep Power
    8

    Default

    kalo jaman sekarang dah boleh diputer boss?
    kayanya masi pada fobia komunis ya?
    orba, orba.. ada² aja..
    kalo yang laen bengkok, kenapa gua musti lurus?
    ( ) pilih bengkok
    ( ) pilih [sok] lurus

  3. #3

    Join Date
    Sep 2008
    Location
    -
    Posts
    1,030
    Thank(s)
    0/1,789
    Rep Power
    7

    Default

    lho?
    mang lagu genjer ne kontroversial ya?

    kok smpe ga bleh d'puter?
    knp?
    Oneday...

  4. #4

    Join Date
    Apr 2009
    Location
    BIKINI BOTTOM
    Posts
    639
    Thank(s)
    0/19,085
    Rep Power
    6

    Default

    baru tw ada lagu yg ga bole di putar
    mana ga pernah dengar lagi

  5. #5

    Join Date
    Sep 2008
    Location
    Denpasar,Bali
    Posts
    3,949
    Thank(s)
    0/49,022
    Blog Entries
    1
    Rep Power
    14

    Default

    lagu ini klo ga salah pas jaman2 komunis dulu yah...

    Sampe masuk piringan hitam..

  6. #6

    Join Date
    Mar 2009
    Location
    Jakarta
    Posts
    420
    Thank(s)
    0/327
    Rep Power
    0

    Default

    biasalah..... mentang2 dulu katanya pernah dinyanyiin sama orang2 PKI, di banned deh.... Ketakutan yang sama sekali tidak beralasan.............

  7. #7

    Join Date
    Feb 2009
    Location
    Indonesia
    Posts
    434
    Thank(s)
    0/21
    Rep Power
    0

    Default

    kayak apa ya lagu nya?? kok lagu nya di ban cuma gara2 diplesetkan?? ga adil kan!!

  8. #8

    Join Date
    Jul 2007
    Location
    Bekasi
    Posts
    450
    Thank(s)
    0/1,040
    Blog Entries
    13
    Rep Power
    0

    Default

    itu sejarah brooo

    emanknya ngga pernah di ceritain ama ortu kalo lagu itu, dinyanyikan oleh para eksekutor para jendral sewaktu di lubang buaya. tuh lagu kalo ngga salah di dinyanyiin ama grub cewe par pendukung PKI, gw lupa apa namanya tuh. pokoknya sewaktu para jendral lagi "Digituin" lagu itu dinyanyikan.

  9. #9

    Join Date
    Jul 2008
    Location
    Terban Sari
    Posts
    655
    Thank(s)
    0/22,776
    Rep Power
    7

    Default

    cerita lama, g gitu minat soalnya g ada bukti sejarah yg valid tentang kejadian dimasa itu. heran kayaknya cuma negara kita aja nich yg g pernah sejarahnya jelas, pasti penuh bumbu penyedap.....keluh... emang dah budaya kali ya??

  10. #10

    Join Date
    Oct 2008
    Location
    jakarta
    Posts
    1,641
    Thank(s)
    0/7,400
    Rep Power
    13

    Default

    wuih, ada mp3nya ngga yah? hihihihi

Page 1 of 3 123 LastLast

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
Indowebster is proudly powered by PT. Gudang Data Indonesia