Show cerita



Hujan tidak begitu deras di sepanjang jalan yang menghubungkan Kasultanan Ngayogyokarta Hadiningrat dengan Bagelan, jalan yang masih berupa tanah tersebut beriak-riak ketika sesosok lelaki yang duduk diatas kuda yang dipacunya menembus rintik hujan, seakan sesegera mungkin ia sampai di tempat tujuan, seperti ada sesuatu yang akan ia sampaikan di dusun Bagelan.
"Romo harus segera mengetahuinya" ucapnya dalam hati.

Memang keadaan Kasultanan saat itu memasuki masa-masa genting ketika Patih Danurejo tewas di tangan Kanjeng Pangeran. Karena kepentingan kompeni terhadap kekuasaan dan pengaruhnya di Kasultanan akan terganggu. Saat memasuki daerah Serang sebelah barat Wates, kuda yang ia tunggangi meringkik dan mengangkat kaki depannya.
"Ushh..ushh..tenang Bajul...tenang...ada apa..?" saat ia mencoba berbicara dengan tunggannya yang tiba-tiba berhenti dan meringkik.

Matanya tiba-tiba menjadi sangat tajam menatap satu per satu arah mata angin, tak dirasakannya beberapa butir air hujan telah memerahkan matanya.

"hmmmm sepanjang yang aku ketahui daerah Serang ini bukan daerah yang rawan, tapi mengapa Bajul seperti ini" dengan posisi diatas kuda Teja Baskara dalam keadaan siap, jari-jemarinya memindahkan keris Kalanadah ke bagian depan pinggangnya. Lama dia dalam posisi seperti itu, dan pelan pelan ia menggerakan tali kekang Bajul dan berjalan perlahan-lahan.

"Di depan itu sungai Serang, Bajul" ia berbicara lagi dengan kudanya, seakan-akan kuda yang bernama Bajul itu mengerti bahasa tuannya "Kita berhenti disana sejenak, dan engkau juga bisa beristirahat setelah seharian kita meninggalkan Kasultanan, dan aku bisa mendirikan sholat dhuhur".
Sesampainya di pinggiran sungai Serang, tanpa disadari oleh Teja Baskara, puluhan pasang mata telah mengamati gerak-geriknya, dan belum sepat ia turun dari kudanya.

"Wussss" anak panah melesat kearahnya, tetapi Teja Baskara sempat melihat luncuran anak panah tersebut dari sudut matanya.

"Ciaaat.....trang....trang" bunyi benturan logam saat Teja Baskara meloncat dari atas kudanya, dengan posisi kaki yang mengembang di udara, ia tarik gagang kerisnya dan ia sabetkan dua kali dengan gerakan yang sangat cepat ke anak panah yang mengarah kepadanya.
Belum sempat kakinya menginjak tanah, bunyi desiran angin dari segala penjuru arah mengiringi kedatangan 7 sosok manusia yang wajahnya ditutupi kain berwarna kuning kunyit, tampak pakaian lurik dan celana yang dibalut kain jarik.

"Orang-orang ini berpakaian rapi, tidak mungkin mereka begal' gumamnya, "Kisanak, mengapa kalian menyerangku dengan cara seperti itu?"

Yang ditanyai tidak ada yang menjawab, semua diam membisu, suasana menjadi tegang saat rintik hujan mulai menghilang, hanya tatapan mata yang saling memandang seakan akan menunggu aba-aba untuk bergerak kedepan.

"Bajul, kamu menyingkir dulu, ini urusan manusia" belum sempat kuda itu menginggalkan tuannya, satu kelebatan dari arah samping dengan pedang yang berwarna perak menghujam ke arah kepala Teja Baskara. Ia tidak sempat menggerakkan kerisnya untuk menangkis pedang yang datang dari atas mengarah ke kepalanya, tapi dengan satu gerakan dari kedua kakinya, tebasan pedang itu dihindari dan disusul dengan tinju kearah rahang penyerang dari samping.

"Bukk.." penyerang itu jatuh terhuyung. Teja Baskara dengan cepat menyusulkan tendangnya kearah perut. Dari arah belakang sebuah tusukan mengarah ke pinggang Teja Baskara, dan dari arah samping sebuah sabetan mengarah ke lehernya, ia tidak punya pilihan, ia gerakan kakinya untuk menghindari serangan dari belakang dan mengayunkan kerisnya untuk menangkis pedang yang datang kearah lehernya.

"Ciaat....trang...trang....bukk" keris Teja Baskara terpental dan tubuhnya jatuh ke belakang karena terkena tendangan dari depan dan bergulingan diatas tanah.

Teja Baskara berdiri dan melompat setengah kaki ke belakang, tangannya saling digosokan"Bismilahirahman nir rahim hastabraja", hastabraja merupakan salah satu ilmu andalannya yang dipelajari dari kakeknya Wirobraja di Kedu yang jika mengenai orang niscaya dengan kehendak yang maha kuasa, orang tersebut akan hancur tulangnya, sambil meloncat kearah salah satu penyerang yang dari tadi diam, karena Teja Baskara yakin dia yang memimpin, "Wusss" desiran angin menyertai tubuhnya, tangan yang dikepalkan berwarna hitam bercahaya bergerak ke depan, dan belum satu jengkal tangannya mengenai.

"Hentikan..!" terdengar suara laki-laki menggelegar. (bersambung....)


Sumbernya ?