Results 1 to 5 of 5

Thread: Pendidikan: Definisi, Makna, Esensi, dan Tujuan
http://idws.in/263639

  1. #1

    Join Date
    Apr 2010
    Location
    Mythical Land
    Posts
    12,162
    Thank(s)
    0/23,049
    Rep Power
    18

    Default Pendidikan: Definisi, Makna, Esensi, dan Tujuan

    Kali ini, mari kita mendiskusikan tentang arti dari kata pendidikan itu sendiri.

    Apakah yang dimaksud pendidikan itu? Bagaimana cara mendidik? Pendidikan = Pengetahuan ?

    Jika teman-teman menemukan suatu artikel/ulasan mengenai sisi lain dari pendidikan, maka bisa diposting disini.

    Supaya kita semua bisa mendiskusikan, apakah arti sebenarnya dari pendidikan.



    Quote Originally Posted by koneidin View Post
    sekedar copas dari http://indonesiamengajar.org/kabar-t...kan-sebenarnya
    menurut saya isinya membuat saya paham tentang bagaimana kita menilai orang lain dalam pendidikannya,,,

    Show Pendidikan Sebenarnya
    Pendidikan Sebenarnya

    Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

    LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

    Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.

    Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

    Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

    “Dari Indonesia,” jawab saya.

    Dia pun tersenyum.

    BUDAYA MENGHUKUM

    Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

    “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

    “Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

    Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

    Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

    Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

    Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap.Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

    Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

    Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

    ***

    Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

    Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

    Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

    Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

    Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

    Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

    Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

    Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

    MELAHIRKAN KEHEBATAN

    Bisakah kita mencetak orang orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya.

    Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

    Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

    Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

    Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

    Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

    Jadwal OL berkurang, mohon maklum

  2. #2

    Join Date
    Apr 2010
    Location
    Mythical Land
    Posts
    12,162
    Thank(s)
    0/23,049
    Rep Power
    18

    Default

    Show Kembali ke Tujuan Pendidikan Sebenarnya

    Kembali ke Tujuan Pendidikan yang Sebenarnya
    Oleh : Adela Eka Putra Marza

    Tidak berlebihan rasanya jika ada anggapan bahwa pada pendidikanlah tergantung nasib dan masa depan bangsa kita. Maklum, dunia masa depan yang dipacu dengan globalisasi merupakan dunia ilmu pengetahuan. Dan pendidikan adalah sumber bagi ilmu pengetahuan. Jika kita melalaikan pendidikan, berarti kita telah menelantarkan masa depan sendiri.

    Pendidikan lahir dalam berbagai bentuk dan paham. Ada paham bahwa pendidikan merupakan wahana untuk menyalurkan ilmu pengetahuan, alat pembentukan watak, alat pelatihan keterampilan, alat mengasah otak, serta media untuk meningkatkan keterampilan kerja.

    Sementara paham lainnya meyakini pendidikan sebagai media untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan, alat pembentukan kesadaran bangsa, alat meningkatkan taraf ekonomi, alat mengurangi kemiskinan, alat mengangkat status sosial, alat menguasai teknologi, serta media untuk menguak alam raya dan manusia. Selain itu, banyak juga praktisi dan pemikir pendidikan yang menempatkan pendidikan sebagai wahana untuk menciptakan keadilan sosial, wahana untuk memanusiakan manusia, serta wahana untuk pembebasan manusia.

    Salah Pemaknaan
    Wajah pendidikan dewasa ini sudah banyak berubah. Wajah pendidikan yang sebelumnya mengarah kepada pembentukan watak manusia yang bermoral, kini sudah berganti arah menjadi pembentukan manusia yang manipulatif. Sehingga manusia yang “keluar” pun bukanlah manusia yang kreatif, namun sudah menjadi manusia yang bermental manipulatif, tidak mau bekerja keras, senang berhura-hura, malas, dan lain sebagainya. Padahal pada pendidikanlah kita menggantungkan masa depan bangsa ini. Apa jadinya bangsa ini ke depan jika yang dihasilkan dunia pendidikan di Indonesia saat ini hanyalah generasi yang malas, manipulatif, dan hedonistik?

    Banyak orang sering mendengar dan mengucapkan kata pendidikan, namun tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan pendidikan itu. Sungguh miris sekali. Bahkan, para praktisi pendidikan sendiri pun banyak yang tidak memahami makna pendidikan itu sendiri.

    Pintar, itulah makna pendidikan yang biasanya selalu ditekankan para orang tua dan pendidik kepada anak didik. Mereka menanamkan doktrin di benak anak didik, bahwa pendidikan merupakan sarana untuk menjadi manusia-manusia yang intelek. Padahal, untuk menjadi manusia yang benar-benar manusia, tidak hanya mengedepankan otak saja, tetapi juga harus bisa membangun sisi kemanusiaannya.

    Jika ditinjau kembali ke belakang, pendidikan bisa diartikan sebagai proses yang dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat dalam rangka menyiapkan generasi penerusnya agar dapat bersosialisasi dan beradaptasi dalam budaya yang mereka anut. Pendidikan menjadi salah satu tradisi umat manusia sebagai bentuk usahanya dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan dan budayanya.

    Seiring dengan perjalanan perkembangan keyakinan dan pemikiran umat manusia tentang pendidikan, telah lahir berbagai ideologi dan pandangan tentang hakikat dari pendidikan. Bagi sekelompok masyarakat pendidik, meyakini bahwa hakikat pendidikan adalah demi untuk menjaga nilai-nilai yang ada serta mempertahankan nilai dan tradisi yang sudah mereka anut. Kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai pendidikan aliran konservatif maupun intelektualisme.

    Sementara itu, muncul pula pendirian bahwa pendidikan harus senantiasa membuat masing-masing individu manusia untuk memiliki personal behavior yang efektif, sehingga mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan sistem politik dan struktur ekonomi yang penuh dengan persaingan.
    Pendirian yang lahir seiring dengan berkembangnya peradaban liberalisme abad modern ini merupakan pemikiran dan teori pendidikan dengan perspektif liberal, seperti aliran eksperimentalisme dan juga behaviorism.

    Memanusiakan Manusia
    Pendidikan kiranya juga harus mempersiapkan generasi muda untuk mampu menjalankan kehidupannya, bukan hanya sekedar mempersiapkan mereka untuk pekerjaan. Di sini pendidikan ditantang untuk mengerahkan anak didik ke arah hidup yang bermakna. Untuk itu, pendidikan harus mampu mengajarkan kearifan, yang tampak dalam kepiawaian anak didik untuk memilih.

    Kearifan itu tidak hanya mengenai individu, tetapi juga mengenai bangsa. Maka, pendidikan juga harus bisa memberikan kearifan bangsa, yang di sini dapat menuntun anak didik untuk arif memilih dalam pembangunan bangsa ke depan.

    Manusia tidak hanya terdiri dari intelektualitasnya saja. Pendidikan juga perlu memberikan pembinaan hati nurani, jati diri, rasa tanggung jawab, sikap egaliter, dan kepekaan normatif yang menyangkut makna nilai dan tata nilai.

    Inilah yang menjadi hakikat dan tugas pokok pendidikan, yaitu memanusiakan manusia. Dalam kata lain, membantu anak didik untuk menjadi manusia dan mencapai identitas dirinya sesuai dengan kemampuannya. Pendidikan harus mampu membentuk watak, hati dan perasaan anak didik. Pendidikan tidak boleh tergoda untuk menekankan perkembangan sisi intelektualitas semata kepada anak didik. Pendidikan juga harus melakukan pembinaan kognitif, afektif, dan konatif terhadap cipta, rasa dan karsa anak didik secara stimultan.

    Pembentukan menjadikan manusia bisa lebih dibantu, jika anak didik mengerti dan menguasai sisi humaniora. Untuk itu, pendidikan humaniora tidak boleh dikesampingkan dalam pembentukan manusia berwatak dan berkesadaran sosial, walaupun dewasa ini pendidikan begitu mengagungkan keunggulan sains dan teknik.

    Dari hal inilah muncul kelompok yang mempunyai pandangan bahwa hakikat pendidikan itu adalah sebagai strategi humanisasi. Mereka percaya bahwa pendidikan merupakan proses dekonstruksi yang memproduksi wacana tanding, untuk membangkitkan kesadaran kritis kemanusiaan.

    Selanjutnya, pendidikan bagi mereka ini identik dengan “proses pembebasan manusia.” Pendirian ini berangkat dari asumsi bahwa manusia dalam sistem dan struktur sosial yang ada telah mengalami proses dehumanisasi.

    Bukan Hanya Guru
    Mengembalikan makna pendidikan ke tujuan semual, menjadi tugas terberat saat ini. Kesalahan dalam memaknai tujuan sebenarnya dari pendidikan bisa saja membuat output dari pendidikan tersebut tidak sesuai lagi dengan yang diharapkan. Padahal dengan adanya pendidikan diharapakan dapat mengembangkan watak seseorang untuk dapat bersosialisasi dan beradpatasi dalam lingkungan masyarakat.

    Harus diingat, pendidikan tidak semata hanya untuk mendapatkan intelektual pada anak didik. Namun lebih luas daripada sekadar isi otak saja, sisi humanis menjadi tujuan yang lebih penting. Sehingga menghasilkan manusis-manusia yang peka terhadap keadaan lingkungannya. Itulah tujuan yang sebenarnya dari pendidikan.

    Tugas berat ini tentu saja berada di pundak para guru, yang secara langsung berinteraksi dengan anak didik di dalam ruang kelas sekolah. Guru sebagai orang pertama yang mempunyai peran besar dalam mendidik manusia-manusia dengan pendidikan, sehingga dapat mengimplementasikan nilai-nilai kebenaran di dalam hidup bermasyarakat.

    Namun terlepas dari peran utama seorang guru tadi, sosok orangtua di dalam keluarga serta masyarakat di dalam lingkungannya, secara tidak langsung juga mempunyai peranan dalam membentuk watak seorang manusia. Percuma saja gurunya mati-matian membentuk sikap dan perilakunya sesuai dengan nila-nilai masyarakat, jika keluarga dan masyarakat sendiri tidak pernah memberikan contoh yang sesuai dengan nilai-nilai tersebut.

    Kesimpulannya, pendidikan harus dikembalikan lagi pada tujuan yang sebenarnya, membentuk watak manusia yang berhati nurani, selain juga pentingnya sisi intelektualitas dalam menyambut perkembangan global. Dan tugas berat ini tidak hanya tanggung jawab seorang guru semata. Tetapi juga keluarga dan masyarakat yang langsung berinteraksi dalam lingkungan anak didik, harus mampu menjadi panutan yang arif.

    * Dimuat di Harian Medan Bisnis (Senin, 16 Februari 2009)



    source

    Jadwal OL berkurang, mohon maklum

  3. #3

    Join Date
    Apr 2010
    Location
    Mythical Land
    Posts
    12,162
    Thank(s)
    0/23,049
    Rep Power
    18

    Default

    Pengertian Pendidikan



    Show versi Wikipedia Indonesia

    Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.



    FILOSOFI PENDIDIKAN
    Pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.
    Bagi sebagian orang, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, "Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya."
    Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam, sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka, walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.

    source


    Show Menurut para ahli

    (Pengertian Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara) – Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, 1889 – 1959) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: “Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti ( karakter, kekuatan bathin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya”.

    John Stuart Mill (filosof Inggris, 1806-1873 M) menjabarkan bahwa Pendidikan itu meliputi segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang untuk dirinya atau yang dikerjakan oleh orang lain untuk dia, dengan tujuan mendekatkan dia kepada tingkat kesempurnaan.

    Pendidikan, menurut H. Horne, adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada vtuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.

    John Dewey, mengemukakan bahwa pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk untuk menghasilkan kesinambungan social. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup.

    Hal senada juga dikemukakan oleh Edgar Dalle bahwa Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat mempermainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan datang.

    Thompson mengungkapkan bahwa Pendidikan adalah pengaruh lingkungan terhadap individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap dalam kebiasaan perilaku, pikiran dan sifatnya.

    Ditegaskan oleh M.J. Longeveled bahwa Pendidikan merupakan usaha , pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak agar tertuju kepada kedewasaannya, atau lebih tepatnya membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri.

    Prof. Richey dalam bukunya ‘Planning for teaching, an Introduction to Education’ menjelaskan Istilah ‘Pendidikan’ berkenaan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat terutama membawa warga masyarakat yang baru (generasi baru) bagi penuaian kewajiban dan tanggung jawabnya di dalam masyarakat.

    Ibnu Muqaffa (salah seorang tokoh bangsa Arab yang hidup tahun 106 H- 143 H, pengarang Kitab Kalilah dan Daminah) mengatakan bahwa : “Pendidikan itu ialah yang kita butuhkan untuk mendapatkan sesuatu yang akan menguatkan semua indera kita seperti makanan dan minuman, dengan yang lebih kita butuhkan untuk mencapai peradaban yang tinggi yang merupakan santaan akal dan rohani.”

    Plato (filosof Yunani yang hidup dari tahun 429 SM-346 M) menjelaskan bahwa Pendidikan itu ialah membantu perkembangan masing-masing dari jasmani dan akal dengan sesuatu yang memungkinkan tercapainya kesemurnaan.

    Dalam Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232, tentang Pengertian Pendidikan, yang berasal dari kata “didik”, Lalu kata ini mendapat awalan kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

    Dari beberapa Pengertian Pendidikan diatas dapat disimpulkan mengenai Pendidikan, bahwa Pendidikan merupakan Bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain” (Langeveld).

    source

    Jadwal OL berkurang, mohon maklum

  4. #4

    Join Date
    Mar 2009
    Location
    Retirement
    Posts
    40,809
    Thank(s)
    0/25,170
    Blog Entries
    66
    Rep Power
    70

    Default

    Wah, definisi pendidikannya kompleks dan beragam sekali ya.

    Menurut saya:
    Pendidikan = proses yg dilalui manusia sepanjang hidup, di mana ia menerima informasi, menyimpan dan mengolahnya; untuk kemudian digunakan dalam menjalani/mengatasi masalah2 kehidupan yg dihadapinya.
    Say NO to Samsung

  5. #5

    Join Date
    Nov 2011
    Location
    Paper & Screen
    Posts
    3,160
    Thank(s)
    0/121,770
    Blog Entries
    16
    Rep Power
    10

    Default

    Kalo menurut saya...

    Pendidikan (in general) adalah suatu proses pembentukan serta pematangan karakter peserta didik; baik dari segi afektif, kognitif, dan intuitif. Selain itu, pendidikan juga bertujuan menyiapkan peserta didik untuk dapat ikut berperan aktif dalam masyarakat dalam lingkupan seluas mungkin dengan wawasan yang diterima dari proses yang dijalani.

    Tapi sayangnya... utopian vision stays in dream

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
Indowebster is proudly powered by PT. Gudang Data Indonesia