Page 1 of 4 1234 LastLast
Results 1 to 10 of 34

Thread: 8 maret, 66 tahun yang lalu. berapa lama sebenarnya indonesia dijajah belanda?
http://idws.in/36279

  1. #1

    Join Date
    May 2009
    Location
    Dibawah Langit
    Posts
    1,920
    Thank(s)
    2/6,151
    Rep Power
    7

    Default 8 maret, 66 tahun yang lalu. berapa lama sebenarnya indonesia dijajah belanda?

    8 Maret, 66 Tahun yang lalu

    Melalui sejumlah fakta dan analisis sejarah, Nina Herlina L. sejarawan dari Universitas Padjajaran Bandung menjelaskan ketidakbenaran sejarah tentang penjajahan Belanda di Indonesia. Ucapan Bung Karno “Indonesia dijajah selama 350 tahun” menurutnya hanya dimaksudkan untuk membangkitkan semangat patriotisme di masa perang kemerdekaan. Lalu kapan tepatnya Belanda mulai menjajah?

    ***Oleh Nina Herlina L***.


    “WIJ sluiten nu.Vaarwel, tot betere tijden. Leve de Koningin!” (Kami akhiri sekarang. Selamat berpisah sampai waktu yang lebih baik. Hidup Sang Ratu!). Demikian NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij/Maskapai Radio Siaran Hindia Belanda) mengakhiri siarannya pada tanggal 8 Maret 1942.
    Enam puluh enam tahun yang lalu, tepatnya 8 Maret 1942, penjajahan Belanda di Indonesia berakhir sudah. Rupanya “waktu yang lebih baik” dalam siaran terakhir NIROM itu tidak pernah ada karena sejak 8 Maret 1942 Indonesia diduduki Pemerintahan Militer Jepang hingga tahun 1945. Indonesia menjadi negara merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

    Masyarakat awam selalu mengatakan bahwa kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Benarkah demikian? Untuk ke sekian kalinya, harus ditegaskan bahwa ?Tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun?. Masyarakat memang tidak bisa disalahkan karena anggapan itu sudah tertulis dalam buku-buku pelajaran sejarah sejak Indonesia merdeka! Tidak bisa disalahkan juga ketika Bung Karno mengatakan, ?Indonesia dijajah selama 350 tahun!? Sebab, ucapan ini hanya untuk membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme rakyat Indonesia saat perang kemerdekaan (1946-1949) menghadapi Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.

    Bung Karno menyatakan hal ini agaknya juga untuk meng-counter ucapan para penguasa Hindia Belanda. De Jong, misalnya, dengan arogan berkata, ?Belanda sudah berkuasa 300 tahun dan masih akan berkuasa 300 tahun lagi!? Lalu Colijn yang dengan pongah berkoar, “Belanda tak akan tergoyahkan karena Belanda ini sekuat (Gunung) Mount Blanc di Alpen.”
    Tulisan ini akan menjelaskan bahwa anggapan yang sudah menjadi mitos itu, tidak benar. Mari kita lihat sejak kapan kita (Indonesia) dijajah dan kapan pula penjajahan itu berakhir.


    Kedatangan Penjajah

    Pada 1511, Portugis berhasil menguasai Malaka, sebuah emporium yang menghubungkan perdagangan dari India dan Cina. Dengan menguasai Malaka, Portugis berhasil mengendalikan perdagangan rempah-rempah seperti lada, cengkeh, pala, dan fuli dari Sumatra dan Maluku. Pada 1512, D`Albuquerque mengirim sebuah armada ke tempat asal rempah-rempah di Maluku. Dalam perjalanan itu mereka singgah di Banten, Sundakalapa, dan Cirebon. Dengan menggunakan nakhoda-nakhoda Jawa, armada itu tiba di Kepulauan Banda, terus menuju Maluku Utara, akhirnya tiba juga di Ternate.

    Di Ternate, Portugis mendapat izin untuk membangun sebuah benteng. Portugis memantapkan kedudukannya di Maluku dan sempat meluaskan pendudukannya ke Timor. Dengan semboyan “gospel, glory, and gold” mereka juga sempat menyebarkan agama Katolik, terutama di Maluku. Waktu itu, Nusantara hanyalah merupakan salah satu mata rantai saja dalam dunia perdagangan milik Portugis yang menguasai separuh dunia ini (separuh lagi milik Spanyol) sejak dunia ini dibagi dua dalam Perjanjian Tordesillas tahun 1493. Portugis menguasai wilayah yang bukan Kristen dari 100 mil di sebelah barat Semenanjung Verde, terus ke timur melalui Goa di India, hingga kepulauan rempah-rempah Maluku. Sisanya (kecuali Eropa) dikuasai Spanyol
    .
    Sejak dasawarsa terakhir abad ke-16, para pelaut Belanda berhasil menemukan jalan dagang ke Asia yang dirahasiakan Portugis sejak awal abad ke-16. Pada 1595, sebuah perusahaan dagang Belanda yang bernama Compagnie van Verre membiayai sebuah ekspedisi dagang ke Nusantara. Ekpedisi yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman ini membawa empat buah kapal. Setelah menempuh perjalanan selama empat belas bulan, pada 22 Juni 1596, mereka berhasil mendarat di Pelabuhan Banten. Inilah titik awal kedatangan Belanda di Nusantara.

    Kunjungan pertama tidak berhasil karena sikap arogan Cornelis de Houtman. Pada 1 Mei 1598, Perseroan Amsterdam mengirim kembali rombongan perdagangannya ke Nusantara di bawah pimpinan Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck. Dengan belajar dari kesalahan Cornelis de Houtman, mereka berhasil mengambil simpati penguasa Banten sehingga para pedagang Belanda ini diperbolehkan berdagang di Pelabuhan Banten. Ketiga kapal kembali ke negerinya dengan muatan penuh. Sementara itu, kapal lainnya meneruskan perjalanannya sampai ke Maluku untuk mencari cengkih dan pala.

    Dengan semakin ramainya perdagangan di perairan Nusantara, persaingan dan konflik pun meningkat. Baik di antara sesama pedagang Belanda maupun dengan pedagang asing lainnya seperti Portugis dan Inggris. Untuk mengatasi persaingan yang tidak sehat ini, pada 1602 di Amsterdam dibentuklah suatu wadah yang merupakan perserikatan dari berbagai perusahaan dagang yang tersebar di enam kota di Belanda. Wadah itu diberi nama “Verenigde Oost-Indische Compagnie” (Serikat Perusahaan Hindia Timur) disingkat VOC.

    Pemerintah Kerajaan Belanda (dalam hal ini Staaten General), memberi “izin dagang” (octrooi) pada VOC. VOC boleh menjalankan perang dan diplomasi di Asia, bahkan merebut wilayah-wilayah yang dianggap strategis bagi perdagangannya. VOC juga boleh memiliki angkatan perang sendiri dan mata uang sendiri. Dikatakan juga bahwa octrooi itu selalu bisa diperpanjang setiap 21 tahun. Sejak itu hanya armada-armada dagang VOC yang boleh berdagang di Asia (monopoli perdagangan).

    Dengan kekuasaan yang besar ini, VOC akhirnya menjadi “negara dalam Negara” dan dengan itu pula mulai dari masa Jan Pieterszoon Coen (1619-1623, 1627-1629) sampai masa Cornelis Speelman (1681-1684) menjadi Gubernur Jenderal VOC, kota-kota dagang di Nusantara yang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah berhasil dikuasai VOC. Batavia (sekarang Jakarta) menjadi pusat kedudukan VOC sejak 1619, Ambon dikuasai tahun 1630. Beberapa kota pelabuhan di Pulau Jawa baru diserahkan Mataram kepada VOC antara tahun 1677-1705. Sementara di daerah pedalaman, raja-raja dan para bupati masih tetap berkuasa penuh. Peranan mereka hanya sebatas menjadi “tusschen personen” (perantara) penguasa VOC dan rakyat.

    “Power tends to Corrupt.” Demikian kata Lord Acton, sejarawan Inggris terkemuka. VOC memiliki kekuasaan yang besar dan lama, VOC pun mengalami apa yang dikatakan Lord Acton. Pada 1799, secara resmi VOC dibubarkan akibat korupsi yang parah mulai dari “cacing cau” hingga Gubernur Jenderalnya. Pemerintah Belanda lalu menyita semua aset VOC untuk membayar utang-utangnya, termasuk wilayah-wilayah yang dikuasainya di Indonesia, seperti kota-kota pelabuhan penting dan pantai utara Pulau Jawa.

    Selama satu abad kemudian, Hindia Belanda berusaha melakukan konsolidasi kekuasaannya mulai dari Sabang-Merauke. Namun, tentu saja tidak mudah. Berbagai perang melawan kolonialisme muncul seperti Perang Padri (1821-1837), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh (1873-1907), Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856), Perang di Lombok (1843-1894), Perang Puputan di Bali (1846-1908), Perang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-1908), Perlawanan di Sumatra Utara (1872-1904), Perang di Tanah Batak (1878-1907), dan Perang Aceh (1873-1912).

    Peperangan di seluruh Nusantara itu baru berakhir dengan berakhirnya Perang Aceh. Jadi baru setelah tahun 1912, Belanda benar-benar menjajah seluruh wilayah yang kemudian menjadi wilayah Republik Indonesia (kecuali Timor Timur). Jangan lupa pula bahwa antara 1811-1816, Pemerintah Hindia Belanda sempat diselingi oleh pemerintahan interregnum (pengantara) Inggris di bawah Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles.

    Saat-saat Akhir

    Pada 7 Desember 1941, Angkatan Udara Jepang di bawah pimpinan Laksamana Nagano melancarkan serangan mendadak ke pangkalan angkatan laut AS di Pearl Harbour, Hawaii. Akibat serangan itu kekuatan angkatan laut AS di Timur Jauh lumpuh. AS pun menyatakan perang terhadap Jepang. Demikian pula Belanda sebagai salah satu sekutu AS menyatakan perang terhadap Jepang.

    Pada 18 Desember 1941, pukul 06.30, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer melalui radio menyatakan perang terhadap Jepang. Pernyataan perang tersebut kemudian direspons oleh Jepang dengan menyatakan perang juga terhadap Pemerintah Hindia Belanda pada 1 Januari 1942. Setelah armada Sekutu dapat dihancurkan dalam pertempuran di Laut Jawa maka dengan mudah pasukan Jepang mendarat di beberapa tempat di pantai utara Pulau Jawa.

    Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memusatkan pertahanannya di sekitar pegunungan Bandung. Pada waktu itu kekuatan militer Hindia Belanda di Jawa berjumlah empat Divisi atau sekitar 40.000 prajurit termasuk pasukan Inggris, AS, dan Australia. Pasukan itu di bawah komando pasukan sekutu yang markas besarnya di Lembang dan Panglimanya ialah Letjen H. Ter Poorten dari Tentara Hindia Belanda (KNIL). Selanjutnya kedudukan Pemerintah Kolonial Belanda dipindahkan dari Batavia (Jakarta) ke Kota Bandung.

    Pasukan Jepang yang mendarat di Eretan Wetan adalah Detasemen Syoji. Pada saat itu satu detasemen pimpinannya berkekuatan 5.000 prajurit yang khusus ditugasi untuk merebut Kota Bandung. Satu batalion bergerak ke arah selatan melalui Anjatan, satu batalion ke arah barat melalui Pamanukan, dan sebagian pasukan melalui Sungai Cipunagara. Batalion Wakamatsu dapat merebut lapangan terbang Kalijati tanpa perlawanan berarti dari Angkatan Udara Inggris yang menjaga lapangan terbang itu.
    Pada 5 Maret 1942, seluruh detasemen tentara Jepang yang ada di Kalijati disiapkan untuk menggempur pertahanan Belanda di Ciater dan selanjutnya menyerbu Bandung. Akibat serbuan itu tentara Belanda dari Ciater mundur ke Lembang yang dijadikan benteng terakhir pertahanan Belanda.

    Pada 6 Maret 1942, Panglima Angkatan Darat Belanda Letnan Jenderal Ter Poorten memerintahkan Komandan Pertahanan Bandung Mayor Jenderal J. J. Pesman agar tidak mengadakan pertempuran di Bandung dan menyarankan mengadakan perundingan mengenai penyerahan pasukan yang berada di garis Utara-Selatan yang melalui Purwakarta dan Sumedang. Menurut Jenderal Ter Poorten, Bandung pada saat itu padat oleh penduduk sipil, wanita, dan anak-anak, dan apabila terjadi pertempuran maka banyak dari mereka yang akan jadi korban.

    Pada 7 Maret 1942 sore hari, Lembang jatuh ke tangan tentara Jepang. Mayjen J. J. Pesman mengirim utusan ke Lembang untuk merundingkan masalah itu. Kolonel Syoji menjawab bahwa untuk perundingan itu harus dilakukan di Gedung Isola (sekarang gedung Rektorat UPI Bandung). Sementara itu, Jenderal Imamura yang telah dihubungi Kolonel Syoji segera memerintahkan kepada bawahannya agar mengadakan kontak dengan Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer untuk mengadakan perundingan di Subang pada 8 Maret 1942 pagi. Akan tetapi, Letnan Jenderal Ter Poorten meminta Gubernur Jenderal agar usul itu ditolak.
    Jenderal Imamura mengeluarkan peringatan bahwa “Bila pada 8 Maret 1942 pukul 10.00 pagi para pembesar Belanda belum juga berangkat ke Kalijati maka Bandung akan dibom sampai hancur.” Sebagai bukti bahwa ancaman itu bukan sekadar gertakan, di atas Kota Bandung tampak pesawat-pesawat pembom Jepang dalam jumlah besar siap untuk melaksanakan tugasnya.

    Melihat kenyataan itu, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda beserta para pembesar tentara Belanda lainnya berangkat ke Kalijati sesuai dengan tanggal dan waktu yang telah ditentukan. Pada mulanya Jenderal Ter Poorten hanya bersedia menyampaikan kapitulasi Bandung. Namun, karena Jenderal Imamura menolak usulan itu dan akan melaksanakan ultimatumnya. Akhirnya, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda menyerahkan seluruh wilayah Hindia Belanda kepada Jepang tanpa syarat. Keesokan harinya, 9 Maret 1942 pukul 08.00 dalam siaran radio Bandung, terdengar perintah Jenderal Ter Poorten kepada seluruh pasukannya untuk menghentikan segala peperangan dan melakukan kapitulasi tanpa syarat.
    Itulah akhir kisah penjajahan Belanda. Setelah itu Jepang pun menduduki Indonesia hingga akhirnya merdeka 17 Agustus 1945. Jepang hanya berkuasa tiga tahun lima bulan delapan hari.

    Analisis

    Berdasarkan uraian di atas, kita bisa menghitung berapa lama sesungguhnya Indonesia dijajah Belanda. Kalau dihitung dari 1596 sampai 1942, jumlahnya 346 tahun. Namun, tahun 1596 itu Belanda baru datang sebagai pedagang. Itu pun gagal mendapat izin dagang. Tahun 1613-1645, Sultan Agung dari Mataram, adalah raja besar yang menguasai seluruh Jawa, kecuali Banten, Batavia, dan Blambangan. Jadi, tidak bisa dikatakan Belanda sudah menjajah Pulau Jawa (yang menjadi bagian Indonesia kemudian).

    Selama seratus tahun dari mulai terbentuknya Hindia Belanda pascakeruntuhan VOC (dengan dipotong masa penjajahan Inggris selama 5 tahun), Belanda harus berusaha keras menaklukkan berbagai wilayah di Nusantara hingga terciptanya Pax Neerlandica. Namun, demikian hingga akhir abad ke-19, beberapa kerajaan di Bali, dan awal abad ke-20, beberapa kerajaan di Nusa Tenggara Timur, masih mengadakan perjanjian sebagai negara bebas (secara hukum internasional) dengan Belanda. Jangan pula dilupakan hingga sekarang Aceh menolak disamakan dengan Jawa karena hingga 1912 Aceh adalah kerajaan yang masih berdaulat. Orang Aceh hanya mau mengakui mereka dijajah 33 tahun saja.

    Kesimpulannya, tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Yang benar adalah, Belanda memerlukan waktu 300 tahun untuk menguasai seluruh Nusantara.

    Dikutip secara lengkap dari harian Pikiran Rakyat, 8 Maret 2008.
    Nina Herlina L. adalah Guru Besar Ilmu Sejarah Unpad/Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat/Ketua Pusat Kebudayaan Sunda Fakultas Sastra Unpad.
    Tidak semua yang anda lihat, dengar dan rasakan adalah benar dan kenyataan. Kadang sesuatu yang tak terlihat, tak terdengar dan tak dapat dirasakan adalah kebenaran yang nyata

  2. Who Said Thanks:


  3. #2

    Join Date
    Jul 2009
    Location
    medan
    Posts
    172
    Thank(s)
    0/291
    Rep Power
    0

    Default

    hoho,. baru tahu ane bro,.
    soalnya sering dengar istilah,. kita dijajah Jepang selama 3.5 tahun lebih kejam dari Belanda 3.5 abad..

    ternyata gitu caranya,. makanya Belanda menyerah tanpa syarat., ane baru tau

  4. #3

    Join Date
    Apr 2009
    Location
    Indonesia
    Posts
    3,095
    Thank(s)
    0/60,527
    Rep Power
    8

    Default

    tp tetap namanya juga terjajah Bro
    cuma beda doloe masih bersifat parsial, blm tau kata INA itu, tp setelah tahun 1940-an baru dh semua wilayah bergabung :onion-69:
    Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala.
    Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.
    (WS.Rendra, 10 November 1997)
    ARTIKEL GURITA CIKEAS

  5. #4

    Join Date
    May 2009
    Location
    Dibawah Langit
    Posts
    1,920
    Thank(s)
    0/6,151
    Rep Power
    7

    Default

    tapi ada benar nya juga apa yg disampaikan oleh prof Nina Herlina,. karena Indonesia kita sekarang adalah daerah yang berhasil dikuasai oleh belanda pada tahun 1912 :D

    capek loh,.. tokoh2 perjuangan kita,. agar yang disebut Indonesia itu adalah seluruh wilayah yang mereka kuasai pada tahun 1912,. mereka mencari dukungan di PBB,. lobi sana sini ama negara lain agar belanda menyerahkan semua "wilayah Indonesia" dan angkat kaki,. akhirnya pejuang kita berhasil,.. ya walau belanda ngembalikannya "nyicil" dan terakhir yg dipulangkan adalah Irian.,, :D

    Merdeka
    Tidak semua yang anda lihat, dengar dan rasakan adalah benar dan kenyataan. Kadang sesuatu yang tak terlihat, tak terdengar dan tak dapat dirasakan adalah kebenaran yang nyata

  6. #5

    Join Date
    Apr 2009
    Location
    EDH
    Posts
    562
    Thank(s)
    0/676
    Rep Power
    6

    Default

    salah kaprah lagee......
    tapi kalo gw ngomong si ga ada bedana antara perlu waktu dan menjajah....

  7. #6

    Join Date
    Jul 2008
    Location
    (-7.7),(110.4)
    Posts
    4,002
    Thank(s)
    0/2,521
    Blog Entries
    4
    Rep Power
    12

    Default

    keren dong jepang! belanda aja butuh 300 tahun, jepang cuman 3.5 tahun.
    Crawling under Fuji Television's reign since 2006
    WE ARE IDOLINGER

  8. #7

    Join Date
    Jun 2009
    Location
    Yogyakarta
    Posts
    1,551
    Thank(s)
    0/74,985
    Rep Power
    7

    Default

    Gw pernah mendengar cerita yang sama..

    Iya juga seh..
    Mengklaim menjajah..
    Padahal dia cuma berdagang aja..

    Ndakik tuh Belanda..

  9. #8

    Join Date
    Dec 2008
    Location
    Jakarta
    Posts
    5,111
    Thank(s)
    0/13,216
    Blog Entries
    26
    Rep Power
    12

    Default

    Quote Originally Posted by boku View Post
    tp tetap namanya juga terjajah Bro
    cuma beda doloe masih bersifat parsial, blm tau kata INA itu, tp setelah tahun 1940-an baru dh semua wilayah bergabung :onion-69:
    dulu khan nama indonesia dipake bukan untuk wilayah dr sabang=merauke.. tp lebih kepada daerah asia tenggara yg dikuasai belanda.. dan kebetulan jadilah yg dikuasai adalah Indonesia yg kita kenal sekarang

    Quote Originally Posted by kzha View Post
    tapi ada benar nya juga apa yg disampaikan oleh prof Nina Herlina,. karena Indonesia kita sekarang adalah daerah yang berhasil dikuasai oleh belanda pada tahun 1912 :D

    capek loh,.. tokoh2 perjuangan kita,. agar yang disebut Indonesia itu adalah seluruh wilayah yang mereka kuasai pada tahun 1912,. mereka mencari dukungan di PBB,. lobi sana sini ama negara lain agar belanda menyerahkan semua "wilayah Indonesia" dan angkat kaki,. akhirnya pejuang kita berhasil,.. ya walau belanda ngembalikannya "nyicil" dan terakhir yg dipulangkan adalah Irian.,, :D

    Merdeka
    info yg bagus
    gw malah denger sebagai kata2 politisi.. sama aja khan dengan kata2 di jajah tetapi kata2nya pake bahasa yang berbeda :smiley_beer:

    Quote Originally Posted by SuzukiRyo View Post
    keren dong jepang! belanda aja butuh 300 tahun, jepang cuman 3.5 tahun.
    jepang datang kesini bukan menjajah..
    masalahnya jgn2 jepang bukan 3.5 tahun.. tapi 3 tahun menjajah Indonesia..
    0,5 tahun dipake buat deketin Indonesia.. dan setelah lewat 0,5 baru ketahuan deh belank nya

  10. #9

    Join Date
    Feb 2009
    Location
    Bandung
    Posts
    507
    Thank(s)
    0/339
    Rep Power
    6

    Default

    tergantung definisi penjajahan bagi situ apa

    kalo bagi gw, monopoli perdagangan, pemaksaan pekerjaan (read genosida) itu adalah penjajahan

    Quote Originally Posted by kzha View Post
    tapi ada benar nya juga apa yg disampaikan oleh prof Nina Herlina,. karena Indonesia kita sekarang adalah daerah yang berhasil dikuasai oleh belanda pada tahun 1912 :D

    capek loh,.. tokoh2 perjuangan kita,. agar yang disebut Indonesia itu adalah seluruh wilayah yang mereka kuasai pada tahun 1912,. mereka mencari dukungan di PBB,. lobi sana sini ama negara lain agar belanda menyerahkan semua "wilayah Indonesia" dan angkat kaki,. akhirnya pejuang kita berhasil,.. ya walau belanda ngembalikannya "nyicil" dan terakhir yg dipulangkan adalah Irian.,, :D

    Merdeka
    dan tergantung definisi Indo juga tentunya

    dari jamannya JP Coen (1621) dah berapa banyak orang Indo yg mate

    sistem penjajahan belanda beda sama Inggris

    belanda adalah negara pedagang dan negara konsumsi

    belanda menjajah negara jajahannya dengan monopoli perdagangan dan kerja paksa

    sedangkan inggris negara industri, menjajah negara jajahannya dengan monopoli harus beli ke dya

    copas ah dari web orang, males ngetik :smiley_beer:

    Perintah Seventeen Gentlemen (Heeren Zeventien) yaitu para direktur VOC di Amsterdam kepada Laksamana Pieterszoon Verhoeven berisi antara lain: "kami mengarahkan perhatian anda khususnya kepada pulau-pulau dimana tumbuh cengkeh dan pala, dan kami memerintahkan anda untuk memenangkan pulau-pulau itu untuk VOC baik dengan cara perundingan maupun dengan kekerasan" (Frederik W.S., Geschiedenis van Nederlandsch Indie, V.III, Amsterdam 1938-1940).

    Ekspedisi Verhoeven tiba di Banda Naira pada awal April 1609 dengan 13 buah kapal
    . Verhoeven membawahi sekurang-kurangnya 1000 orang bersenjata. Dalam sengketa yang terjadi dengan Orang-orang Kaya Banda, Verhoeven, Opperkoopman (pedagang senior) Jacob van Groenwegen beserta 26 orang Belanda lainnya terbunuh. Menurut Sejarah Banda, BHOI Kherang, Putri Raja Lautaka ikut berperang dalam peristiwa ini. Saat itu Jan Pieterszon Coen yang menjadi juru tulis Verhoeven nyaris terbunuh (Des Alwi, Sejarah Maluku 2005). Setelah Jan Pieterszon Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC yang baru, nasib Banda sepenuhnya ada di tangannya. Coen adalah pemimpin yang keras dan mempunyai prinsip; "yang kuat adalah yang benar", dan dialah yang kuat dan benar untuk menaklukkan Banda, Inggris dan Batavia. Visi Coen sama dengan pendahulunya yang lalim, bengis dan tidak berperikemanusiaan, yang telah merancang suatu rencana induk untuk mengukuhkan kekuasaan Belanda atas seluruh Asia. Pada tahun 1621 Coen bertolak dari batavia menuju Ambon dan Banda. Mereka tiba di Benteng Nassau 27 Pebruari. Dalam waktu 10 hari Coen menghimpun sebuah armada yang terdiri dari 13 kapal besar, 3 kapal kecil dan 6 perahu layar. Pasukannya berjumlah 1665 orang Eropa, 250 orang dari garnisun Banda, 226 orang hukuman dari Jawa dan 100 orang tentara bayaran Jepang.

    Pada 11 Maret 1621, Coen mendaratkan pasukannya pada 6 titik yang berjauhan, dengan tujuan untuk membingungkan pihak Banda yang bertahan dan menguasai pos-pos penting. Pada hari utu juga seluruh Banda Besar dikuasai. Keesokan harinya, 12 Maret, Pasukan Coen menyerbu dan mengambil alih kekuasaan atas pertahanan-pertahanan rakyat terakhir yang masih ada. Coen menuntut agar mereka merobohkan kubu-kubu pertahanan, menyerahkan semua senjata, berhenti menghasut dan menyerahkan anak laki-laki mereka sebagai sandera.

    Dalam suasana tegang seperti ini, seorang tokoh Orang Kaya Lonthoir, Kalabaka Maniasa menghadap Coen denga dewan perwiranya, bahwa Banda tidak akan tunduk dan menyerah. Letnan Laut Nicolas van Waert seorang saksi mata yang penuh kecemasan dan ketakutan, melaporkan rangkaian peristiwa yang terjadi pada tanggal 8 Mei 1961 sebagai berikut: "Keempat puluh empat tawanan-tawanan digiring ke dalam benteng (Fort Nassau) bagaikan sekawanan domba. Delapan orang yang paling berpengaruh dituduh sebagai pemicu kerusuhan. Sebuah kurungan bambu berbentuk bulat dibangun di luar benteng. Sambil terikat erat dengan tali dan dijaga ketat oleh penjaga, tawanan-tawanan itu dipaksa masuk. Hukuman mereka dibacakan dengan keras-keras di hadapan mereka, bahwa mereka telah bersekongkol untuk membunuh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen dan telah memutuskan perjanjian perdamaian. Enam orang serdadu algojo Jepang diperintahkan masuk ke pagar bambu dan merekalah yang memotong perut dan membedah tubuh kedelapan orang kaya itu dengan pedang yang tajam menjadi empat bagian. Sementara ketiga puluh enam tawanan lainnya juga mengalami nasib yang sama, dipenggal kepala dan dipotong-potong. Eksekusi ini ngeri untuk dilihat, para Orang kaya itu mati tanpa mengeluarkan sepatah katapun, kecuali seorang diantara mereka dengan tegarnya berkata: apakah tuan-tuan (berbuat demikian), tidak merasa berdosa?. Pihak VOC memang tidak ada belas kasihan apalagi merasa berdosa. Kepala dan potongan tubuh mereka yang telah dieksekusi ditancapkan pada ujung bambu dan dipertotonkan kepada masyarakat. Hanya tuhan yang tahu, siapa yang benar" (Luc Kiers. Coen Op Banda: de Qonqueste an Hetrech van Den Tijd, Utrecht 1943).

    Eksekusi ini dilaksanakan sesuai perintah tidak resmi Heeren Zeventien pada 1615 yang mengatakan bahwa: keberhasilan menjajah Kepulauan banda Naira dan menguasai rempah-rempah disana adalah dengan cara menghabiskan atau menghilangkan pimpinan sesepuh rakyat secara besar-besaran sehingga yang ditinggal tidak mempunyai pimpinan perlawanan. Menurut catatan sejarah, kekejaman Jan Pieterszoon Coen di Banda telah menghabiskan kurang lebih 60% rakyat Banda dari jumlah penduduk 14.000 jiwa. Jan Pieterszoon Coen, Heeren Zeventien, VOC adalah seperangkat nama-nama kejam, bengis, biadab dan tidak berperikemanusiaan, yang telah menyebabkan mengalirnya darah-darah syuhada Banda dalam mempertahankan harga diri dan kedaulatan negeri ini....Tanah Banda. Mari kita belajar dari sejarah. Sejarah perjuangan nenek moyang dan orang tua-tua kita sendiri. kalau bukan kita siapa lagi? Kitalah orang pertama yang harus tampil mewarisi dan mengemban semangat juang mereka untuk membangun Tanah Banda menuju masa depan yang lebih baik. -------------------- Dibacakan pada setiap Apel Kehormatan "Parigi Rante 08 Mei" di Banda Naira.
    Last edited by kurapnaga; 10-09-2009 at 11:30 AM.

  11. #10

    Join Date
    Jul 2009
    Location
    Perverted Mind
    Posts
    677
    Thank(s)
    0/16
    Rep Power
    6

    Default

    wuih panjang bener, but nice info bro...
    btw soekarno kelebihan 50 tahun...

Page 1 of 4 1234 LastLast

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
Indowebster is proudly powered by PT. Gudang Data Indonesia