Page 1 of 5 12345 LastLast
Results 1 to 10 of 41

Thread: [Caring] Kontroversi Surrogate Mother
http://idws.in/368840

  1. #1

    Join Date
    Jan 2012
    Location
    World of BOT
    Posts
    12,849
    Thank(s)
    3/31,284
    Blog Entries
    13
    Rep Power
    16

    Default [Caring] Kontroversi Surrogate Mother

    Kontroversi Ibu Pengganti Kehamilan di India
    Dalam budaya India memandang wanita yang mengandung bayi orang lain mirip seorang pezina.

    VIVAnews - Buah hati merupakan pelengkap kebahagiaan dalam rumah tangga pasangan suami-istri. Namun, bagi sebagian pasangan, kendala medis membuat si buah hati yang dinanti tak kunjung datang.

    Upaya akhir yang dilakukan adalah melalui program bayi tabung dengan ibu pengganti (surrogate mother).Tingginya biaya ibu pengganti kehamilan di Eropa dan Amerika Serikat membuat banyak calon ayah-ibu rela melakukan perjalanan ribuan kilometer mencari ibu pengganti di luar negeri. India, telah menjadi salah satu wilayah penghasil ibu pengganti dengan biaya terjangkau.

    Carolina, asal Irlandia, melakukan perjalanan 6.000 kilometer menuju India demi menemukan rahim bagi bayinya.

    Dan terpilihlah sang ibu pengganti, Sonal, 26. Wanita ini baru saja melahirkan bayi Carolina dan suaminya dan tidak akan pernah dia lihat seumur hidup. "Mereka langsung membawa pergi bayi saya segera setelah dilahirkan," katanya.

    "Saya tidak sadar ketika ia dilahirkan sehingga saya bahkan tidak melihatnya. Ketika bangun, saya bertanya pada ibu apa yang telah terjadi, dia mengatakan saya melahirkan anak perempuan."

    Wanita asal provinsi Gujarat barat, menghabiskan beberapa bulan terakhir di sebuah klinik khusus para ibu pengganti Akshanka di kota kecil Anand, jauh dari suami dan dua anaknya.

    Suami Sonal, hanyalah seorang pedagang sayur, dengan penghasilan 1.500 rupee sekitar Rp285ribu sebulan. Jumlah yang tidak cukup membiayai pendidikan yang ia inginkan bagi anak-anaknya. Ini adalah kehamilan penggantinya yang kedua, dan untuk itu ia mendapat 300.000 rupee sekitar Rp57,2 juta.

    "Saya senang. Saya akan memiliki rumah dan hidup nyaman dengan anak-anak saya. Saya akan mendidik mereka," katanya dikutip dari laman BBC. Selain Sonal, ada ibu pengganti lain yang juga tengah memelihara janin dari pasangan lain di rahim mereka.

    Meski rasanya tak seperti kehamilannya yang pertama, Sonal masih merasa buah hatinya dirampas orang lain. Saat menjadi ibu pengganti pertama kali, ia merasa tertekan dan menangis selama berhari-hari. "Saya sangat kehilangan bayi saya. Tetapi saya harus menyerahkannya." Ia pun menolak mengirimkan ASI-nya ke Irlandia bila tak bisa membesarkan anak yang ia kandung.

    Sejak diberlakukan, keberadaan ibu pengganti kehamilan telah menjadi bisnis menggiurkan di India. Pada 2012, uang yang dihasilkan dari sini diperkirakan mencapai U$2,3 miliar atau Rp19,8 triliun.

    Sang Ibu biologis bayi, Carolina, menyatakan, ibu pengganti adalah pilihan satu-satunya setelah dia didiagnosis menderita kanker serviks dan harus menjalani pengangkatan leher rahim. Meski dapat hamil dengan rahim sendiri, peluangnya sangat tipis. Sehingga bayi tabung ia pilih.

    "Bahkan sebelum saya menderita kanker saya ingin punya bayi," katanya. "Siapapun yang mengenal saya, mengatakan saya sangat pantas menjadi seorang ibu.

    Ia melanjutkan, "Saat memiliki penyakit ini saya berpikir terlalu lama berpikir akan benar-benar menghilangkan kesempatannya menjadi ibu."

    Stigma sosial
    Aturan mengenai ibu pengganti disahkan di India pada 2003, namun masih menuai kontroversi hingga kini.

    Menurut peraturan tersebut, ibu pengganti harus berusia 21-35 tahun dan menjalani lima kelahiran hidup, termasuk anak-anaknya sendiri. Ibu pengganti tak dibolehkan melepas sel telur mereka untuk pasangan orangtua biologis serta melepaskan hak apapun untuk anak yang dilahirkan.

    Sementara, para orangtua biologis, harus membuktikan bahwa mereka menikah dan bayi tabung dengan ibu pengganti diizinkan di negara tersebut. Negara ini juga melarang pasangan homoseks memperoleh bayi lewat ibu pengganti.

    Kendati India membolehkan adanya ibu pengganti, budaya setempat masih memandang wanita yang mengandung bayi orang lain--bagaimanapun caranya, mirip seorang pezina.

    Dokter spesialis bayi tabung (IVF) Dr Nayna Patel, yang menjalankan klinik Akshanka, menyadari adanya kritik terhadap praktek ibu pengganti. Tetapi ia berharap menghilangkan stigma negatif bahwa ibu pengganti merupakan eksploitasi.

    "Bila ada pasangan tidak subur dapet memiliki anak dan di sisi lain melihat taraf hidup wanita lain meningkat hingga mampu mendidik anak-anaknya, tak ada kritik yang dapat menyakiti Anda," ujarnya.

    sumber



    sebuah wacana juga muncul terkait hal ini ;

    Pesatnya perkembangan zaman melahirkan cara canggih dalam mereproduksi manusia, atau yang lebih dikenal dengan istilah fertilisasi in vitro atau bayi tabung. Pada hakikatnya program tersebut bertujuan untuk membantu pasangan sah suami-isteri yang mengalami infertil (keadaan kurang subur pada rahimnya) agar dapat memiliki keturunan. Permasalahan yang muncul selanjutnya adalah apabila sang isteri mengalami kelainan pada rahimnya yang mengakibatkan tidak dapat melahirkan, kemudian embrio tersebut ditanamkan dalam rahim wanita lain (surrogate mother) yang tentu saja bertentangan dengan hukum positif dan sebagian besar agama di Indonesia seperti Islam, Kristen Protestan, Katolik, dan Budha.
    Walaupun demikian surrogacy ini ternyata terjadi di Indonesia secara diam-diam, karena pada kenyataannya belum ada aturan yang secara jelas mengatur tentang surrogacy tersebut, aturan yang ada hanyalah mengenai proses bayi tabung yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Hal tersebut tentu saja berbeda dengan negara lain seperti Australia dan Amerika yang telah memperbolehkan surrogacy. Aturan mengenai surrogacy di Australia misalnya diatur dalam Surrogacy Act 2010 No.02 of 2010. Kemudian muncul berbagai pendapat mengenai adanya surrogacy, diantaranya tentang dilaksanankannya perjanjian surrogacy yang dilakukan oleh pasangan sah suami-isteri dengan ibu pengganti (surrogate mother) yang menurut Prof. Leenen adalah batal demi hukum.

    Pendapat lain juga dikemukakan oleh Sudikno Mertokusumo tentang status anak yang lahir melalui surrogacy adalah sebagai anak angkat. Berbeda halnya dengan sudut pandang ajaran Islam, anak yang dilahirkan dari rahim wanita lain (surrogate mother) dapat dianggap sebagai anak sesusuan. Oleh karena itu untuk mencegah praktek surrogacy yang dilakukan secara diam-diam maka sebaiknya undang-undang mengaturnya secara jelas dengan tetap mempertimbangkan nilai-nilai budaya dan agama yang ada di Indonesia, hal tersebut juga untuk mencegah pasangan sah suami-isteri melakukan surrogacy di luar negeri.

    Author: KURNIAWATI, ARI ; Basuki, Zulfa Djoko (Advisor)
    Topik: Bayi Tabung; Ibu Pengganti (Surrogate Mother); Hukum Perdata
    Bahasa: [ID ] (ID )
    Penerbit: Fakultas Hukum Unika Atma Jaya Tempat Terbit: Jakarta Tahun Terbit: 2011
    Jenis: Theses - Undergraduate Theses
    Fulltext: Ari Kurniawati's Undergraduate Theses.pdf
    Silahkan memberikan komentar yang baik dan jangan asal cuap-cuap!!! Tidak boleh ya
    Komentar bisa datang dari berbagai sudut pandang, mungkin akan menjadi bahasan yang menarik, semoga

    Sesuai bahasan ini ; saya kasih sebuah tautan sosok ibu pengganti yang sangat produktif.


    Carole Horlock ibu pengganti , telah melahirkan 12 bayi dalam 13 tahun - termasuk kembar tiga. Ini adalah rekor dunia untuk ibu pengganti paling produktif.

    "Ketika saya pertama kali menjadi ibu pengganti, saya berharap melakukannya hanya sekali," katanya.
    "Tapi aku sangat menikmatinya.. Setelah aku melahirkan bayi aku ingin melakukannya lagi."
    Dia dibayar rata-rata $ 25.000 hingga $ 30.000 untuk layanan tersebut.


    sumber
    komentar saya ;
    Sesuaikah nilai materi yang di dapat oleh seorang ibu yang mengandung dengan resiko yang diterima dalam menjalani masa kandungan itu??
    Last edited by ilm; 31-01-2014 at 09:55 PM. Reason: Tambahan

    Jomblo itu indah, nikmatilah selagi bisa
    Reply With Quote Reply With Quote

  2. Who Said Thanks:


  3. #2

    Join Date
    Feb 2009
    Location
    Above Earth
    Posts
    8,480
    Thank(s)
    0/74,316
    Rep Power
    12

    Default

    Sesuaikah nilai materi yang di dapat oleh seorang ibu yang mengandung dengan resiko yang diterima dalam menjalani masa kandungan itu??
    ini sih relatif om... kalo mandang dari segi moral ya memang gak sreg...

    tapi kan udah deal... alias suka sama suka... gak ada yang dirugikan...

    kalo kayak gitu sih udah selesai urusan...
    Reply With Quote Reply With Quote

  4. #3

    Join Date
    Jan 2012
    Location
    World of BOT
    Posts
    12,849
    Thank(s)
    0/31,284
    Blog Entries
    13
    Rep Power
    16

    Default

    Quote Originally Posted by gaara_hisoka View Post
    ini sih relatif om... kalo mandang dari segi moral ya memang gak sreg...

    tapi kan udah deal... alias suka sama suka... gak ada yang dirugikan...

    kalo kayak gitu sih udah selesai urusan...
    tapi kan peraturan ditiap negara beda2, apakah dg dalih suka sama suka sudah bisa menjadi dasar yg kuat untuk menempuh jalur kaya gitu?
    terus dalam hal kesehatan baik mental maupun fisik, apakah tidak mengganggu untuk hari2 kedepannya, entah itu bagi ibu kandung maupun bayi yang dilahirkan?

    Jomblo itu indah, nikmatilah selagi bisa
    Reply With Quote Reply With Quote

  5. #4

    Join Date
    Dec 2010
    Posts
    1,660
    Thank(s)
    0/3,931
    Blog Entries
    11
    Rep Power
    9

    Default

    kayak di pilem Chori Chori Chupke Chupke

    dimana ada orang yang membutuhkan pasti ada yang menyediakan, lepas dari aturan norma, religius.
    Reply With Quote Reply With Quote

  6. #5

    Join Date
    Feb 2009
    Location
    Above Earth
    Posts
    8,480
    Thank(s)
    0/74,316
    Rep Power
    12

    Default

    Quote Originally Posted by Iya_an View Post
    tapi kan peraturan ditiap negara beda2, apakah dg dalih suka sama suka sudah bisa menjadi dasar yg kuat untuk menempuh jalur kaya gitu?
    terus dalam hal kesehatan baik mental maupun fisik, apakah tidak mengganggu untuk hari2 kedepannya, entah itu bagi ibu kandung maupun bayi yang dilahirkan?
    se-simpel supply and demand aja...

    kalo gak ada yang minta, si calon surrogate mother juga gak bakal ada kayaknya om...

    ---------------------------------------

    mental - fisik ? bagaimana dengan hari ke depan si ibu kandung maupun bayi... lalala
    semua selesai ketika uang dibayarkan dari si pengguna ke si yang punya rahim... semua klausul [walaupun tidak tertulis] sudah disepakati kedua belah-pihak alias tahu-sama tahu dari awal...

    ibarat orang kepepet, waktu dikasih duit sih manut aja... gak mikir apa-apa...

    makanya -contoh- Carole Horlock menikmati betul jadi surrogate mother... karena memang gak ada paksaan apapun [dapet duid lagi ]

    ~~~~~~~~~~~~~~~
    Reply With Quote Reply With Quote

  7. #6

    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    34,104
    Thank(s)
    0/415,803
    Rep Power
    30

    Default

    dari segi kesehatan si bayi keknya gak masalah dah,
    asalkan si surrogate mothernya terpenuhi nutrisi dan gizinya,

    yang jadi permasalahannya, setelah dilahirkan si anak langsung diambil sama ibu aslinya,
    nah si ibu aslinya kan gak bisa menyusui si anak, karena gak akan punya ASI,
    soalnya syarat punya ASI kan hamil dan melahirkan (kalo gak salah, hehehehe)

    sehingga si anak dari sini, pasti sistem imunya gak terlalu kuat,
    kecuali si anak di susui dulu sampe beberapa waktu (1 hingga 2 tahun).
    ini terlepas dari pandangan agama ya
    Reply With Quote Reply With Quote

  8. #7

    Join Date
    Jan 2012
    Location
    World of BOT
    Posts
    12,849
    Thank(s)
    0/31,284
    Blog Entries
    13
    Rep Power
    16

    Default

    Quote Originally Posted by snnelwan View Post
    kayak di pilem Chori Chori Chupke Chupke

    dimana ada orang yang membutuhkan pasti ada yang menyediakan, lepas dari aturan norma, religius.
    jadi inget film indihe
    ato emang film itu diangkat karena adanya kasus2 semacam ini ya

    Quote Originally Posted by gaara_hisoka View Post
    se-simpel supply and demand aja...

    kalo gak ada yang minta, si calon surrogate mother juga gak bakal ada kayaknya om...

    ---------------------------------------

    semua selesai ketika uang dibayarkan dari si pengguna ke si yang punya rahim... semua klausul [walaupun tidak tertulis] sudah disepakati kedua belah-pihak alias tahu-sama tahu dari awal...

    ibarat orang kepepet, waktu dikasih duit sih manut aja... gak mikir apa-apa...

    makanya -contoh- Carole Horlock menikmati betul jadi surrogate mother... karena memang gak ada paksaan apapun [dapet duid lagi ]

    ~~~~~~~~~~~~~~~
    wah berarti sudah pake rumus ekonomi dong, dimana ada kebutuhan disitu muncul penyedia kebutuhan itu.
    dan jika semakin tinggi tingkat kebutuhan maka akan semakin tinggi pula nilai jualnya.
    takutnya ntar ditiru ama orang indo nih

    Quote Originally Posted by Sunday_KNIGHT View Post
    dari segi kesehatan si bayi keknya gak masalah dah,
    asalkan si surrogate mothernya terpenuhi nutrisi dan gizinya,

    yang jadi permasalahannya, setelah dilahirkan si anak langsung diambil sama ibu aslinya,
    nah si ibu aslinya kan gak bisa menyusui si anak, karena gak akan punya ASI,
    soalnya syarat punya ASI kan hamil dan melahirkan (kalo gak salah, hehehehe)

    sehingga si anak dari sini, pasti sistem imunya gak terlalu kuat,
    kecuali si anak di susui dulu sampe beberapa waktu (1 hingga 2 tahun).
    ini terlepas dari pandangan agama ya
    apakah dengan susu formula jaman sekarang masih kurang memadai untuk menyuplai sistem imun sbg pengganti ASI,
    termasuk perkembangan otak bayi yang udah di buatin susu dg kandungan DHA tinggi, dan lain sebagainya

    Jomblo itu indah, nikmatilah selagi bisa
    Reply With Quote Reply With Quote

  9. #8

    Join Date
    Nov 2012
    Location
    F287
    Posts
    54
    Thank(s)
    2/21
    Rep Power
    0

    Default

    Quote Originally Posted by Iya_an View Post
    apakah dengan susu formula jaman sekarang masih kurang memadai untuk menyuplai sistem imun sbg pengganti ASI,
    termasuk perkembangan otak bayi yang udah di buatin susu dg kandungan DHA tinggi, dan lain sebagainya
    hmm

    ASI diproduksi karena pengaruh hormon prolactin dan oxytocin setelah kelahiran bayi. ASI pertama yang keluar disebut kolostrum atau jolong yang mengandung banyak immunoglobulin IgA yang baik untuk pertahanan tubuh bayi melawan penyakit. Sehingga pemberian ASI menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang Ibu.
    Dari banyak buku dan artikel yang aku baca, keunggulan ASI dibanding susu formula. ASI bisa memasok gizi ideal sesuai keperluan sang anak. Asupan gizi dipenuhi dengan lengkap dan seimbang, tidak kurang maupun berlebihan. Itu berjalan secara otomatis tanpa perlu sang ibu untuk menakarnya.
    http://pangerankarya.blogspot.com/20...i-bisakah.html

    Show kelebihan ASI dibandingkan susu formula

    Kelebihan ASI dibanding susu formula:
    • Komposisi ASI dapat berubah tiap waktu. Uniknya komposisi ASI disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan bayi. Pada hari hari pertama, dimana lambung bayi masih sangat kecil (sebesar kacang tanah) jumlah kolostrum pun hanya sedikit. Kekebalan bayi yang rendah saat lahir, dilindungi oleh kolostrum yang kandungan zat kekebalan nya sangat tinggi. Sistem pencernaan bayi yang belum sempurna, disempurnakan oleh komposisi ASI yang mempermudah penyerapan sehingga dapat dipergunakan oleh tubuh Bayi. Saat bayi lapar, dan menyusu lebih lama pada ibunya, maka kandungan ASI yang didapat akan lebih kental dan padat sehingga bayi kenyang. Perubahan komposisi ASI juga berubah pada keadaan ibu sakit. Bila ibu sakit flu, komposisi ASI akan disertai anti flu, yang dapat melindungi bayi dari sakit flu itu sendiri. Susu formula tidak mungkin memiliki komposisi yang berubah-ubah.
    • Pencernaan bayi belum sempurna untuk masuknya lemak, sedangkan dalam ASI sudah disiapkan enzim lipase yang membantu mencerna lemak, dan enzim ini tidak terdapat pada susu formula.
    • ASI mengandung asam lemak esensial (termasuk DHA )yang tidak terdapat di dalam susu formula. Asam lemak esensial ini dibutuhkan untuk pertumbuhan otak, mata dan kesehatan pembuluh darah bayi.
    • ASI tidak mengakibatkan bayi mengalami konstipasi seperti yang sering dikeluhkan pada bayi yang mengonsumsi susu formula.
    • ASI mengandung banyak protein jenis Whey yang mudah dicerna, sehingga bayi yang mendapat ASI akan lebih sering atau lebih cepat merasa lapar ingin disusui. Sering menyusui ini berdampak sangat baik dalam meningkatkan produksi ASI, terutama di malam hari (bayi baru lahir akan lebih bangun di malam hari, dan inipun baik untuk meningkatkan produksi ASI)
    • Susu formula mengandung lebih banyak protein dengan jenis kasein yang sulit dicerna oleh sistem pencernaan bayi sehingga memudahkan bayi terkena alergi dan obesitas. Buktinya ada penelitian yang menyebutkan bahwa bayi yang mendapat ASI tidak segemuk bayi dengan susu formula.
    • Pada tahun pertama, bayi sangat rentan terhadap penyakit. ASI mengandung sel-sel darah putih dan sejumlah faktor anti infektif yang melindungi bayi dari infeksi. ASI juga mengandung antibodi terhadap berbagai infeksi yang pernah dialami ibu sebelumnya. Hal ini tidak didapat pada susu formula.
    • Bayi yang diberikan ASI dibandingkan dengan yang diberikan susu formula akan 7 kali lebih jarang terkena radang paru-paru, dan 4 kali tidak terkena radang otak atau meningitis.
    • Anak yang diberi ASI, 16 kali jarang dirawat di Rumah Sakit dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula.
    • Di dalam ASI juga terkandung Vitamin C, sehingga bayi ASI tidak perlu mendapat suplemen vitamin C, vitamin C biasanya diberikan untuk bayi-bayi yang diberi susu formula.
    • Semua jenis susu mengandung sedikit zat besi sekitar 100ml, atau 0.5-0.7mg/i, namun perbedaannya zat besi yang ada pada ASI dapat dicerna maksimal sampai 50% oleh bayi, berbeda dengan zat besi yang ada pada susu hewan yang hanya 10% saja. Zat Besi sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia sehingga tidak terserang anemia (kekurangan darah akibat defisiensi zat besi).
    • Tingkat IQ anak yang diberi ASI memiliki poin 4.3 lebih tinggi daripada anak yang diberi susu formula pada usia 18 bulan. Memiliki 4-6 poin lebih tinggi pada usia 3 tahun, 8.3 poin lebih tinggi pada usia 8.5 tahun. Dan 12.9 poin pada usia 9.5 tahun.
    • Kandungan Docosahexanoic Acid (DHA) dalam ASI sangat sesuai dengan yang dibutuhkan oleh bayi, dan kandungannya yang lebih lembut memungkinkan usus bayi dapat menyerapnya lebih optimal dan tidak membutuhkan energi banyak untuk mencernanya. Sedangkan dalam susu formula, kandungan DHA-nya berlebihan, sehingga akan membahayakan metabolisme tubuh bayi, sebab tubuh dipaksa untuk mengeluarkan asam lemak esensial.
    • Proses menyusui membuat bayi peka pada rangsangan terhadap ke 5 panca indera bayi. Rangsangan terhadap 5 pancaindera adalah rangsangan yang dapat ditangkap dengan baik oleh bayi. Rangsangan alamiah yang terus menerus didapatkan bayi yang disusui ini pula, yang memberi kesempatan pada otak bayi untuk mendapat stimulasi terus menerus.
    • Tentu saja yang jelas ASI lebih praktis dan ekonomis dibanding dengan susu formula.


    http://klinikdrtiwi.com/q-a-a/65-asi...u-formula.html


    ternyata walau susu formula baik, susu formula tetap tidak bisa menggantikan kandungan ASI alami ibu
    Reply With Quote Reply With Quote

  10. Who Said Thanks:


  11. #9

    Join Date
    Jan 2012
    Location
    World of BOT
    Posts
    12,849
    Thank(s)
    0/31,284
    Blog Entries
    13
    Rep Power
    16

    Default

    Komposisi ASI dapat berubah tiap waktu.
    saya baru tahu ini,
    ternyata begitu dinamisnya mengikuti perkembangan si bayi, emang kontrolnya dari mana ya?
    kalo formula kan udah jelas komposisi di atur sama pabrikan segitu, jadi gak mungkin bisa sedinamis ASI.
    lagian yang bisa di ikuti oleh susu formula hanya memberikan batasan, Susu model A dari umur sekian sampai sekian, Susu B juga seterusnya.

    ternyata bener2 top deh

    Jomblo itu indah, nikmatilah selagi bisa
    Reply With Quote Reply With Quote

  12. #10

    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    34,104
    Thank(s)
    1/415,803
    Rep Power
    30

    Default

    Quote Originally Posted by Iya_an View Post
    apakah dengan susu formula jaman sekarang masih kurang memadai untuk menyuplai sistem imun sbg pengganti ASI,
    termasuk perkembangan otak bayi yang udah di buatin susu dg kandungan DHA tinggi, dan lain sebagainya
    rupanya udah ada yang nge jawab
    yup, emang tidak akan ada susu yang mampu menggantikan ASI,
    terutama yang bagian colestrum,

    pada pengolahan pangan, khususnya di bidang susu,
    sumber susu kan ada yang dari sapi, sapi juga punya colestrum,
    tapi dalam pengambilan susu sapi ini ada etika, dimana susu pertama keluar tidak boleh di ambil,
    karena untuk anaknya si sapi,

    susu colestrum emang paling bagus pas pertama kali keluar dan langsung dikasih ke si bayi,
    nah kalo si anak langsung di ambil otomatis gak dapat dong,
    sehingga ada kemungkinan si anak cacat sistem imunya,
    Reply With Quote Reply With Quote

  13. Who Said Thanks:


Page 1 of 5 12345 LastLast

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
Indowebster is proudly powered by Maxindo Content Solution