Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 10 of 20

Thread: Ternyata Sepatu Bata "Bukan Asli Indonesia"
http://idws.in/50524

  1. #1

    Join Date
    Nov 2008
    Location
    Central Borneo
    Posts
    4,622
    Thank(s)
    0/27,585
    Blog Entries
    43
    Rep Power
    10

    Thumbs up Ternyata Sepatu Bata "Bukan Asli Indonesia"

    Show
    Sepatu Bata sudah wira-wiri di Tanah Air sejak 1931, sekian lama merek Bata melekat di benak hingga banyak yang menganggapnya asli Indonesia (termasuk saya sendiri). Apalagi pabrik pertama sepatu ini berlokasi di Kalibata, Jakarta Selatan. Banyak yang mengira-ngira, nama Bata diambil dari nama kawasan itu. Sesungguhnya sebagaimana ditilis dalam TEMPOinteraktif merk Bata diambil dari nama pendirinya, Tomas Bata, pengusaha asal Cekoslovakia. Nama Kalibata sendiri punya sejarah lain. Konon nama itu muncul karena sungai di kawasan itu kerap dilalui rakit pembawa batu bata dari Bogor menuju Jakarta.


    Sepatu Bata masuk ke Tanah Air sejak 1931 lewat jalur impor, didatangkan dari Singapura (dulu Malaya). Pengimpornya perusahaan penyalur sepatu NV Nederlandsch-Indische di kawasan pergudangan Tanjung Priok. Enam tahun kemudian, Tomas Bata, sang pemilik, membangun pabrik raksasa di tengah-tengah perkebunan karet di Kalibata. Banyak warga sekitar (Rawajati, Kalibata) yang turuntemurun bekerja di Bata.


    Dari sinilah bisnis sepatu Bata menggurita ke seluruh pelosok Tanah Air. Waktu itu sepatu kulit dan karet jadi andalan. Hampir 90 persen bahan baku dipasok dari dalam negeri. Bata menikmati masa jaya hingga era 1980. Hampir semua orang yang besar di era itu pernah menjajal sepatu ini.


    Pada 24 Maret 1984, perusahaan associate dari Bata Shoe Organization yang berpusat di Lusanne, Swiss, itu tercatat di Bursa Efek Jakarta sebagai PT Sepatu Bata Tbk. Di tengah kepungan berbagai merek sepatu yang membanjiri Tanah Air, Bata yang kini dipegang oleh generasi ketiga, Thomas G. Bata, berusaha bertahan dengan mengedepankan kualitas yang sudah digaungkan secara turun-temurun dan harga terjangkau. Dua strategi ini membuat perusahaan modal asing itu tak jatuh diguncang badai krisis ekonomi yang menghajar Indonesia pada 1997-1998.


    Pada 2008 mereka memindahkan pabrik dan pusat distribusi dari Kalibata ke Purwakarta. Bata kini mengeluarkan merek alternatif seperti North Star, Power, Bubblegummers, dan Marie-Claire. Distribusi pemasaran terus digenjot, dari mal besar sampai toko-toko Bata di pinggir jalan.


    Code:
    http://muhammadsoleh.blogspot.com/2009/10/ternyata-sepatu-bata-bukan-asli.html
    Show
    Sekitar 10.000 pasang sepatu dan alas kaki lainnya dari lima benua menghuni Museum Sepatu Bata, museum sepatu terbesar dan terlengkap di dunia. Demi melengkapi koleksi museumnya di Kanada itu, Sonja Bata, istri pengusaha sepatu Bata, rela merambah belahan dunia mana saja untuk berburu sepatu. Dari pasar di Tibet yang berdebu hingga Kutub Utara yang beku.


    Tahun 1992, misalnya, ia pergi ke tempat terpencil dan beku di Arktika. Kabarnya, di kawasan itu ada seorang perempuan tua yang bisa membuat kamiks, sepatu lars dari kulit anjing laut, secara tradisional.

    “Konon wanita itu memakai urat untuk menjahit sepatu, bukan benang pembersih gigi seperti umum dipakai sekarang. Tentu saya ingin mengkoleksinya,” kisah Sonja Bata.

    Pembuatnya memang seorang nenek yang sudah keriput. Menurut anak perempuannya, “Kulit anjing laut keras. Jadi, ongkos pembuatannya sama dengan satu set gigi palsu baru!”

    Gedungnya dus sepatu terbuka

    Itu cuma satu pengalaman Sonja Bata mengoleksi alas kaki. Kini koleksi sejak lebih dari 50 tahun silam dipamerkan di museum dengan namanya sendiri, Museum Sepatu Bata, di Toronto, Kanada. Koleksinya lebih dari 10.000 pasang sepatu dari semua benua.

    Museum yang dibuka Mei 1995 itu ingin menunjukkan, sepatu bukan sekadar alas kaki, tetapi jendela sejarah manusia. Koleksi yang tertua berumur 5.000-an tahun. Ada juga sepatu tenunan bekal jenazah di makam kerajaan di Thebes kuno, sepatu besi padanan baju zirah abad XV dari Jerman, sepatu lars Ratu Victoria dari Inggris, dan sepatu lars kulit bebek eider milik orang Inuit di Kutub Utara.

    Cara mendapatkannya? “Saya 'kan menikah dengan pengusaha sepatu, Thomas Bata,” jawab Sonja enteng.

    Sejak beberapa generasi keluarga Bata membuat sepatu di Desa Zlin, Cekoslowakia. Mereka menjadi kaya raya saat membuka pabrik sepatu dan membangun industri itu di negerinya. Perusahaan mereka pun memasok sepatu ke seantero dunia.

    Tahun 1939, saat Nazi bergerak menguasai Eropa, Thomas Bata memindahkan perusahaannya ke Kanada. Thomas menikahi Sonja yang asal Swis pada 1946. Sonja membantu suaminya membangun kembali bisnis keluarga Bata.

    Saat berkunjung ke pabrik-pabrik keluarga di seluruh dunia, Sonja tertarik pada alas kaki tradisonal dan mengadaptasinya untuk produksi massal. Ia sadar, gaya Barat mendesak gaya lokal, yang bisa melenyapkan teknologi dan warisan budaya itu.

    Koleksinya tidak muat lagi di bagian arsip markas Bata di Toronto. Maka dibangunlah museum sekaligus sebagai sumbangan budaya bagi Toronto. Bangunan bertingkat lima rancangan arsitek Kanada berbiaya AS $ 12 juta itu berbentuk unik, seperti dos sepatu yang terbuka tutupnya.

    Sepatu anti-selip manusia es

    Membuat sepatu adalah salah satu keterampilan tertua di dunia. Peralatan dan teknik selama ribuan tahun pada dasarnya sama, meski gaya, bentuk, dan fungsi sepatu terus berubah, yang mencerminkan kehidupan pemakai dan lingkungannya.

    Sayangnya, tak semua sepatu dari berbagai masa mudah dilacak, misalnya sepatu zaman prasejarah. Konon “sepatu” pertama berbahan kulit kayu atau bagian lain tumbuhan itu untuk melindungi kaki dari tanah dan cuaca dingin.

    Akhir Zaman Batu meninggalkan serpih alat batu yang tajam, diduga untuk mengolah kulit bahan pembuat pakaian dan sepatu. Sayangnya, tak ada peninggalan penutup kaki dari zaman 500.000 tahun lampau itu.

    Sepatu masa 15.000 tahun silam bisa dilihat pada lukisan-lukisan gua di Pegunungan Pyrenea. Tahun 1991 di Pegunungan Alpen, Italia, ditemukan mayat utuh berusia 5.300 tahun berkat tertutup es dan kekeringan. “Manusia Es” itu berpakaian dan bersepatu kulit yang dilapisi jala berisi rumput untuk menahan dingin. Jala serupa dipasang di bagian telapak agar tak tergelincir.

    Di gua-gua prasejarah di Missouri, Amerika, juga ditemukan sandal antiselip dari jalinan serat tumbuhan berusia sekitar 8.300 tahun. Bisa jadi sandal ini cocok pula untuk para orang kaya yang gila mode di South Beach, Miami, atau di Côte d'Azur, Perancis, abad ini.

    Lambang status sosial

    Sepatu terkadang menjadi simbol status dan kepercayaan yang dianut. Misalnya di Mesir kuno, Yunani kuno, dan Romawi, sehingga sepatu hanya dipakai oleh orang kaya dan penguasa. Di masyarakat Yoruba, Nigeria, status ningrat ditandai oleh jumlah manik-manik dan gambar pada larsnya. Di zaman Victoria, Inggris, kaum wanita memakai rok yang menyapu lantai untuk menutupi kaki, yang sudah tersembunyi di balik lars setinggi mata kaki.

    Di bagian “Sepatu dan Agama” di Museum Bata, ada sandal gading milik penganut agama Jain di India. Sandal itu dirancang seminimal mungkin menyentuh tanah agar pemakai tidak menginjak serangga.

    Ada pula lars coklat kusam bertali kulit kasar yang dibuat dengan kasar pula, yaitu halizah. Menurut adat Yahudi lama, bujangan wajib menikahi janda saudara laki-lakinya, asalkan janda itu tidak beranak. Agar bebas, diadakan upacara di muka umum di mana si janda melepaskan ikatan tali dan melepaskan sepatu iparnya.

    Sepatu tinggi bukan hanya mode zaman kini. Sepatu bersol tebal milik bintang rock David Bowie dan Madonna mirip dengan sepatu dari peradaban 7.000 tahun silam di teater Yunani. Saat itu dramawan Aeschylus menampilkan para aktornya dengan sepatu bersol tebal dari gabus agar tampak lebih jangkung dari orang biasa.

    Konon sepatu berhak tinggi dimulai di kalangan elite Eropa yang di akhir masa Renaissance senang tampil megah. Dengan sepatu itu mereka merasa status sosialnya juga naik, selain terlindungi dari kotoran di jalan.

    Sepatu yang populer di kalangan pria maupun wanita itu merupakan perkembangan dari sol tinggi di Timur berabad-abad sebelumnya dan masuk Eropa lewat perdagangan antara Turki-Venesia. Lucunya, orang-orang kaya Venesia membuatnya jauh lebih tinggi. Benar, setinggi 60 cm! Saat berjalan sampai harus dipapah dua pelayan. Rakyat kecil pun meniru, kelas elite yang tidak mau disamai pun meninggalkan mode itu. Yang terakhir memakainya ialah para pelacur Venesia yang jor-joran ingin tampil lebih. Itu lain dengan sepatu Jepang yang bersol seperti bagian bawah rumah panggung. Sepatu setinggi semeter itu sangat membantu saat memanen jeruk.

    Selain tinggi, sepatu pernah bersosok panjang. Di abad XIV, muncul demam sepatu berujung sangat panjang dan lancip, yang kini mungkin dianggap lucu dan cocok untuk badut. Raja Inggris Edward III (1312-1377) membatasi panjang ujung sepatu untuk rakyat hanya sampai 15 cm, kelas menengah 30 cm, dan ningrat sampai 75 cm. Agar tak tersandung, ujung sepatu dikaitkan ke betis dengan rantai. Mode merepotkan dan aneh serta tidak disetujui oleh gereja itu bertahan sampai dua abad.

    Soal ukuran sepatu, jangan lupa peran Edward I (1239-1307) yang menentukan ukuran standarnya. Tahun 1305 Raja Inggris itu memberlakukan ukuran standar. Caranya, tiga deret biji jelai adalah satu inci. Karena panjang kaki Edward II (1284-1327) sama dengan deretan 36 biji jelai (12 inci), maka 12 inci lalu disebut satu kaki.

    Mode dulu dan sekarang

    Dulu sepatu yang in hanya bisa dimiliki orang kaya. Rakyat jelata beruntung kalau punya sepasang sepatu kuat untuk bekerja. Sebaliknya, Marie Antoinette, Ratu Perancis yang dipancung dengan guilotine tahun 1793, konon punya satu pelayan khusus mengurus 500 sepatunya.

    Di abad XIX hampir semua orang di Amerika bisa bersepatu karena sudah bisa dibuat dengan mesin. Namun, tahun 2000 orang miskin yang telanjang kaki masih banyak didapati di berbagai belahan dunia. Ironisnya, Imelda Marcos “mengoleksi” sampai 3.000 pasang sepatu. Ia memang salah seorang pemilik sepatu terbanyak. Satu sepatunya yang berbahan satin ada di Museum Bata.

    Sepatu lars yang sudah lama ada, beberapa tahun silam pernah mode kembali, terutama lars untuk bekerja buatan Doc Martens. Sepatu kanvas bersol karet pun sudah ada tahun 1860-an di Inggris, untuk bermain kriket. Selain mode, sepatu itu disukai karena enak dipakai dan terjangkau harganya. Atlet Michael Jordan mempopulerkan sepatu kets serupa tapi tak sama dan mulai disukai tahun 1970-an.

    Gara-gara mode, orang pun rela menderita. Perempuan Cina zaman dulu memakai sepatu sutera bersulam sangat indah, yang ukurannya cuma 12,5 cm! Sejak kecil kaki mereka ditekuk lalu diikat erat-erat selama bertahun-tahun untuk membentuk “kaki lotus”. Meski menyulitkan saat berjalan, kaki cacat ini lambang status tinggi, dan dinilai sangat erotik. Kebiasaan itu dilarang sejak 1911 ketika Cina menjadi republik.

    Hingga kini menyiksa kaki demi keindahan masih dianut. Survei di Amerika menunjukkan, 45% wanita memakai sepatu kekecilan, berujung menjepit, dan berhak tinggi ramping agar tampak anggun. Akibatnya? Tulang kaki dekat ibu jari bisa menonjol, serta melelahkan otot-otot tungkai dan bikin sakit punggung.

    Sepatu pemerah buah

    Banyak informasi dalam bentuk aneka program pendidikan di Museum Bata. Di antaranya, presentasi hubungan antara sepatu dengan hortikultura. Misalnya, kelom kayu Belanda yang dasarnya datar untuk memadatkan tanah saat menanam tulip.

    Di museum juga ditampilkan sejumlah sepatu dengan kegunaan khusus. Misalnya sepatu pesanan Angkatan Darat AS untuk tentara yang berperang di Vietnam tahun 1960-an. Bagian solnya dibuat serupa sol sandal para Vietkong, agar jejak mereka tersamar.

    Ada pula sepatu yang mengerikan karena dasarnya ditanami batang logam bergerigi seperti gergaji, mirip alat penyiksa. Ternyata sepatu itu untuk menginjak-injak buah berangan di Perancis di abad XIX. Air perahannya dipakai dalam industri kulit.

    Sebaliknya, sepatu-sepatu terbuka warna-warni dari Bolivia tampak tidak berbahaya, padahal ujungnya dipasangi logam dan solnya diberi paku-paku, yang bisa mematikan bila untuk berkelahi.

    Aktor Robert Redford menyumbang sepasang sepatu koboi. Koboi sejati memakai sepatu lars seperti milik serdadu AS zaman Perang Saudara. Haknya rendah, longgar di kaki, dengan bagian depan lebar. Itu berbeda dengan sepatu koboi dalam film, yang berhak tinggi, bagian depan lancip dan dihiasi paku-paku serta jahitan. Sebenarnya, sepatu koboi film diilhami milik penunggang kuda Spanyol. Ujung lancip memudahkan sepatu masuk sanggurdi, dan hak tinggi mencegah tergelincir dari sanggurdi. Gaya ini masuk AS lewat Meksiko dan dipopulerkan oleh tokoh koboi Hollywood, Tom Mix, tahun 1920-an.

    Sayangnya, tidak dipamerkan sepatu dari Australia yang terbuat dari jalinan rambut manusia campur bulu emu. Konon sepatu itu dipakai algojo bangsa Aborigin, padahal umumnya orang Aborigin seharian bertelanjang kaki. Rupanya, sepatu itu untuk menyamarkan jejak dan melindungi anonimitasnya.

    Kaus kaki Napoleon

    Di bagian “Star Turns”, dipamerkan sepatu orang terkenal. Ada sepatu milik mantan PM India, Indira Gandhi. Sepatu hitam berhak rendah itu sangat kontras dibandingkan sepatu merah berhak tinggi kecil milik Marilyn Monroe.

    Sepatu tertutup berwarna merah keunguan buatan tahun 1985 bekas milik Putri Diana ada di museum ini. Juga sepatu bersol tebal berhiaskan permata milik Elton John. Sepatu itu menyulitkan dia bermain piano, tapi membuatnya lebih tinggi 12,5 cm. Kata Elton, sepatu itu kurang mencolok untuk dipakai dalam pertunjukan. Jadi, paling-paling untuk shopping.

    Ada juga lars loreng-loreng mirip zebra bekas milik Picasso, sepatu tertutup berhak tebal berwarna pink menyala punya Madonna, dan sepatu pantofel putih biru yang lama dipakai raja rock Elvis Presley.

    Sayangnya, museum ini tidak menyimpan sepatu Napoleon. Yang ada cuma kaus kakinya. Napoleon memang tidak suka memakai sepatu baru. Ia biasa menyuruh orang lain memakainya dulu. Kalau sudah enak dipakai, baru ia mau. Tapi di museum ini ada sepatu lars musuh besar Napoleon, Duke of Wellington. Wellington memesannya sesaat sebelum mengalahkan Napoleon di Waterloo.

    “Melestarikan sepatu meluaskan pengetahuan tentang cara hidup yang hampir punah,” kata Sonja yang ingin mengoleksi sepatu dari kebudayaan asli yang tidak dikenal luas. Sekarang museumnya sudah memamerkan paduka, sandal jepit tradisional India bersol tebal dengan pentolan dari gading atau perak. Saat di India, ia sering menukar alas kaki yang dipakai orang di jalan dengan sepatu baru dari pabriknya.

    “Kalau lemari pajang orang lain berisi porselen, maka lemari pajang di rumah saya berisi paduka yang cantik.”

    [Alyse Frampton. Majalah Intisari, Juli 2000]

    Code:
    http://omnilogos.blogspot.com/2008/12/unik-dan-cantik-di-museum-bata.html

    Show
    Thomas Bata, Pembuat Sepatu Bagi Dunia

    Bicara soal Bata berarti bicara soal sepatu (dan sandal). Dunia sepertinya sepakat soal itu. Bata adalah "pembuat sepatu bagi dunia". Orang di balik semua itu, Thomas Bata, pada 1 September lalu meninggal dunia. Thomas Bata yang berdarah Ceko meninggal pada usia 93 tahun di sebuah rumah sakit di Toronto, Kanada.

    Leslie Tenenbaum dari pihak Bata tidak menjelaskan penyebab kematian Thomas Bata. Namun, yang pasti, Bata dan perusahaannya saat ini membuat 300 juta pasang sepatu setiap tahun bagi dunia. Dan, semuanya berawal dari Zlin, Cekoslowakia, pada awal tahun 1900-an.

    Saat Bata lahir di Praha, 17 September 1914, ayahnya sudah memproduksi sepatu sejak tahun 1894. Thomas secara bertahap terlibat dalam bisnis keluarga ini. Dia mulai terlibat penuh setelah ayahnya wafat dalam kecelakaan pesawat tahun 1932.

    Sonja Sinclair, penulis biografi Thomas Bata, Bata, Pembuat Sepatu bagi Dunia, menyebutkan, saat Eropa terancam invasi tentara Nazi Jerman, Bata mulai memikirkan memindahkan industrinya dari Eropa. Dia memilih pindah ke Kanada dengan alasan yang sangat sederhana.

    ”Semata karena kisah romantis soal wilayah barat yang liar dan eksplorasi di utara (Kanada) yang sering dibacakan ibunya saat dia kecil,” tulis Sinclair, mengutip Bata. Kanada saat dia tiba tahun 1939 ternyata tertinggal dibandingkan dengan Eropa.

    Namun, Bata sudah telanjur cinta Kanada. Kantor pusat didirikan, alternatif dari kantor di Ceko. Awalnya, Bata tidak terlalu didukung. Dia hanya boleh mengimpor 100 pekerja sepatu dari Zlin dari 250 yang diminta. Kanada saat itu mengalami pengangguran akut.

    Batawa

    Pabrik dibangun di tenggara Ottawa. Pabrik dan produknya bernama Batawa, singkatan dari Bata dan Ottawa. Merek ini menjadi seri pertama dari produk keluaran Bata di seluruh dunia. Saat Perang Dunia II, Bata ikut berperang bersama tentara Kanada.

    Perang membuat semua pabrik Bata di Eropa hancur. Pabrik di Zlin relatif utuh, tetapi diambil alih pemerintah. Namun, segala aset penting tetap dikuasai keluarga Bata. Situasi pascaperang membuat Bata memikirkan melebarkan investasi ke seluruh dunia.

    Asia dan Afrika menjadi incaran utama. Di Afrika, Bata kadang harus berunding dengan para pemimpin yang fasis, seperti Idi Amin di Uganda. Bata harus menutup pabriknya di Afrika Selatan atas desakan Pemerintah Kanada berkenaan dengan kebijakan antiapartheid.

    Bata kini punya 40.000 pekerja di sejumlah pabrik di 25 negara. Kini Thomas George Bata, putra Thomas Bata, meneruskan pengelolaan.

    Thomas Bata masih sibuk mengurusi pabrik di usia lanjutnya. Di kartu namanya tertulis ”Pemimpin Penjual Sepatu”. Dia bahkan berencana tur ke Eropa. Rencana yang tinggal rencana.

    Sumber: www.kompas.com

    Code:
    http://karodalnet.blogspot.com/2008/09/thomas-bata-pembuat-sepatu-bagi-dunia.html
    Code:
    http://id.wikipedia.org/wiki/Bata_%28perusahaan%29
    Show
    PT. Sepatu Bata Tbk merupakan perusahaan manufaktur sepatu yang berada dibawah naungan ( BSO) Bata Shoe Organization yang berpusat di toronto (Kanada). Produksinya antara lain adalah sepatu kulit, sendal, sepatu kasual, sepatu olah raga dan lain-lain. Lisensi yang dimilikik perusahaan ini antara lain North Star, Power, Bubblegummer, Marie-claire dan Weinbrenner.

    Kegiatan Usaha Bata Shoe Organization ini meliputi 60 Negara diseluruh dunia, yaitu :

    • Afrika (Bostswana, Congo (RDC), Kenya, Malawi, Mauritius, Afrika Selatan, Uganda, Zambia, Zimbabwe)
    • Asia Pasific (Australia, Bangladesh, China, India, Indonesia, Jordan, Lebanon, Malaysia, New Zealand, Pakistan, Singapore, Sri Langka, Thailand, UAE)
    • Eropa (Austria, Bosnia Herzegovina, Bulgaria, Kroasia, Cyprus, Chech Republik, Estonia, French Guyana, Greece, Guadeloupe, Holland, Italy, Kosovo, Latvia, Lithunia Matinique, Poland, Portugal, Romania, Russia, Serbia, Slovakia, Slovenia, Spain, Sweden, Switzerland, Turkey, Ukraina,
    • Amerika Utara ( Kanada)
    • Amerika Latin (Bolivia, Chile, Colombia, Ecuador, Mexico, Nikarague, Peru).


    Sejarah perkembangan Berdirinya adalah sebagai berikut :
    1894 Nama Bata berasal dari nama pemiliknya yaitu Bata Bersaudara ( Tomas, Anna dan Antonin). Ketiganya memulai usaha pembuatan sepatu ini.
    1895 usaha ini dilanjutkan hanya oleh Tomas, karena Anna menikah sedangkan Antonin masuk Akademi Militer.
    1897 Tomas memperkenalkan “Batoyka” proses produksi massal di Industri persepatuan.
    1909 Ekspor pertama ke Jerman dan Balkan (timur tengah)
    1917 Sales meningkat mencapai 2 Juta pasang pertahun, jumlah karyawan mencapai 5000 orang.
    1922 Penjualan meningkat dengan memberikan diskon 50 % dalam kondisi resesi ekonomi dunia setelah perang dunia pertama
    1925 diperkenalan “Bata System” yaitu adanya pembagian keuntungan kepada karyawan (Employee Profit sharing)
    1929 Dengan dikenakannya pajak atas barang-baran Import (customs Tariff) bata mensiasatinya dengan mendirikan pabrik dibeberapa negara yaitu di Swiss, Jerman, Inggris, Prancis, Yugoslavia, Polandia, Belanda, Amerika Serikat dan India.
    1932 Tomas Bata meninggal dalam suatu kecelakaan pesawat terbang. Usaha dilanjutkan oleh anaka Thomas J Bata yang melakukan diversifikasi memproduksi Ban, pesawat terbang, sepeda dan mesin.
    1939 Perusahaan Bata telah berkembang menjadi 63 perusahaan diberbagai industri, dengan menjadikan Industri sepatu sebagai Core Bisnisnya dengan pernjualan lebih dari 60 Juta pasang sepatu per tahun di 30 negara.
    1940 Pusat pengendalia usaha berpusat d Batawa, toronto Kanada dibawah kepemimpinan Thoma J Bata.
    1945 Seluruh perusahaan Bata yang berada di Eropa Timur di ambil alih oleh pemerintahan Komunis.
    1990 an Peningkatan inovasi produk, dan usaha peningkatan kualitas dijadikan sebagai kebijaksanan perusahaan sehingga menghasilkan kualitas tinggi.
    1995 dibuka kembali perusahaan bata di Eropa Timur, Russia, Polandia, kroasia dan Slovenia.
    1999 Dilakukan Orientasi Ulang Manufakturing, pembuatan design, Marketing dan Distribusi.
    2001 Thomas G Bata Cucu dari pendiri Bata mengeluarkan kebijaksanaan agar Bata lebih fokus pada bisnisnya untuk meningkat produk development dan sumber dayanya.
    2002 Dibukanya Pusat Inovasi Sepatu Bata diseluruh dunia untuk meningkatkan Core Competensi untuk menciptakan teknologi dalam peningkatan Feature dan design sepatu.
    2004 Dibukanya kerjasama distribusi di Guanzhou Cina

    Corporate initiatives

    Menjadikan Bata sebagai lembaga internasional yang memiliki gagasan dan kreativitas yang tinggi serta menciptakan kondisi yang merangsang untuk berfikir secara internasional.

    Bata Culture menciptakan kesempatan yang sama bagi semua karyawan untuk mendapatkan promosi atau pelatihan dan pendidikan. Dengan mendapatkan training tersebut, diharapkan karyawan memperoleh keahlian yang pada akhirnya bisa mendapatkan promosi untuk level internasional.

    Culture

    Perusahaan Bata Memiliki tradisi untuk menjadi perusahaan yang berkontribusi untuk kesejahteraan masyarakat disekitar kegiatan usaha perusahaan.

    Bata Bekerja keras untuk membangun hubungan jangka panjang dengan suplier dan distributornya.

    kegiatan Usaha Bata di seluruh dunia, dipastikan dilaksanakan secara etis.


    Sejarah perkembangan perusahaan ini di Indonesia adalah sebagai berikut :
    1931 memulai usahanya sebagai pengimpor sepatu
    1940 mendirikan pabrik di kalibata jakarta selatan
    1982 didaftarkan di Bursa Efek Jakarta
    1994 mendirikan pabrik di purwakarta
    2004 memperoleh lisensi sebagai distributor dan General Importing.


    Brand
    1. Bubblegummer à adalah merek terkemuka di amerika latin dan telah berekspansi ke seluruh asia dan eropa. Merek ini ditujukan bagi anak sampai umur 10 tahun dengan karakter lucu dan warna yang menarik
    2. Power à merek ini ditujukan untuk olah raga antara lain bola basket, sepakbola ataupun olah raga lainnya.
    3. Marie Claire à merupakan merek dagang yang ditujukan bagi wanita yang mementingkan fashion sebagai gaya hidupnya.
    4. North Start à dikhususkan untuk produk sepatu canvas yang casual untuk penggunaan diwaktu santai.
    5. Weinbrenner à khusus produk sepatu kulit ataupun sendal gunung, dan sepatu boot yang ditujukan untuk pria
    6. Comfit à dengan motto “ Get Comfertable today” produk ini ditujukan untuk memberikan kenyamanan bagi penggunanya.
    7. B First à Ditujukan bagi anak-anak sekolah, yang menjadikan “collection of School Shoes” sebagai motto penjualannya.

    Code:
    http://defrimardinsyah.wordpress.com/2008/04/30/bata-nasibmu-kini/
    http://www.indowebster.web.id/signaturepics/sigpic13456_59.gif
    ‎"Nobody's Perfect"... artinya gak ada body yang sempurna

  2. #2

    Join Date
    Oct 2008
    Location
    Jakarta
    Posts
    3,476
    Thank(s)
    0/8,346
    Rep Power
    15

    Default

    bah
    punya org ceko tohh ??!!
    brarti bata keren doong yaa

    Kegiatan Usaha Bata Shoe Organization ini meliputi 60 Negara diseluruh dunia, yaitu :

    * Afrika (Bostswana, Congo (RDC), Kenya, Malawi, Mauritius, Afrika Selatan, Uganda, Zambia, Zimbabwe)
    * Asia Pasific (Australia, Bangladesh, China, India, Indonesia, Jordan, Lebanon, Malaysia, New Zealand, Pakistan, Singapore, Sri Langka, Thailand, UAE)
    * Eropa (Austria, Bosnia Herzegovina, Bulgaria, Kroasia, Cyprus, Chech Republik, Estonia, French Guyana, Greece, Guadeloupe, Holland, Italy, Kosovo, Latvia, Lithunia Matinique, Poland, Portugal, Romania, Russia, Serbia, Slovakia, Slovenia, Spain, Sweden, Switzerland, Turkey, Ukraina,
    * Amerika Utara ( Kanada)
    * Amerika Latin (Bolivia, Chile, Colombia, Ecuador, Mexico, Nikarague, Peru).
    keren dan pertamone

  3. #3

    Join Date
    Oct 2009
    Location
    Depok-lampung
    Posts
    173
    Thank(s)
    0/14
    Rep Power
    0

    Default

    ooo w kira ini indo bgt... kyny yg asli indo cm nyekermen aj

  4. #4

    Join Date
    Dec 2008
    Location
    jakarta
    Posts
    366
    Thank(s)
    0/71
    Rep Power
    0

    Default

    wahaha selama ini gw pikit yuh 100 persen asli indo..trnyta bkn toh

  5. #5

    Join Date
    Sep 2008
    Location
    Indowebster
    Posts
    1,044
    Thank(s)
    0/29
    Rep Power
    7

    Default

    Ternyata selama ini kita sudah mengklaim Bata itu milik Indonesia, padahal bukan.

    Mirip dong kita sama Malaysia.


  6. #6
    THE iDOLM@STER Raestloz's Avatar

    Join Date
    Mar 2009
    Location
    765 Pro Office
    Posts
    5,347
    Thank(s)
    0/3,631
    Blog Entries
    78
    Rep Power
    11

    Default

    Gw kirain Bata itu punya Indo.... ga taunya bukan ya...

    Malah presentasi tahun lalu gw bilang Bata itu merek lokal

  7. #7

    Join Date
    Aug 2009
    Location
    Bogor Indonesia
    Posts
    350
    Thank(s)
    0/1,657
    Rep Power
    0

    Default

    saya kira bata dari indo...wah ternyata persepsi saya selama ini salah...thx kk 4 info nya

  8. #8

    Join Date
    May 2009
    Location
    anywhere
    Posts
    1,037
    Thank(s)
    0/325
    Rep Power
    6

    Default

    waw.. ternyata ternyata... selama ini saya juga selalu taunya merk bata itu buatan dalam negeri.. ternyata aslinya dari ceko tapi saya sendiri seringnya menggunakan bata juga sih untuk urusan sandal n sepatu bangga buatan negeri sendiri.. eh ternyata merk dari luar.. biarlah toh emang "rakitan" dari indo juga toh

  9. #9

    Join Date
    Jan 2009
    Location
    di selangkangan
    Posts
    763
    Thank(s)
    0/1,243
    Rep Power
    6

    Default

    wahh..
    baru tau..
    kira2 sama kejadian ny kaya mobil timor, ngaku asle indo tapi buatan korea..
    balik ke JK Collection aja ahh..

    kirain cuma D'nasib ama malingsia doank yang suka plagiatt...

  10. #10

    Join Date
    Aug 2009
    Location
    Bogor Indonesia
    Posts
    350
    Thank(s)
    0/1,657
    Rep Power
    0

    Default

    pake sepatu cibaduyut aja asli indo tuh

Page 1 of 2 12 LastLast

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
Indowebster is proudly powered by PT. Gudang Data Indonesia