Page 1 of 4 1234 LastLast
Results 1 to 10 of 34

Thread: Bengkel rahasia seorang petugas data recovery
http://idws.in/83299

  1. #1

    Join Date
    Feb 2009
    Location
    Jakarta
    Posts
    138
    Thank(s)
    11/122
    Rep Power
    0

    Default Bengkel rahasia seorang petugas data recovery



    Saya rasa tidak semua orang mengalami kerusakan hard disk atau kehilangan data, tapi tidak ada salahnya saya ceritakan disini, bagaimana seluk beluk sebenarnya sebuah bidang yang masih jarang ditekuni ini.

    Data recovery = Penyelamatan data

    Didefinisikan khusus menyangkut sebuah tugas/pekerjaan untuk menyelamatkan data (pada umumnya) atau sebuah system berikut OS dan aplikasinya (pada khususnya) dari berbagai macam media penyimpanan data yang mengalami masalah logic maupun fisik.

    Media penyimpanan data ini dapat berupa segala macam, misalnya :

    Hard disk
    form factor : 5.25". 3.5". 2.5", 1.8" dan 1.0"

    Form factor 5.25" sudah nyaris musnah, dan tidak digunakan lagi saat ini.

    Form factor 3.5" merupakan paling umum, mencakup hard disk SCSI (Small Computer System Interface, baca : scuzzy), SAS (Serial Attached SCSI), SATA (serial ATA, baik versi 1 atau versi 2) dan PATA (Paralel ATA). Hard disk 3.5" ini juga digunakan untuk external drive seperti WD MyBook, Seagate Free Agent Desktop

    Form factor 2.5" (berupa PATA/IDE maupun SATA) banyak digunakan di notebook, laptop dan netbook. Model ini juga yang digunakan pada external drive portable seperti yang dijual oleh para produsen, misalnya WD Passport, WD Elements, Seagate Free Agent Go dan Maxtor One Touch.

    Form factor 1.8" (berupa PATA/IDE maupun micro SATA) banyak digunakan pada notebook dengan bentuk fisik yang minimalis, misalnya Hp EliteBook. Belakangan hard disk jenis ini juga mulai beredar sebagai protable storage dan storage untuk device tertentu (iPod, Handycam dll).

    Form factor 1.0" merupakan yang terjarang dalam dunia hard disk. Produsen yang paling banyak dikenal untuk jenis ini ialah Seagate dan Hitachi.

    Flash Storage

    Dapat berupa MMC, SD Card, Micro SD/Transflash, Memory Stick Duo Pro, USB Flash Disk, dan Solid State Disk.

    Optical storage

    Dapat berupa CD/DVD/BluRay Disc dan lainnya

    Magnetic Tape


    Dapat berupa tape DDS-1, DAT8 (DDS-2), DDS-3, DDS-4, DDS-5, DAT 70, DAT160, DAT320, LTO, Ultrium. Media ini paling rentan terhadap suhu yang berubah-ubah, dan gangguan medan magnet.

    Perbedaan data recovery dan digital forensik

    Keduanya nyaris identik, namun ada perbedaan mendasar untuk keduanya. Ciri utama digital forensik ialah pembuktian yang diminta oleh klien dalam bentuk report tercetak dan menganalisis lebih jauh mengenai apa saja yang terjadi dalam hard disk tsb selama berfungsi di tangan penggunanya, apakah terjadi pengubahan struktur data, penghapusan oleh pihak yang tidak berwenang dsb. Sedikit banyak, data recovery dibutuhkan dalam proses digital forensik, ketika menghadapi media storage yang error.

    Segmen jasa data recovery

    Para client yang membutuhkan jasa data recovery membentang mulai dari end user perorangan (home user), professional sampai dengan perusahaan dan lembaga pemerintah departemen/non-departemen. Dalam bentuk khusus, pekerjaan yang mengikat ke lembaga dan perusahaan, sebuah surat perjanjian "Non Disclosure Act" dan Privacy Act" wajib ditandatangani bersama di hadapan notaris untuk menjamin kerahasiaan data client secara tertulis.

    Sebuah usaha di bidang data recovery di Indonesia, tidak dapat menentukan bentuk atau jenis media storage apa yang akan diterima dari kliennya. Bisa saja salah satu dari yang disebut di atas, bahkan tidak tertutup kemungkinan, yang belum saya sebutkan di atas.

    Kesulitan utama muncul memang pada sebuah kondisi dimana media penyimpanan data telah mengalami kerusakan fisik dan menyebabkan penyelamatan data menjadi lebih sulit dan peluangnya nyaris mencapai kemungkinan <10%.

    Research & Development

    Sebuah perusahaan data recovery harus tetap up to date menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi storage dari masa ke masa. Seluruh hasil Litbang ini harus didokumentasikan dan dijadikan referensi pekerjaan lanjutan. Beberapa teknik yang valid saat ditemukan awalnya, mungkin saja akan tidak valid beberapa lama kemudian. Riset yang terus menerus diperlukan untuk ini. Sebgai contoh ialah penyelesaian kasus di hard disk vendor Seagate dan Samsung yang semakin advanced dan menggunakan terminal command untuk perbaikan firmwarenya.

    Di sisi para developer hard disk, teknologi yang digunakan semakin kompleks karena semakin tingginya kebutuhan density platter. Saat ini diperkirakan density platter di laboratorium produsen hard disk telah mencapai 600 Gbit/inch sq. Hal ini menyebabkan juga kompleksnya pemrograman firmware yang digunakan oleh hard disk.

    Proses dan alur kerja sebuah kasus.

    Dari statistik yang berhasil diolah sepanjang 2008-2009 sebagai pembanding, ditemukan bahwa tingkat kerusakan tertinggi (mencapai90%) terjadi pada hard disk dengan interface SATA produk-produk terbaru. 50% dari klien yang mengalami kerusakan didominasi oleh kapasitas 80 GB, 25% kapasitas 160 GB dan 25% lagi merupakan variabel antara 250 GB - 1 TB.

    Dari distribusi vendor, Seagate (dan Maxtor by Seagate) sepanjang 2008-2009 menyumbang 40% dari total seluruh klien yang masuk. Di peringkat kedua ialah Fujitsu, di peringkat ketiga ialah Western Digital

    Berdasarkan form factor, 3.5" desktop memiliki 70% dari total kerusakan. 30% dimiliki oleh 2.5" dan 1.8"

    Tentu saja, ini semua adalah statistik kasar dan tidak dapat dijadikan tolok ukur seluruh kerusakan yang terjadi.

    Berdasarkan kondisi kerusakan, dapat dibagi menjadi :


    1. Kerusakan fisik (head clicking/knocking) dan PCB short circuit/terbakar, akibat terjatuh, benturan dll
    2. Kerusakan firmware/Service Area
    3. Kerusakan bad sector logic maupun fisik
    4. Kerusakan logical (infeksi virus, tabel partisi error, dan lainnya sebatas system)

    Dalam beberapa hal, kerusakan yang terjadi dapat saja mencakup 4 kondisi tsb sekaligus dan menyulitkan proses penyelamatan data.

    Khusus untuk kasus no.4 yang masih merupakan batasan logic sebuah system, maka caranya dapat diselesaikan dengan cara sederhana dan tidak memerlukan bantuan peralatan khusus.

    Anda butuh sebuah hard disk lain yang telah terinstal OS baru dilengkapi software untuk data recovery. pastikan pula, hard disk memiliki free space yang cukup untuk menampung data yang akan diselamatkan. Boot system dengan OS tsb, dan hard disk yang datanya hilang/partisi error dapat anda scan dengan software recovery.

    Software recovery yang dapat digunakan bervariasi, tapi yang paling umum digunakan ialah GetData Back dan OnTrack Easy Recovery.

    Pastikan bahwa anda selalu menyimpan data hasil recovery di hard disk yang berbeda ! Jangan taruh data yang berhasil diselamatkan di hard disk yang mengalami kehilangan data tsb.


    Untuk kasus no.3 (bad sector), saya sarankan untuk melakukan cloning sector by sector terhadap hard disk yang error tsb. Jika proses cloning tidak berhasil dilakukan, berarti kerusakan sector yang terjadi melampaui batasn software dan dibutuhkan bantuan lain untuk melakukan proses cloning tsb. Dalam hal ini, yang digunakan sebagai software cloning ialah Norton Ghost dan CopyR.DMA.

    Untuk kasus no.2 Kerusakan firmware, sebagian dai kerusakan dapat diperbaiki dengan utility yang tersedia di beberpa situs. Tapi tidak semua kerusakan firmware dapat diperbaiki oleh software terkait. Hanya kerusakan tabel G-List atau SMART module saja yang dapat diselesaikan, selebihnya memerlukan hardware atau perintah native khusus untuk memperbaiki firmware yang rusak tsb. Dalam hal ini, saya telah memberikan contoh untuk hotswap Maxtor Athena dan perbaikan translator di Seagate baracuda 7200.11 dan 7200.12 yang baru-baru ini terjadi

    untuk kasus no.1, harus dilakukan diagnosis hati-hati, karena kerusakan fisik dapat merusak firmware dan area translator data. Pada beberapa kasus terntetu di vendor tertentu, terbakarnya salah satu komponen di PCB akan merusak struktur SA dan magnetic head. Hal ini sering terjadi di Seagate dan Maxtor original (sebelum akuisisi oleh Seagate)









    Ketiga kasus di atas sering terjadi sekaligus. Sebuah hard disk yang terbentur, logikanya akan mengalami pergeseran titik awal head, sekaligus membuat pembacaan firmware menjadi error dan juga munculnya bad sector fisik akibat goresan dari benturan yang terjadi.





    Kasus no.4 dan no.3 masih dapat ditangani selama akses ke hard disk tidak terganggu total oleh BIOS. Jika akses masih memungkinkan, anda dapat menggunakan softwate MHDD untuk melakukan remap (jika ditemukan bad sector tidak lebih dari 100 sector verturut-turut) atau menggunakan sebuah OS Live misalnya Linux Live CD dan melakukan penyelamatan data yang masih memungkinkan untuk diakses sebanyak-banyaknya. Hentikan proses copy paste jika terjadi gangguan yang berakibat system hang atau mengalami Blue Screen of Death, hal ini menunjukkan bahwa kerusakan sector yang terjadi melampau batas kemampuan akses program yang digunakan. Sector yang dimarking "bad" mungkin meruapakan kerusakan sector fisik atau tidak berfungsinya salah satu head. Diperlukan peralatan sejenis PC 3000 atau HRT untuk mengisolasi kerusakan fisik yang terjadi.

    Ferry Suryakusuma

    __________________
    Last edited by HDDStudio; 04-04-2010 at 01:31 PM. Reason: edit tag [/img]

  2. #2

    Join Date
    Feb 2009
    Location
    Jakarta
    Posts
    138
    Thank(s)
    4/122
    Rep Power
    0

    Default

    Sekarang bad sector menurut distribusi per vendor :

    1. Maxtor.

    Produsen ini (sebelum diakuisis oleh Seagate) produknya dikenal oleh para pengguna sebagai salah satu hard disk dengan kualitas cukup baik, performanya cukup memuaskan dan harganya cukup kompetitif. Kelemahan produk Maxtor terletak pada ketidakstabilan SA-nya. Paling sering ditemukan hard disk Maxtor yang beralih nama menjadi alias, misalnya Maxtor 2B020H1 menjadi Maxtor Athena, Maxtor 2F040L) menjadi Maxtor Aresc64k dan Maxtor 6E040L0 menjadi Maxtor N40P.

    Kerusakan seperti ini disebabkan 90% oleh kerusakan module SMART dan G-List di firmware. Hanya 10% yang disebabkan oleh faktor fisik (akibat benturan atau korslet PCB)

    Proses data recovery.

    Maxtor Athena (model 2B020H1, 2B010H1, 2B015H1)

    family ini dibedakan menjadi dua varian yaitu varian DSP dan varian Poker. Pembedaan ini dapat dikenali dari code firmware yang tertera di sticker depan. DSP berakhiran WAH21PB0 dan Poker berakhiran WAK21R90. Telah tersedia utility gratis untuk model DSP (WAH21PB0)

    utility gratis dapat memperbaiki sebagian kerusakan firmware ini. Anda dapat mendownloadnya dari situs penyedia.

    Maxtor Aresc64k (model 2F020L0, 2F030L0, 2F040L0, 2F030J0, 2F040J0)

    family iini juga dibedakan menjadi dua varian, tapi bukan berdasarakan chip utama di PCB nya, melainkan dari type rotor yang digunakan. Kode "J" menunjukkan rotor yang digunakan ialah fluid dynamic bearing, dan kode L menunjukkan rotor yang digunakan ialah spindle bearing.

    Maxtor N40P (model 6E020L0, 6E030L0, 6E040L0, 6K040L0)

    family ini dibedakan menjadi beberapa varian. varian utama ialah code firmware NAR61590 (dapat dilihat di sticker depan), NAR61EA0, NAR61FA0, NAR61GA0, dan NAR61HA0.

    Ujung yang diubah dari model awal (61590) menjadi 61xA0 menunjukkan pengubahan struktur firmware yang digunakan oleh vendor Maxtor.

    2. Seagate

    Seagate merupakan penerus tradisi produsen sebelumnya (Conner Technologies), dan melestarikan penggunaan terminal untuk melakukan manipulasi firmware. Terminal ini penting gunanya bagi petugas data recovery menganalisis kerusakan yang dialami oleh hard disk. Tingkat kesehatan head untuk melakukan proses read/write juga dapat dilakukan dengan mengirimkan perintah native melalui terminal.

    PC 3000, HRT dan SD Doctor.


    PC 3000 dikembangkan oleh ACE Laboratory di Rusia. Tool ini merupakan salah satu pelopor di bidang data recovery dan drive restoration berbasiskan akses firmware/SA. Kelebihan PC 3000 terletak pada kemampuan dua utility (Spesific Flasher dan Data Extractor) bekerja sama on the fly untuk melakukan data recovery



    HRT dikembangkan oleh BVG Group di Rusia. Tool ini seperti PC 3000 juga beroperasi di akses firmware/SA. Kelebihan HRT ialah mampu melakukan mapping 2 dimensi terhadap permukaan platter satu persatu. Hal ini memudahkan diagnosis untuk melakukan tindakan lanjutan yang tepat.











    SD Doctor, dikembangkan oleh SalvationData di China. Sama seperti kedua produk sebelumnya. SD Doctor memiliki kemampuan untuk mengakses firmware dan melakukan perbaikan. Kelebihan SD Doctor dibandingkan kedua pendahulunya ialah dapat dibeli lisensinya per merk vendor satu persatu. Hal ini meringankan biaya investasi.





    Sebenarnya berapa % dari total keseluruhan kerusakan hard disk mencakup kerusakan firmware/SA ? Diperkirakan antara 2008-2009 ini, jumlah kerusakan firmware mencapai 65% (angka ini disumbang paling banyak oleh Seagate dan Maxtor by Seagate, akibat kerusakan mayor di seri Barracuda 7200.11dan sebagian kecil Barracuda 7200.12), 35 % di Indonesia didominasi oleh kerusakan PCB (hal yang dapat dimaklumi mengingat ketidakstabilan tegangan listrik dan gangguan suplai daya di berbagai tempat - belum lagi buruknya kualitas PSu yang dijual di pasaran)

    Apa definisi SA/Service Area dan firmware ?

    Untuk meringkas saja, SA merupakan bagian dari sebuah program dalam sebuah sub system disk. Hard disk sendiri sebenarnya merupakan sebuah micro computer. MCU di PCB hard disk bertindak sebagai algorithmic processor, cache RAm buffer bertindak sebagai memory. Bedanya tidak ada VGA output, hal ini diganti fungsinya dengan Motor controller yang mengendalikan rotor bearing pemmutar cakram/cylinder yang berisi firmware dan data user.

    Firmware pada hard disk umumnya sebagian besar ditulis di area platter. Namun area ini merupakan area yang tidak dapat diakses oleh program standard maupun OS. Area tempat firmware ini diberi istilah "negative cylinder", "Engineering tracks" atau "diskware". Pada beberapa model hard disk modern dari vendor tertentu, sebagian besar firmware ditulis di platter dan sebagian kecil lainnya ditulis di PCB.



    Module dalam firmware yang sering mengalami kerusakan :

    1. Translator (P-List & G-List)
    2. Drive ID
    3. SMART

    Pada beberapa vendor (misalnya Seagate, WD dan Hitachi) kerusakan salah satu modul di translator dapat berakibat hilangnya data KESELURUHAN. Hal ini cukup merepotkan petugas data recovery saat berhadapan dengan kerusakan hard disk yang cukup kompleks melingkupi kerusakan fisik head, kerusakan firmware dan kerusakan platter.

    * Diperlukan metode baru untuk menghadapi kondisi kerusakan yang kompleks seperti ini

    Roadmap storage system di masa depan

    Western Digital dan Seagate merupakan dua vendor terbesar untuk storage electromagnetic saat ini. Beda halnya dengan vendor lain, keduanya hanya membuat hard disk. Hal ini sangat kontras dengan kompetitornya. Toshiba (setelah mengakuisisi Fujitsu Storage), Hitachi (setelah membeli IBM storage), dan Samsung hanya merupakan salah satu divisi dari induk perusahaan mereka. Jadi, bagi Toshiba, Hitachi dan Samsung, kekuatan mereka justru bukan di storage yang mereka jual, melainkan di produk lainnya yang didukung oleh produk storage ini.

    Samsung dan Toshiba kelihatannya mulai konsentrasi di Flash storage dengan produk SSD nya. Samsung sendiri merupakan produsen terbesar untuk chip flash dan banyak digunakan untuk memory DDR/VRAM di berbagai produk. Toshiba memiliki produk mobile computing yang cukup terkenal di tingkat pengguna.

    Di sisi lain, bagi WD dan Seagate, hard disk merupakan satu-satunya produk andalan perusahaan mereka. Tidak ada cabang bisnis lain yang dimiliki. Dengan demikian, kedua vendor terbesar ini seharusnya memproduksi hard disk dengan kualitas terbaik dan terdepan dalam teknologinya. Seagate selama tahun 2008-2009 mengalami "kepleset" dengan cacat firmware yang nyaris menimbulkan "bad image" untuk jalur produksi mereka di seri Barracuda. WD belum mengalami masalah ini dan semoga tidak akan pernah terjadi.

    Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, semua vendor memiliki masalah di produk mereka. Besar kecilnya masalah ini terlihat dari dampak yang diakibatkan di tingkat penggunanya sendiri. Apakah perbaikan yang dilakukan segera memperbaiki kesalahan yang terjadi atau mereka hanya mendiamkan dan tidak berusaha segera memperbaikinya.

    Sebagai catatan sejarah, Conner merupakan salah satu penderita bad image dalam sejarah produksi hard disk, sehingga nyaris bangkrut dan akhirnya dibeli oleh Seagate. Demikian juga Quantum yang mengalami masalah di system elektrnik saat menggunakan IC motor dari Philips, IBM saat merilis "Death Star" yang kerusakannya mencapai 80% produksinya.

    Semua produsen pernah memiliki catatan buruk dalam produksinya, dan ini bukanlah masalah jika segera diperbaiki pada produk lanjutan.

    Masalah-masalah dalam data recovery :

    1. Jangka waktu pengerjaan untuk proses data agar masih tetap valid digunakan

    Percuma jika data dapat diselamatkan namun saat berhasil diselamatkan, isinya sudah tidak valid lagi (misalnya laporan keuangan tahunan dan absesnsi karyawan per hari). Jangka waktu pengerjaan harus disesuaikan dengan kebutuhan client.

    2. Kerusakan informasi servo dan translator di SA

    Harap diperhatikan servo yang dibicarakan disini ialah servo firmware saat proses manufacturing di pabrik, bukan servo motor.

    Model hard disk generasi terbaru sudah menggunakan dynamic translator sehingga mempermudah operasi tranplantasi fisik platter, namun mempersulit "starting point" sebuah head karena semuanya random untuk masing-masing unit yang diproduksi. Catatan tentang ko-eksentrisitas platter pada hard disk generasi modern harus diperhatikan saat melakukan transplantasi platter ke body donor. Masalah di WD menyangkut koordinat sumbu X-Y-Z head di platter juga harus dipertimbangkan.

    3. Hardware Encryption maupun software encryption

    Seagate mengeluarkan FDE (Full Disk Encryption) dan juga Hitachi. Malfunction hardware yang melakukan enkripsi akan menyebabkan tidak mungkinnya data diselamatkan. Paling tidak untuk saat tulisan ini dibuat.

    4. Drive instability & VCM random failure

    Ada kalanya, sebuah hard disk seakan-akan normal pada suatu saat, tapi pada saat lainnya (hanya berselang beberapa menit atau detik), muncul kerusakan parah yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Hal ini terjadi pada hard disk vendor tertentu dan model tertentu. Dokumentasi mengenai anomali ini perlu diperhatikan saat proses pengerjaan.

  3. Who Said Thanks:


  4. #3

    Join Date
    Jul 2009
    Posts
    22,712
    Thank(s)
    0/61,767
    Blog Entries
    1
    Rep Power
    33

    Default

    software di atas tadi bisa gak di gunakan seperti saya yang awam akan teknis hardware
    dan mau tanya soal HRT dikembangkan oleh BVG Group di Rusia yang mapping 2 dimensi itu cara menganalisanya bagaimana

  5. #4

    Join Date
    Jul 2008
    Location
    ada deh
    Posts
    185
    Thank(s)
    0/7
    Rep Power
    0

    Default

    kalo platternya dah hangus masih bisa direcovery datanya?

  6. #5

    Join Date
    Aug 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    276
    Thank(s)
    0/76
    Rep Power
    0

    Default

    wah, posting disini jg boz?

    buka lapak jg donk..hehe...

    untuk recover WDC 250GB PATA yg jatuh dr meja 1 meter..harga nya dah turun blm?hehe

  7. #6

    Join Date
    Feb 2009
    Location
    Jakarta
    Posts
    138
    Thank(s)
    0/122
    Rep Power
    0

    Default

    Quote Originally Posted by a1d12s88 View Post
    software di atas tadi bisa gak di gunakan seperti saya yang awam akan teknis hardware
    dan mau tanya soal HRT dikembangkan oleh BVG Group di Rusia yang mapping 2 dimensi itu cara menganalisanya bagaimana
    Tentu saja dengan bantuan latar belakang teknis hardware (terutama hard disk) akan sangat membantu mengerti cara mengoperasikan alat-alat ini.

    HRT melakukan mapping sector dengan bantuan log surface scanning dan module SMART yang dimiliki oleh sebuah hard disk. Masing-masing "head" , misalnya head 0, head 1, head 2 mewakili nomer head yang dianalisa dan map berupa lingkaran tsb merupakan lingkup sector yang dimiliki oleh masing-masing head. Penjelasan teknisnya mungkin akan lebih sederhana jika anda pernah membongkar sebuah hard disk dengan susunan platter tumpuk dan beberapa head sekaligus.

    dari hasil analisa tsb, diketahui area sector yang mengalami kerusakan di tiap-tiap map head sehingga strategi penyelamatan datanya dapat ditentukan yaitu dengan melakukan isolasi area sector tsb.

    Quote Originally Posted by domon_god1 View Post
    kalo platternya dah hangus masih bisa direcovery datanya?
    Sudah tidak mungkin menggunakan PC 3000, HRT maupun Salvation. Kerusakan media magnetik yang menghanguskan permukaan platter tidak dapat dibaca menggunakan head magnetik standard.

    Ada cara lain yang menggunakan bantuan hardware khusus yaitu Spin Stand dan Servo writer. Rujukan lebih jauh ialah artikel "Spin Stand : Miscroscopy of Hard Disk Data" & "Data Analysis using Magnescope Signal" - Artikel terakhir ialah "Hard Disk Myths: Recovering The Impossible" Artikel ini semua sudah direlis di web. Silakan Google.

    Quote Originally Posted by p3v4x View Post
    wah, posting disini jg boz?

    buka lapak jg donk..hehe...

    untuk recover WDC 250GB PATA yg jatuh dr meja 1 meter..harga nya dah turun blm?hehe
    Ini siapa ya ? :D Mick ?

    Btw harga belum turun :D
    Last edited by HDDStudio; 04-04-2010 at 11:30 AM.

  8. #7

    Join Date
    Dec 2008
    Location
    Tanjungpinang
    Posts
    4,866
    Thank(s)
    0/4,378
    Rep Power
    9

    Default

    Boz, kalo boleh tau berapa perkiraan biaya buat recovery data dgn berbagai tingkat kesulitannya?? Dari yg paling mudah sampe yg paling susah...
    Kalo boleh, hehehehe... iss:

  9. #8

    Join Date
    Feb 2009
    Location
    Jakarta
    Posts
    138
    Thank(s)
    3/122
    Rep Power
    0

    Default

    Quote Originally Posted by bondhahnmrt85 View Post
    Boz, kalo boleh tau berapa perkiraan biaya buat recovery data dgn berbagai tingkat kesulitannya?? Dari yg paling mudah sampe yg paling susah...
    Kalo boleh, hehehehe... iss:
    Saya asumsikan data recovery problem level firmware dan tingkat seterusnya yah, soalnya yang level logic (misalnya infeksi virus, partisi error dll) sebenarnya sudah masuk tingkat DIY (Do It Yourself) menggunakan software recovery dan tersedianya hard disk lain untuk menampung data. Pengecualian untuk user yang memang tidak berani melakukan data recovery sedniri mengingat datanya terlampau penting dan tidak mau ambil resiko. Biaya untuk kasus ini ; Rp. 200,000 (1 harga untuk all size, all capacity - tidak menghitung jumlah data, jumlah file/folder, kapasitas hard disk, kapasitas partisi dll)

    Asumsi kerusakan yang mulai agak sulit ditangani user biasanya ialah problem firmware, misalnya

    1. Hard disk melakukan spin up (platter melakukan putaran dan head lepas dari ramp) dan tidak menghasilkan bunyi clicking saat power on tapi tidak terdeteksi oleh "BIOS" Motherboard.
    2. Hard disk terdeteksi normal di BIOS tapi menunjukkan LBA size = 0 byte (error code verifier)
    3. Hard disk terdeteksi normal di BIOS tapi sama sekali tidak dapat diakses (biasanya problem di level hard disk password)
    4. Hard disk terdeteksi normal di BIOS tapi selalu menyebabkan blue screen/hang saat diakses
    5. Hard disk terdeteksi normal di BIOS tapi tertahan dengan warning SMART/Press F1 to continue or replace the disk
    6. Hard disk terdeteksi normal di BIOS tapi sama sekali tidak muncul di Disk Management/Device Manager (error translator CHS - LBA)

    Biaya untuk kasus no 1-6 ini dibagi menurut arsitektur vendor. Mulai dari Rp. 300,000 - Rp. 1,500,000

    Di bawah ini saya berikan satu contoh kasus mengenai perbedaan biaya di masing-masing perusahaan data recovery :

    Skema penghitungan biaya optimal.

    Ada 3 skenario yang sering ditemui oleh sebuah jasa data recovery :

    1. Biaya berdasarkan jumlah data (artinya per kilobyte, per megabyte, atau per gigabyte)
    2. Biaya berdasarkan jumlah file (artinya per 100 file, per 1000 file, dst)
    3. Biaya berdasarkan tingkat kesulitan kerja (artinya tidak memandang kapasitas, untuk kerusakan dibagi menjadi kerusakan minor, menengah dan sulit)

    Masing-masing dari skema ini, memiliki sisi buruk dan sisi baik untuk kedua belah pihak, baik klien maupun jasa data recovery.

    Saya menggambarkan sebuah kasus saja untuk menjelaskan problem dalam penghitungan harga ini.

    Sebuah hard disk dengan kapasitas 80 GB penuh berisi data 70 GB dengan jumlah 10,000 file .xls, 10,000 file .doc 10,000 file .ppt. 10,000 file .pdf dan 10,000 file .mdb. Kerusakan yang dialami ialah head clicking karena hard disk terjatuh dari meja kerja dengan ketinggian 80 cm.

    Petugas pertama dari perusahaan A :

    Harga jasa recovery kami per 1000 file = Rp. 100,000

    Jadi total biaya anda ialah 50,000 file = Rp. 5,000,000

    Biaya ini dipatahkan dengan argumen data yang penting hanya 1000 file, jadi kerusakan yang sangat berat tsb dibayar hanya Rp. 100,000

    Petugas kedua dari perusahaan B:

    Biaya data recovery kami ialah Rp. 500 per Mb

    Jadi total biaya = 70 Gb x 1024 MB x Rp. 500 = Rp. 35 juta sekian-sekian

    Biaya ini dipatahkan dengan argumen kapasitas file klien yang penting hanya 100 Mb, jadi hanya dibayar Rp. 50,000

    Petugas ketiga dari HDD Studio :

    Untuk kasus kerusakan fisik (terjatuh seperti ini) biaya kami ialah Rp. 1,500,000 tanpa memandang kapasitas maupun jumlah data

    Mana skenario yang paling optimal ?

    Dari skenario di atas, biaya berdasarkan kapasitas data dan jumlah file (jika memang sedikit) memang menguntungkan klien, karena biayanya sangat murah. Tapi, apakah petugas data recovery akan menerima kondisi tsb ?

    Saya gambarkan alur pengerjaan kasus data recovery fisik seperti ini.

    Saat diterima hard disk yang terjatuh, pada umumnya mengalami dua kondisi :

    1. hanya rotor yang macet.
    2. rotor macet DAN head rusak (dari bunyi clicking biasanya terdientifikasi bahwa rotor tidak macet)

    Untuk menyelesaikan kondisi ini (yang kondisi 1 maupun 2 sama saja), hard disk tsb akan dibongkar unit fisiknya. Penyelesaiannya ialah menggunakan hard disk donor yang 100% sehat (artinya rotor dan head berfungsi baik) dan dijadikan unit mekanik pengganti untuk menampung platter dari hard disk klien.

    Dalam pengerjaan selanjutnya, tidak tertutup kemungkinan (dan sangat sering terjadi dalam kasus kerusakan head seperti ini), donor hard disk pertama tidak sanggup menyelesaikan tugasnya, dan diperlukan donor kedua.

    Andaikan cukup satu donor saja yang dikorbankan, berarti biaya yang dikeluarkan oleh data recovery tsb, sudah mencakup harga satu unit hard disk 80 GB, dan belum termasuk biaya jasanya.

    Dengan asumsi harga hard disk second 80 GB = Rp. 200,000, maka dapat diperkirakan berapa biaya sesungguhnya.


    Saya di HDD Studio membagi biaya data recovery dalam 3 bagian menurut tingkat kesulitan :

    1. Fimrware & electronic problem
    2. Head & Rotor problem
    3. Kombinasi 1 & 2

    Dari 3 bagian ini, dibagi menurut aturan teknologi vendor

    Teknologi klasik (old skewl ) yaitu release produk yang sudah terhenti pengembangannya dan tidak ada research & development lanjutan dari vendor.

    1. Quantum, Maxtor native (sebelum akuisisi Seagate th 2006)
    2. Conner, Necropolis, Fujitsu 3.5", Kalok
    3. Western Digital 16 & 32 bit old Caviar (chip WDCxxP)
    4. Samsung pre-release Spin Point (chip Samsung)
    5. Fujitsu 2.5" (sebelum akuisisi Toshiba Maret 2009)
    6. Toshiba 2.5" IDE (chip Toshiba)
    7. Seagate klasik (U series - jacket, Barracuda 7200.7, 7200.8, 7200.9, 7200.10)
    8. Hitachi klasik (IBM label)

    Teknologi modern : release produk yang sedang dalam tahap pengembangan dan berpacu dengan perkembangan teknologi terbaru.

    1. Seagate dan Maxtor by Seagate arsitektur F3 (Barracuda 7200.11, 7200.12, XT)
    2. Western Digital Marvell technology (Caviar AAKS, AACS, AADS, FALS, BEVT, BEVS)
    3. Hitachi GST modern
    4. Samsung Eco Green & Marvell Technology
    5. Toshiba GSX/Marvell technology
    6. Fujitsu 2.5" modern (setelah akuisisi oleh Toshiba)
    Last edited by HDDStudio; 04-04-2010 at 01:01 PM.

  10. Who Said Thanks:


  11. #9

    Join Date
    Oct 2008
    Location
    The Ivy Bridge
    Posts
    9,325
    Thank(s)
    0/1,809
    Rep Power
    18

    Default

    kalo recovery memory flash macem SD card rada susah ya

  12. #10

    Join Date
    Feb 2009
    Location
    Jakarta
    Posts
    138
    Thank(s)
    0/122
    Rep Power
    0

    Default

    Quote Originally Posted by zegun~kun View Post
    kalo recovery memory flash macem SD card rada susah ya
    Agak sulit karena adanya data mix dan dump (bagian dari sector yang berisi 'sampah") yang editingnya harus dilakukan manual guna merekonstruksi data agar dapat dibaca.

    Ini peralatan yang digunakan (buatan Eropa Timur & Rusia)





    SD Card, MMC, TransFlash dan berbagai jenis flash storage lainnya menggunakan chip BGA (Ball Grid Array) yang disolder ke lembar PCB (Circuit Board) dengan menggunakan teknik cold soldering. Untuk melepasnya jelas harus sangat hati-hati.
    Last edited by HDDStudio; 05-04-2010 at 12:59 PM.

Page 1 of 4 1234 LastLast

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
Indowebster is proudly powered by PT. Gudang Data Indonesia